
Gimana, kurang **crazy apa hari ini upnya?
Thanksya buat kalian yang minta tanda cintanya berupa **crazy up.
Big hug, kiss kiss kiss...
Jangan lupa terus dukung Senja, biar bisa up menggila. Xe xe xe
HAPPY READING
“Han, Pak Andre bakal ke sini ya?” bisik Risma saat sadar tempat mereka berada ini adalah restoran mahal. Mungkin tidak bagi Hana saat ia bersama Andre, namun jika yang berada di dekatnya adalah rekan-rekan kerjanya yang sekarang, tempat ini otomatis akan jadi tempat yang mewah dan mahal.
Hana menggeleng. “Udah. Tenang saja…”
Tak berselang lama pelayan pun datang. “Maaf, apakah sudah siap untuk memesan?” tanya pelayang itu pada Hana dan kawan-kawan.
Serempak tiga pasang mata itu menatap Hana.
“Pesan saja yang kalian mau, bebas…”
Ujaran Hana disambut dengan wajah cerah ketiga kawannya. Mereka segera sibuk melihat menu dan memilih apa yang hendak mereka pesan.
Pelayan pun undur diri setelah Hana dan kawan-kawannya menyelesaikan pesanannya.
“Aku masih penasaran, sebenarnya apa yang membuat kamu tiba-tiba mengajak kami ke sini?” tanya Haning yang diantara mereka paling tidak bisa diam memendam rasa penasaran.
“Nggak ada apa-apa Mbak. Aku hanya ingin mengakrabkan diri dengan kalian.”
“Dalam rangka apa?” tanya Eka yang juga penasaran dengan ajakan Hana yang tiba-tiba ini.
“Ya nggak ada. Aku hanya merasa selama bekerja di toko aku terlalu fokus untuk bekerja dan bekerja, tanpa memperdulikan hubunganku dengan kalian. Apakah sudah berjalan dengan baik atau belum. Apakah ada masalah atau tidak. Apakah ada ganjalan atau baik-baik saja...”
Dan makanan pun datang. Mereka pun segera menikmati masing-masing makanan yang mereka pesan.
“Rasa-rasanya, gaji yang baru kamu terima akan habis seketika malam ini,” ujar Eka sambil tertawa sungkan.
“Nggak masalah,” jawab Hana dengan senyum manisnya.
“Ya kalau habis doang nggak masalah, kalau sampai kurang gimana?” tanya Haning yang tak dapat menutupi rasa cemasnya. “Dan aku nggak mau patungan bayarin ya.” Ya walau pun yang ia cemaskan bukanlah Hana, namun nasib isi kantongnya yang terancam jika sampai uang Hana kurang untuk membayar.
“Tenang Mbak. Yuk makan…”
Keempatnya sempat terdiam karena sibuk dengan makanan di hadapannya.
Namun kemudian Haning nampak menghentikan pergerakan tangannya. Ia bahkan nampak meletakkan alat makannya. “Beneran deh aku mau tanya. Hana, memangnya uang kamu ada berapa buat bayar ini semua?” sekali lagi Haning bertanya dengan cemas yang begitu ketara di wajahnya.
“Ada Mbak. Mbak Haning tenang ya. Bahkan kalau kalian mau nambah boleh kok...”
"Kamu nggak ada niat untuk ngerjain kami kan?" sekali lagi Haning bertanya dengan wajah cemas campur curiga.
"Enggak Mbak. Emang aku pernah ngerjain kalian?"
__ADS_1
Haning menyerah untuk menuduh Hana yang macam-macam. Selama ini Hana memang tak pernah secara sengaja menyusahkan mereka. Malah sebaliknya, ia yang sering dengan sengaja membuat kerusuhan karena ia yang over thingking dan berpikiran rumit. Keempatnya kemudian kembali melanjutkan makan.
“Mimpi apa aku ini ya. Kemarin malam makan enak. Sekarang makan enak lagi. Kira-kira besok malam cerita makan malamnya gimana ya?” celetuk Eka di sela aktivitas makannya.
“Jangan ngarep banyak-banyak kamu,” timpal Risma.
“Ya masak berharap aja nggak boleh Ma,” balas Eka.
“Eh kenapa manggilnya jadi ikut-ikutan Hana. Gua bukan mama kalian ya,” ketus Risma memperingati rekan-rekannya.
“Tapi setuju deh, manggil Ma itu lebih enteng dari pada Ris.” Tanpa diduga, Haning turut berkomentar.
Risma merengut menatap Haning. “Sejak kapan Mbak Haning kompakan sama mereka?”
“Sejak kapan ya?” Haning balik bertanya dengan mengetuk-ngetuk dagunya.
“Sejak kapan?” desak Hana.
“Sejak sekarang dan seterusnya, ha ha ha ha,” ujar Haning diakihiri tawa.
Entah mereka tertawa untuk apa, yang jelas Hana dan Eka kompak tertawa bersama Haning. Malam ini nampaknya Haning dalam keadaan mood yang sangat bagus sehingga ia tak hanya sibuk mencari korban untuk dijatuhkan tapi juga turut menyumbang keseruan dalam obrolan mereka.
“Kayakmya sudah pada habis. Kalau masih belum kenyang, nambah lagi saja…” tawar Hana setelah sadar makanan di hadapan rekan-rekannya sudah ludes semua.
“Kamu kesambet apa sih Han sebenarnya. Rada bingung
juga sih tiba-tiba kayak gini…” ujar Risma yang benar-benar tak punya clue atas sikap tiba-tiba rekannya ini.
Hana meletakkan alat makannya dan menatap ketiga rekan kerjanya.
“Emang kamu abis ngapain? Nyuri?” kata Haning.
Haning sebenarnya bukan orang jahat. Hanya saja ia kelewat ekspresif dan susah mengendalikan diri. Dia akan tersenyum kalau suka, dan menolak kalau tak suka. Begitu pun dengan kedatangan Hana. Ia merasa tersaingi sehingga ia selalu berusaha menjatuhkan Hana dengan berbagai cara.
“Ya nggak Mbak." Ucapan Hana terjeda kala ia menghela nafas. "Sebenarnya aku masih punya keluarga, tapi karena suatu alasan yang terlalu rumit aku jelaskan. Aku tertolak dan aku tak mau memaksa pulang.”
“Orang tua kamu siapa, orang kaya juga?” tanya Haning yang tak dapat menutupi rasa penasarannya.
Hana menghela nafas. “Nanti jika aku sudah menyelesaikan masalah keluargaku, kalian adalah orang-orang yang akan aku datangi untuk aku ajak merayakan.”
“Terus, terus. Kalau pak Andre gimana?” Eka tak dapat menahan lagi keingin tahuannya untuk masalah yang satu ini.
Hana ragu. Ia berjalan dalam hubungan tanpa restu. Haruskah ia mengakui hubungan semacam ini di hadapan rekan-rekannya?
“Hana…” panggil Haning.
Hana kembali menghela nafas untuk meraup keyakinan sebelum mulai mengungkapkan.
“Dia mantan bosku…” ujar Hana yang masih kekeh dengan fakta ini.
“Nggak hanya berhenti di situ kan?” desak Eka.
__ADS_1
Kali ini Risma memilih diam. Ia tak ingin meracau usaha kawannya ini untuk membuat Hana berbicara.
Hana menghela nafas. Ia nampak meremas jemarinya yang berada di atas meja. “Kami saling mencintai…” ujar Hana akhirnya.
“Nah kan. Sejak awal aku memang sudah yakin kalau kalian ada apa-apa,” sombong Eka.
“Tapi…” Hana menganggantung ucapannya.
“Apa karena tak dapat restu makanya kamu pergi dari rumah?” tebak Haning dengan wajah penuh simpati. Ia berusaha mengumpulkan fakta berdasarkan kepingan-kepingan keterangan Hana.
Hana menggeleng. “Terlalu sulit buat aku ceritakan, yang jelas dua hal ini memang langsung mau pun tak langsung saling berhubungan.”
Haning tiba-tiba meletakkan sebelah tangannya di pundak Hana. “Kamu sabar ya…”
Eka dan Risma cukup terkejut dengan reaksi Haning kali ini, namun keduanya justru bersyukur karena akhirnya tak hanya ketegangan yang terjadi jika Hana dan Haning ada di satu tempat yang sama. Dan peperangan pun akhirnya berakhir dengan perdamaian.
“Makasih Mbak. Ya udah ayo makan lagi…”
Mereka pun kembali mengobrol ringan dengan sesekali terselip canda dan tawa di tengahnya. Haning yang menyebalkan pergi, berganti Haning yang penuh simpati. Haning juga menceritakan siapa dirinya, yang menjadi tulang punggung keluarga, yang harus menafkahi seorang ibu dan adiknya yang masih SMA. Sebenarnya ia adalah sulung dari tiga bersaudara, namun saudara keduanya sudah menikah dan membina rumah tangga. Untuk itu ia bertekat untuk terus melajang hingga adiknya menyelesaikan pendidikan. Setelahnya barulah ia berfikir untuk masa depan dirinya dan ibunya.
“Hai…” Seorang pria datang dan menyapa mereka.
“Loh, kok kamu…”
Drrrkkk!!
Pria itu menarik kursi dan mengambil tempat di samping Hana. “Kenapa? Kaget?”
Sesaat tak ada yang berani bersuara kala Andre sedang berbicara dengan Hana.
“Kok bisa tahu aku di sini?” Hana balik bertanya.
“Rahasia…” jawab Andre dengan santainya.
“Iiihhh. Kok gitu…” Hana yang cemberut langsung membuang muka.
Melihat tingkah kekasihnya yang menurut Andre imut, membuatnya tak tahan untuk menarik Hana ke dalam pelukannya. Hana pasrah dan bahkan menyamankan posisi kepalanya.
Melihat bagaimana yang cukup luwes bermanja padanya, Andre yakin jika kekasihnya sudah mengakui adanya hubungan lebih antara keduanya dengan rekan-rekan kerjanya.
“Masih lama nggak?” tanya Andre pada Hana.
Hana menegakkan tubuhnya. “Enggak sih. Kamu sudah mau pulang?”
Andre menggeleng. “Aku belum makan malam. Nggak apa-apa kan kalu aku bergabung dengan kalian?” tanya Andre sambil menatap ketiga rekan Hana.
Tiga wanita yang Andre tatap pun serempak menggelengkan kepalanya.
“Ya udah, lanjut saja ngobrolnya,” ujar Andre.
Andre kemudian nampak mengangkat tangannya. “Pelayan…”
__ADS_1
Tak berselang lama, pelayan pun datang bersiap untuk melayani pesanan Andre.
Bersambung…