Zona Berondong

Zona Berondong
The Best Brother


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


"Mama lagi ngapain?" tanya Rina yang melihat mamanya tampak fokus dengan acara televisinya.


Ririn menoleh sejenak dan kembali fokus pada tontonannya.


"Lihat mereka berasa lihat kamu sama Dika, hahaha..."


"Apa sih Ma?" karena penasaran Rina akhirnya nimbrung juga.


"Oh, Love So Beautiful ya."


"Iya, kamunya pendek banget, Dikanya tinggi banget." Ririn masih tertawa sambil berkata.


"Ihh..." Spontan Rina merengut kesal.


"Gini-gini anak Mama. Jangan-jangan pas kecil Rina nggak dapet gizi yang cukup ya, makanya nggak mau tinggi kayak gini."


"Enak aja. Mama ngasih yang terbaik buat kamu, tapi dasarnya aja pendek."


"Mamaaaa."


Rina yang kesal segera bangkit meninggalkan Ririn dan menuju kamarnya.


"Sayang, jangan lupa mandi terus turun makan...!"


Rina tak menggubris teriakan mamanya dan memilih untuk segera mandi saja.


***


Ditengah lorong yang gelap terdapat satu ruang yang lampunya masih menyala dengan terang. Jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi 2 pemuda tampan itu masih berkutat dengan berkas dan laptop di hadapannya.


"Ini maksudnya gimana sih?" tanya Dika sambil mengacak rambutnya.


Dedi membenahi kacamata yang bertengger di wajahnya sebelum menggeser laptop Dika untuk dibawa kegadapannya.


Dedi membaca dengan seksama barisan huruf, angka dan skema yang tertera di dalamnya. Kemudian menjelaskan semua kepada Dika.


"Gila. Gimana lu bisa belajar secepat ini?"


Dedi mengembalikan laptop Dika dan kembali berkutat dengan tumpukan berkas dihadapannya.


"Keadaan yang menuntut gue untuk selalu belajar dan beradaptasi dengan cepat. Kalau tidak, gue akan dengan mudah ketendang, karena gue nggak ada power untuk bertahan."


Dika menatap wajah serius sahabatnya, membayangkan jika mereka akan menjadi partner selamanya.


"Jangan kelamaan ngeliatin gue. Ngeri tahu kalau elu naksir lama-lama."


"Najis."


Mereka kembali berpacu dengan waktu, agar masih punya waktu untuk mengistirahatkan tubuh sebelum fajar memaksa mereka untuk kembali bekerja.


...***...


"Ya Tuhan, hampir tengah malam."

__ADS_1


Dika mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum mengangkat tangan dan merenggankan tubuhnya. Sementara itu Dedi tengah membereskan berkas-berkas yang baru mereka selesaikan.


"Balik ke mana?" tanya Dika kemudian.


"Ke kos lah."


"Nggak nginep di tempat aku aja?"


"Kamu nggak ke rumah dokter Rudi aja?"


Bukannya menjawab Dedi justru balik bertanya.


"Rista pasti seneng kalau kamu ke sana juga."


Dika tampak berfikir.


"Dika, I don't know what's on your mind. I don't know your problem well. Tapi hal yang terpenting adalah kamu harus mampu berdamai dengan segenap hati dan jiwa. Singkirkan ego kamu. No one perfect di dunia ini."


"Aku tahu ini sulit, tapi sulit bukan berarti tak bisa."


"Thanks ya. The best brother kamu emang."


"Harus dong, kalau ngga bisa segera tereliminasi gua," jawab Dedi dengan tawa di wajah lelahnya.


"Loh, modus ternyata."


"Ampun Bos. Ini nggak modus, cuma usaha buat memikat simpati calon kakak ipar."


"Udah, udah, udah. Buruan cabut, bentar lagi tengah malam."


Dedi mengangguk dan mengikuti Dika.


"Lu juga nginep di tempat ayah Rudi ya."


"Jangan harap bisa nemuin Rista tanpa sepengetahuan gua." Todong Dika sebelum Dedi menyelesaikan ucapannya.


Mereka berdua berjalan dalam diam. Dika tahu bukan ingin menemui Rista yang ada dalam benak Dedi, namun bagaimana agar ia aman dan tak terjebak dalam situasi dimana logika akan terusir entah kemana. Dika sengaja berkata seperti itu, agar temannya ini tak merasa canggung dan tak enak hati.


Pintu langsung terbuka saat keduanya tiba di rumah Rudi. Satpam di sini memang berjaya selama untuk 24 jam, dan Dika menjadi salah satu orang yang bebas pengawasan dan dapat keluar masuk dengan bebas di rumah ini.


Selepas memarkirkan mobil, mereka langsung masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam terlebih dahulu.


"Gila. Ini bukan rumah, tapi istana namanya."


"Jangan ngiler lu."


Ini memang kali pertama Dedi menginjakkan kaki di rumah Rudi Andika, jadi jangan heran jika ekspresinya takjub luar biasa.


"Ini kalau bersih-bersih nugasin berapa orng tiap harinya?" tanya Dedi begitu mereka menginjakkan kaki di ruang pertama.


"Kenapa. Mau daftar?"


"Boleh sih kalu gajinya lebih gede daripada yang ku kasih ke gua."


"Matre lu."


"Nggak matre Bos, tapi gue realistis."


"Terus lu ngerasa PD gitu jadi tukang bersih-bersih terus mau ngawinin anaknya?"

__ADS_1


Dedi menghentikan langkahnya.


"Gue siap mundur. Gue tahu diri kok."


Dika menelan ludah. Astaga. Ni mulut kenapa bisa seember ini ya Tuhan. Dika merutuki kebodohannya. Ia benar-benar lupa jika sahabatnya ini akan hilang percaya diri, hilang kecerdasan, bahkan hilang akal jika sudah menyangkut adiknya.


"Canda elah..."


Dika meraih bahu Dedi yang sedikit lebih rendah darinya dan merangkulnya dan terus berjalan memasuki Rumah mewah ini.


"Kalian baru pulang?"


Keduanya terkejut bukan main mendengar sapaan tengah malam begini.


"I, iya Om."


Dedi yang dapat terlebih dahulu mengontrol dirinya dari keterkejutan segera menjawab pertanyaan Rudi.


"Kalian belum makan kan?"


"Kalian makan dulu ya. Meskipun makan jam segini itu nggak baik tapi lebih baik dari pada perut kalian kosong dan tak terisi sama sekali."


Tanpa menunggu jawaban yang ditanyainya, ia kemudian memutuskan dan menginteruosi keduanya.


"Begitu kalian tiba, aku sudah meminta nini untuk menyiapkan makanan. Kalian langsung ke meja makan ya."


Dika mengangguk. Diam-diam ia terharu dengan perhatian ayah tirinya. Matanya bergerilya mencari sosok mamanya.


"Mama kamu tidur sama Rista," kata Rudi seakan tahu ada tanya dalam pandangan Dika.


"Ayo, saya temani."


Rudi berjalan diikuti dua pemuda tampan itu menuju ruang makan di rumahnya. Ruang makan yang besar dengan kursi yang sangat panjang. Semua berkilau, semua indah, semua mewah.


"Silahkan kalian makan."


"Ayah nggak makan?" tanya Dika sambil membaik piring di hadapannya.


"Saya sudah tadi."


Sejak memunculan Rudi dan menjawab sapaan untuk mereka, Dedi hanya diam. Ia mati-matian menahan air mata yang akhir-akhir ini gampang sekali keluar dari matanya.


Ada rindu yang membuncah untuk ayah ibunya yang telah tiada. Ada ingin yang besar untuk diperhatikan karena ia terlalu lama hidup sendiri. Jadi tak ayal ia begitu melankolis mendapat perhatian seperti ini meskipun Rudi tak memberikannya khusus untuk dia.


"Hey."


Klunthang!


Bentakan Dika berhasil membuat sendok di tangan Dedi jatuh terlempar ke lantai.


"Diem bae. Kesambet tahu rasa kamu."


Dedi tak membalas keisengan Dika ini. Ia tahu sekali sahabatnya ini sengaja membuatnya terkejut, karena itu yang selalu di lakukan Dika jika dia tengah melamunkan masalah hidupnya.


"Udah, udah. Kalian cepet makan dan istirahat. Air hangat sudah disiapkan di masing-masing kamar kalian."


Lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan perhatian Rudi.


"Biasa aja napa."

__ADS_1


Dedi kembali dibuat malu akan reaksi kampungannya. Ya namanya aja orang miskin, ngeliat kehidupan crazy rich ya pasti kaget lah.


TBC


__ADS_2