
HAPPY READING
“Kok bebas banget?”
“Apanya yang bebas banget?” tanya Hana yang nampak sibuk menata bawaannya.
“Itu…” Andre menunjuk beberapa laki-laki yang berjalan santai masuk ke dalam bangunan bertingkat yang nampak luar terdiri dari banyak kamar itu.
Saat ini Andre dan Hana baru saja tiba di depan kosan Risma. Sejak keluar tadi Andre masih diam di samping pintu yang sudah ia tutup, dan asik memperhatikan membiarkan Hana repot sendirian.
Hana meringis. Ia lupa mempertimbangkan hal ini saat hendak mengajak Andre tadi. Ia jadi ngeri membayangkan bagaimana reaksi Andre setelah pria ini tahu ia tinggal di kosan campur seperti ini. Memang tak ada kejadian tak menyenangkan yang ia alami selama menumpang di tempat Risma, tapi tetap saja Andre akan sulit menerima.
“Itu Risma…”
Belum juga Hana punya solusi untuk masalah sebelumnya, sekarang bahkan Risma sudah muncul saja. Lebih parahnya Risma malah datang bersama Lutfi yang notabene adalah penghuni rumah kos ini juga.
Saat menyadari keberadaan Hana, Risma sempat melambaikan tangan sebelum berlari kecil untuk menghampiri sahabatnya.
“Hana, kamu sudah lama?” tanya Risma yang kini sudah berdiri di samping Hana.
Andre semula tak begitu memperhatikan dibuat terkejut saat baru saja menyadari pria yang tadi datang bersama Risma baru saja memasukkan motornya melewati gerbang kosan. Lebih terkejut lagi saat tak lama kemudian berjalan menghampiri mereka.
“Kok bisa bareng sama Lutfi?”
Wajah Andre memegang saat tahu ternyata Hana juga mengenal pria ini.
“Ehm…”
Deheman Andre berhasil membuat Risma dan Hana menelan suara yang sebelumnya saling sapa. Suasana ceria yang semula ada mendadak lenyap seketika.
“Kenapa pada diam, katanya Hana mau masak buat kita?”
Hana menggigit bibir. Lutfi memang belum sempat di briefing sebelumnya, sehingga pertanyaan santai serta wajah tanpa dosanya nampak mendatangkan murka bagi kekasihnya.
Andre mengepalkan tangannya. Belum juga ketidak sukaannya karena ada pria lain di dekat wanitanya kini justru muncul pria yang nampaknya sudah cukup mengenal Hana.
“Eh, eh. Mau kemana?” kaget Hana saat tiba-tiba ia merasa Andre menariknya.
“Kita pulang,” ujar Andre dengan nada tak terbantahkan.
“E tapi, tapi…” Hana berusaha menahan Andre dan beruntungnya ia berhasil. Ia juga berhasil melepas cekalan Andre membuat keduanya berhenti sebelum benar-benar meninggalkan tempat ini.
“Bukannya tadi kamu setuju kita ke sini. Kenapa mendadak ingin pergi?” tanya Hana berusaha menurunkan emosi Andre. Ia tahu apa yang Andre permasalahkan. Namun ia merasa harus memastikan Andre lebih tenang sebelum menjelaskan. Karena menghadapi kekasihnya yang murka bukanlah perkara gampang.
“Aku ke sini untuk mengantar kamu bertemu dengan Risma, bukan dengan laki-laki ini,” ujar Andre dengan langsung menunjuk Lutfi.
Lutfi merasa terkejut saat ada seorang pria yang belum dikenalnya nampak begitu tak suka terhadapya.
Apa salah gua coba? Batin Lutfi sambil garuk-garuk kepala. Ia kemudian coba menatap Risma barang kali sahabatnya ini tahu apa yang terjadi sebenarnya. Melihat bagaimana Risma tak bereaksi apa-apa, sepertinya wanita bertubuh berisi ini sama bingungnya dengan dia.
“Ndre…” Hana berusaha menahan Andre yang kembali berusaha membawa dia pergi.
“Apa lagi Han?!”
__ADS_1
Kini Andre yang biasanya terlihat tampan berubah gelap dan menyeramkan. Lutfi yang sadar Risma nampak ketakutan segera menarik perempuan dengan tubuh berisi ini untuk mendekat ke arahnya.
“Dia siapa sih?” tanya Lutfi pada Risma dengan suara rendah.
“Dia pacarnya Hana,” jawab Risma singkat.
“Apa menurut kamu Hana dalam bahaya?” lanjut Lutfi dengan cara yang sama.
Risma menggeleng. Ia baru beberapa kali bertemu dengan Andre, dan jujur saja ini kali pertama untuknya melihat Andre seperti marah pada Hana. Tiba-tiba ada adegan tak terduga yang Hana lakukan pada pria tampan yang datang bersamanya membuat Lutfi melakukan apa pun agar Risma tak perlu melihatnya.
“Lutfi!” pekik Risma saat melihat Lutfi tiba-tiba menutup matanya.
“Aw aw aw! Jangan pukul-pukul Mbul.” Lutfi mencoba menahan tanga Risma yang dengan brutal menyerangnya.
Risma mendengus. Sudah Lutfi seenaknya menghalangi pandangannya, sekarang dengan seenaknya ia mengatainya gembul.
“Aku cuma nggak mau mata kamu ternoda...” bela Lutfi saat ia berhasil menghentikan serangan Risma.
Tanpa keduanya sadari Hana dan Andre kini ganti memandangi keduanya. Hana yang nampak tersipu malu sedangkan Andre yang wajah tampannya sudah kembali.
“Kita masuk sayang ya. Biar sekalian aku kenalkan kamu dengan Lutfi…” ujar Hana denganlembut. Ia sangat berhati-hati sekarang karena Andre yang marah baru saja ia jinakkan.
Dengan perasaan yang entah bagamana mendeskripsikannya, kini Lutfi dan Risma dibuat terkejut karena tiba-tiba sejoli di hadapan mereka akur begitu saja.
“Aku mau masuk, tapi ada syaratnya,” ujar Andre dengan wajah yang membuat Hana waspada.
“Apa?” tanya Hana pada kekasihnya.
Andre memutus kontak dengan Hana. Sepertinya ia bersia merubah mode ramahnya. “Aku nggak mau kamu manggil aku dengan cara itu lagi,” ujar Andre to the point.
“Nggak sopan kalau kamu manggil aku nama doang.”
Hana menghela nafas. Sebelumnya Andre jadi sosok yang menyeramkan, sekarang dalam waktu singkat sudah berubah lagi menjelma menjadi sosok yang menyebalkan. “Terus kamu mau dipanggil apa?” tanya Hana akhirnya.
“Aku mau kamu manggil aku sayang seperti tadi.”
“Yay ya, itu…” sesekali sih tak masalah. Tapi kalau terus-terusan menggunakan panggilan itu rasanya aneh nggak sih? Lanjut Hana dalam hati.
“Kenapa? Keberatan? Malu?” terka Andre bertubi. Sepertinya ia paham dengan apa yang Hana pikirkan.
“Ya enggak cuma…” Hana kesulitan sendiri jadinya. Mau bilang iya tapi ia tak nyaman, kalau enggak bisa ngamuk lagi pria ini.
“Mau nggak. Kalau nggak mau mending kita pulang saja,” ketus Andre sembari meraih lagi tangan Hana.
“Iya, iya, iya…” Hana menghela nafas.
Andre nampak berbinar melihat bagaimana reaksi kekasihnya. Ia nampak menunggu apa yang akan Hana katakan segera.
“Sayang…” ucap Hana kemudian.
“Nggak denger,” ujar Andre pura-pura tak mendengar.
“Jangan bohong deh. Aku yakin kamu dengar kok.”
__ADS_1
“Yang punya telinga aku apa kamu?”
Hana menghela nafas. Meskipun hubungannya dengan Andre sudah berjalan sangat jauh, namun panggilan ini cukup sulit untuk ia ucapkan saat tak hanya berdua seperti ini.
“Sayang…”
“Apa sayang…”
Hana mengabaikan rasa malu dan tak nyaman yang ia rasakan sekarang. “Ayo masuk…” ujarnya kemudian.
Hana memutus kontaknya dan anti menarik Andre untuk mengikutinya. Ia berjalan melewati Risma dan mengambil begitu saja kunci yang sudah berada di tangan wanita ini. Spontan Risma dan Lutfi berjalan mengikuti sejoli labil ini menaiki tangga tempat kos mereka.
Begitu kamar Risma terbuka, Hana langsung menggelar karpet sebagai alas untuk mereka duduk nantinya.
“Duduk sini dulu ya…” Hana mempersilahkan Andre untuk duduk.
Namun Andre masih diam dalam posisi berdiri sambil melihat kekasihnya dengan tatapan dingin. Akhirnya Hana memutuskan untuk berdiri lagi dan meraih tangan kekasihnya.
“Sayang, kamu duduk sini ya…”
Lutfi dan Risma yang masi bingung dengan pasangan ini, hanya bisa diam melihat Andre yang begitu kolokan.
“Kamu mau kemana?” Andre menahan Hana yang hendak bangkit dari sisinya.
“Aku mau masak And… ehm, sayang…” Hana nampaknya harus berusaha ekstra, agar lidahnya tak salah mengucapkan panggilan sayang.
“Delivery saja ya,” pinta Andre kemudian.
“Tapi kan sudah terlanjur beli bahan.”
“Kan bisa di simpan,” lanjut Andre menyarakan.
“Risma nggak punya kulkas Ndree…”
Andre mendelik saat Hana lupa lagi untuk tak memanggilnya dengan nama.
“Aku ada kok,” sahut Lutfi tiba-tiba. “Tinggal pindahkan saja ke kamarku…” lanjut Lutfi saat ia merasa Andre melayangkan tatapan tanya kepadanya.
“Anda tinggal dimana?” Andre kini tak dapat menahan mulutnya untuk tak bertanya.
“Kamar yang di dekat tangga tadi adalah kamar saya…” jelas Lutfi yang disambut tepukan jidat oleh Hana.
Mata Andre membulat sempurna. “Anda tinggal di sini?!” tanya Andre dengan keterkejutan yang terungkap sempurna.
Lutfi menggeleng.
“Tapi kata Anda tadi…”
“Saya tidak tinggal di sini Pak…”
“Andre…” timpal Risma saat Lutfi menatapnya.
“Pak Andre..” lanjut Lutfi lengkap dengan senyum lebarnya. “Tapi saya tinggal di kamar di dekat tangga yang kita lewati tadi."
__ADS_1
Andre melepas kontaknya dengan Lutfi dan beralih menatap tajam yang sudah meringis di sampingnya. Sepertinya Hana sudah tahu akan permasalahan yang membuat sikap Andre berubah lagi seperti ini. Jangankan Andre, bahkan ia dulu juga ngeri saat pertama tiba di sini. Tapi ternyata kesibukan masing-masing penghuni membuat mereka para pria tak lantas mengangganggu atau menggoda penghuni wanita yang juga tinggal di sana.
Bersambung…