
...Bonus double up nih. ...
...Makasih yang udah ngasih masukan baik lewat komen atau chat Box. ...
...----T E R I M A K A S I H----...
Dasar bocah ingusan. Mudah sekali kamu masuk perangkapku. Rudi Andika adalah sandungan terbesarku untuk menguasaimu. Jadi keruhnya hubungan kalian akan memperbesar peluangku untuk menang. Rio terus bermonolog dalam hati karena merasa tujuannya sudah berada dalam genggaman.
"Apa kamu yakin bertanya padaku?"
Dika menggela nafas. "Tergantung, apakah kamu bisa aku percaya atau tidak," jawab Dika sarkas.
Rio mengangguk kecil. Boleh juga kata-katamu bocah. Tapi ingat, kamu belum mampu jika mengajak aku bermain-main. "Dia sudah merusak rumah tangga orangtua kamu, benar?"
Dika mengangguk. Ia mencoba mengikuti permainan Rio.
"Dia dokter dan pengusaha, punya hotel, caffe, dan resto. Orang kaya bukan?"
Dika tak bereaksi.
"Namun tahukah kamu, usaha dia tak bisa menghasilkan uang sebesar perusahaan kamu. Jadi menurutmu bagaimana dia kamu jadikan tempat meminta bantuan?"
Dika masih biasa saja. Sedikitpun tak ada kerutan di keningnya. "Jadi apa menurutmu dia juga akan silau dan ingin menguasai perusahannku?" tanya Dika dengan nada rendah seolah ia memang benar-benar tak tahu dan ingin sekali mencari tahu.
"Tentu. Aku yakin jika diberi kesempatan siapa pun pasti ingin menguasai perusahaan besar dengan banyak cabang seperti Surya Group."
"Apa kamu juga termasuk?"
"Tentu..." Rio segera menghentikan ucapannya saat merasa sesuatu yang tak semestinya terucap justru keluar. "Tentu tidak," lanjut Rio cepat. "Untuk apa lagi. Aku sudah punya perusahaan sendiri. Cukup besar dan melelahkan untuk aku tangani sendiri." Sialan! Kenapa Dika bertanya seperti itu, dia sengaja atau hanya kebetulan saja.
"Jadi apa aku salah dengar jika tadi kamu menawarkan kerjasama."
Sial! Sial! Sial! Rio mengumpat dalam hati. Bagaimana pertanyaan semacam ini bisa keluar kini. "Ya kan masih ada papa yang bisa ngehandle perusahaanku selama aku bantuin kamu." Dengan sedikit gelagapan Rio berusaha menanggapi pernyataan Dika sebelum Dika curiga padanya.
Ekor mata Rina menangkap senyum simpul di bibir Dika. Ia tak tahu maksudnya, yang jelas ia di sini akan berperan sebagai pengagum saja. Aku tak berani banyak berharap padamu Dika. Aku tahu diri. Tapi, ijinkan aku mengagumimu setidaknya saat ini saja.
"Intinya kamu harus percaya sama aku dan sedikit pun tak boleh memberi kesempatan pada dokter Rudi, atau kamu akan menyesal nantinya." Rio sudah kehilangan ketenangannya. Dia sedikit panik saat merasa Dika begitu siap dan tak sebodoh yang ia kira. Ia merasa memupuk kebencian Dika terhadap Rudi adalah sebuah keharusan dan tak bisa ia tunda untuk dilakukan.
Prok prok prok prok prok
__ADS_1
2 pria muda itu menoleh ke arah tepuk tangan tunggal yang berasal dari seseorang. Orang itu saat ini tengah berjalan menuju tempat mereka berada.
"Jadi seperti ini calon pemimpin Rahardja. Sang pewaris tunggal Rahardja Group yang kini tengah bersinar."
"Om..." gumam Dika yang nyaris tak di dengar oleh selain dirinya.
Rio menelan ludah. "Kenapa?" Rio berusaha tetap tenang. "Kamu takut aku membongkar semua kebusukanmu pada Dika." Dengan sisa keberaniannya Rio mencoba menjadi pihak yang benar di hadapan Dika.
"Bukankah kamu sudah melakukannya?"
Rio merasa tersudut kali ini. "Aku hanya mengatakan kebenaran."
"Kebenaran yang kamu buat untuk meraih tujuan. Slogan Galih yang belum juga membuahkan kejayaan hingga sekarang."
"Rudi Andika. Untuk apa anda datang ke sini. Bukankah sebagai seorang dokter seharusnya anda di rumah sakit. Atau jangan-jangan penghasilan anda sebagai dokter tak cukup besar sehingga tertarik untuk cari muka di depan anak tiri anda." Rio berusaha mengintimidasi Rudi, memanfaatkan hubungannya yang kurang baik diantara ayah dan anak tiri ini.
"Lancar sekali kamu mengucapkan praduga, jangan-jangan kamu yang sedang mencoba cari muka di depan saya..." bukan Rudi yang baru saja berbicara, melainkan Dika. Dia berbicara dengan begitu santai namun berhasil menjatuhkan kepercayaan diri Rio hingga hancur berkeping-keping.
Rudi terkesima menatap anak sahabatnya ini. Hendro, aku seperti melihatmu pada jiwa Restu.
"Dika. Kamu nggak boleh luluh sama dia. Dia cuma mau nguasain perusahaan kamu." Rio bersikukuh melayangkan tuduhan itu pada Rudi.
"Saya rasa drama hari ini harus segera kita akhiri Rio Rahardja."
"Apa maksud kamu. Apa hanya dengan kedatangan dokter ini kamu langsung berubah pikiran?"
Dika menggela nafas dan berusaha mendongakkan wajahnya. "Dokter Rudi Andika adalah pemilik sejumlah besar saham dalam Surya Group, dan kalau tak salah dalam Rahardja juga ada saham beliau."
Rio terkejut karena bocah yang ia anggap ingusan ini sudah tahu fakta itu.
"Restu..." gumam Rudi lirih.
"Apa kamu terkejut...?" tanya Dika dengan menatap remeh Rio.
"Jadi kalau kamu ingin memojokkan Dokter Rudi dengan alasan uang, saya rasa ini adalah sebuah kebodohan."
Rio kehabisan kata. Tangannya terkepal kuat.
Rina yang semula diajak pergi oleh Indah tiba-tiba berlari mendekat. Bukan mendekat ke arah Dika, tapi ke arah Dedi yang membawa tubuh Rista yang nampak tak berdaya.
__ADS_1
"Rista...!"
Mendengar Rina yang meneriakkan nama Rista sambil berlari berhasil menyita perhatian Rudi dan Dika.
Spontan kedua pria itu segera berlari setelah tahu apa yang Rina tuju. Dika segera membuka pintu mobilnya agar Rista bisa masuk ke dalamnya.
"Rista, kamu kenapa?" Dika menyentuh wajah adiknya yang terkulai lemah.
"Tadi dia sempat pingsan..." ujar Dedi dengan ngos-ngosan.
"Om, bisa tolong periksa kondisi adik saya..."
Rudi yang semula tak berani terlalu dekat akhirnya melangkah setelah Dika memberinya tempat. Meski Dika masih memanggilnya Om, setidaknya anak tirinya ini sudah menganggapnya ada.
"Papa...." Rista yang setengah sadar itu memanggil papa pada Rudi yang kini memeriksanya.
"Gimana Om?" tanya Dika pada Rudi. Sebenarnya ia mendengar dengan jelas apa yang baru saja Rista ucapkan, namun kali ini ia tak ingin membahas apapun selain keselamatan Rista.
"Sepertinya ada air yang masuk ke saluran pernapasan Rista. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rudi kepada Dedi yang ia ketahui tadi datang membawa Rista.
"Dia tadi nyaris tenggelam Om. Dia terseret ombak saat berenang di pantai."
"Apa perlu di bawa ke rumah sakit?" tanya Dika.
"Makan waktu kalau ke sana, sebaiknya bawa ke villa kamu saja, akan saya tangani di sana."
"Om bisa ikut di mobil saya? Biar bisa terus memantau kondisi Rista," pinta Dika saat melihat Rudi hendak menuju mobilnya.
"Biar saya yang bawa mobil Om." Dedi hendak memindahkan tubuh Rista dari pangkuannya, namun Rista justru mencengkeram erat kaos Dedi. "Ta, aku bawa mobil Om Rudi ya..."
Rista menggeleng lemah.
"Biar saya suruh orang saja. Saya di sini tidak sendiri," pungkas Rudi.
Setelah menghubungi seseorang tak berselang lama munculah orang dengan pakaian serba hitam. Ingin sekali Dika bertanya siapa mereka, namun ia masih berusaha berdamai dengan hati untuk dapat bersikap biasa saja dengan Rudi.
TBC.
Yey, semoga keluhan cerita yang terlalu rumit segera surut.
__ADS_1