
HAPPY READING
Setelah beberapa waktu diam saja, Andre akhirnya bicara juga. Sedikit ada clue tentang masalahnya. Meski belum jelas, Dedi tahu ini adalah seputar Hana.
Andre terlihat meraba-raba kantong celananya, untuk menemukan sesuatu yang entah apa. Namun segera ia hentikan setelah ia sadar jika pakaiannya sudah tergantikan. Ia tadi memang sudah mandi dan kini mengenakan pakaian milik Dedi, sehingga barang yang ia cari kemungkinan besar tak akan ia temukan di sana.
“Bentar…” Andre bangkit dan tak lama kemudian kembali lagi dengan benda kotak yang sedikit terbuka.
“Boleh ngerokok kan?” tanya Andre begitu ia kembali.
“Ayo keluar,” ujar Dedi. Ia mengajak Andre keluar dari ruangan agar rumahnya bebas dari pencemaran. Ia menyibak tirai dan memutar kunci yang di susul terbukanya bingkai kaca berukuran besar yang difungsikan sebagai pintu di kediamannya ini.
Kedua pria ini lantas duduk tanpa saling mengajak maupun mempersilahkan.
“Lu gimana sama Rista?” tanya Andre begitu asap rokok ia kepulkan.
Degh!
Dedi merasa jantungnya terserang pemicu untuk berdetak lebih cepat. Tentu saja ia tak ingin Andre menyadari hal ini, sehingga dengan cepat ia berusaha mengendalikan diri. Ia pun segera mengatur nafas, berharap semua akan terlihat baik-baik saja.
Apa tak ada hal lain yang bisa ditanyakan selain hal ini? Aku kan jadi, arrgggg!!! Kesal Dedi dalam hati.
“Saya bukan anda yang kepalanya hanya berisi wanita,” ujar Dedi akhirnya.
Dedi menyugar rambutnya. Sudah kedatangan Andre kali ini sangat menganggu, masih juga ia membahas hal yang membuat energinya langsung habis tak tersisa.
Selain itu, masalah yang seharusnya tak menjadi urusannya ini harus Dedi pikirkan juga. Padahal menurutnya ini bukan masalah yang rumit hanya saja cara berfikir Andre yang terlalu berbelit-belit. Namun Dedi terus menahan diri, berlagak acuh dan enggan mengomentari. Ia membiarkan Andre mengatakan semua tanpa sedikit pun ia menyela.
“Jadi ini gimana?” tanya Andre karena Dedi sejak tadi hanya diam saja.
“Ya mau kamu gimana?” Dedi balik bertanya tanpa sedikitpun menunjukkan simpatinya.
Andre mengacak rambutnya. “Kalau aku tahu harus gimana, nggak mungkin aku repot-repot ke sini. Mengabaikan panggilan dari kantor dan meninggalkan pekerjaan begitu saja. Dika pasti sekarang kerepotan terlebih saat Rina mau saja melahirkan,” ujar Andre dengan kalimat panjang lebar kali tinggi.
“Nggak ada yang nyuruh ke sini.”
Jelas Dedi merasa kesal. Andre bicara dengan nada tak enak di dengar. Ini masalahnya, tapi ia bicara seakan harus Dedi yang menyelesaikannya.
“Ya tapi kan...”
“Terus elu maunya gimana?!” sahut Dedi cepat.
__ADS_1
Andre terdiam sesaat. “Sorry...” ujar Andre kemudian. Ia sepertinya sadar jika seharusnya ia tak bersikap demikian.
“Gua ngerasa nggak pantes untuk Hana. Dia adalah penerus Rahardja, statusnya jelas, dia sempurna, dia cantik, cerdas, serba bisa, dan gua…” Andre menggantung ucapannya. Ia menghela nafas di akhir kalimatnya, berharap Dedi akan memberikan jalan keluar segera kepadanya.
“Ya tinggal pergi saja. Hana pantas dapat yang lebih baik dari kamu.”
Andre membulatkan mata. Namun tak lama berganti dengan helaan nafas dan tundukan kepala.
Dedi tahu bukan jawaban seperti ini yang Andre kehendaki, tapi ia tidak peduli. Ia sudah jengkel dengan kelabilan sahabatnya ini dan merasa sudah seharusnya ia mendapat pelajaran agar akhirnya mengerti.
“Nggak bisa. Hubungan kita sudah terlanjur jauh,” ujar Andre akhirnya.
“Ya kalau gitu cepat nikahi, jangan cuma dikawini,” sarkas Dedi.
“Kamu...!” Hampir saja Andre mengumpat, tapi kemudian ia terdiam. Ia terdiam untuk sesaat merenungkan. Selanjutnya nafas ia helakan saat dirasa kalimat sarkas ini memang ada
benarnya juga. “Aku takut tak sepadan dengannya...” ujar Andre akhirnya
Tangan Dedi terkepal. “Gua bunuh juga lu ya. Organ kamu akan lebih bermanfaat jika dijadikan objek penelitian atau didonorkan, ketimbang menopang tubuh manusia yang nggak ada otaknya!”
Dedi segera bangkit begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya sudah begitu lelah apa lagi kalau hanya untuk membahas obrolan tak berguna bersama orang yang keras kepala.
“Ded...”
“Kasih solusi dulu,” pinta Andre. Ia bahkan merengek seperti anak kecil meski Dedi sudah tanpa sungkan menunjukkan kekesalannya.
“Kalau udah nggak mabok mending cepet ambil wudhu terus sholat istikhoroh. Minta petunjuk tuh sama Allah, karena kalau manusia biasa sudah pasti darah tinggi menghadapi orang modelan elu, ” ujar Dedi dengan penuh penekanan. Ia lantas pergi dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Dedi tak boleh lagi menunda istirahatnya. Ia tak boleh terlalu lelah, meski ini sudah lewat batas sebenarnya. Tapi bagaimana lagi, ia tak boleh terlihat lemah dan membuat orang lain menatapnya iba. Tapi ia juga tak boleh membiarkan tubuhnya sakit dan membuat lebih banyak orang khawatir padanya.
***
Di kantor Hana yang dibuat pontang-panting. Jadwal yang padat dan banyaknya dokumen yang harus ditangani posisi CEO tidak ditempat dan sekertaris yang mendapat tanggung jawab tak juga muncul hingga saat ini.
Hana memang cerdas, Hana memang punya kemampuan yang mumpuni, namun untuk hal-hal sebesar ini ia sama sekali tak berani. Karena untuk menghandle semuanya tak hanya butuh teori, tapi juga pengalaman yang jelas ia belum cukup ia miliki saat ini.
Hana muncul dari balik pintu ruangannya dan berjalan dengan tergesa. “Mbak, hubungi Pak Restu mungkin nggak ya,” ujar Hana begitu ia berhenti di depan Riza.
“Pak Andre kemana memangnya?” Riza balik bertanya.
Hana menggeleng.
__ADS_1
Alis Riza tertaut. Ingin sekali ia bertanya ada apa sebenarnya.
Semalam pulang gendong-gendongan, sekarang sudah tak tahu kabarnya seperti apa. Batin Riza.
Menyadari ada kemungkinan tak baiknya hubungan Hana dengan atasannya, Elis pun bergerak cepat. Dengan sigap ia mengumpulkan informasi yang ada dan memikirkan langkah apa yang mungkin dilakukannya. Siapa tahu masih ada kesempatan meski kecil kemungkinan. Sehingga ia bisa mengambil pujaan hatinya meski waktu hanya sedikit yang tersisa.
“Pak Edo, Pak Edo…” lirih Rahma dengan nada paniknya.
Riza dan Hana yang semula sedang serius bicara segera menegakkan tubuhnya. Mereka mengikuti Rahma yang kini sudah berdiri tegak menyambut orang penting di perusahaan yang menaungi mereka.
Sementara ketiga staf di sana sedang menyapa Edo yang tiba-tiba muncul di sana, Hana sedang mengumpulkan tekatnya untuk coba meminta solusi dari Edo atas masalah yang dihadapinya. Bukan hanya karena Edo adalah ayah dari Andre, tapi pria ini juga merupakan salah satu bagian penting dari perusahaan yang pastinya akan ada jalan keluar yang dibawa serta.
“Om…” ujar Hana setelah Edo selesai dengan kegiatan tegur sapanya.
Edo menggerakkan tangannya disusul dengan duduknya ketiga staf anaknya. Ia lantas menatap Hana yang terlihat jelas raut gelisahnya.
“Kenapa kamu tegang sekali? Apa ada masalah?” tanya Edo pada Hana.
Sikap Edo ini memang jadi sinyal baik untuk perusahaan tapi tak baik bagi Elis yang punya beda pemikiran. Edo sepertinya cukup akrab dengan Hana, terlihat dengan cara pria ini saat bicara.
Hana menghela nafas. Ternyata cukup sulit mengadu meski ia tak tahu bagaimana cara menghadapi semuanya.
“Andre dimana?” tanya Edo yang nampaknya mulai curiga.
Kembali Hana menghela nafas. “Itu lah masalahnya. Apa bisa kita bicara di dalam saja?”
Hana cukup lega karena Edo yang begitu peka. Itu lah sifat yang dimiliki Andre yang membuat pria ini tahu banyak hal meski tak tertuang dengan nyata.
Hana kemudian mempersilahkan Edo masuk ke dalam ruangan. Pertama untuk menunjukkan masalah yang tak mampu diatasinya, yang kedua mengadukan anaknya yang hilang dengan meninggalkan banyak sekali tanggungan.
“Kemana bocah ini, apa kemarin masih ke kantor?” tanya Edo memastikan
“Masih Om, tapi…” Hana menggantung ucapannya.
“Tapi kenapa?” desak Edo.
Kembali Hana menghela nafas. Entah kali berapa ia melakukan hal ini kali ini, tapi hanya ini lah yang bisa membuatnya lebih tenang. Dengan memberikap pasokan udara yang cukup untuk paru-parunya, berharap kerja otaknya akan lebih lancar juga.
“Andre sepertinya marah dengan saya,” lirih Hana akhirnya.
“Kalian ada masalah?” tanya Edo memastikan.
__ADS_1
Hana menelan ludah.
Bersambung…