Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Hina


__ADS_3

Bonus akhir bulan nih.


Semoga terhibur.


HAPPY READING


“Baring aja, jangan bangun.”


“Pamali Andre kalau makan sambil tiduran.”


“Tapi ini darurat Hana. Kan dokter juga udah bilang kalau kamu sementara jangan banyak bergerak.”


“Tapi Ndre…”


“Sstttt… udah mau jadi Mommy jangan ngeyel.”


Hana tersenyum membayangkan jika kelak anak yang dikandunganya akan memanggilnya dengan panggilan itu. Ia membayangkan saat-saat bahagia yang akan ia lalui nantinya sebagai keluarga yang utuh yang mana ia sendir tak pernah merasakan sejak kecil hingga saat ini.


“Dih, senyum-senyum lagi. Seneng ya makan disuapin orang ganteng,” ujar Andre yang datang dengan makanan di tangannya.


Meski sudah ditahan, namun tarikan di kedua sudut bibir Hana lebih kuat, dan terciptalah bibir yang manyun namun jelas sekali sedang menahan senyum di wajah cantik Hana.


“Aaaaaa…”


Hana melepaskan senyumnya sebelum menerima suapan yang Andre berikan. Andre tak bisa menahan kebahagiaan saat melihat senyum Hana yang nampak lepas tanpa beban seperti ini. Ia merasa menjadi tiang penyangga tunggal untuk kehidupan Hana, sehingga ia sangat bahagia apabila Hana  bisa melupakan beban berat yang ia sangga sendiri selama ini saat bersamanya.


“Hana…”


“Hmm…” jawab Hana yang mulutnya penuh makanan.


“Aku tadi ketemu Rio,” ujar Andre sambil menyiapkan makanan yang akan ia suapkan pada Hana kemudian.


Hana nampak terkejut bahkan mulutnya pun berhenti mengunyah sesaat. Setelah sekian detik tenggelam dalam keterkejutan, ia mulai mengunyah lagi sambil menetralkan lagi perasaannya.


“Dimana?” tanya Hana setelah selesai mengunyah makanan.


“Di rumah sakit ini saat aku mau ke luar tadi,” jujur Andre.


“Kenapa dia di sini? Siapa yang sakit?”


Hana tak pura-pura dengan pertanyaannya. Ia benar-benar tak tahu kabar keluarga Rahardja setelah peristiwa malam itu dan ia mulai hidup dengan Andre. Bukan hanya tentang keluarga Rahardja, ia tak tahu kabar dunia luar pada umumnya karena ia tak memegang ponsel pribadi hingga saat ini. Ketimbang keluarga Rahardja, ia bahkan lebih tahu kabar tentang selebriti karena hanya televisi yang tak Andre batasi.


“Indah hamil.” Setelah suara Hana terdengar stabil, Andre mulai berani menatap wajah cantik wanita ini.


“Hamil lagi?” kaget Hana.


“Kamu belum tahu?”


Hana menggeleng sambil menerima suapan dari Andre. Ia kemudian diam sambil mengunyah makanan. Andre tahu ada yang tengah dipikirkan oleh Hana, sehingga ia memilih  dengan sabar menunggu agar Hana bicara.

__ADS_1


“Aku benar-benar tak tahu kabar mereka. Terakhir aku berkomunikasi dengan Papa aku sama sekali belum tahu kabar tentang kehamilan mbak Indah,” jujur Hana setelah semua makanan ia telan.


Hana menahan tangan Andre saat tangan pria ini hendak kembali menyuapkan makanan padanya. “Aku kenyang,” ucapnya seraya menggelengkan kepala.


“Satu lagi aja,” bujuk Andre.


“Kenyang Andre…”


Andre mengalah. Ia meletakkan bekas makanan Hana di atas meja dan membiarkan menjadi sisa karena ia sama sekali tak bisa makan makanan seperti ini. Ia kemudian meraih gelas yang telah ia isi air putih sebelumnya.


“Pelan-pelan,” ujar Andre saat membantu Hana minum.


“Makasih…”


Cklek!!


Belum juga gelas tersebut menyentuh bibir, Hana dan Andre dikejutkan dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa mendengar ketukan terlebih dahulu. Mereka lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu.


“Kak Rio, Mbak Indah…” lirih Hana nyaris tanpa suara.


“Ayo pulang.”


Rio segera membawa Indah pergi dari sana. Jika tak ingat istrinya ini sedang mengandung anak ketiganya, mungkin sekarang Rio sudah berlari karena tak sudi melihat adik tiri yang sangat ia benci.


Andre menghela nafas. Ia meletakkan gelas yang semula ia pegang dan beralih menggenggam tangan Hana.


“Sssstttt…. Jangan nangis.” Sebelah tangan Andre mengusap jejak air mata yang meluncur begitu saja dari sudut mata Hana.


Suara Hana bergetar, membuat Andre tak tahan untuk tak segera memeluknya.


“Kalau apa pun yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan, untuk apa aku bertahan?” Hana tak bisa menahan tangisnya. Ia meraung meratapi betapa hina hidupnya. Dibenci dan dihindari seakan ia adalah sesuatu yang menjijikkan.


Ya aku memang menjijikkan. Lahir dari hubungan menjijikkan. Bahkan keadaanku sekarang sangat menjijikkan. Mengandung anak tanpa ikatan pernakahan.


“Aaaaaaaagghh…!!!”


Hana berteriak keras sebelum perlahan tubuhnya lemas dengan isak yang melemah pula. Ia semakin lemas, dan akhirnya ia benar-benar terkulai tak sadarkan diri.


***


“Aku kerja dulu ya…” ujar Dika setelah menyelesaikan sarapannya.


Rina meraih tangan Dika yang sekarang memegang kepalanya. Ia menggenggamnya dan menggoyang-goyangkan lengan suaminya. “Kalau hari ini nggak ke kantor bisa nggak?”


tanya Rina akhirnya.


Ddrrkkk!!!


Dika menarik kursinya untuk mendekat ke arah istrinya. “Apa kamu nggak enak badan?”

__ADS_1


Rina menggeleng. “Aku cuma nggak pengen jauh dari kamu.”


Dika memegang wajah Rina dan membelainya dengan sayang. “Andre mungkin nggak full di kantor hari ini. Kata Andre Hana kemaren drop lagi setelah kita balik.”


“Kok bisa?” tanya Rina.


“Kemaren katanya Rio datang, dan sepertinya Rio benar-benar membenci Hana.”


Rina mendadak diam. Sepertinya ia butuh waktu untuknya mencerna informasi baru yang ia dapatkan.


“Apa kamu bingung kenapa Rio bisa benci sama Hana?” tebak Dika.


Rina mengangkat wajahnya yang sempat menunduk dan membalas tatapan suaminya.


“Rio dan Hana sama-sama anak Galih Rahardja.”


“Oooo, iya iya,” potong Rina cepat saat ia menemukan titik cerah di dalam kepalanya.


“Kebiasaan deh kalau ada orang ngomong nggak didengerin baik-baik. Memangnya kamu tahu kelanjutannya gimana?”


Rina memamerkan deretan gigi putihnya. Ia kemudian menggeleng cepat masih sambil memegangi tangan suaminya.


“Jadi Hana itu anak Galih Rahardja tapi dari wanita lain, bukan mamanya Rio. Dengan kata lain Rio dan hana itu satu ayah beda ibu. Sampai sini paham?”


Rina mengangguk. “Tapi aku dulu ngiranya Rio itu anak tunggal loh.”


Dika mendengus. “Pas masih jadi pacar kamu?”


“Iiihhh, lanjutin, lanjutin.”


Sindiran Dika mendapat hadiah muka kecut dari istrinya. Rina terlihat kesal namun ia begitu penasaran kenapa hanya dengan melihat Rio Hana bisa ngedrop.


Dika menghela nafas. “Ck…” Ia berdecak sebelum sekali lagi menghela nafas.


“Hihh…, lanjutin…” kesal Rina mendesak Dika segera melanjutkan ceritanya.


“Susah sayang ngomongnya. Masalahnya ini aib orang, dan aku merasa tak pantas membicarakan hal ini.”


“Ya nggak pantes ya nggak nyaman,” lanjut Dika cepat saat tahu bahwa istrinya hendak melayangkan protesnya.


“Sama aku doang, aku kita nggak lagi ngogosipin orang.”


“Tapi lagi membicarakan kejelekan orang.”


“Yang dibahas kan fakta.”


“Tapi itu ghibah namanya. Dan ghibah itu dosa.”


Rina mendengus. “Terus gimana dong. Kepalang tanggung nih. Kadung penasaran.”

__ADS_1


Dika nampak menimbang. Apa yang sebaiknya aku katakan. Perkara seperti ini sangat sensitive terutama untuk wanita. Aku memang tak masalah jika Rina tak bisa dekat dengan Hana tapi bagaimana pun juga aku dan Andre sangat dekat dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan. Jika sampai hal ini membuat Rina tak nyaman dengan Hana, bagaimana nasibku dan Andre sebagai pasangan mereka?


Bersambung…


__ADS_2