
HAPPY READING
Kreyt!
Mendengar suara pintu terbuka, Dika kemudian mengangkat wajahnya dan langsung bertemu pandang dengan istrinya. Melihat kenampakan istrinya yang sedikit berbeda, Dika pun meletakkan pekerjaannya.
“Kamu kenapa, lapar?” tanya Dika saat melihat Rina yang baru muncul dari balik pintu sambil memegangi perutnya.
Rina hanya membalas dengan menggelengkan kepala. Ia terus berjalan menuju ke arah sofa dan segera mendaratkan pantatnya begitu tiba. Namun tiba-tiba ia ambruk dengan terus memegangi perut.
“Kamu kenapa?” Dika panic dan langsung menghampiri istrinya.
“Perutku sakit…” lirih Rina masih dengan memegangi perutnya.
Dika coba melihat bagaimana kondisi istrinya. Wajahnya pucat dan berkeringat. Tanpa menunggu lagi Dika langsung mengangkat tubuh Rina. Ia ingin membawa istrinya ke rumah sakit segera.
Begitu ia di depan pintu, ia baru sadar jika ia cukup kesulitan untuk membukanya saat membawa tubuh Rina di gendongannya. Beruntung di saat yang sama, Andre membuka pintu dari luar untuk masuk ke dalamnya.
“Rina kenapa?” tanya Andre saat melihat Dika mengendong Rina dan raut nampak panic.
“Tolong kamu handle semua, saya harus bawa dia ke rumah sakit segera,” ujar Dika tanpa menghiraukan pertanyaan Andre dan tanpa memberi kesempatan Andre untuk bertanya. Ia kemudian memacu langkah panjangnya agar bisa mendapat pertolongan untuk istrinya segera.
Dika berjalan melewati apa pun agar bisa segera tiba di rumah sakit. Melihat Dika yang membawa istrinya seperti orang kesetanan, Andre segera mengecek pekerjaan dan jadwal yang ada. Ia dapat bernafas dengan lega setelah melihat ternyata tak ada lagi pekerjaan yang tersisa untuk sementara. Dan lebih leganya lagi ternyata Dika tak ada jadwal meeting atau bertemu clien yang otomatis akan jadi tanggung jawabnya.
“Loh… Saya nggak salah ruangan kan?”
Tiba-tiba Lili muncul dengan tangan kanan dan kiri menenteng kantong yang entah apa isinya. Setelah merasa cukup melihat, Andre kembali fokus dengan barang-barang di hadapannya.
“Ya tujuan kamu ke ruangan siapa?” tanya Andre tanpa mentaap Lili yang masih mematung di tempatnya.
“Ke ruangan Tuan Dika,” jawab Lili dengan tampang polosnya.
“Ya sudah kamu benar,” jawab Andre masih dengan sama cueknya.
“Tapi yang ada kok Pak Andre, nona dan tuan ke mana?” tanya Lili lagi.
Andre merapikan kertas yang semula berserak dan menumpukknya di salah satu sisi. “Sepertinya Rina sedang tak baik-baik saja. Mungkin Dika membawanya ke rumah sakit.”
“Loh kok, padahal kan tadi Nona baik-baik saja?” Lili sepertinya belum puas bertanya.
Andre tak menyahut. Tiba-tiba ia teringat Hana. Kondisinya masih buruk hingga kini.
“Lili, aku pulang dulu.”
Andre meninggalkan Lili begitu saja yang kembali mematung tanpa fungsi di ruangan bosnya. Ia mengangkat kedua tangannya. Ia memandangi dua kantong itu dengan mirisnya.
__ADS_1
“Lah, terus makanan segini banyak buat apa? Masa iya aku bawa pulang dan aku makan sama Bunda?”
Setelah sebuah helaan nafas, Lili pun ikut keluar karena tak ada juga yang bisa ia kerjakan di dalam.
“Kok keluar lagi Li?” tanya Rahma saat melihat Lili keluar lagi,
padahal ia belum lama masuk tadi.
“Iya, lha wong nona saja nggak ada,” jujur Lili pada ketiganya.
"Iya, tadi emang keluar sambil digendong pak Restu. Sebenarnya kenapa ya?"
Tak ada yang menjawab pertanyaan Rahma. Termasuk Lili yang dalam hati sudah menerka-nerka bahwa ini ada hubungannya dengan kehamilan Rina.
“Itu apa?” tanya Elis yang fokus pada bawaan di tangan Lili.
Lili menatap bungkusan-bungkusan di tangannya. Sepertinya ini cukup untuk 4 orang. Batin Lili.
“Kalian sudah makan belum?” tanya Lili tiba-tiba saat sebuah ide melintas di benaknya.
“Sudah, roti doang,” jawab Rahma mewakili dua orang rekannya.
“Nih aku ada makanan. Kita makan bareng yuk,” ujar Lili sambil mengangkat kantong di tangannya.
“Wah boleh.” Rahma yang paling semangat segera bangkit dari tempatnya. Ia mengambil alih kantong yang Lili pegang dan mulai membuka isinya.
“Wah iya,” timpal Riza.
Akhirnya ketiganya memakan makanan yang seharusnya Lili serahkan untuk Rina, karena Rina sekarang tak berada di tempatnya.
***
“Rina kenapa?” tanya Rudi saat menghampiri Dika yang sedang cemas menunggu Rina diperiksa.
Dika mendongak menatap Rudi yang masih dalam posisi berdiri. “Nggak tahu Yah. Perasaan Rina tadi nggak jatuh atau semacamnya. Tapi tadi dia ngeluh tiba-tiba perutnya sakit,” ujar Dika menceritakan apa yang terjadi pada istrinya.
“Kok kamu sudah pulang?” tanya Rudi lagi. Ia mengira jika Dika sudah pulang dan seketika menemukan istrinya seperti ini di rumah.
“Rina dari kemarin ikut ke kantor Yah. Dia nggak mau jauh-jauh dari Dika.”
Rudi tak lagi menanyai Dika. Dia hanya mengusap punggung anak tirinya seakan berkata semua akan baik-baik saja.
Tak berselang lama, pintu terbuka dan Dika segera menerobos masuk karena tak sabar untuk melihat kondisi istrinya.
“Gimana kondisi istri saya Dok?” tanya Dika begitu ia sampai di dekat istrinya.
__ADS_1
“Nona Rina baik-baik saja. Hanya sedikit keram karena beliau mengalamu goncangan,” jelas dokter Halima.
“Goncangan?” kaget Dika.
Dika kemudian mengalihkan pandangannya pada Rina. “Apa kamu tadi jatuh lagi?” tanya Dika yang tak mampu menutupi raut resahnya.
Rina menggeleng. “Enggak,” jawabnya kemudian.
“Pak Restu silahkan duduk,” pinta dokter Halima.
Dika segera melakukan apa yang dokter Halima instruksikan.
“Maaf sebelumnya, kapan anda melakukan hubungan suami istri terakhir?” tanya Dokter Halima pada Dika setelah pria muda ini duduk di hadapannya.
“Dengan Rina?” kaget Dika.
“Memang kamu mau melakukan dengan siapa?!”
Entah Rina dapat kekuatan darimana. Jika sebelumnya suaranya pelan, sekarang tiba-tiba ia bisa berbicara dengan sangat jelas dan kencang seperti ini.
“Ehm, maksudnya iya Dok.” Dika jadi garuk-garuk kepala karena bingung harus berkata apa.
“Sabar Nona, mungkin suami anda sedang panic,” ujar dokter Halima menenangkan.
Rudi yang semula bertahan di ambang pintu akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Dika. Sepertinya anaknya ini harus ia dampingi biar tidak oleng lagi.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan menantu saya?” tanya Rudi to the point pada dokter Halima.
“Tidak ada yang serius dengan Nona, saya hanya ingin memastikan saja apa penyebab kontraksi yang nona alami. Jika tadi tidak jatuh maka saya ingin memastikan apakah mungkin hubungan suami istri yang menjadi pemicu rasa sakit yang sedang beliau alami,” jelas dokter Halima.
Rudi menghela nafas sebagai tanda dari lega yang ia rasa. Ia kemudian menatap Dika dan hanya dari wajahnya saja dia sudah paham sekali apa yang akan diucapkan anak tirinya.
“Amm, itu…,” Dika menjeda ucapannya. Ia nampak bingung dan salah tingkah. “Itu… barusan Dok,” ujar Dika akhirnya.
Kedua dokter ini hanya mengulas senyum di bibirnya sambil menatap ke arah Dika yang wajahnya sudah belingsatan tak karuan. Sementara Rina yang masih berbaring pun dapat dengan jelas mendengar apa yang tengah mereka bicarakan. Ia tak tahu kemana arah pembicaraan mereka, namun membahas masalah ini sudah berhasil membuat wajahnya memanas.
“Jadi begini Pak Dika, selama hamil memang masih boleh melakukan hubungan suami istri namun sebaiknya hindari penggunaan tempo yang cepat karena dapat mempengaruhi kondisi kandungan Nona yang masih sangat muda ini.”
Dokter Halima tersenyum saat menjeda ucapannya.
Dika kembali menggaruk kepalanya. Dia ingin bicara namun belum juga suaranya keluar, ia sudah malu seperti ini.
“Ya kalau sudah begini saran saya anda harus puasa dulu sementara waktu. Kalau tahan bisa sampai habis trisemester pertama, kalau tidak tahan ya tunggu sampai kondisi Nona siap untuk melakukan.”
“Kalau tetap dilakukan apa akibatnya Dok?” tanya Rudi yang semula diam ini. Ia sebenarnya tahu apa jawabannya, namun ia ingin Dika dan Rina mendapat penjelasan dari ahlinya.
__ADS_1
Dan dokter Halima pun menjelaskan dengan terperinci bagaimana sebaiknya hubungan suami istri selama masa kehamilan. Meskipun wajah hingga telinga pasutri ini rasanya panas sekali, namun hal ini begitu penting untuk mereka ketahui.
Bersambung…