
^^^Enaknya upload 2 hari sekali apa seminggu sekali langsung beberapa part?^^^
^^^Kasih saran dear ya?^^^
^^^Eh, eh, spam komen ya, biar bisa double up hari ini.^^^
^^^-Happy Reading-^^^
"Ke rumah gue ya, Mama kangen sama kalian," ajak Nita pada Dian dan Rina yang kini berada dalam mobilnya.
"Okay." Keduanya serempak menjawab Nita.
Ckkiitttt.....!!
Sebuah mobil tiba-tiba menyalip dan berhenti mendadak di depan mereka.
"Gila! Cari mati tu orang!" umpat Dian yang berada di samping Nita.
Nita yang hendak mengeluarkan sumpah serapah terdiam seketika saat melihat siapa yang keluar dari mobil yang nyaris membuat mereka celaka.
"Rin, Rina!" Nita memanggil Rina yang masih diam di jok belakang. "Rin!" ulang Nita dengan suara yang mulai terdengar panik.
"Apa sih, nggak ada yang ketabrak kan? Gue nyari HP nih..." Rina sibuk menelisik bagian bawah mencari HP-nya yang terlepas dari genggaman saat Nita mendadak menginjak pedal rem.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari luar.
"Rina! Kamu keluar ya..."
Rina spontan menegakkan tubuh saat mendengar namanya di panggil. Oh My God. Rina membungkam mulutnya.
"Rina, aku tahu kamu di dalam."
Dian kemudian menurunkan kaca jendelanya yang kini di ketuk. "Kak..."
"Tolong suruh Rinanya keluar ya," pinta Rio dengan menunduk untuk menatap bagian dalam mobil.
Mau tak mau Rina akhirnya membuka pintu dan keluar dengan diikuti Nita dari jok depan.
"Sekarang masuk mobil." Begitu Rina keluar, Rio menarik tangan Rina untuk dibawa ke mobilnya.
"Mas." Rina menolak dan diam di tempat.
"Kenapa! Mau jalan sama mantan kamu lagi?" tuduh Rio dengan sorot mata penuh emosi.
Dian memegang sebelah tangan Rina. "Maaf Kak, ini tadi udah janjian mau ke rumah Nita."
Rio mengacuhkan Dian dan kembali menariknya.
"Mas, aku bisa di marahin Mama kalau nggak ada di rumah Nita, aku tadi pamit ke sana soalnya."
"Jangan banyak alasan, sekarang masuk!" Rio kembali menarik pergelangan tangan Rina.
"Mas, jangan gini." Rina masih berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Rio.
Rio menghempaskan tangan Rina. Dia bersiap melayangkan sebuah tamparan di pipi Rina.
Dian dan Nita berteriak tanpa bisa mencegah tindakan Rio.
__ADS_1
Greb!
Tiba-tiba sebuah tangan menahan pergelangan tangan Rio dan menghempaskannya kasar.
"Jangan ikut campur."
Rio menegang saat tahu siapa yang baru saja menghempaskan tangannya.
Pria itu menarik Rina ke belakang tubuhnya. "Jangan pernah berbuat kasar sama putri saya!"
"Om, saya cuma..."
Rio salah tingkah saat tak menemukan kata yang tepat untuk diucapkan pada Reno, papa Rina.
"Saya sebenarnya sudah nggak respect sama kamu saat pertemuan di rumah kala itu."
"Om..."
Hanya dengan sebuah gerakan tangan, Reno mampu menghentikan ucapan Rio.
"Sebaiknya jangan ganggu putri saya lagi."
Reno segera membawa putrinya pergi dari Rio. "Kamu mau sama Nita apa pulang sama Papa?" tanya Reno pada putrinya.
Rina menatap kedua sahabatnya.
"Emmm, kita ke rumah kamu aja kali ya?" usul Nita dengan mendapat anggukan dari Dian.
"Mama kamu?" tanya Rina.
"Nggak masalah."
Rio segera masuk mobil dengan membanting pintu setelahnya. Ia mengumpat dan meluapkan emosinya dengan mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan di jalanan.
"Sial, sial, ssiiaaallll!!!" berkali-kali ia meluapkan amarahnya dengan memukul setir mobilnya.
"Rina, sekarang kamu juga akan sama hancurnya dengan mantan kamu yang bo**h itu." Rio mengeluarkan smirk nya sebelum membawa masuk mobilnya ke dalam bangunan kos-kosan yang sering kali ia datangi.
Di rumah Dika.
"Om, Om Rudi nggak punya perusahaan sendiri ya?" tanya Dika saat melihat perusahaan apa saja yang akan bersaing memperebutkan tender pembangunan hotel di wilayah pantai Utara.
"Iya. Ayah tiri kamu lebih suka main investasi. Kalaupun dia punya perusahaan, keberadaannya sama sekali bukan ancaman."
"Maksudnya?" tanya Dika.
"Coba kamu lihat perusahaan dengan urutan ke-4."
"Rahardja Group?"
Edo mengangguk. "Mereka tak sungkan menggunakan cara kotor untuk menang tender."
Dika mengernyit.
"Mas Restu. Sekarang Mas harus lebih jeli, jangan gampang percaya pada orang yang kelihatannya baik, jangan pula langsung berburuk sangka pada orang yang kelihatannya tak baik. Dunia bisnis terlalu rumit dan kita tidak bisa gegabah mengambil keputusan hanya dengan melihat orangnya."
Dika nampak berusaha mencerna kata-kata Edo, orang yang kini menjadi sekretarisnya sejak Ia memutuskan untuk turun langsung menjalankan perusahaan mendiang papanya.
"Apa saya bisa permisi?"
__ADS_1
"Silahkan Pak Edo. Terimakasih atas bimbingannya."
Edo kemudian keluar meninggalkan Dika yang masih berusaha keras mempelajari tumpukan berkah perusahaannya.
Pa, bantu Dika jagain semua peninggalan Papa. Dika menatap keluarganya yang utuh dalam frame yang digenggamnya.
Semenjak kematian Hendro, Surya Group di jalankan oleh Edo yang sebelumnya merupakan sekertaris Hendro sejak awal dia menjabat sebagai CEO.
Dalam wasiatnya, Hendro menyebutkan Dika sebagai pewaris tunggal perusahaan tersebut. Tak ada yang tahu mengapa hanya nama Dika yang tertera di sana, tak ada nama Rista atau pun Santi selainnya.
Sejak Rista memilih untuk tinggal bersamanya, Dika pun memutuskan untuk maju di kursi CEO dan mulai belajar menjalankan perusahaan. Dan saat ini adalah saat dimana dia harus bersiap agar mampu berdiri di hadapan direksi untuk menyatakan kesiapannya menjalankan roda perusahaan menggantikan sang Ayah.
***
Di kediaman Rudi, ia tengah bersantai dengan Santi, istrinya.
"Mas, Edo bilang Restu udah memutuskan untuk maju dan menduduki kursi CEO," kata Santi sambil menyeduh teh untuk suaminya.
"Ya bagus dong, semakin cepat ia memulai semakin cepat ia mempelajari banyak hal."
"Apa Mas nggak pengen coba masuk, maksudnya untuk membimbing Restu."
Rudi meraih secangkir teh dengan asap mengepul itu dan mulai menghirup wanginya.
"Darah Hendro mengalir di sana, aku yakin Restu mampu belajar dengan cepat dan mengatasi semua hal dengan baik."
"Tapi Mas juga tahu kan seberapa kejam dunia bisnis?"
"Sangat tahu, makanya aku lebih memilih bermain investasi dan meniti karir sebagai dokter."
"Mas..." Santi tak mampu membendung kecemasannya.
"Jangan sampai sifat pesimis kamu ini melekat pada Restu."
Santi mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Rudi.
"Makasih ya Mas sudah mau berada di posisi ini." Santi menghela nafas. "Aku juga yakin, Restu pasti akan mengerti kalau Mas ingin mengungkap yang sebenarnya."
Rudi menyeruput teh sejenak kemudian meletakkannya di atas meja.
"Nggak masalah Restu membenciku, asal dia nggak membenci kamu. Aku juga nggak pengen nambah beban Restu jika harus mengungkap semuanya sekarang. Biarkan dia fokus dengan perusahannya dulu. Jika nanti saatnya tiba, tentu aku akan mengungkap yang sebenarnya bahwa aku sangat menyayanginya."
Rudi membawa Santi ke dalam pelukannya dan Santi pun menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Makasih banyak Mas. Makasih Mas sudah rela memberikan kasih sayang untuk anakku."
"Aku mencintai dan menyayangimu dengan segenap jiwaku. Jadi bukan hanya jiwa dan ragamu saja yang menjadi milikku, tapi termasuk keluarga dan anak yang keluar dari rahimmu kini adalah milikku. Sudah sepantasnya aku mencurahkan kasih sayang meski caranya berbeda dengan kebanyakan orang di luar sana."
"Sekali lagi makasih Mas."
Rudi mencium kening Santi dengan segenap cinta, kemudian kembali mendekapnya dalam kehangatan.
TBC
Jadi CEO di usia belasan tahun.
Wow banget nggak tuh?
Say something ya dear.
__ADS_1