Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kentut


__ADS_3

Yok yang jejak, yang jejak.


HAPPY READING


Setelah keluar dari lift, Hana segera berlari menuju tempat Andre. Rasanya sudah diujung, ia tak tahan jika tak segera mengeluarkannya.


Cklek!


Pintu terbuka dan tak ada siapa pun di sana. Hana tak mau ambil pusing dan segera berlari menuju kamar mandi yang ada di kamar Andre. Cukup lama ia bertahan di sana, hingga akhirnya merasa lega setelah kotoran bau itu keluar semua.


Setelah selesai pun perutnya masih terasa melilit. Hana tak tahu apa yang Andre masukkan dalam bubur buatannya, sehingga bisa membuat perutnya sakit seperti ini. Ia ingin kembali ke kamar mandi namun tiba-tiba ia mendengar


gebrakan dan teriakan.


Hana panic dan melihat ke kedepan. Saat baru saja muncul dari balik pintu kamar Andre, Hana langsung disambut dengan wajah gelap pria yang telah menyandera raga dan hatinya ini.  Dia berusaha berdiri tegak dengan menahan rasa melilit di perutnya.


“Kamu kenapa?” tanya Hana yang tak tahu kenapa Andre bisa mendadak seperti ini.


Andre sempat terpaku melihat Hana sebelum berjalan cepat untuk menghampiri ia yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia yang kesal langsung mengcengkeram rahang Hana. Sontak wanita ini merintih karena rasa sakit yang tiba-tiba


Andre berikan padanya.


“Kamu kenapa sih?” tanya Hana dengan suara bergetar. Sudah perutnya sakit, ditambah rahangnya dicengkeram seperti ini.


“Kamu yang kenapa? Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan selain merepotkan orang, ha?!” Andre berteriak tepat di depan wajah Hana. Wanita ini tak mempu menjawab. Sakit jiwa dan raga jelas sekali terasaa saat ini. Baru saja ia dibuat melayang sekarang sudah dijatuhkan lagi.


“Kamu marah? Aku salah apa?” Hana memberanikan diri untuk bertanya. Ia masih memegangi perutnya saat Andre belum juga membebaskan rahangnya yang dicengkeram.


Andre melepaskan rahang Hana dan langsung ganti menarik pergelangan tangan wanita ini dengan kasar. Ia kemudian menghempaskan tubuh Hana di atas sofa dengan kerasnya.


“Andre…” lirih Hana. Saat ini Hana benar-benar takut. Jika biasanya Andre mengerjainya dengan wajah jahil dan menyebalkan, kini wajah Andre benar-benar gelap dan menakutkan.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Mana Hana sekertarisku dulu, yang cerdas dan berani. Kenapa kamu sekarang jadi lemah seperti ini?” tanya Andre dengan menatap Hana yang terlihat pasrah di depannya.


Andre kian mendekatkan tubuhnya. Hana tahu apa yang akan Andre lakukan padanya sekarang. Percuma mencegah, percuma menjelaskan, percuma berbicara. Andre pasti lebih percaya pada apa yang ia pikirkan dari pada yang orang lain katakan.


Hana memejamkan mata saat Andre kembali menyerangnya. Namun saat mulutnya bahkan tak berani bersuara, tiba-tiba anggota tubuhnya yang lain mewakili tubuh Hana untuk menyuarakan keinginannya.


Saat bau aneh menyapa hidungnya, spontan Andre menarik dirinya.


“Maaf Ndre…”


Saat merasa ada celah, Hana langsung kabur menyelamatkan diri. Ia masuk ke kamar Andre dan langsung ke kamar mandi

__ADS_1


lagi.


Andre yang ditinggalkan hanya mampu duduk termenung dengan bingung.


“Hana sebenarnya kenapa sih?” gumam Andre seorang diri.


Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Hana muncul kembali. Kondisinya masih sama. Berjalan sedikit membungkuk sambil memegangi perutnya. Ia berjalan


seperti orang yang menahan berak, mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat. Ia meminumnya tanpa membalas tatapan Andre yang terpaku padanya sejak ia muncul dari kamarnya tadi.


Pyar!


Gelas yang Hana pegang harus pecah saat ia tak meletakkannya dengan benar. Ia kembali berlari ke kamar Andre dan menghilang lagi di sana.


Andre yang penasaran akhirnya menyusul Hana. Setelah berada di kamarnya, Andre baru tahu kalau Hana sekarang sedang di kamar mandi. Ia membuka balkon dan menunggu


Hana di sana.


“Sini kamu,” titah Andre saat baru saja Hana muncul dari kamar mandi.


Hana yang masih mengelus-elus perutnya menghampiri pria ini.


“Kamu kenapa?” tanya Andre saat sadar Hana tak baik-baik saja.


“Perutku sakit. Kamu nggak naruh sesuatu yang aneh kan di bubur yang aku makan tadi?” tanya Hana hati-hati.


Andre menghela nafas. “Aku bahkan nggak berani ngasih garam karena takut keasinan,” lanjut Andre lagi.


Hana hendak duduk di kursi lain di dekat Andre, namun Andre menariknya untuk dibawa ke kursi yang sama. Hana mulai terbiasa dengan sikap Andre yang seenaknya seperti ini, jadi tak ada pilihan lain selain ngikut saja.


“Kalau yang jadi masalah bubur, kenapa hanya kamu yang sakit perut sedangkan aku tidak?”


Hana menggeleng. Ia masih mengelus-elus perutnya berharap rasa melilit ini akan mereda dengan segera.


“Terus kenapa kamu tadi pergi?” tanya Andre lagi. Sekarang tangannya sudah di perut Hana. Ia mengusap dan sedikit menekan di sana.


“Aku hanya menggunakan kesempatan untuk bisa melihat dunia luar, meski hanya di sekitar apartemen.”


“Kenapa tiba-tiba kamu ingin keluar?”


“BIasanya juga pengen keluar, cuma kamu selalu mengunci pintu saat pergi, makanya tadi aku menggunakan kesempatan.”


“Bukannya kamu ingin pergi dariku?” tuduh Andre.

__ADS_1


“Emm\, mungkin. Tapi untuk saat ini aku tak tahu harus kemana\, jadi ******* diri dan bertahan di sini aku pikir bukan ide yang buruk.”


“Hanaaa. Aku nampak seperti pria cabul saat kamu berkata seperti itu.” Andre sudah tak marah lagi. Ia bahkan merajuk seperti bayi minta susu.


“Ck. Tingkat kecabulan kamu sudah tak diragukan lagi.”


Andre mendengus. “Lalu kenapa kamu tadi tiba-tiba ingin keluar?” Andre mengulang pertanyaannya saat merasa belum mendapatkan jawaban sesuai yang diharapkannya.


“Aku tadi kesel. Kamu itu sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar kasar, aku kan juga bisa kesel.” Melihat mood Andre,  Hana merasa aman untuk mengungkapkan kekesalannya.


“Terus yang buat kamu balik?”


“Ya ini, aku sakit perut. Kamu lihat kan aku bolak-balik ke kamar mandi?" ketus Hana.


Andre membuang muka. Kenapa instingnya bisa salah kali ini.


Ya ampun. Wanita ini jujur apa hanya saking pinternya dia nyari alasan?


Flashback Off


“Kenapa kamu nggak bilang?!”


“Ya gimana mau bilang. Kamu baru datang langsung marah-marah tanpa ngasih waktu aku untuk bicara.”


Tiba-tiba Andre kembali mencium bau tak sedap yang menyapa hidungnya.


"Kamu kentu?!"


mata Andre membulat dan langsung menutup rapat hidungnya.


Di saat yang sama, Hana langsung bangkit dan berlari ke  kamar mandi. "Perutku sakit!!!!!" teriak Hana sambil berlari.


Andre tak percaya ia bisa sekonyol ini.


“Ya Tuhan, hanya seperti ini saja aku bisa salah prediksi,” gumam Andre pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba ia ingat kekacauan ia lakukan saat Hana hilang tadi. Ia harus segera menghubungi security agar untuk tak melanjutkan pencarian lagi.


“Hentikan pencarian. Saya sudah berhasil menemukan target. Saya terpaksa bertindak sendiri karena kalian terlalu lambat bergerak.”


Andre segera memutus panggilannya. Ia harus tetap sombong untuk menjaga wibawa, jadi tak masalah kan jika harus membohongi anak buahnya.


Andre tertawa sendiri mengingat keluakuannya.

__ADS_1


“Hana, gara-gara kamu aku jadi seperti orang gila. Awas saja kalau kamu sampai melarikan diri.”


Bersambung…


__ADS_2