Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Cara Lain


__ADS_3

Hai, hai.


Senja datang lagi.


Jangan bosan ya mampir sini.


HAPPY READING


Hana masih bungkam sambil terus menatap Andre sejak tadi.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?”


Andre sengaja membiarkan Hana duduk di tempat yang terpisah dengannya. Dia tak berusaha untuk menarik wanita ini untuk duduk di sisinya seperti biasa.


Hana terlihat memejamkan mata sebelum menunduk melepaskan pandangannya dari Andre yang sedang mengajaknya berbicara. Meskipun Andre tak bisa mengontrol emosi dari pancaran wajahnya, tapi ia berusaha tak menekan Hana. Ia mengambil rokok dan mulai menyalakannya. Ia butuh pelampiasan untuk menahan kekesalannya.


Setelah beberapa waktu saling diam, akhirnya Hana perlahan kembali mengangkat wajahnya. Tak tahu sudah berapa waktu yang mereka lewatkan hanya dengan diam, yang jelas kini


Andre sudah berkutat dengan rokok ketiganya.


“Ndre…”


Andre tak menjawab, namun dari wajahnya menunjukkan antusiasme menunggu Hana berbicara.


“Apa jawabanku penting untuk kamu?” Hana ingin memastika sebelum ia mulai berbicara.


Andre mematikan rokoknya dan menghembuskan sisa asap yang masih tertahan di mulutnya.


“Sangat,” jawab Andre dengan yakin.


“Untuk apa?”


“Untuk…” Andre melanjutkan ucapannya dengan menunjuk bagian dada.


Hana menatap wajah dan tangan Andre secara bergantian. Setelah beberapa kali matanya naik turun, akhirnya pandangannya terkunci pada mata Andre yang juga menatapnya.


Hana menghela nafas. Ah sudahlah. Aku benar-benar tak tahu siapa yang bisa kupercaya sekarang. Tuhan, semoga keputusanku tak salah.


“Sebelum aku menjawab, apa aku boleh terlebih dahulu bertanya?”


“Pertanyaanku saja belum kamu jawab.”

__ADS_1


“Aku hanya ingin memastikan saja. Jadi aku tak perlu menceritakan apa yang sudah kamu ketahui.”


Andre menatap Hana lagi. Kali ini ia bukan sedang menikmati dan mengagumi wajah cantik wanita yang mengisi hari-harinya akhir-akhir ini, melainkan sedang bersiaga jika saja wanita ini tengah memainkan peran lainnya seperti sedia kala.


Aku ingin Hana percaya padaku, tapi kenyataannya aku yang tak percaya padanya. Mungkin aku memang harus mencoba percaya padanya terlebih dahulu sehingga ia pun akan percaya padaku nantinya.


“Kamu adalah Raihana R, yang aku sendiri tak tahu R itu kepanjangannya apa, yang jelas di semua identitasmu tertulis hanya sebatas itu.”


Hana mengangkat wajahnya, menantikan kalimat Andre seterusnya.


“Kamu berhasil masuk ke perusahaan karena bakatmu, dan berhasil meraih karir yang cemerlang karena prestasi dan ketekunanmu. Namun sedikitpun aku tak bersimpati padamu waktu itu karena aku merasa kamu sama sepertiku yang


merelakan seluruh waktu untuk bekerja dan tak sekali pun mencoba untuk bersenang-senang di usia muda. Hanya fokus mengejar karir dan terlalu sibuk dengan kehidupan.” Andre tertawa diujung kalimatnya.


Hana pun sama. Ia tertawa kecil melihat bagaimana Andre berbicara tentangnya waktu itu. Kamu salah Ndre. aku bekerja keras untuk mendapan pengajuan sebagai anak.


“Namun aku begitu kesal saat Rahardja Group tiba-tiba mempresentasikan proposal yang sama persis dengan yang perusahaan kita buat. Dari pada harus sibuk dengan perdebatan data, pencurian data, atau pembocoran data, aku dan Dika harus rela mundur dan membiarkan Rahardja menang dengan mudah karena mereka melakukan presentasi


di urutan awal.”


Senyum Hana pudar.


“Aku tak tahu siapa yang berkhianat, tapi hal ini sengaja aku dan Dika rahasiakan. Dan setelah diselidiki lagi, ternyata kamu adalah pelakunya. Kamu benar-benar cerdas Hana.” Andre menghela nafas. Ia kembali meraih sebatang rokok dan dinyalakannya lagi.


Andre kembali sibuk dengan pikirannya. Apakah Hana sedang menjebakku?


Ia menghisap batangan putih itu kemudian menghembuskan asapnya perlahan. Andre, cobalah percaya pada Hana jika kamu ingan Hana percaya padamu juga. Kalau pun kamu memberitahu caranya, Hana tak mungkin mengulang waktu dan mencegahnya.


“Saat itu aku lembur dengan kamu dan ketiga rekanmu, benar?”


Hana mengangguk karena ia ingat betul itu adalah percobaan keduanya membunuh Surya namun justru Rahardja yang mati karena ia memberikan proposal yang cacat pada beberapa bagian.


“Proposal yang masing-masing kalian pegang aku bedakan pada beberapa bagian. Dan proposal yang Rahardja ajukan sama persis dengan proposal yang ada sama kamu.”


Hana tak terlalu terkejut, karena sudah terlalu banyak kejutan yang Andre berikan sejak mereka tinggal bersama. Sehingga shocking effect dari penuturan ini tak terlalu terasa untuknya.


“Kenapa kamu langsung menyimpulkan jika penyusup itu adalah aku?” tanya Hana yang masih berusaha menjawab penasarannya. “Kan mungkin saja dataku dicuri orang.”


Andre tersenyum dan menyangga dagunya. “Surya itu perusahaan besar, dan masuk jajaran perusahaan terbesar di Indonesia. Perusahaan ini disebut mesin uang karena besarnya akumulasi omset yang bisa dihasilkannya. Jadi untuk perusahaan sekaliber kami, tidak mungkin jika tak menerapkan system keamanan cyber yang baik.”


“Aku sepertinya tak tahu jika ada yang seperti itu.”

__ADS_1


“Memang sebaiknya kamu tak perlu tahu.” Andre sempat mencubit kedua pipi Hana sebelum kembali memangku tangannya. “Ini nggak hanya berlaku untuk Surya, aku yakin Rahardja juga pasti punya system keamanan serupa. Meski pun Raharja kalau jauh dari Surya, namun bukan perusahaan kecil juga.”


Hana menghela nafas wajah penasarannya sangat jelas terlihat sekarang.


“Kenapa wajah kamu tiba-tiba seperti itu?” tanya Andre yang menyadari perubahan wajah Hana yang begitu cepat.


Hana menggeleng.


“Hana, jangan terus main rahasia-rahasiaan lagi. Aku sudah berusaha percaya padamu tapi sepertinya kamu yang belum percaya padaku.”


“Bukan gitu, bukan gitu.” Hana menggerakkan tangannya dengan cepat. Ia kembali menghela nafas sebelum kembali menatap Andre untuk kembali berbicara dengannya.


“Aku hanya merasa dicurangi. Padahal aku sudah melakukan semua yang terbaik untuk papa. Hanya demi…” Hana menjeda ucapannya. “Hanya demi pengakuan sebagai anaknya.”


Kepala Hana tertunduk seketika begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Andre yakin kini Hana tak sedang bersandiwara. Namun jika ternyata keyakinannya salah, ia akan menominasikan Hana sebagai kandidat penerima oskar karena actingnya yang begitu luar biasa.


“Hana, bukan aku tak bersimpati, tapi aku benar-benar ingin tahu hubungan kamu bagaimana dengan Galih Rahardja.”


Hana terlihat menyeka sudut matanya sebelum ia melanjutkan pembicaraannya dengan Andre.


“Mamaku adalah simpanan Galih Rahardja…”


Andre mengangguk karena ia telah mengetahui masalah ini.


“Aku selama ini hidup menderita dengan mama karena keluarga Rahardja tak mau menerimaku.”


Hana membiarkan Andre melihat ia yang tengah merasa luka. Dibiarkan saja air mata yang sejak tadi mendesak untuk turun meluncur bebas membentuk jejak di wajahnya.


“Dan setelah kak Rio tak mau meneruskan perusahaan papa dan memilih merintis perusahaannya sendiri dari bawah, barulah aku dipungut.”


Hana menghela nafas dengan sedikit terisak.


“Aku akan diakui sabagai anak Galih Rahardja jika aku bisa menumbangkan Surya.”


Andre menyeka air mata di wajah Hana, namun mulutnya masih terkunci tanpa suara. Ia tak ingin menganggu Hana yang tengah mengungkap jati dirinya.


“Hingga saat aku gagal, aku mendapat hukuman dengan dicabutnya semua fasilitas yang papa berikan sebelumnya. Namun bukan itu yang membuatku sakit, yaitu aku harus kambali masuk ke Surya dengan cara lain jika masih ingin diakui.”


“Apa cara lain itu aku?” tebak Andre.


Hana mengangguk.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2