Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ambigu


__ADS_3

HAPPY READING


Galih nyaris tak berkedip melihat apa yang baru saja Andre lakukan padanya. Pemuda ini dengan santainya meraih tangan Galih dan menciumnya kemudian. Tak cukup sampai di situ, setelah ia selesai dengan yang ia lakukan, ia lantas membimbing Hana untuk melakukan hal yang sama.


“Kasih salam sama beliau,” ujar Andre pada Hana. Sedikit lirih, namun masih dengan jelas di dengar oleh semua yang ada di sana.


Belum usai keheranan Galih dengan sikap Andre terhadapnya, sekarang ia dibuat heran lagi dengan Hana yang nampak patuh sekali dengan pemuda ini. Meski tangannya terasa bergetar, Hana mencoba melakukan hal sama dengan Andre. Ia meraih tangan Galih dan menciumnya.


Galih nampak biasa saja, namun dalam hatinya bergejolak sebuah tanya, apa yang Andre lakukan hingga dapat membuat anak perempuannya yang tagguh dan tak punya takut bisa takhluk seperti ini.


Setelah Hana selesai mencium tangan papanya, perlahan ia mulai mengangkat wajahnya.


“Apa kabar…” sapa Hana setelah ia bertemu pandang dengan papanya. Suaranya terdengar menggantung. Sepertinya ia ragu untuk memanggil Galih dengan sebutan papa setelah begitu banyak hal terjadi diantara mereka berdua. Sehingga sapaannya terdengar seperti kalimat yang tak tuntas.


“Permisi…”


Ketegangan langsung buyar kala seorang perawat tiba-tiba muncul di ruangan ini.


“Silahkan masuk Sus…” ujar Mustika yang berada paling dekat dengan pintu.


“Ini anaknya Ibu Indah ya?” tanya perawat ini saat melihat Rida dan Rangga memeluk Indah di sisi kanan dan kirinya.


“Iya Suster…” jawab Indah sambil mengacak rambut RIda dan Rangga. Bocah yang nampaknya masih sedikit dikuasai rasa kantuk ini nampak pasrah dengan kejailan mamanya.


Perawat ini kemudian meletakkan lipatan kain yang ia bawa.


“Bu Indah, silahkan ganti dulu bajunya, sekitar lima belas menit lagi saya akan ke sini karena ruang operasi sudah di siapkan,” jelas perawat tersebut.


“Iya suster,” jawab Indah yang nyaris serempak dengan Mustika dan bundanya.


Sementara Rio yang sejak tadi tak pernah beranjak dari samping istrinya nampak berusaha untuk tak gelisah. Ini memang bukan pengalaman pertama bagi Indah untuk melahirkan, tapi ini kali pertama ia harus menjalani sectio caesar.


“Apa perlu saya bantu menggantikan?” tawar suster ini lagi.


“Biar saya saja,” jawab Rio menolak tawaran untuk istrinya.


“Baik. Saya tinggal dulu dan pukul 3 Bu Indah akan masuk ruang operasi. Rileks ya Bu, jangan cemas,” ucap perawat ini dengan ramahnya dan senyum lebar di wajahnya.


“Saya sih biasa Sus, tapi sepertinya suami saya yang gemeteran sekarang ini,” ujar Indah sambil menunjuk Rio dengan ekor matanya.


“Segitu doang… Yang mau di operasi itu Indah Yo, bukan elu,” ejek Andre dengan tatapan remehnya.


“Alah b*cot. Siapa yang habis ngamuk terus nangis-nangis pas Hana masuk rumah sakit tempo hari…” balas Rio tak terima.


Indah tak bisa menahan tawanya melihat interaksi Andre dan suaminya ini. Memang terdengar tak sopan saat mereka saling mengatai dan mengumpati di tengah keberadaan orang tua yang harus mereka hormati. Tapi Indah tahu ini semata Andre lakukan untuk membuat Rio rileks melepasnya ke ruang operasi nanti.

__ADS_1


Jujur Hana juga merasa berkurang gugupnya saat melihat kakak dan kekasihnya kacau seperti ini. Namun saat tak sengaja ia melihat Galih yang masih kaku, perasaannya jadi kembali beku.


Sementara itu Galih masih sibuk menerka, seperti apa sebenarnya hubungan Hana dengan sekertaris perusahaan saingannya ini. Apakah benar Andre mencintai putrinya atau mereka dekat semata agar Hana lumpuh dan tak membahayakan perusahaannya.


Dan satu lagi, kenapa Rio juga sepertinya akrab dengan pria ini. Bukankah Rio selama ini selalu menolak Hana, tapi kenapa dia kelihatan dekat dengan pria yang berdasarkan informasi yang Galih terima sudah mengakui Hana sebagai kekasihnya. Atau jangan-jangan Rio sudah bekerja sama dengan wajah kedua Surya Group ini untuk memenjarakan Hana karena Rio belum bisa berdamai dengan adiknya ini.


Rio dan Andre memang banyak tahu tentang diri masing-masing. Mereka tak pernah berhubungan dekat sebelumnya, namun berada di lingkungan yang sama membuat keduanya dipaksa untuk tahu pribadi masing-masing secara tak sengaja. Sehingga mereka sama-sama punya amunisi untuk saling serang seperti ini.


Dan lima belas menit pun berlalu. Dan akhirnya bukan Rio yang membantu Indah mengganti pakaian, melainkan Mustika dan bundanya yang harus turun tangan karena Rio masih sibuk berperang dengan Andre yang kali ini usilnya tak karuan.


“Yo, jangan ngompol. Kasihan anak-anak pada malu punya bapak kayak elu.” Setelah Indah kembali muncul dengan pakaian yang berbeda, kembali Andre menggoda calon kakak iparnya ini.


“T*i!!!”


Entah ini umpatan yang keberapa, yang jelas kata-kata kotor kembali Rio ucapkan pada Andre tak juga berhenti menyerangnya hingga kini. Dan pertikaian Andre dan RIo akhirnya terhenti saat Rio ikut masuk ke ruang operasi untuk mendampingi Indah. Sementara itu yang lain harus menunggu di luar hingga operasi usai nanti.


***


Cklek!


Pintu ruangan Dika terbuka dan muncullah wanita pendek berperut besar namun sangat cantik dari sana.


“Hai sayang…” sapa Dika kala tahu itu adalah istrinya.


“Kenapa, hmm…” tanya Dika yang tahu Rina ada maunya jika sudah begini.


“Indah lahiran…” ujar Rina sambil melingkarkan lengan di leher suaminya.


“Terus?” Dika meletakkan pekerjaannya dan dengan gerakan lembut ia membawa Rina ke dalam pangkuannya.


“Terus aku pengen ke rumah sakit…” ujar Rina mengungkapkan keinginannya.


“Emang sudah lahir anaknya?” tanya Dika yang ingin tahu alasan di balik keinginan istrinya.


Rina menggeleng. “Tapi nggak tahu juga sih. Hana belum ngabar sejak ia ijin tadi,” jelas Rina apa adanya.


“Oh…” Dika mengangguk paham dan membelai lembut wajah cantik istrinya yang nampak lebih bulat dengan pipi padat. “Andre tadi juga sudah ngabar…”


“Terus gimana?” tanya Rina antusias.


“Sama seperti Hana. Andre juga bilang dia tak bisa segera kembali ke kantor karena kemungkinan ada urusan lain yang ia tak bisa ditunda untuk ia tangani.”


“Urusan kantor?” tanya Rina memastikan.


“Emm… Sepertinya bukan…”

__ADS_1


“Kok sepertinya. Andre nggak bisa dong seenaknya meninggalkan kewajiban untuk urusan yang lainnya,” kesal Rina.


“Kalau untuk urusan Hana?”


“Maksud kamu?” tanya Rina tak mengerti.


“Sekarang apa kamu bisa menerka Hana ada dimana?” bukannya menjelaskan, Dika justru mengungkap sebuah pertanyaan.


“Ya di rumah sakit lah.”


“Nungguin Indah kan?”


Rina mengangguk cepat.


“Indah itu istrinya siapa, menantunya siapa, dan…”


“Dan apa sih… Tinggal menjelaskan saja, kenapa harus muter-muter segala…” kesal Rina karena suaminya ini tak pernah membiarkan otak lawan bicaranya dapat dengan mudah memperoleh informasi yang ia sampaikan. Semua harus ikut berfikir bahkan menduga karena tak jarang Dika menggunakan kalimat ambigu untuk membuat bingung orang lain. Mungkin ia mendapat kepuasan tersendiri saat melihat orang lain nampak susah payah memikirkan maksudnya.


“Biar kamu mikir sayang,” ujar Dika menyampaikan maksudnya.


“Aku setiap hari mikir. Mikir gimana nanti wajah anak kita, gimana kamu bisa tampil tampan setiap hari, gimana ngurusin badan setelah melahirkan, mikirin Hana yang belum memberikan keputusan.” Tiba-tiba Rina menjeda ucapannya.


“Hana…” ulangnya sekali lagi. Nampaknya sesuatu tiba-tiba mampir di kepala Hana.


Rina kemudian menatap Dika seakan bertanya apa ini yang dimaksud suaminya.


Dika hanya membalas Rina dengan menggerakkan alisnya.


“Hana lagi nunggu Indah, Indah kan istrinya Rio, Rio anaknya Om Galih, Om Galih berarti papanya Hana juga. Nah terus Andre urusannya apa?”


Dika tertawa kecil. Ternyata informasi yang berhasil dihimpun Rina belum penuh. Padahal istrinya ini bukan orang bodoh namun sering kali seperti ini saat bercakap dengannya.


“Urusannya ya dia sedang mendamaikan mereka biar dia bisa segera menikahi Hana.” Entah Dika lelah membuat umpan atau ia kasihan jika istrinya lelah memikirkan maksudnya.


“Nah gitu dong jelas ngomongnya, jangan muter-muter bikin pusing yang denger.”


“Bukan muter-muter, cuma biar kamu ngerti bener makanya aku minta kamu ikut mikir.” Masih juga Dika mengelak, padahal tujuan yang Rina tuduhkan benar sekali adanya.


“Tapi kalau ngobrol biasa aja masa harus ikutan mikir. Capek, awh!!”


Sesuatu menghentikan ucapan Rina. Dia lantas merintih dan memegangi perutnya.


“Kenapa?” panik Dika.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2