
HAPPY READING
“Saya rasa sekarang sudah bisa mulai menjawab ya, karena pertanyaan yang masuk juga sepertinya sudah banyak.” Dika merasa Ia sudah bisa menemukan inti dari kehebohan yang melibatkan sahabatnya dan perusahaan besar miliknya. Jadi daripada lebih banyak membuang waktu, ia ingin mengakhiri segera.
Andre menggerakkan tangannya untuk meminta draft pertanyaan yang tadi sempat Dika minta untuk menuliskan.
Andre menatap Dika sejenak seolah sedang berdiskusi siapa yang sebaiknya bicara sekarang. Andre segera memutus kontaknya setelah Dika mengisyaratkan agar dia saja yang memberi keterangan terlebih dahulu baru nanti Andre atau Hana yang menjelaskan.
“Sedikit kecewa ya saya dengan rekan-rekan semua, karena sejujurnya kami di sini untuk membahas produk terbaru yang diluncurkan kali ini, tapi ternyata kalian justru lebih tertarik dengan kehidupan kami,” ujar Dika di hadapan semua awak pemburu berita.
“Tapi baiklah. Karena saya sedang senang karena produk yang susah payah dirancang istri saya berhasil diluncurkan, maka dari itu saya bersedia membagi kabar sedikit kabar tak banyak orang tahu ini kepada kalian yang ada di sini,” ujar Dika dengan sangat tenang.
“Di sini saya akan membahas masalah saudara Hana yang tiba-tiba bisa menempati posisi ini. Alasan pertama seperti yang diungkapkan istri saya tadi. Selanjutnya adalah karena dia punya kemampuan. Karena saya tidak mungkin membiarkan orang yang tak punya kemampuan masuk di perusahaan saya dengan mudah meskipun itu yang mau istri saya.”
“Terkait dugaan sabotase. Sabotase apa? Selama masa awal pengerjaannya, proyek ini nyaris tanpa kendala. Hanya saja saat kandungan istri saya perlahan membesar, dia mulai mudah lelah hingga apa yang sudah diperjuangkannya sempat stag beberapa saat. Baru setelah istri saya menggandeng saudara Hana, proyek kembali berjalan hingga akhirnya hari ini diluncurkan. Rista juga ada di sini jika barang kali kalian ingin tanya langsung mengenai kemundurannya. Apa benar-benar sibuk atau ada alasan lain sebenarnya.” Dika sengaja menghindari kontak dengan adiknya, meski ia tahu dengan jelas keberadaan Rista sekarang.
Rista yang sedang dongkol di pojokan ingin sekali melempar kakaknya dengan minuman. Minuman yang dokter muda tadi tinggalkan yang sampai sekarang belum ia minum sama sekali, meski tenggorokannya terasa kering perlu diairi.
Padahal Rista bersedia ke sini tadi karena kakanya mau menjamin ia tak akan bersinggungan dengan wartawan sehingga ia bisa makan dengan tenang. Namun faktanya, ia kehilangan selera makan karena seseorang yang hanya muncul sebentar namun berhasil membuatnya dadanya berdebar.
“Jadi sudah jelas ya masalah saudara Hana ini dengan Surya Group. Kalau masalah beliau ini siapa dan bagaimana hubungan sahabat saya dengannya, saya persilahkan yang bersangkutan saja untuk menjelaskan.”
Dika mempersilahkan Andre dan Hana untuk memutuskan apakah ingin membahas siapa Hana dan hubungannya keduanya apa, atau mungkin mereka lebih nyaman untuk tak membahas kedua masalah tersebut di depan media.
“Terimakasih Pak Restu. Sebenarnya saya tidak suka membahas ini, tapi sepertinya kalian terlalu besar menaruh perhatian kepada kami, jadi…” Andre menghela nafas dan menatap Hana di sampingnya. Ia meraih tangan Hana yang sejak tadi ada di bawah meja kemudian digenggamnya untuk diangkat ke atas meja. “Benar, dia kekasih saya.” Dengan lugas Andre mengakui hubungan keduanya. Ia sempat berusaha mencari keberadaan orang tuanya, namun tidak ketemu. Sehingga ia mengembalikan fokusnya kepada awak media di depannya.
__ADS_1
Keributan mulai terdengar di sana-sini. Terlebih karena ada Edo yang hadir bersama Heni saat ini. Ia benar-benar dihujani pertanyaan oleh orang-orang yang kebetulan berada di sekitarnya, terutama untuk memastikan apakah Hana anak Rahardja atau bukan sebenarnya.
“Untuk selebihnya. Sebenarnya saya enggan membahas. Namun saya takut dilempar oleh kakak Hana yang tadi juga hadir di sini karena menyembunyikan identitas adiknya. Silahkan Hana, kamu perkenalkan siapa diri kamu...”
Suasana mendadak sunyi setelah Andre mempersilahkan Hana untuk bicara. Semua menantikan apa yang akan Hana ucapkan.
“Beliau adalah kakak saya, Kak Rio...” ujar Hana ragu-ragu.
Di tempat itu begitu banyak undangan . Dan kebetulan tak hanya ada satu orang yang bernama Rio. Sehingga semua yang memiliki nama Rio menjadi sasaran pandang orang-orang di sekitarnya.
“Rio Rahardja. Dia adalah kakak saya. Sehingga saya adalah anak dari Galih Rahardja.” Hana tak berani mengangkat wajah setelah menyelesaikan pengakuannya. Ia takut tiba-tiba ada sesuatu yang terlepar ke arahnya karena ia dianggap orang jahat di sana.
Rio yang mendadak menjadi pusat perhatian, hanya mengacungkan minuman yang ia pegang. Ia tersenyum sambil menatap adiknya yang sekarang ada jauh di depan.
Bisik-bisik santer terdengar karena dua penerus Rahardja bisa mendapat tempat di tubuh Surya. Apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan? Apakah keduanya ingin mencuri hati orang-orang tinggi terlebih dahulu sebelum menghancurkan perusahaan ini?
“Kerja sama perusahaan dengan Rio Rahardja berjalan dengan sangat baik bertahun lamanya. Semuanya baik dan tidak ada hubungannya dengan persaingan yang mungkin terjadi sebelumnya. Lantas apa masih perlu dipermasalahkan jika Hana juga ada di perusahaan?”
Andre menghela nafas sebagai jeda atas kalimat panjangnya.
“Toh dia memang punya kemampuan, meski tak salah juga jika ada yang mengatakan Nona Rina lebih banyak tahu tentang Hana karena dia adalah kekasih saya.”
Andre harus mengakui hal ini. Ia tak bisa memungkiri jika hal semacam ini terjadi. Jika Hana bukan kekasihnya sepertinya tak mungkin Rina akan dengan mudah memilihnya meski Hana punya kemampuan yang luar biasa.
Tak ada satu pun suara kini. Semua diam seolah tengah terjadi sesuatu yang sakral saat ini.
__ADS_1
“So, bisa kalian jelaskan kira-kira apa yang dipermasalahkan sehingga saya harus menjelaskan sepanjang ini?” Dengan wajah serius Andre bertanya. Namun sepertinya setiap yang ditatap enggan untuk membuat kontak.
Andre diam saja saat tak satu pun mau membuka suara untuk menjawabnya. Ia lantas mundur dan menyandarkan punggungnya saat melihat Rina hendak membuka suara.
“Maaf ya. Sepertinya saya perlu bicara.” Rina meminta ijin untuk angkat suara.
“Dalam kaitannya dengan kerjasama ini, saya sendiri yang memilih Hana. Saya tahu sebaik apa kemampuan dia dan kami juga tahu karakter masing-masing. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat, kami tak perlu susah payah melakukan bonding,” jelas Rina.
“Awalnya Hana bahkan menolak tawaran saya karena tak mau dianggap memanfaatkan hubungannya dengan Andre untuk memperoleh posisi tinggi. Tapi di luar itu, saya merasa butuh dia. Mungkin hal ini tak akan terjadi kalau adik ipar saya tak memutuskan mundur dari proyek ini, tapi keadaan yang memaksanya tak bisa dengan sekaligus mengerjakan hal ini. Jadi saya tegaskan, di sini tak terjadi sabotase atau sebagainya seperti yang rekan-rekan sangkakakan tadi. Jadi sudah jelas ya? Jangan pernah bahas lagi masalah ini.”
Rina sepertinya sudah tertular vibe suaminya. Begitu ia memutuskan sudah tak ada yang bisa membantahkan.
“Kalau sudah jelas, mungkin pembahasan tentang sekertaris Andre dan saudari Hana saya cukupi dulu, karena produk saya bahkan kalah pamor dengan gossip pasangan ini.” Dika tertawa kecil di akhir kalimatnya. Namun hal ini tak lantas mengurangi wibawanya.
“Saya ucapkan terimakasih pada segenap rekan media. Sekian dan sampai jumpa pada kesempatan yang akan datang…” Tutup Dika yang tak ingin berbicara lebih lebih panjang.
Andre bangkit terlebih dahulu karena ia yang duduk di paling tepi. Kemudian di susul Hana, Rina dan terakhir Dika. Mereka pergi dari tempat pers conference dan berbaur dengan para undangan dari berbagai penjuru.
Mereka yang tak berkepentingan segera pulang sementara sebagian masih melakukan jamuan. Kini Dika mulai berbaur dengan undangan, karena Rina sudah berhasil ia paksa untuk istirahat sekarang. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun kedekatan dengan semua orang turut mengambil peran dalam perkembangan perusahaannya.
Andre sendiri memisahkan diri. Ia bersama Hana ingin menyapa orang tuanya. Meski tak tahu akan mendapat reaksi macam apa, yang jelas ia tak boleh menyerah dan terus berusaha.
“Pa, Ma…” sapa Andre begitu menemukan keberadaan kedua orang tuanya.
“Nah ini dia. Yang mau punya mantu anak Rahardja masih anteng saja,” goda seseorang saat melihat Andre bersama Hana menemui Edo dan istrinya.
__ADS_1
Andre menghela nafas. Kenapa harus ada yang seperti ini saat ia sedang ingin membangun hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya.
Bersambung…