
HAPPY READING
“Alhamdulillah selesai juga akhirnya…” Andre merengganggkan tubuh dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Ya ampun laper gue…” ujarnya kemudian setelah tangannya tak lagi tertarik ke udara.
“Sudah ingat lapar sekarang?” cibir Dika sambil membuka botol air mineral yang tersedia di mejanya.
“Off course. I'm human right…” jawab Andre dengan gaya soknya.
“Kemarin aja pas Hana belum ketemu udah kaya zombie dia,” adu Dika pada Dedi yang duduk dengan wajah kaku.
Dedi hanya tersenyum samar sebelum melempar pandangannya ke jendela kaca besar yang ada di ruangan Dika.
“Eh, kalau gua zombie dia ape…” Andre menunjuk Dedi yang sejak tadi nyaris tak bersuara. Saat ketiganya berdiskusi pun dia tak begitu banyak bicara. Hanya sekedar bersuara jika ada hal yang perlu ditambah atau kurang disetujuinya.
“Entah lah…” Dika memilih acuh dan beralih pada ponsel yang berada di tangannya. “Rina lagi ngapain sih. Kenapa WA ku nggak dibalas juga,” gumam Dika dengan objek tatap yang masih sama.
“Kalian itu sudah suami istri, kenapa memilih memandangi WA yang centangnya tak segera berubah warna, bukannya lebih praktis kalau telfon saja,” ujar Andre setelah selesai membasahi tenggorokannya.
“Sebagai istri yang baik, dia harus mengabarkan kondisinya setiap saat apa pun medianya, termasuk pesal whatssapp.”
“Tck. Ribet kamu. Kalau masih pacaran boleh lah punya idealisme semacam itu, tapi kalau udah nikah geli jadinya yang lihat. Mana sebentar lagi udah punya anak...”
“Ya masih mending lah. Kita nikah rasa pacaran, dari pada situ pacaran udah kaya orang nikah…”
“Ya at least aku tahu kalau aku sudah salah, dan sekaran gsedang berjuang untuk menebus semua kesalahan yang sudah aku buat."
Andre beradu pandang dengan Dika beberapa saat sebelum melempar pandangan keduanya pada satu lagi manusia di ruangan mereka.
"Menyadari kesalahan dan mau memperbaiki itu aku pikir lebih baik ketimbang yang tenggelam dalam luka masa lalu api nggak jelas itu bagian apa yang terlukan, pokoknya sakit aja, dan akhirnya jadi manusia yang nampak luar hidup tapi hatinya mati,” ujar Andre dengan menekan dibeberapa kata terakhirnya.
Brrrkkkk!!!!
Dedi menaruh dengan kasar berkas-berkas yang semula dicematinya. Ia kemudian bangkit meninggalkan ruangan tanpa terlebih dahulu berpamitan.
“Woy…! Santai bos santai! Mau kemana Anda. Tak sopan sekali pergi begitu saja tanpa pamitan sama CEO kita. Woy!!”
Kreiyt!!!
Cklek!!!
"B*ngke emang calon ipar lu."
Melihat Dika yang sama sekali tak peduli membuat Andre memutuskan untuk segera bangkit dan mengejar Dedi.
“Zombie bangk*. Kirain mau kemana malah
__ADS_1
tebar pesona…” umpat Andre dengan suara pelan saat melihat Dedi tengah berbicara dengan staf sekertarisnya.
“Ada masalah apa?” tanya Andre yang sudah menyimpan rapat-rapat mulut recehnya. Yang tampil sekarang adalah sekertaris Andre yang kaku dan berkharisma.
“I, ini Pak…” Rahma gelagapan menunjukkan berkas yang baru saja hendak ia tanyakan pada Dedi. Namun belum juga ia mulai bertanya, Andre keburu datang dan menghampiri mereka.
Andre mengambil berkas tersebut dari tangan Rahma dan coba mengeceknya sekilas.
“Hanya seperti ini saja tak bisa? Jangan buat saya ragu dengan kredibilitas kalian. Kalau kalian merasa kesulitan mengerjakan semua yang menjadi tugas kalian, silahkan mengajukan surat resign atau pengalihan jabatan yang merasa kalian kuasai. Kalian bisa pindah kalau memang ada kursi, tapi jika tidak... Pintu keluar terbuka lebar, untk kalian lewati dan untuk posisi yang ditinggalkan sudah banyak antrian dari mereka yang memang punya kemampuan. Mari Pak Dedi. Maafkan staf saya,” ujar Andre mempersilahkan Dedi untuk meneruskan langkahnya.
Rahma terduduk lemah dengan memangku berkas yang sebenarnya hanya ia jadikan alasan tadi. Ia tak ada masalah dengan materi ini sebenarnya. Hanya saja ia sedang mencari kesempatan untuk berbicara dengan Dedi, pria muda yang jenius yang dulu menjabat sebagai sekertaris sebelum Andre masuk menggantikannya.
Rahma memang sudah mendengar rumor bahwa Dedi merupakan calon ipar dari pria nomor satu di perusahaan ini, namun ia jadi punya keberanian untuk memupuk perasaan setelah melihat interaksi antara Dedi dan Rista yang tak sesuai dengan rumor yang beredar selama ini. Namun belum juga mulai, ia sudah terancam seperti ini.
“Tuh kan. Apa aku bilang. Kalian jangan sok kecentilan sama atasan. Nggak belajar dari Hana apa? Gara-gara naksir sama pak Restu, ia jadi terlempar dari perusahaan ini. Padahal tahu sendiri Hana cakapnya seperti apa, itu tak mambuat dia bisa mempertahankan jabatan.”
Memang kasus Hana sudah ditutup, dan keberadaannya pun tak diketahui sampai sekarang, karena ia tak lagi terlihat di perusahaan manapun setelah kejadian itu.
“Ya kan namanya usaha Mbak,” Elis berusaha membela Rahma, karena setelah Rahma mengakui ketertarikannya dengan Dedi, Elis juga mengaku jika sebenarnya ia sudah cukup lama menyimpan rasa pada Andre yang notabene adalah atasan mereka.
“Tapi lihat sendiri kan…” kekeh Riza.
Elis yang semula berada di dekat Rahma buru-buru kembali ke tempatnya saat terlihat pintu ruangan Dika terbuka dari dalam. Tak berselang lama Dika muncul dan berjalan lurus melewati ketiga stafnya. Dika hendak menyusul Andre dn Dedi yang terlebih dahulu keluar. Ternyata Andre benar-benar lapar. Terbukti dengan ia yang sekarang menyeret Dedi ke kantin untuk segera mengisi perutnya.
“Ini lagi di kantor Ndre…” cuek Dedi sambil mengaduk minumannya.
“Maksudnya buat kerja lagi di sini…” jelas Andre yang jelas sekali berusaha menahan intonasi.
“Aku sudah nyaman di rumah sakit.”
“Bukan karena agar sefrekwensi dengan calon mertua?” sarkas Andre lengkap dengan senyum menggoda.
Dedi sama sekali tak bereaksi. Wajahnya tetap datar dan sama sekali tak menunjukkan minat untuk membahas hal ini.
“Eh aku mau nanya nih mumpung nggak ada Dika. Sebenarnya hubungan kamu sama Rista itu gimana sih?” tanya Andre yang tak dapat menutupi rasa penasarannya.
“Dia adiknya Dika dan aku temannya Dika. Silahkan kamu simpulkan sendiri.”
“Ya hubungan kalian itu…” Andre mendengus membuat ucapannya terjeda. “B*ngs*t banget lu udah digerayangin kemana-mana tapi berlagak seolah tidak ada apa-apa.”
Dedi membulatkan mata mendengar apa yang baru saja Andre katakan.
“Panik ya panik ya. Siapa suruh main sosor nggak lihat sikon, jadi ada yang lihat kan…”
“Jangan gosip kamu. Ati-ati karena yang kamu bicarakan adik pemilik perusahaan.” Dedi masih berusaha tenang dan menganggap Andre hanya berusaha menjebaknya saja.
__ADS_1
“Eh, meskipun aku nggak punya ingatan super, tapi otakku menolak lupa kalau kamu dulu sering berc…”
Dedi meraih tangan Andre. “Lu…”
“Kenape? Kaget ada yang tahu borok situ…” Bukannya takut Andre justru makin gencar menyerang Dedi.
Dedi nampak tak suka dengan ucapan Andre. Namun sayang, ia terlanjur tertangkap basah dan yang diucapkan Andre memang benar adanya. Sudah sudah tak ada cara mengelak untuknya.
“Kalian ngapain pegangan tangan…?” Dika muncul dan memandangi kedua sahabatnya ini.
Spontan Dedi dan Andre menarik tangannya masing-masing.
“Jadi kalian buru-buru ninggalin aku di ruangan cuma untuk ini?” tuduh Dika dengan wajah tanpa dosa.
Dedi kembali membuang muka sedangkan Andre sudah mendengus berkali-kali dengan tangan terkepal erat siap untuk menoyor mulut bosnya yang kurang ajar ini. Sayang di kantin sedang ada beberapa karyawan, jika tak ada orang baku hantam sepertinya tak bisa terelakkan.
“Kalau mau bikin affair itu yang elit dikit. Jijik tahu di depan umum seperti ini.”
Andre dan Dika memang bermulut sama lamisnya, jadi jika ada kesempatan seperti ini, ia tak mau kehilangan kesempatan untuk menggoda sahabatnya.
“Bac*tnya astaga…” desis Andre. Dia tak mungkin mengeluarkan umpatannya di sini jika tak mau menjadi bahan gossip para karyawan.
“Aku masih tidak menyangka…” Dika masih terus saja menggoda dengan wajah serius dengan tatapan tak percaya.
Dedi mulai menghela nafas, sedangkan Andre sudah benar benar kesal dengan candaan bosnya ini. Dari ketiga orang ini memang Andre lah yang memiliki temperament paling buruk, sehingga tak heran jika Dika yang sebenarnya jahil sangat senang mengerjainya sekarang.
“Andika. Anda sudah olahraga kah hari ini?” lirih Andre dengan meremas tangannya bergantian, menimbulkan suara bergemeletuk yang menciutkan lawan. “Kalau belum, saya dengan suka rela bersedia menjadi sparing partner anda?”
Dika meraik kedua sudut di bibirnya lebar. Ia menggeleng dengan wajah jenaka namun tetap terlihat tampan di depan para wanita. “Saya tidak suka partner seperti anda, saya rasa Rina saja sudah sukup membuat keringat saya bercucuran keluar.”
Dika terlihat kian menyebalkan saat menggerak-gerakkan alisnya setelah kalimatnya berakhir.
“Sumpah ya…”
Drrrtttkk
Andre mencengkeram erat tepian meja, membuat meja ini berderit karena tanpa sengaja terdorong olehnya.
“Aku pergi dulu…” Dedi bangkit meninggalkan pria yang nampak ngotot di sampingnya. Ia tak khawatir Andre akan memebeberkan rahasianya yang satu itu pada Dika, karena ia tahu Andre bukan pribadi yang gemar adu domba.
“Lah, lah, lah… malah sabut dia."
“Biarin…” cuek Dika sambil mendaratkan pantatnya.
Bersambung…
__ADS_1