
^^^Up kedua hari ini^^^
^^^Tim yang mikir Dika selingkuh ada nggak nih?^^^
^^^Atau pada positif thinking sama berondongnya Rina, hehehe^^^
...*HAPPY READING*...
Kedua pemuda berperawakan tinggi itu berjalan beriringan keluar dari masjid selepas melaksanakan sholat subuh.
"Beneran nggak mampir nih?"
"Enggak, terimakasih. Istriku bisa heboh kalau aku nggak balik segera."
"Dasar bucin..."
"Kamu belum tahu aja nikmatnya nikah itu kayak gimana? Mau nunggu seberapa tua kamu mau berhenti berkelana, Om Harsa..."
Yang dipanggil Om Harsa ini hanya tertawa. Bagaimana tidak, ia masih merasa begitu muda hingga selalu menolak untuk dipanggil om oleh keponakan yang usianya hanya terpaut beberapa tahun lebih muda darinya ini.
"Menanggalkan panggilan Om sepertinya akan terasa lebih nyaman di telinga."
"Aku nggak mau. Kamu akan terus menjadi bocah tua kalau aku tak rajin mengingatkanmu bahwa kamu itu adalah adik dari almarhum papaku."
Sekali lagi Harsa memeluk Dika.
"Maafkan aku karena tak hadir di pernikahanmu."
"Aku paham, kamu masih sibuk mengembara mencari kitab suci ke barat."
Tawa kembali pecah diantara keduanya.
"Baiklah, sampai ketemu. Salam buat istrimu. Sebenarnya ingin sekali aku bertemu dengan istri kamu saat ini, tapi rapat pagi ini tak bisa aku tunda."
"Aku paham. Sampai ketemu Om Harsa, segeralah pulang ke Indonesia."
Harsa memainkan telunjuknya ke arah Dika. Ia lelah mengingatkan keponakannya ini untuk tak memanggilnya Om.
"Baiklah. Aku akan pulang untuk Rista. Salam untuk dia, katakan aku akan akan pulang dan segera menikahinya, biar kamu tak memanggilku Om lagi," ucap Harsa dengan wajah datar tanpa tawa.
Namun Dika menanggapinya berbeda. Ia tertawa dengan ucapan Harsa.
"Sampai jumpa."
"Sampai jumpa Restu..."
Keduanya sempat berjabat tangan sebelum Dika berjalan menuju arah yang berbeda.
Harsa menatap punggung Dika yang berjalan menjauhinya. Sekelebat bayangan masa lalu yang dialami kakaknya lewat di benaknya. Karena alasan inilah ia memilih bebas dan enggan menikah.
Meskipun Dika baru saja mengungkap fakta bagaimana kisah kehancuran rumah tangga orang tuanya, tak serta merta membuat batin Harsa sembuh dari luka. Ia seolah mampu merasakan sakit yang dirasakan almarhum kakaknya.
"Rista, ternyata tak ada darah yang sama mengalir di tubuh kita..."
***
Di luar masih berselimut kabut. Rina masih bertahan di atas sajadah dengan air mata yang masih mengalir deras.
Cklek
Suara pintu yang terbuka menyeruak di telinga Rina. Tanpa melepas mukena, ia langsung berlari untuk melihat siapa yang baru saja memasuki kamarnya.
"Dika..."
__ADS_1
Rina langsung menghambur ke pelukan suaminya.
"Ya Allah, meluknya gini banget..."
Dika membalas pelukan istrinya.
"Kamu darimana?"
Dika langsung menjauhkan tubuh Rina dari dekapannya saat suara wanitanya terdengar berbeda.
"Kamu kenapa?" tanya Dika sambil menatap lekat wajah wanitanya yang nampak sembab.
Tak ingin terlihat terlalu kacau, membuat Rina segera menghapus air matanya dengan kasar.
"Aku takut tahu nggak!"
Rina kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dika dan kembali menangis di sana.
Dika mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dengan lembut ia mengusap kepala Rina.
"Duduk yuk," ajak Dika saat merasa tangis istrinya mereda.
Perlahan Dika membantu Rina melepas mukena. Ia mengusap jejak air mata di wajah wanitanya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening setelahnya.
"Maaf ya. Harsa ngajak aku ketemu buru-buru."
"Harsa siapa?"
"Kamu bisa bangunin aku kan kalau emang nggak bisa ngajak."
Air mata Rina masih menetes meskipun tak ada ruangan seperti sebelumnya.
"Maaf sayang, maaf..."
Dengan penuh sesal Dika mengucap maaf pada istrinya. Ia membawa tubuh Rina yang kembali bergetar ke dalam pelukannya.
"Harsa itu adik bungsu Papa."
Rina menarik tubuhnya dari dekapan Dika.
"Papa?"
"Almarhum papa Hendro," lanjut Dika.
Dika menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas.
"Ia pergi dari Indonesia sejak papa meninggal dan belum pernah kembali hingga sekarang."
Ada luka dalam ucapan Dika, membuat Rina perlahan mendongak menatap wajah suaminya.
"Harsa menghubungiku begitu tahu aku di sini bersamamu, dan dia langsung memintaku untuk menemuinya. Setelah menyepakati tempat bertemu, aku terlalu buru-buru berangkat hingga ponsel ku pun tertinggal."
"Nanti kan kalian bisa ketemu lagi."
Dika menggeleng. "Tak ada yang tahu tepatnya keberadaan dia. Terlebih ketika ia sedang tak ingin menampakkan diri."
"Bertahun-tahun kakek nenek mencari, namun dia sungguh ahli dalam bersembunyi. Akhirnya semua menyerah. Semua membiarkannya berkekana, asalkan ia terus memberi kabar walau enggan untuk kembali sementara."
Rina tak menyangka ada cerita rumit seperti ini dalam kehidupan Dika. Ia pun merasa bersalah karena sudah berfikir macam-macam terhadap suaminya.
" Maafin aku ya. "
Dika merapikan rambut Rina yang berantakan.
__ADS_1
" Aku yang harusnya minta maaf, bikin kamu kecapekan sampai nggak ada waktu buat istirahat. Begitu kamu tidur malah main pergi dan nggak kasih kabar."
Rina menggeleng.
Dika memegang pipi kanan dan kiri Rina.
" Aku sayang kamu."
"Aku juga," jawab Rina sambil melingkarkan kedua lengannya memeluk leher Dika.
Untuk sekian waktu mereka berpelukan dalam diam. Menyalurkan segenap rasa cinta dan kasih tanpa kata. Hanya melalui hembusan nafas dan detak jantung yang tak berirama.
"Masih capek nggak?" lirih Dika.
Masih dengan posisi yang sama Rina menggelengkan kepala.
Dika memaksa kedua lengan Rina untuk terlepas dari lehernya.
"May I..."
Rina tersenyum dengan cantiknya.
"I'm yours..."
Dika membelai lembut wajah cantik istrinya. Wajah cantik maha karya Tuhan yang kali ini bebas polesan. Ia menyentuh setiap incinya dengan sayang, memastikan tak ada sisa air mata yang tertinggal di sana.
Dika mencium kening Rina dalam, keduanya merapalkan doa yang kini sudah hafal diluar kepala. Diawali dengan sebuah ciuman dalam, mereka mulai saling bertukar kenikmatan.
Dan lagi-lagi mereka menyambut pagi dengan sex di awal hari.
***
Siang ini mereka tengah dalam perjalanan ke kota ke dua. Lagi-lagi Rina melewatkan perjalanan ini dengan hanya memejamkan mata.
Dika meraba perut Rina yang masih Rata. Ada debar di dadanya setiap ia sadar jika nanti akan ada keturunannya yang berkembang di sana.
Ia sadar betul apa resiko sex tanpa pengaman yang ia lakoni bersama Rina, namun ia masih enggan untuk membahasnya. Ia takut jika ternyata reaksi istrinya tak seperti yang ia harapkan, mengingat bagaimana Rina ingin sekali menyembunyikan pernikahan dan masih ingin mengejar impian. Dika yakin jika istrinya ini belum siap jika harus ada anak dalam kehidupan mereka dalam waktu dekat.
"Ennnggghhhh...."
Buru-buru Dika menarik tangannya, saat Rina menggeliat dalam tidurnya. Namun tanpa di duga, Rina bergerak cepat menggenggam tangan Dika dan menahan di atas perutnya.
"Kamu mikirin apa?" tanya Rina dengan suara paraunya.
"Enggak."
"I'm not a jerk sayang. Just tell me what..."
Rina perlahan membuka mata dan mendongak menatap Dika yang juga tengah menatapnya.
Dika menghela nafas. Tak mudah sepertinya membohongi Rina terkait perasaannya kini.
"Apa kamu tahu kalau berhubungan sex bisa menyebabkan hamil, aw!!"
Dika mendelik menatap Rina yang ternyata tengah melotot dan mencubit pinggang nya barusan.
"Kamu pikir aku bocah TK apa gimana sih?!" protes Rina dengan bersungut-sungut.
"Ya kan, aku cuma nanya sayang..."
"Ya menurut kamu?"
Dika menatap ragu istrinya yang nampak berapi-api. Kembali Dika menghela nafas. Sepertinya membahas anak tak bisa ditunda lagi.
__ADS_1
"Kalau sampai kamu hamil gimana?" tanya Dika akhirnya.
TBC