
Nggak bosen ya minta temen-temen semua buat meninggalkan jejak.
Enjoy.
HAPPY READING
Setelah membersihkan bekas makannya, Hana menghampiri Andre yang sedang bersantai di atas sofa dengan
ponsel di tangannya.
“Pak Andre, apa saya boleh meminjam baju yang lebih panjang dari ini?” Hana berusaha menarik-narik bagian bawah kemeja Andre yang merupakan satu-satunya pembalut tubuhnya.
“Tidak ada. Apa kamu ingin membeli keperluanmu, termasuk pakaian dalam mungkin,” tawar Andre.
Hana menunduk malu dan berusaha mencari objek yang tepat untuk dipandangnya. Meskipun iya kan tak perlu dijelaskan segamblang itu juga bapak.
“Engg…”
Hana mendongak saat tiba-tiba sebuah ponsel muncul di depan wajahnya.
“Untuk saya?”
“Bukan, kamu beli pakaian untuk kamu pakai sekarang. Pakai fitur pesan instan saja, biar bisa tiba hari ini juga, baju itu yang akan kamu gunakan untuk menemani saya nanti.”
“Kemana?” tanya Hana dengan tangan menerima ponsel yang Andre serahkan.
“Saya tak wajib menjawabnya kan?”
Hana menghela nafas. Jika di marketplace ada, sepertinya ia ingin order stok kesabaran ekstra juga.
Greb!
Hana terhuyung saat ia hendak berjalan ke kamar Andre. Ternyata Andre yang menariknya membuat Hana duduk di depannya.
Kembali Hana di buat berdebar karena berada sedekat ini dengan seorang pria.
“Kamu jangan GR. Ini hanya cara saya agak kamu tak mengabarkan posisimu yang sedang di sini bersama saya.”
Hana mendengus. Baru saja mau terbang sudah dijatuhkan.
Hana tak punya banyak pilihan, selain bersikap manis dan mematuhi segala ucapan Andre.
“Sudah.” Hana mengembalikan ponselnya pada Andre.
Hana pikir ia akan dibiarkan pergi setelah selesai menggunakan ponsel, namun Andre justru menarik tubuhnya untuk lebih dekat dan membuatnya bersandar di dada bidang pria ini. Andre membelai rambut sebahu Hana tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia melakukan berulang-ulang, tanpa diduga hal ini justru membuat Hana merasa nyaman.
Aku tak tahu ada maksud apa dibalik semua perlakuanmu, yang jelas sekarang aku merasa mendapatkan kasih sayang dari sikapmu.
__ADS_1
Hana menyamankan posisinya dan mulai memejamkan mata. Andre sadar hal ini, dan ia juga melakukan hal yang
sama.
***
Dika berjalan dengan tergesa untuk menjemput istrinya. Semula ia mengira akan menyelesaikan pekerjaan sebelum malam tiba, namun nyatanya adzan isya’ saja ia masih belum bisa membereskan semuanya.
Saat baru saja memasuki mobil, dering ponsel berhasil menginterupsinya. Ternyata Rina yang saat ini tengah
menghubunginya.
“Halo Sayang. Aku baru mau jalan nih,” ujar Dika menjelaskan tanpa menunggu Rina bertanya.
“Iya. Aku suma mau ijin, jalan ke mall boleh nggak? Sudah lama aku nggak jalan-jalan sama Dian,” ujar Rina di seberang sana.
“Oke. HP stand by terus ya, aku susulin ke sana.”
“Makasih sayang.”
“Hmm…”
Obrolan singkatnya terputus. Dika meminta supir untuk berjalan menyusul Rina. Sepanjang perjalanan, Dika terus berusaha menghubungi Andre. Ada beberapa hal yang harus ia pastikan dengan sekertarisnya ini. Tapi beberapa kali menghubungi, tak satu pun panggilan yang dijawab oleh pria yang setahun lebih tua darinya ini. Sebenarnya nomornya aktif, hanya saja tidak diangkat oleh yang punya.
“Kamu lagi dimana sih Ndre. Masa iya tidur sekebo ini.”
Dika menyerah dan menghentikan percobaannya menghubungi Andre. Ia kembali fokus pada gadget lain. Ia harus terus bekerja dimana pun berada. Dia sangat sibuk sehingga harus pandai-pandai mengatur momen agar ia tak kehilangan waktu bersama istrinya dan mungkin bersama anaknya kelak.
Saat baru saja membuka kunci layar, ternyata sebuah pesan sudah terlebih dahulu masuk ke sana. ternyata Rina
terlebih dahulu mengabarkan posisinya, karena ia sekarang sedang berburu diskon dengan puluhan perempuan penggemar diskon sepeti dirinya.
Dika berjalan dengan santai memasuki kawasan dengan logo perusahaannya di berbagai sisi. Dika sempat melihat ada seorang pramuniaga yang kurang ramah di salah satu corner produk kebutuhan sehari-hari, namun ia menahan diri untuk tak menegurnya.
Mungkin mereka lelah karena harus berdiri seharian. Seperti Andre yang tiba-tiba sekarang menghilang. Batin Dika.
Ia datang kemari memang untuk menjemput istrinya, bukan untuk mengoreksi pekerjaan para karyawan yang berada dalam lingkup surya.
Setelah melewati jajaran barang yang beraneka-ragam, Dika berhenti di salah satu sudut food court. Ia ingin memesan kopi sembari menunggu sang istri yang keberadaannya tak jauh darinya. Ia ingin sedikit bersantai ditemani secangkir kopi dan menyaksikan lalu-lalang orang-orang yang memanfaatkan fasilitas yang dimiliki perusahannya.
Di sisi lain, Andre sekarang sedang bersama Hana untuk berbelanja pakaian. Andre membelikan semua yang Hana butuhkan karena selain yang ia kenakan, Hana sama sekali tak memiliki pakaian. Semula Hana sungkan, namun Andre memaksanya. Katanya Hana harus menikmati setiap kebaikan Andre sebelum Andre kembali menyiksanya.
Tak banyak yang bisa Hana lakukan selain pasrah dengan apa yang Andre lakukan. Ia tak punya banyak pilihan selain bertahan. Ia belum punya kesempatan untuk memperjuangkan kebebasannya.
“Udah banyak kayaknya Pak…”
“Sudah berapa kali saya bilang, jangan pernah panggil saya dengan sebutan itu lagi. Remember, saya bukan atasan kamu lagi.”
__ADS_1
“Lalu saya harus bagaimana?” tanya Hana.
“Just say my name. Call me with my name.” Jawab Andre sambil menatap lekat wajah Hana.
Hana mengangguk. “Good girl. Dengan begini aku juga akan bersikap lebih manusiawi.”
Hana pasrah saat Andre menyentuh puncak kepala dan mendaratkan sebuah ciuman di sana..
“Satu lagi, jangan pernah bantah apa pun yang aku katakan tentang kamu di depan orang lain seperti saat bertemu Dian kemarin.”
Hana mendongak. Ia belum paham aturan yang satu ini.
“Jangan banyak berfikir selama kamu menjadi tawananku,” ujar Andre tanpa menatap Hana yang sepertinya masih belum mampu mencerna dengan baik apa yang sedang dialaminya.
Kalau ditawan seenak ini, aku rela menjadi tawananmu selamanya. Racau Hana dalam hati.
Setelah selesai denga lamunannya, ia kembali menatap lurus kedepan.
“Wanita perlu skincare ya.”
Andre mendadak berhenti di sebuah stand kosmetik. Ia kemudian mengajak Hana masuk ke dalam.
“Nggak perlu Andre.”
“Aku tak menerima penolakan,” ujar Andre dengan nada tak terbantahkan. “Aku tak mau sakit mata saat tawananku
kucel dan menyeramkan.”
“Ha?” Mulut Hana menganga tak percaya. Ini sih bukan disiksa, tapi dimanja. Boleh nggak sih aku pengen stag di posisiini selamanya.
Hana mulai memilih apa yang ia butuhkan. Andre yang selalu di sampingnya membuat iri para pramuniaga yang hampir semuanya adalah wanita.
Melihat Hana yang sejak tadi sering kelepasan tertawa membuat Andre merasa ada warna di hatinya yang telah lama hampa. Ia memang tak elegan seperti biasa, namun Andre justru begitu menyukainya. Ia tak segan memeluk perempuan ini bahkan sesekali mencium puncak kepalanya tanpa sengaja. Hana sepertinya sudah terbiasa dengan hal ini, sehingga ia tak berusaha meronta atau melarikan diri.
“Kamu laper nggak?”
Hana mengangguk. Saat ini ia benar-benar menikmati waktunya bersama Andre. Ia tak peduli apa yang akan terjadi nanti, yang jelas ia sekarang bahagia.
Mereka berhenti di food court yang sama dengan Dika. Namun keduanya tak saling melihat keberadaan satu dengan laiinya.
Saat Dika hendak membayar, ia seperti melihat Andre sedang membawa sebuah nampan. Ia bangkit dan ingin mendekat, tapi di saat yang sama Rina menelfonnya. Dika harus mengangkat panggilan ini terlebih dahulu sebelum menghampiri Andre kemudian.
Dika yang sedang berada dalam posisi berdiri terlihat begitu mencolok dengan tinggi badannya yang di atas rata-rata orang Indonesia.
“Hana, kita harus pergi dari sini.”
“Kenapa?”
__ADS_1
Hana merasa aneh karena melihat Andre yang mandadak panic.
Bersambung…