
*Thanks***banget ya, yang udah kasih kritik saranvia message.
Senja memang sempat oleng, tapi insyaallah ini siapon-tracklagi.
Semoga cerita ini masih bisa menghibur semua.**
HAPPY READING
“Kamu nggak suka sama makanannya?” tanya Rina saat melihat Hana belum sekalipun menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“A, suka kok.” Hana tersenyum dan cepat-cepat memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Bukan nasi atau ayam bakar yang menjadi bintang dalam pirignya namun malah lalapan yang perannya hanya sebagai pendamping saja di sana.
Andre sebenarnya sejak tadi sudah sadar jika Hana sepertinya enggan makan, namun ia diam saja karena segan dengan Dika dan Rina yang telah memesankan untuk mereka. Bukan masalah Andre tak bisa membayar makan siang, namun lebih kepada etika dan menghargai orang.
“Sepertinya makanan kamu sama sekali belum berkurang,” lanjut Rina yang menjeda makannya untuk mengamati isi piring Hana.
Akhirnya Andre berinisiatif untuk menyuapi Hana namun langsung ditahan oleh kekasihnya.
“Aku nggak suka kamu diet Hana,” ujar Andre saat Hana sepertinya enggan menerima suapan ayam bakar yang Andre pegang sekarang.
“Aku…” Hana melanjutkan ucapannya dengan gelengan kepala.
“Ya ampun Han, yang mau kamu diet apa coba. Kamu itu tinggi, dan dengan postur yang sekarang kamu nyaris seperti tulang berjalan,” sambung Rina yang terdengar kasar namun sayangnya itu kenyataan.
Hana yang segan akhirnya membuka mulutnya. “Udah aku aja…” ujar Hana di sela mengunyah makanan.
Dua pasangan ini kemudian melanjutkan makan siang dengan disertai obrolan ringan. Hana yang malas makan terlihat tertekan saat ia harus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Bukan masalah tak selera dengan makanannya, namun karena ruwetnya isi kepala membuat ia malas untuk makan.
Tanpa ada yang sadar, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari salah satu sudut ruangan ini sejak tadi. Objek utamanya adalah Hana, namun ia juga memperhatikan dengan baik Dika dan Rina yang baru pertama ini dilihatnya. Sedangkan Andre ia pernah bertemu dua kali.
Sejak hamil Rina memang suka aneh-aneh mintanya. Bukan hanya tak mau makan di restoran yang Dika pilih berdasarkan kebiasannya, namun ia ingin makan di tempat yang konsepnya lesehan tanpa menggunakan vasilitas VIP seperti yang biasa ia gunakan.
Jadi sekarang mereka sedang makan siang berhambur bersama banyak orang sehingga memungkinkan hal-hal yang menurut Dika melanggar privasi bisa terjadi. Seperti sekarang, tanpa sadar mereka ada yang mengamati.
Wajah kamu terlihat tertekan tak lepas seperti saat bertemu kemarin. Apa yang sebenarnya kamu rasakan, Hana. Batin pemilik mata yang mengamati dua pasangan ini.
“Shal, Mama sudah. Ayo…”
Pria ini adalah Marshal. “Sekarang Ma?”
__ADS_1
“Ya sekarang lah, kasihan papa kamu nunggu kita kelamaan. Keburu jam makan siang lewat dan ini nggak sempat dimakan…”
Dengan enggan Marshal meninggalkan restoran bersama mamanya.
“Sayang, aku kebelet,” lirih Rina yang masih bisa di dengar Hana dan Andre yang tak diajak bicara.
“Aku antar,” sahut Hanayang langsung bangkit sebelum Dika mengeluarkan suara.
“Kamu kan belum selesai makan,” tolak Rina.
“Sudah, sudah kok. Ayo…”
Hana sempat membersihkan tangannya sebelum membantu Rina berdiri.
“Pacar kamu bener-bener nggak doyan makan ya,” cibir Dika pada Andre.
Rina yang mendengar hal tersebut menyenggol bahu Hana yang dibalas cengiran oleh perempuan cantik ini.
“Aku jadi bolak-balik pee sekarang,” ujar Rina di sela langkahnya.
“Mungkin kandung kemihnya terdesak Rahim kamu yang membesar,” kata Hana.
“Iya juga…”
“Kalian ada masalah?” tanya Dika pada sekertarisnya.
Andre menggeleng dan menikmati pergumulannya dengan asap putih perusak tubuh namun begitu digemarinya.
“Kapan rencana menikah?” tanya Dika yang tahu betapa liarnya kehidupan sekertarisnya sekarang.
Batang rokok yang masih beberapa kali ia hisap terpaksa Andre letakkan. Ia merasa akan ada hal serius jika raut wajah atasannya sudah seperti ini.
“Hana belum mau,” jujur Andre apa adanya.
“Tapi kalian akan terus seperti ini jika tak segera mengambi langkah…”
Benarkan apa yang Andre pikirkan. Ia memang sangat memahami Dika, bahkan hanya dengan helaan nafas saja ia sudah dapat memprediksi apa yang akan terjadi.
“Aku tahu,” jawab Andre akhirnya.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu diam saja. Apa kamu tak serius dengan Hana?”
“Aku sangat serius.” Andre membalas tatapan Dika untuk menunjukkan bahwa ia punya keseriusan yang nampaknya Dika ragukan.
“Maaf Andre, bukan aku mau menggurui kamu, tapi kalau kamu berjalan di jalan yang salah, maka masalah akan terus bertambah. Kalau kamu mau masalahmu cepat teratasi, mulailah dengan memilih jalan dan cara yang benar. Dengan begitu perlahan masalah akan menemukan jalan keluar.”
Andre diam sejenak sebelum mengambil kembali rokok yang sempat ia letakkan. Ia menghisapnya sebelum kemudian ia hembuskan. Kata-kata yang baru Dika ucapkan mulai berputar di kepalanya.
“Nggak perlu kamu jawab, cukup kamu pikirkan,” ujar Dika saat melihat Rina dan Hana kembali ke tempat mereka.
Dua pria ini juga segera mematikan rokoknya. Memang asap yang mereka ciptakan tak langsung hilang tapi lebih dahulu menyebar dan menyusut kadarnya disbanding sebelumnya.
“Ngomongin apa kalian?” tanya Rina saat melihat wajah serius dari para pria yang belum netral sempurna.
Dika menghela nafas. “Kita bahas kemungkinan Hana yang ada di samping kamu nggak cuma sementara.”
Andre menarik kedua sudut di bibirnya sebelum mengiyakan apa yang Dika katakan. *D*ika otaknya memang cepat sekali saat mencari alasan. Untuk masalah ini aku harus lebih banyak belajar, gumam Andre dalam hati.
“Tapi itu di bahas nanti saja, yang penting target jarak dekat kalian capai dulu,” lanjut Dika yang bermaksud menghentikan kemungkinan tercipta obrolan. “Ini sudah semua kan?” lanjut Dika sambil menyimpan ponselnya.
“Uuu… dah,” ujar Rina sembari menatap Andre dan Hana untuk memastikan.
“Kita masih harus sholat dzuhur…” ujar Dika sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dika bangkit diikuti tiga orang lainnya. Setelah selesai membayar, mereka keluar menuju sebuah mobil yang mereka gunakan bersama dengan kemudi dibawa Andre dan Dika yang duduk di sampingnya. Sedangkan para wanita duduk bersama di jok belakang.
“Kamu kenapa Han?” tanya Rina kala ia menyadari wajah Hana nampak pucat dan muncul titik-titik keringat. Padahal mobil ini dalam kondisi AC nyala dengan suhu rendahnya.
“Perut aku mendadak sakit,” lilih Hana.
“Gara-gara makan ayam bakar tadi jangan-jangan.” Tiba-tiba mata Rina membola. “Astaga, jangan-jangan kamu alergi ayam bakar limau,” terka Rina sembarangan.
Hana yang sedang kesakitan dibuat meringis mendengar hal yang Rina ucapkan. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wanita cantik dengan tubuh berisi ini. “Mungkin mau ada tamu…”
“Astaga. Aku pikir… kamu bawa itu nggak?”
Hana menggeleng.
“Andre, butuh mampir ke mini market nih, tamunya Hana sepertinya datang.” Tanpa sungkan Rina mengucapkan hal tersebut karena ia yakin Dika dan Andre sudah cukup paham yang satu ini.
__ADS_1
Tanpa banyak berkata, Andre segera melakukan apa yang baru saja Rina beritahukan. Di sebuah mini market ia berhenti kemudian masuk sejenak untuk menemani Hana mencari apa yang dibutuhkannya.
Bersambung…