Zona Berondong

Zona Berondong
Sang Fajar


__ADS_3

Double up, 😍😍😍😍


...*HAPPY READING*...


Dika menutup matanya saat sorot lampu mobil tepat mengenai wajahnya. Seorang gadis mungil yang baru saja keluar dari mobil segera berlari dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


"Kamu nggak apa-apa."


Bukannya menjawab dan meredakan kepanikan gadisnya, Dika justru diam dan menatap tajam Dedi yang baru turun dari kursi kemudi.


"Mereka khawatir sama kamu," ucap Dedi tepat saat Rudi dan Santi juga muncul bersama Rista dari dalam mobil.


Dika menunduk lemas. "Benar-benar mengenaskan."


Dika menatap nyalang dirinya yang duduk tertutup selimut tebal dan kaki keseleo yang sengaja ia luruskan.


"Aku cuma keseleo, bukan cidera parah," kata Dika saat Rista mendekat dengan kotak p3k yang besar ditangannya.


Dedi masih bertahan di dekat mobil bersama Rudi dan membiarkan Dika dirawat intensif oleh 3 wanita penting di hidupnya itu. Benar-benar hiburan tersendiri saat melihat Dika kacau dan mengenaskan karena pusing dengan kehebohan mama, adik dan kekasihnya.


"Emang dokter nggak bisa nanganin yang begini ya Mas?" kesal Santi karena suaminya tak mau mendekat juga.


"Ded!! Harusnya elu yang tanggung jawab, kenapa malah nyuruh mereka?!"


Untung masih pagi buta, matahari pun masih malu-malu menunjukkan sinarnya. Jadi berteriak seperti ini tak membuat Dika menjadi perhatian para petani yang nantinya bekerja di kebunnya.


"Mereka yang mau Tuan Muda," jawab Dedi masih dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Kalian udahan ya, biar Dedi aja yang benerin kaki aku," ucap Dika pada Rina dan Rista yang sibuk dengan perban dan plasternya. Ia tak ingin mengecewakan para wanita ini dengan menolak perhatiannya, namun ini sungguh berlebihan dan tidak tepat sama sekali.


Rista dan Santi mundur dan bergabung bersama Rudi.


"Tapi..."


"Makasih ya sayang," potong Dika cepat saat Rina enggan meninggalkannya.


Dengan berat hati Rina juga mundur dan memberi ruang pada Dedi.


"Seneng banget kayaknya lihat gua menderita. Temen apa bukan sih?" sarkas Dika saat Dedi tiba di dekatnya.


"Mereka cuma peduli sama kamu Tuan Muda."


"Mulutnya, mulutnya. Nggak suka gue dipanggil gitu," ketus Dika.


Dedi terkekeh. "Gue tarik ya. Jangan sampai teriak, dari pada gue jadi bulan-bulanan mereka."


"Oke, cepetan."


"Argghh!!"


Benar saja, ketiga wanita itu langsung mengerubungi Dika dan Rista memaksa Dedi untuk melepaskan tangannya.


"Dedi jangan kasar dong!" teriak Rina tak terima.


Dedi hanya menghela nafas.


"Ma, Rina. Aku nggak apa-apa."


"Kak Dedi jangan gitu dong," lirih Rista sambil memegang Dedi.


"Caranya emang gitu sayang."


Dika mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


"Please ya, ini nggak sembuh-sembuh kalau kalian gini terus. Nggak lihat apa, ada sunrise yang cantik di sana."


Dika coba mengalihkan perhatian ketiga wanita di dekatnya.


"Wah, cantik banget."


Rina dan Santi turut melihat keindahan alam yang baru saja Rista kagumi.


Rudi berjalan mendekati Dika.


"Ded, tarik sekali lagi, biar saya pegang Restu."


Dedi segera melaksanakan interupsi Rudi.


"Ded, pake aba-aba," pinta Dika.


Dedi mengangguk dan mulai memegang pergelangan kaki Dika. "Siap ya, satu dua..."


Dika mengepalkan tangan.


"Ergh..."


Dedi menarik pergelangan kaki Dika pada hitungan ketiga.


"Udah kayaknya."


Dika mencoba menggerak-gerakkan kakinya.


"Wah, hebat lu ya. Beneran nggak sakit."


"Cemen banget," cibir Dedi.


"Ya gara-gara elu."


"Nak Dedi ada masalah?" tanya Rudi memecah kediaman ketiganya.


Dedi menggeleng. "Enggak Om."


"Tadi selepas subuh?"


"Nah iya, aku juga mau nanya itu," timpal Dika.


Dedi mendadak murung. Rudi dan Dika bisa melihat itu.


"Apa ada hubungannya dengan adzan waktu itu?"


Dedi mendongak, kemudian ia mengangguk.


"Apa kamu ingin tahu tentang keyakinan kami?"


Apa kamu ingin mengenal Tuhan kami?" tanya


Dika beruntun. Namun ini tak sepenuhnya bertanya lebih tepatnya menerka.


"Apa boleh saya tahu jika saya bukan bagian dari kalian?"


Dika memandang Rudi seolah mempersilahkannya untuk berbicara.


"Kamu masih ingat cerita saya kemarin?"


"Harusnya kan Dedi yang nanya, kok malah kebalik?" protes Dika.


"Kemarin kami sedang membahas ini, iya kan?"

__ADS_1


Dedi mengangguki pernyataan Rudi.


"Kapan ngobrolnya, kok aku nggak tahu?" tanya Dika yang merasa tertinggal.


"Kak! Sini deh, bagus bangeeetttt...."


Baru saja Dedi hendak bersuara, Rista sudah memanggilnya.


"Iya, kita juga lihat kok," jawab Dedi.


Bukan Rista namanya kalau ia terima ketika Dedi tak mendatangi panggilannya.


"Kak, ayo. Papa sama Kakak juga."


Ia menarik tangan Dedi dan menginterupsi Rudi dan Dika untuk mengikutinya. Cepat-cepat Dika dan Rudi bangkit, karena jika tak segera akan repot kala Rina dan Santi sudah bertindak.


Tanpa sengaja mereka berada di spot yang begitu indah untuk menikmati matahari terbit.


"Subhanalloh..."


Spontan perhatian terpusat pada Rudi, karena ucapan yang keluar dari mulutnya di saat yang lain sedang larut menikmati indahnya alam.


"Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan alam beserta seluruh keindahannya."


Rudi berucap tanpa membalas satupun mata yang menatap ke arahnya.


Perlahan mata-mata itu mulai melepaskan Rudi dari pandangannya, kecuali Dedi yang tanpa ada yang tahu telah menyusun setumpuk tanya setelah perbincangan yang belum tuntas antara dirinya dan Rudi malam tadi.


Dedi memaksa matanya untuk turut menikmati pemandangan yang menakjubkan di depan matanya.


Namun sayang, karena pikiran dan hatinya tak mau sejalan. Subhanallah. Kenapa kalimat ini begitu cocok untuk mengungkapankan kekaguman terhadap maha karya alam ini?


"Om...,"


Merasa terpanggil, Rudi menoleh dan mendapati Dedi yang tengah menatapnya.


Dedi mengumpulkan tekat saat Rudi membalas tatapannya. Ruang serasa kosong, menyisakan keduanya.


"Bukankah terbitnya matahari merupakan hasil aktivitas perputaran bumi pada porosnya, dan pergerakan bumi mengelilingi matahari? Kenapa anda bisa mengklaim ini adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang anda sembah?" awalnya segan, namun kalimat itu berhasil meluncur dari mulut Dedi dengan mudahnya.


"Sunatullah."


"Maksudnya?"


"Sunnatullah adalah hukum yang ditetapkan Allah guna mengatur penciptaan dan mekanisme alam semesta yang bersifat fitrah, yakni tetap dan otomatis."


"Darimana anda tahu? Apa ada yang pernah bicara dengan Tuhan?"


Rudi tersenyum. "Allah terlalu mulia mendatangi manusia yang tak beriman hanya untuk meyakinkan Esa-Nya. Namun Allah telah menjelaskan semuanya dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an berisi firman Allah, yang disampaikan malaikat jibril pada nabi Muhammad saw, satu-satunya manusia yang suci hatinya. Semua ada dalam Al-Qur'an, tuntunan lengkap bagi manusia untuk selamat di dunia dan akhirat. Tak hanya sunnatullah, bahkan bagaimana manusia dibentuk dijelaskan secara lengkap di dalamnya."


"Bagaimana anda yakin?"


"Karena saya punya iman. Karena hanya dengan mendengar lantunan kalimat suci dari Ilahi mampu menyembuhkan hati yang rapuh dan terluka, membuat tersentuh hingga tak segan mengeluarkan air mata, karena Allah adalah sebaik-baiknya tempat berlindung dan meminta."


Dedi merasa kedua kakinya mendadak lemas dan tak mampu menopang tubuhnya. Ia terduduk diatas rumput dan berselimut kabut.


"Om, bimbing saya menjadi hamba dari Tuhan anda."


Semua yang di sana tak mampu berkata menyaksikan dialog singkat yang menyentuh jiwa. Santi bahkan hingga menitikkan air mata saking terharunya.


Sang fajar menjadi saksi seorang anak manusia menemukan jiwa dan bersiap merengkuh imannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2