Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Penggoda


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Rina mempercepat langkahnya saat mendengar keributan di ruangan Dika.


"Apa lagi ini ya Allah."


Cklek


"Kak, aku nggak mau ada yang modelan kayak gini!" pekik Rista dengan telunjuk mengarah pada seorang wanita yang menunduk lesu di hadapan mereka.


"Dan kamu juga. Kerja itu yang bener, jangan cari jalan pintas yang nggak elit kayak gini!"


Rina masih harus menetralkan detak jantung dan menata deru nafasnya. Baru saja ia bertemu dengan pegawai yang kurang ajar, kini ia harus menyaksikan bagaimana marahnya Rista saat menemukan pegawai yang mungkin sejenis dengan yang ditemuinya tadi.


" Sekarang kamu keluar!" hardik Rista.


Pegawai ini menunduk beberapa kali sebelum cepat-cepat meninggalkan ruangan ini.


"Tunggu!"


Pegawai itu langsung diam di tempat. Dengan angkuh Rista berjalan menghampirinya. Ia meraih nametag yang tergantung di dada dan memotretnya.


"Sekali lagi saya peringatan, jangan pernah main-main kalau masih ingin bekerja di sini."


"B_b_ba_baik Nona."


Dika hanya tertawa dari tempatnya menyaksikan keberingasan adik kesayangannya.


Pegawai itu terus menunduk bahkan saat melewati Rina yang berdiri di ambang pintu.


"Kenapa sih?" Rina berjalan santai setelah menutup pintu.


Rista mendengus saat melihat betapa santai kakak iparnya ini melihat suaminya digoda perempuan lain.


"Nih lihat. Sengaja banget dia numpahin kopi di celana kakak."


"Dia beneran nggak sengaja kali," jawab Rina yang telah berhenti di samping suaminya.


"Kak, aku tu lihat sendiri. Bahkan dia sempet buka kancing baju bagian atasnya sabelum masuk ruangan tadi."


"Kakak juga kenapa ini. Bukannya marah dari tadi malah senyam-senyum nggak jelas," gerutu Rista.


Dika meraih pinggang Rina dan menyadarkan kepalanya di sana. Rina membalas pelukan itu dengan merapikan rambut Dika yang tak berantakan sebenarnya.


"Sayang, bisa tolong bantu siapin ganti."


Rina mengangguk dengan senyum di wajahnya. "Sebentar ya."


"Makasih..."


Rina kemudian meninggalkan kakak beradik ini.


Rista yang masih berkacak pinggang sontak menatap heran kakaknya ini.


"Kamu nggak apa-apa Kak."


Dika masih diam dan memainkan pulpen di tangannya.


"Kak!?" pekik Rista yang merasa dipermainkan.


Masih dengan tangan di pinggang, gadis ini berjalan menghampiri kakaknya. Merendahkan badan dan mensejajarkan wajah dengan sang kakak.


"Kakak nggak kesambet kan?"


Dika tersenyum namun ada luka yang tak tampak di sana.


Flashback 4,5 Tahun Lalu.


Seorang wanita cantik dengan kisaran usia 25 tahun masuk membawa dua cangkir kopi. (part 103 wajah kedua)

__ADS_1


"Kopinya..."


Sangat jelas suaranya dibuat-buat. Dengan 2 kancing terbatas terbuka membuat isi di dalamnya seakan menyembul keluar.


Jika biasanya laki-laki akan menyukai pemandangan seperti ini entah mengapa dua pemuda ini justru merasa risih, terlebih Dika yang bahkan enggan untuk menatapnya.


"Nama kamu siapa?" tanya Dedi begitu wanita ini selesai meletakkannya dua cangkir kopi di meja Dika.


"Diana..."


Dika tanpa sengaja bergidik mendengar bagaimana wanita itu berbicara. Untuk dia tak tahu bahwa ada kerlingan nakal yang sempat Dedi lihat.


Dengan sebelah tangan yang masuk ke kantong celana, Dedi menatap wanita ini dengan tajam.


"Pertama, perbaiki cara bicara kamu."


"Kedua..."


Dedi tak jadi membuka mulutnya saat mendengar Dika bersuara.


"Saya rasa aturan berpakaian di kantor ini cukup jelas. Jangan pernah bekerja jika kamu belum selesai merapikan pakaian. Saya mendadak hilang selera sama kopi yang saya minta."


"Silahkan keluar dan bawa dua cangkir kopi ini. Lagian tadi saya menyuruh OB yang membuatnya, jadi seharusnya OB saja yang membawanya masuk. Kamu nggak perlu repot-repot mengambil alihnya."


"I, iya Pak..."


Nada suaranya berubah, cepat-cepat ia mengambil kopi itu dan meletakkannya kembali diatas nampan.


"Diana..."


Yang dipanggil pun segera berhenti setelah memegang gagang pintu. Dia berbalik dan mendapati Dedi yang berdiri dengan angkuh.


"Perbaiki attitude dan cara berpakaian kamu, jika kamu masih mau bertahan di sini."


Flashback off


Rista menatap foto beberapa tahun yang lalu yang masih tersimpan dengan baik di ponselnya. Saat ini ia tengah sendiri meninggalkan Rina bersama Dika berdua.


***


"Rista tadi kenapa tiba-tiba pergi?" tanya Rina yang tengah berdua di ruangan suaminya.


"Aku nggak sengaja bahas masalah Dedi."


"Kamu sih. Lagian nih ya, masa mereka masih ngambek-ngambekan sampai sekarang?"


"Sepertinya iya. Soalnya Dedi masih nanyain Rista tiap hubungi aku, jadi kemungkinan mereka masih enggan bicara sampai saat ini."


Rina menghela nafas.


"Mungkin nggak sih Rista udah move on dari Dedi?"


Dika memutar kursi dan kini menghadap sang istri yang duduk di sofa.


"Entahlah. Apa pun hubungan mereka, Rista tetap menjadi adik kesayanganku dan Dedi adalah sahabat terbaikku."


Rina bangkit dan berjalan menghampiri suaminya. Ia tak tahan ingin memeluk pria tampannya ini.


"Dih peluk-peluk."


Mulutnya memang berkata demikian, tapi lengannya melingkar di pinggang Rina. Selanjutnya mereka berpagut mesra.


"Bos..."


Ya Tuhan, mataku.


Andre serba salah. Ia bingung harus melanjutkan langkah atau kembali saja. Namun ia terlanjur menutup pintunya.


Dejavu deh sama kejadian ini.

__ADS_1


Akhirnya Andre memutuskan untuk keluar seperti yang dia lakukan dulu saat memergoki Dedi dan Rista.


"Ndre."


Andre membeku di depan pintu. Cepat-cepat ia menetralkan wajah sebelum berbalik menatap bosnya.


"Maaf Pak."


"Nggak apa-apa. Maaf kan saya yang tak dengar kamu mengetuk pintu."


Andre meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Emang aku nggak ngetuk pintu.


Rina segera menyembunyikan diri di ruang istirahat Dika.


"Ada apa?"


Andre datang dengan setumpuk berkas dan kembali lah Dika pada dunianya.


***


"Sayang kamu nggak apa-apa?"


Saat ini Dika dan Rina sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.


"Kayaknya ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Dika saat Raut wajah istrinya terlihat berbeda.


"Apa kamu sering mendapat perlakuan seperti itu dari wanita."


"Ya nggak lah. Masa iya tiap hari ketumpahan kopi."


"Bukan gitu. Tapi wanita-wanita yang godain kamu."


Dika memegang pipi kanan dan kiri Rina.


"Seperti yang kamu lihat. Aku muda tampan dan kaya raya, dan satu lagi. Aku single di mata mereka."


Rina mendengus. Selalu status yang dijadikan senjata oleh suaminya.


"Tapi kamu tenang aja. Cuma kamu yang tahu saat aku hancur, jadi di saat seperti ini tak mungkin aku berpaling pada wanita yang tahunya aku sudah di puncak."


"Beneran?"


"Bener sayang. Dan aku sangat menantikan saat-saat aku bisa menunjukkan kamu sebagai istriku di depan mereka semua."


Kegelisahan di hati Rina sirna sudah. Sepertinya ia tak boleh membiarkan Dika ditatap sebagai lajang terlalu lama.


"Aku mendadak pengen mi ayam."


"Boleh. Mau minta dibikinin di rumah?" tawar Dika.


"Pengen yang dipinggir jalan boleh. Yang langganan kita dulu?"


"Tapi sayang..."


"Please ya, please please..."


Rina memohon dengan tangan ditangkupkan. Jika sudah seperti ini, Dika tak mampu berbuat banyak.


"Pak, kita ke arah SMA Karya Bangsa," ucap Dika pada sopirnya.


"Iya Den."


Rina segera memeluk erat suaminya.


"Makasih sayang."


Ia menghadiahkan sebuah ciuman di pipi lelakinya.


Dika membalas dengan mengacak rambut istrinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2