Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Telanjang


__ADS_3

HAPPY READING


Saat Rista tak lagi melawan, Dedi perlahan melepaskan cekalannya. Iya, dia adalah Dedi yang sejak tadi sudah sangat tak rela banyak orang memandangi punggung Rista yang terbuka yang sedikit terbuka. Selanjutnya Dedi perlahan menata rambut Rista dengan jemarinya. Meski Rista tak putus mengomelinya, namun Dedi tak bergeming dengan apa yang tengah dilakukannya.


“Bagian belakang gaun kamu terlalu terbuka, jadi lebih baik rambutnya di gerai saja,” ujar Dedi memaparkan alasannya.


Sejenak Rista terdiam, namun ia sadar ia tak boleh terlihat menyerah begitu saja. “Apa urusan kamu? Aku nyaman dengan gayaku,” ujar Rista dengan ketusnya.


“Apa kamu mau terus ditelanjangi sapanjang acara?” ujar Dedi dengan santainya.


Rista mendengus. Tidak adakah kata-kata yang lebih enak di dengar? Gerutu Rista dalam hati.


“Aku nggak telanjang Kak. Gaunku bahkan panjang,” balas Rista. Kini ia bicara dengan lebih sopan dari sebelumnya. Tidak ngotot dan berteriak.


Selesai selesai menata rambut Rista, Dedi tampak puas dengan hasil kerajinannya. “Memang panjang, tapi pahamu bahkan kelihatan,” lanjutnya.


Seketika Rista memperhatikan bagian bawah tubuhnya. Ia memang mengenakan gaun panjang dengan belahan sampai atas paha. Tapi jika tidak digunakan untuk duduk dengan kaki menyilang tentu tak akan kelihatan.


Tak ingin terlihat melihat Dedi menang, Rista pun kembali mengangkat wajahnya. Meski tak kembali berkata-kata setidaknya ia masih setia dengan tatapan tak suka.


Tapi perasaan sejak tadi aku belum duduk sama sekali, terus darimana Dedi tahu kalau gaun ini punya belahan tinggi.


Namun Rista begitu terlambat menyadari. Baru saja ia ingin menyakan hal ini, Dedi sudah keburu pergi.


“Orang apa bukan sih?!” kesal Rista. “Nggak ada niatan ngajakin masuk bareng apa gimana gitu…” lanjutnya bersungut-sungut sendirian.


Rista memang masih berharap. Meski rasa sakit itu masih jelas membekas, namun hatinya seakan buta. Karena tak ingin berlama-lama bersembunyi dalam sepi, akhirnya Rista memutuskan untuk masuk dan menyaksikan acara yang menjadi alasan keberadaanya di sana.


Teriring alunan music yang yang memainkan lagu dengan indahnya menambah hangatnya suasana. Tak hanya Hana dan Andre yang mendeklarasikan diri hendak melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama, namun ada dua kubu yang selama ini selalu berada di sisi berbeda namun kini justru berada di haluan yang sama.


“Ini bukan pernikahan bisnis bukan?” tanya seseorang dengan menggoda kepada Galih yang sedang berdampingan bersama Edo menjamu tamu-tamu mereka.


“Ehm…” cepat-cepat Edo segera berdehem untuk menyamarkan raut wajahnya yang berubah seketika. Namun sayangnya yang terjadi adalah sebaliknya.


“Aku kok baru kepikiran ya ada kemungkin demikian. Bagaimana kalau kita realisasikan saja?” tanya Edo sembari melempar tatapan pada calon besannya.


Bukan Edo namanya kalau dia gagal menguasai suasana. Kalimat yang semula adalah tekanan, kini dengan cepat ia ubah menjadi candaan.

__ADS_1


 “Boleh juga saran ini untuk dipertimbangkan.” Galih yang juga cepat sekali menerima informasi juga turut mengalir mengikuti permainan yang calon besannya awali. Sehingga bungkam lah mulut-mulut yang semula julid akan acara ini.


Suasana perlahan menjadi hening saat iringan dari pembawa lagu di sudut ruangan berhenti dimainkan. Lampu-lampu


dimatikan di beberapa bagian menyisakan satu di tengah ruangan. Di sana ada Hana yang berdiri bersama keluarganya dan Andre di temani kedua orang tuanya.


Andre meraih tangan Hana dan berlutut di depannya. Sebelah tangannya mengeluarkan kotak yang sudah terbuka.


“Hana, apa kamu mau menikah denganku?” tanya Andre sambil menatap kekasihnya.


Ini memang bukan kali pertama Andre mengungkapkan hal ini kepada Hana. Namun rasanya sungguh berbeda saat Andre kembali menyatakan keinginannya untuk menikahi Hana di depan keluarga dan banyak pasang mata.


Jawaban sederhana yang seyogyanya gampang Hana ucapkan nyatanya yang terjadi tak demikian. Bukannya segera menjawab pertanyaan dengan segera, Hana justru banjir air mata. Indah bahkan harus memberikan tissue untuk menyeka. Hingga akhirnya jawaban pun mampu Hana ucapkan.


“Iya…”


Cuma itu dan hanya itu yang mampu Hana ucapkan sebelum ia kembali sesenggukan. Banyak yang menganggap Hana menunjukkan reaksi yang berlebihan, tapi sungguh yang ia rasakan campur aduk tak karuan.


Perjalanan hidup Hana sungguh panjang. Ia melawati hari-hari yang terkadang banyak orang enggan hanya untuk sekedar membayangkan. Dari ia yang awalnya harus berjuang keras bahkan harus terlempar dan terhempas hanya untuk mendapatkan sebuah pelukan kasih sayang dari keluarga, hingga akhirnya ia berada di sini. Menjadi Hana yang merupakan putri Rahardja dan sebentar lagi menyandang gelar sebagai menantu Wiguna. Sungguh luar biasa campur aduk perasaan Hana.


Di tengah derai air mata dan senyum bahagia Hana, Andre memasangkan cincin bertahta intan di jemari Hana. Begitu cincin terpasang, Andre bangkit dan bersambut oleh wanita yang selangkah lagi akan menjadi istrinya. Pelukan ini bersambut tepuk tangan meriah oleh puluhan undangan yang datang di sana.


Di tengah meriahnya acara ini, ternyata ada yang merasa sepi.


“Ehm…”


Mendengar ada dehem dengan cukup jelas, buru-buru Dedi memutus keterpakuannya. Buru-buru ia menarik ponsel dari sakunya, namun sungguh sayang malah mati daya.


Astaga. Gerutu Dedi yang merasa kesal karena tak punya penyelamat saat ini.


Pelaku deheman tertawa geli melihat pemandangan ini. Enggan untuk pura-pura pergi, Miko segera menepuk bahu Dedi. “Jangan dilihat saja, buruan hampiri sana…” ujarnya kemudian.


“Tck…”


Dedi berdecak dan segera menyimpan ponsel matinya. Ponsel yang memiliki banyak guna tapi kini jadi penyebab kebodohan yang tampak di dirinya. “Kalian kapan datang?” tanya Dedi berusaha mengalihakan pembicaraan.


“Sudah dari tadi, ya kan…” jawab Nita yang memang datang bersama Miko.

__ADS_1


Miko hanya menggerakkan alis sebagai jawaban.


“Kalian udah lama?” tanya Dedi yang seperti bingung sendiri menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.


Sial. Umpat Dedi begitu sadar.


Menyadari kebodohannya, Dedi pura-pura sibuk mencari sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa.


Miko dan Nita malah saling menatap beberapa saat, sebelum akhirnya sama-sama mengembangkan senyum menggoda pada Dedi yang ada di hadapan mereka.


“Kita sudah sejak SMA. Iya kan Sayang…” jawab Nita dengan nada dibuat-buat.


Dedi menghela nafas. Lelah juga berlagak tak sadar jika ia sedang digoda. Dan ia tahu benar ke mana arah ucapan Miko sebenarnya. Ketimbang berusaha mengalihkan pembicaraan yang mungkin saja akan berakhir sia-sia, Dedi memilih untuk mengacuhkan mereka.


“Apa ada service yang kurang berkenan?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang.


Nita menjentikkan jarinya. “Nah kebetulan,” ujarnya kemudian.


Ken yang baru saja bergabung memang tak tahu apa yang sedang menjadi pembahasan tiga orang dokter muda ini, sehingga ia pasang muka serius dan siap mendengarkan.


Acara Andre memang diadakan di salah satu restoran Dian. Dan karena Dian sekarang sedang mengandung, jadilah Ken yang lebih banyak langsung turun tangan mengurusi. Seperti sekarang ini, Ken secara khusus menghandle semua yang kaitannya dengan acara Andre. Karena ini bukan semata masalah uang, tapi juga sebagai wujud kasih terhadap teman.


“Gimana, kurang apa, apa ada yang kurang?” tanya Ken bertubi.


“Gini lo Bro…” Miko melepaskan Nita dan bergeser. “Kita mau minta pendapat kamu?” lanjut Miko ketika sudah berada di samping Ken posisinya.


“Tantang apa?” tanya Ken masih dengan perhatian penuhnya.


Saat Miko dan Nita sudah bersiap dengan wajah berserinya, Dedi justru ingin segera beranjak dari sana. Namun sialnya kenapa Ken yang tiba-tiba muncul justru merangkulnya.


Memang di sana hanya Dedi yang cukup Ken akrabi. Ketertarikan Dedi dalam bidang bisnis membuat mereka kerap kali berinteraksi. Meski tak aktif, Dedi memang terlibat dalam beberapa investasi.


“Ehm, jadi mau acara yang gimana pak Dokter?” tanya Ken setelah acara bisik-bisiknya terselesaikan. Ia tertawa bersama Miko yang baru saja mengomporinya.


“Tck. Apa sih…” kesal Dedi.


Dedi menggerakkan bahunya, berharap tangan Ken akan meninggalkan pundaknya. Setelah berhasil lepas ia siap melangkah.

__ADS_1


“E, e, e… mau kemana?”


Bersambung...


__ADS_2