Zona Berondong

Zona Berondong
Peliharaan Rahasia


__ADS_3

Hai, Dika menyapa



Dedi masih jagain Rista aja nih



Sayang Rina ngumpet untuk part ini.



^^^Happy reading^^^


Dika dan Edo keluar dari ruangan Reno. Jika saat kedatangan mereka semuanya diam, kali ini kasak-kusuk sangat jelas mereka dengar. Dika yakin hal ini tak lain tak bukan adalah karena mereka tengah membicarakan pewaris tunggal yang akan menjalankan sebuah perusahaan besar yang ternyata usianya masih belasan.


"Mas Restu nggak apa-apa?" tanya Edo begitu mereka berdua masuk ke dalam mobil.


"Saya sudah mempersiapkan semua Om, jadi saya siap menghadapi semua ini. Saya harap Om bersedia tetap mendampingi saya."


Edo mengangguk. "Itu sudah menjadi janji saya pada mendiang pak Hendro."


"Makasih Om."


Edo terus membawa Dika membelah jalanan kota. Hingga tiba mereka di depan sebuah gedung perkantoran yang cukup megah membuat Dika tertarik untuk mengamatinya.


"Rahardja." Kembali Dika bergumam saat melihat Logo R yang begitu besar.


"Benar Mas," jawab Edo di balik kemudi.


Dika memicingkan mata saat menangkap sosok yang terasa tak asing di matanya.


"Apa kita perlu berhenti Mas?" tanya Edo saat melihat mata Dika terpaku pada sebuah objek.


"Agak pelan Om."


Edo langsung melaksanakan perintah Dika.


"Rio."


"Kenapa Mas?" tanya Edo yang tak begitu jelas mendengar gumaman Dika.


Dika belum menjawab. Dia masih fokus terhadap objek di depan matanya.


"Nggak apa-apa Om. Setelah ini apa saya bisa pulang?"


"Bisa Mas."


Dika melonggarkan dasinya. Meskipun ia sudah bersiap untuk berbagai kemungkinan, tetap saja ini terasa berat untuk remaja berusia belasan seperti dirinya.


***


"Kak..."


Rista yang baru bangun dari tidur siangnya menghampiri Dedi yang kini tangah berkutat dengan laptop di balkon kamar Dika. Memang sejak pulang sekolah tadi, Rista menahannya di rumah hingga Dika pulang.


"Hmmmm..." Dedi berdehem karena tak ingin kehilangan fokus dalam permainannya.


Dengan mata yang belum terbuka sempurna, Rista memeluk Dedi dari belakang. Tak lupa, kepalanya di jatuhkan di atas bahu Dedi sebagai tumpuan.


Sial! Dedi mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gadis ini membuatnya konsentrasinya buyar seketika.


"Aarrgghhh....!"


Dedi mengacak rambutnya frustasi saat dia harus kalah padahal sedikit lagi ia menyelesaikan permainan dengan skor nyaris sempurna.


"Berisik banget sih Kak..." kata Rista dengan suara parau dan masih dalam posisi memeluk Dedi dari belakang. Dia dengan santainya menyamankan posisi kepalanya dengan bergerak-gerak hingga bergesekan dengan leher dan telinga Dedi.

__ADS_1


Dedi meletakkan laptopnya segera. Dia kesal karena Rista yang nampak biasa saja saat berada sedekat ini dengan dirinya.


Dengan posisi kepala yang saling menghimpit, sekelebat ide jahil melintas di kepala Dedi.


"Aahh...!"


Rista menjerit dan langsung menegakkan tubuhnya.


"Kok digigit sih Kak..." Rista memegang telinganya yang baru saja mendapat gigitan dari Dedi. Tak sakit memang, tapi rasa geli yang menyerang membuat kantuknya langsung menghilang.


Dedi menarik sebelah tangan Rista.


"Aaah...!"


Rista begitu terkejut saat tubuhnya jatuh ke pangkuan Dedi.


Dedi menelan ludah saat baru menyadari jika saat ini Rista hanya mengenakan tangtop dan hotpant serba hitam.


"Kak..." Rista kembali menyandarkan kepalanya di bahu Dedi yang nampaknya lebih nyaman dari sebelumnya.


Dedi memejamkan mata dan perlahan merengkuh tubuh kecil yang sudah berada dalam pangkuannya. Perlahan ia kembali membuka mata dan mengelus rambut panjang Rista.


"Kamu masih ngantuk, hmm?"


Rista hanya mengangguk.


"Kalau masih ngantuk kenapa bangun?"


"Pengen dipeluk."


Degh!


Tuhan, kenapa Engkau memberiku posisi yang sulit seperti ini. Meskipun dalam hati protes, tak urung Dedi tetap mengeratkan pelukannya pada tubuh Rista.


Perlahan Dedi mendaratkan kecupan di puncak kepala Rista dan saat itu juga Rista yang bergerak-gerak membuat dada keduanya bersentuhan.


"Kakak ngantongin apa sih?"


"Ini..." Rista menggerakkan pantatnya perlahan.


Dedi hanya mampu mendesis. "Kamu ngapain?!" Spontan Dedi berteriak saat tangan Rista bergerak menuju bagian bawah tubuhnya.


"Mau nyariin yang tadi Rista bilang. Ngeganjel mau Rista pindahin."


Dedi mendorong tubuh Rista dan ia segera melepaskan dirinya. Dia bangkit seketika setelahnya.


"Kakak mau ke mana?" tanya Rista saat Dedi sudah berdiri dan sedangkan dia kini duduk di tempat Dedi semula memangkunya.


"Mau, eee..."


"Aku cuma mau ngambil yang ada di kantong Kakak, bukan nyuruh Kakak buat berdiri." Rista protes karena harus kehilangan posisi nyamannya.


"Sshhhh." Dedi hanya mampu mendesis karena geram. "Jangankan dipindahin, baru kepegang aja udah bisa ngamuk itu Ta!"


"Siapa yang ngamuk Kak?" Rista ikut bangkit dan berdiri di dekat Dedi.


"Ya dia." Dedi mulai melangkah meninggalkan kamar.


"Emang dia siapa?" tanya Rista sambil mengikuti Dedi.


"Piaraan." Dedi mempercepat langkahnya.


"Piaraan siapa Kak?" Rista berusaha mengejar Dedi.


"Piaraan gue." Jawab Dedi dengan ketus dan masih berusaha menyelamatkan diri.


"Wah, lihat dong Kak..." tanya Rista penasaran. Dia bahkan kini menahan tangan Dedi yang bersiap membuka pintu.

__ADS_1


"Ck, nggak boleh!" tolak Dedi. Gila aja ni bocah. Masa benda pusaka mau dilihat. Kalau ngamuk sama dia gimana!?


"Kak..." Rista merengek dan menggoyang-goyangkan lengan Dedi.


Dia menghempaskan tangan Rista untuk dapat segera membuka pintu.


"Aww!"


Dedi mengacak rambutnya frustrasi saat melihat Rista terjatuh. Dia panik hingga terlalu keras mendorong tubuh adik sahabatnya ini.


"Kamu nggak apa-apa?" Dedi berjongkok tepat di hadapan Rista. Namun Rista kini hanya diam saja.


"Ta..., sakit ya?" Dedi makin frustasi melihat bocah ini diam saja. Akhirnya dia mengangkat tubuh Rista dan membawanya ke ranjang Dika.


"Maafin Kakak." Dedi menatap wajah sendu Rista.


"Hikz, hikz..."


Dedi menarik Rista ke dalam pelukannya. Ya Tuhan, aku hanya tak ingin membahayakan bocah ini, kenapa begini saja harus Engkau persulit...


Cklek!


Pintu kamar terbuka menampakkan Dika dengan wajah lelahnya.


"Dia kenapa?" Dika panik saat melihat adiknya menangis.


"Dia em..." Dedi bingung harus menjawab apa.


"Aku tadi cuma..."


"Kejar-kejaran. Iya kejar-kejaran." Dedi berusaha menarik kedua sudut bibirnya agar Dika tak curiga.


"Terus kenapa Rista nangis?" tanya Dika lagi.


"Aaa, itu tadi Rista nggak sengaja jatuh, aku nggak sengaja dorong dia." Dedi kemudian menenggelamkan wajah Rista di dadanya.


Saat Dika berjalan untuk meletakkan bawaannya di meja, Dedi segera mengendurkan pelukannya. "Jangan kasih tahu masalah piaraan tadi sama Dika ya, please. Bisa digantung aku sama dia," bisik Dedi pada Rista.


"Emangnya kenapa Kak, apa Kakak juga punya?" tanya Rista dalam mode bisik-bisik juga.


"Ia, dia juga punya, dan hampir ngamuk juga sama Rina. Udah ya please jangan pernah bahas ini lagi, aku mohon banget pokoknya."


"Kalau bahas sama Kak Rina boleh?"


"Ya nggak boleh juga, pokoknya jangan pernah bahas sama siapa-siapa."


"Kalian bisik-bisik apa?"


"Aaaa..."


"Kenapa bawa-bawa Rina?" belum juga menjawab pertanyaan pertama, Dika sudah mengumpankan pertanyaannya kedua.


"Lu, lu kayak penyidik deh. Mau jadi pengusaha apa penyidik sih sebenernya?" tanya Dedi mengalihkan pembicaraan.


Dika membanting tubuhnya di samping Rista. "Seharian gue belum hubungin dia..." ucap Dika tiba-tiba.


"Siapa?" tanya Dedi.


"Rina."


"Ya udah hubungi sono."


Dika segera meraih ponselnya dan mulai menghubungi Rina.


Dedi kembali mengalihkan pandangannya pada Rista. "Inget pesen Kakak."


Rista mengangguk.

__ADS_1


"Pinter." Dedi mengecup sekilas puncak kepala Rista. Kemudian ketiganya merebahkan tubuh di atas ranjang yang sama.


TBC


__ADS_2