Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Chalenge


__ADS_3

HAPPY READING


Dengan tangan kanan terkunci di belakang tubuhnya membuat Hana tak bisa bergerak dengan leluasa. Ia hanya mampu pasrah saat Andre dengan seenaknya bermain di area lehernya. Ia sangat benci bau ini. Bau yang selalu mengingatkannya pada kenangan pahit saat mamanya masih ada.


“Andre, please jangan gini,” mohon Hana pada Andre.


“Kenapa? Apa aku tak cukup memenuhi standarmu?”


Tubuh Hana meremang. Andre berbicara tepat di depan telinganya. Sesekali benda kenyal nan basah itu bergesekan dengan kulitnya.


“Aku tak biasa begini?”


“Aku tak percaya.”


Andre kembali terjun. Ia sama sekali tak pecaya dengan apa yang Hana katakan. Dia adalah wanita ular yang dengan nyali yang besar. Dia merupakan anak wanita malam yang dijadikan simpanan oleh Galih Rahardja. Jadi mustahil rasanya ia tak kenal dengan hubungan pria dan wanita yang dilakukan tanpa cinta.


“Andre please.”


Hana belum lelah memohon. Ia terus meronta agar Andre melepaskannya. Ia ingin berteriak, sayang hal ini akan percuma dan hanya akan menghabiskan tenaganya saja.


“Kamu diam lah, dan nikmati setiap service yang kamu dapatkan.”


Andre terus menyerang Hana tanpa peduli dengan rintihan perempuan yang berada dalam kungkungannya. Hana makin kacau saat sadar kancing bajuanya sudah terbuka. Tinggal sedikit lagi, dan bagian atasnya akan terbuka sempurna.


“Hiks, jangan Andre, hiks…”


Hana menangis?


Andre mengendurkan cekalannya. Saat itu juga tubuh lemah Hana merosot dan terduduk di dekat kakinya. Ia menutup wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


Ini kali kedua Andre melihat Hana mengeluarkan air mata. Wanita ini selalu angkuh dan enggan terlihat lemah. Tapi saat Andre mulai menggodanya, reaksinya akan selalu seperti ini.


Andre meraih sisa minumannya. Ia membiarkan Hana menangis sambil menghabiskan setengah kaleng yang tersisa. Merasa kurang, ia kembali membuka satu lainnya dan menenggaknya.


Hana benar-benar terluka atau ini hanya siasatnya saja agar membuatku iba?


Andre menyodorkan minuman beralcohol dengan kadar rendah itu pada Hana. “Aku tak akan melakukan apa pun padamu kalau kamu mau minum ini bersamaku.”


Hana menggeleng.


“Oke, bersiap lah untuk melayaniku malam ini.”


Spontan Hana meraih kaleng minuman di tangan Andre. Ia menatap ragu minuman yang kini telah berpindah ke tangannya itu.


“Mala mini kita minum bersama. Aku ingin melihat siapa yang lebih kuat diantara kita.” Andre menyeringai melihat Hana yang menatap enggan minuman di tangannya. Andre saat ini mengambil posisi untuk duduk di belakang tubuh Hana dan membatu Hana menarik penutupnya.


“Kamu mau apa?” tanya Hana saat tangan Andre beralh dari kaleng dan memegang bagian depan bajunya.


“Kalau kamu mau minum, semua kancing ini akan aku pasangkan, tapi jika kamu menolak lagi, aku akan melahapmu sekarang.”

__ADS_1


Kembali Andre membuat Hana tak sempat berfikir. Hana langsung menutup hidunganya dan menenggaknya dengan mata terpejam.


Kamu memang angkuh, tapi begitu kelemahanmu tersentuh kamu berubah menjadi wanita yang mengenaskan.


Andre tertawa kecil  melihat Hana yang susah payah menghabiskan minumannya.


Andre memajukan tubuhnya, “Apa semengerikan itu rasanya?”


Andre menoleh dan mendapati Hana yang menatapnya dengan raut mengerikan. Bukannya kasihan, ia justru kembali membukakan kaleng untuk Hana habiskan.


“Siap untuk kaleng kedua?”


“Andre, aku nggak bisaaaa…” Hana mulai melepaskan rengekannya.


Andre terkesiap. Acting kamu bagus sekali. Aku nggak akan berbelas kasihan hanya karena kamu beracting manja.


“Tinggal habiskan atau kamu aku…”


“Iya, iya.” Hana meraih kaleng minuman keduanya.


Andre tersenyum puas dan melingkarkan lengannya di perut Hana.


“Are you ready for its chalenge?” bisiknya.


Hana menoleh untuk menatap wajah Andre yang berada di pundaknya. Ia merengut karena benar-benar tak suka rasanya. Kepalanya mulai pusing. “The taste is teribble Ndre.”


Andre tak tahan untuk membiarkan bibir pucat tanpa pewarna di hadapannya. Hana mulai bisa membalas karena Andre yang acap kali melakukan hal ini pada dirinya.


Hana gugup. Ia meraih kaleng di tangan Andre dan meminumnya dengan sukarela.


Mama, maafin Hana.


Keduanya mulai berlomba untuk menghabiskan kaleng minuman beralkohol yang Andre bawa. Hingga tibalah saat dimana Hana tak mampu minum lebih banyak lagi. Dia berlari dan menuju kamar mandi. Dia memuntahkan cairan dengan bau yang sangat menyengat. Dengan langkah sempoyongan, Andre berjalan menyusul Hana. Ia memijat tengkuk gadis itu, berharap akan sedikit mengurangi penderitaannya.


“Ck, baru segitu dah mabuk,” cibir Andre yang sebenarnya juga pening kepalanya.


“Huek, huekk…”


Ingin sekali Hana membalas ucapan Andre, namun cairan dari dalam perutnya terus mendesak untuk keluar.


“Ck, kepan kelarnya sih. Berasa nungguin orang bunting.”


Hana tak menjawab. Ia terus mencengkeram pinggiran wastafel, sambil terus mengeluarkan isi perutnya.


“Ha?! Jangan-jangan kamu hamil lagi. Ck, belum juga aku jajal.” Andre dengan tak tahu diri terus meracau seenaknya.


“Hgk…”


Hana berusaha melawan rasa mualnya. Andre tak bisa kalau hanya didiamkan.

__ADS_1


“Gimana caranya perawan bisa hamil?! Aku bukan Maryam Andre.” ujar Hana dengan nada tinggi.


“Are you sure?” remeh Andre.


“Of course,” jawab Hana dengan yakin.


“I’m not really.”


“It’s up to you.”


“Well, let me see.”


Hana mendelik saat Andre menahan tubuhnya saat ia hendak berbalik. Ia menatap kesal laki-laki yang hobi sekali meremehkannya ini.


Kenapa aku baru sadar jika Hana punya mata yang indah. Meskipun sayu tapi terlihat jernih dan dan basah. Bulu matanya lentik tanpa mascara. Mono lid yang miliki membuat matanya terlihat sipit tanpa eyeliner tebalnya. Sial! Kenapa rumput liar seperti kamu harus cantik seperti ini.


Dengan otak yang yang telah hilang sebagian kewarasannya, Andre mulai memegangi kedua lengan Hana dan merambt naik berhenti di bahunya. Ia mengeratkan genggamannya saat merasa Hana mendorongnya.


“Ndre…” Hana menelan ludah dengan susah payah. Perutnya kembali tak enak namun kenapa Andre harus menahannya seperti ini.


Andre memajukan wajahnya dan berhenti tepat di samping telinga Hana.


“Aku hanya ingin membuktikan ucapanmu.”


Wanita ini menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan diri, namun sayang tenaga wanitanya tak sebanding dengan Andre. Jika saja mulutnya tak sedang menahan sesuatu, mungkin saat ini ia sudah mengumpati Andre karena ingkar janji padahal ia seudah menurutinya.


Melihat Hana panic sepertinya menjadi hobi baru untuk Andre. Andre terus mengerjai Hana hingga ia merasa ada cairan yang mengenai pundaknya. Belum juga ia paham dengan apa yang sedang terjadi cairan itu mengalir membasahi dadanya.


“How dare you!”


Andre mendorong Hana dan melepaskan kedua tangannya. bajunya basah begitupula dengan Hana. Barusan Hana kembali muntah dan sekarang sedang tersenyum geli menatapnya. Andre yang kesal segera melepas kaosnya dan melempar ke sembarang arah.


Tawa Hana hilang sudah. Ada takjub dan takut yang datang bersama-sama. Ia mundur saat Andre perlahan mendekatinya.


Kenapa otot semacam itu bisa terbentuk di tubuhmu, padahal kamu hampir tak punya waktu luang untuk olah raga.


“Astaga?!” Hana terkejut karena punggungnya membentur tembok.


Kenapa aku harus pakai acara terpesona, padahal sekarang Andre sedang gila. Harusnya aku bisa fokus untuk lebih memperhatikan keselamatanku.


Andre menekan tubuh Hana di salah satu sisi kamar mandi. Dengan satu tarikan ia berhasil membuat Hana kondisinya sama dengan dia.


“Andre!” Hana memekik saat Andre mengangkat tubuhnya. “Kamu mau apa?”


“Sssttt. Aku hanya ingin menghukum perempuan kurang ajar yang seenaknya muntah mengenaiku.”


“Andre, Andre. jangan macam-macam Ndre.”


Andre sama sekali tak menggubris Hana. Ia juga pusing tapi entah mengapa ia masih juga punya tenaga.

__ADS_1


“Andre, aku panuan Ndre, lepasin aku.” Hana kembali meronta. “Aku punya penyakit kulit menular. Andreee!!!!”


Bersambung…


__ADS_2