
HAPPY READING
Pagi ini Dika sudah berkutat di dapur karena sejak subuh tadi, pasalnya Rina terus merengek minta dibuatkan sphagetti oleh suaminya. Dika sempat menolak karena ia sama sekali tak pernah menyentuh dapur sejak kecil. Jangankan cara masak, caranya menyalakan kompor saja dia tak bisa.
Namun karena ini adalah permintaan seorang wanita hamil terlebih lagi yang dikandung merupakan anaknya, membuat Dika harus menurutinya apa pun yang terjadi.
“Ma ini diapain Ma?” tanya Dika saat minyak yang baru saja di tuang di atas wajan mulai meletup.
“Ya masukin bawang cincangnya.” Santi mulai lelah menjawab pertanyaan Dika. Karena selain banyak sekali pertanyaan yang diajukan anaknya ini, pertanyaan yang sama pun entah berapa kali harus di ulangi.
“Di masukin dimana Ma?” tanya Dika lagi.
“Ya di panci bekas rebusan spageti,” kesal Santi karena Dika terus bertanya tanpa henti. Padahal ia sudah menjelaskan detailnya, dan ini tak lebih sulit dari pada urusan yang biasa anaknya tangani di perusahaan. Ia jadi ragu apa kah peran CEO berpengaruh dalam perkembangan perusahaan. Atau sebenarnya yang paling berjasa adalah orang-orang yang bekerja untuk mereka.
“Astaga!”
Kluntang!
Prang!
Dika langsung menjauh dari kompor. Ia mengangkat tangannya setelah menjatuhkan begitu saja apa yang ia pegang karena terkejut dengan teriakan mamanya yang tiba-tiba.
“Ada apa Ma?!”
Santi memukul kelapanya.
Cklek!
Cepat-cepat Santi mematikan kompor karena mulai muncul asap di sana karena tak kunjung dimasuki bahan.
“Itu ngapain dimasukin ke panci bekas rebusan sphagetti, harusnya ke wajan Restu…” ujar Santi dengan nada jengkel tak terbantahkan.
“Ya kan aku cuma ngikutin apa yang Mama bilang,” ucap Dika dengan wajah tanpa dosa.
“Sebelumnya kamu sudah nanya puluhan kali bawang itu buat apa. Kan mestinya kamu paham kalau itu maksuknya ke wajan bukan ke panci yang airnya saja akan dibuang…”
Dika linglung. “Aku cuma nggak mau salah step, makanya aku nanya terus.”
“Ya kamu sebelumnya sudah berkali-kali tanya Res, masa lupa.”
“Ya biar nggak lupa makanya aku nanya Ma.”
“Tapi buktinya apa, salah kan.”
Dika mendesar kasar. “Perasaan aku dulu nggak pernah ngerjain Mama Papa deh, kenapa sekarang belum lahir saja anakku nggak berhenti-berhenti ngerjain aku.”
“Lha ini kalau nggak ngerjain Mama apa namanya?” tanya Santi bersungut-sungut sambil me meraih dan mengupas bawang untuk dicincangnya lagi.
__ADS_1
“Mama lagi ngapain?” tanya Dika saat melihat tangan mamanya terus bergerak dengan pisau dan berbagai bumbu.
“Mau chop bawang lagi,” kesal Santi.
“Sini aku aja.”
Santi menjauhkan pisau yang mau diambil oleh anaknya. “Nggak usah, kelamaan. Mama udah capek.”
“Tapi Rina mintanya kan aku yang buat Ma.”
“Ya tinggal bilang nanti sphagettinya bikinan kamu.”
“Kalau ketahuan gimana?”
“Ya selama Mama masak, tugas kamu ngawasin jangan sampai Rina tahu.”
“Emang boleh Ma? Kata Mama kalau Rina lagi ngidam wajib Dika turutin?”
“Emang kamu masih sanggup?”
Dika tak bereaksi.
“Ya udah mending kamu awasin saja,” ujar Santi tak terbantahkan.
Dika manggut-manggut. Alih-alih memperhatikan sekitar, Dika justru dengan serius memperhatikan mamanya. Ia mengambil telenan dan sebuah pisau lagi. Ia mengambil bahan yang sama dengan Santi satu persatu. Ia tak langsung memotongnya, namun membiarkannya utuh sesuai yang Santi gunakan. Ia melakukan semua itu dengan terus memperhatikan apa yang Santi lakukan.
Dika menahan tangan mamanya saat Santi ingin memasukkan spageti ke dalam saus yang telah mendidih dan ia kentalkan sebelumnya.
“Kamu gimana sih. Sudah waktunya dimasukin ini sphagettinya.”
“Jangan masukin. Matiin aja apinya.”
Santi meletakkan sebelah tangannya di pinggang. Belum selesai keheranannnya, tiba-tiba Dika menarik kursi dan mendudukkan Santi di sana.
Anak ini mau apa? Batin Santi dalam hati.
“Ma, Dika mau masak. Tolong kasih tahu ya kalau salah step." Dika mengucapkannya dengan nada sungguh-sungguh. Sepertinya ia tak sedang bercanda atau mengerjai mamanya.
Santi tak menyahut. Dia ingin melihat apa yang akan anaknya lakukan. Ia segera duduk dengan tangan terlipat di depan dada.
Dika mulai dari bawang putih. Ia mencincang halus bawang putih seperti yang ia lakukan sebelumnya. Setelah bawang putih, ia beralih pada bawang bombai. Setelah itu ia mulai memotong jamur dan berbagai toping. Susu dan lain sebagainya, juga ia siapkan dengan rapi. Setelah semuanya benar-benar siap, Dika mengambil sebuah pan dan meletakkan di atas kompor sebelum kemudian mulai menyalakan api. Jika sebelumnya ia begitu panic dan berisik hingga membuat Santi Sakit kepala, kini Dika melakukan semuanya dengan perlahan dan tenang.
Santi memandangi setiap pergerakan Dika dengan cemas. Ia tak mau Rina sakit perut jika harus memakan makanan yang dibuat oleh anaknya. Bagaimana pun cerdasnya Dika, untuk masalah dapur ia sama sekali tak pernah menyentuhnya. Jangankan membuat spageti yang seperti ini, sekedar membuat telur dadar saja dia tak mengerti.
“Mama ke belakang dulu.” Saking deg-degannya menunggui Dika memasak, Santi harus merasakan panggilan alam yang semestinya tak terjadi saat ini.
“Iya…” jawab Dika sambil fokus kepada masakannya.
__ADS_1
Saat mendengar Dika mengiyakan dengan gampangnya, Santi justru membeku di tempatnya. Ia merasa aneh, namun hajat yang sudah dirasa tak bisa menunggu hingga ia dapat memahami keanehan yang ia rasakan kini.
Hingga saat Santi kembali, hidungnya mencium bau sedap yang sungguh menggugah selera. Ternyata saat lebih dekat lagi, ternyata Dika telah menyelesaikan misinya pagi ini. Seporsi spageti sudah tersaji di atas piring lengkap dengan berbagai toping. Pria ini mengambil nampan dan bersiap membawakannya untuk sang istri yang tengah bersama Rista membereskan barang-barangnya.
“E e e e, tunggu.”
Dika spontan menghentikan langkahnya saat mendengar suara mamanya dari belakang.
“Kenapa Ma?” tanyanya yang tak mengerti.
“Sini Mama cobain dulu.”
Dika langsung menjauhkan piringnya saat sang mama mendekatkan garpunya ke sana. “Ya jangan dong, ini kan buat Rina.”
“Mama mau nyicip. Sekedar memastikan kalau menantu Mama nggak akan sakit perut karena masakan kamu yang nggak lolos uji.”
“Udah Dika cicip Ma, rasanya not bad.”
“Mama nggap percaya. Kamu kan sama sekali nggak pernah masak sebelumnya.”
“Mama meragukan kemampuan Restu?”
“Iya. Makanya sini.”
Santi memaksa untuk mencicipi masakan anaknya. Ia tak bohong mengenai alasannya, karena Dika memang tak pernah punya keahlian untuk hal yang satu ini, sehingga ia tak mau menantu yang sedang mangandung cucunya harus menjadi korban kelinci percobaan anaknya.
Mata Santi membulat sempurna ketika memasukkan sesuap sphagetti ke dalam mulutnya. Ia mengunyah perlahan dan merasanya.
“Wah…”
Spontan Dika menjauhkan makanannya yang sepertinya akan Santi cicipi lagi. “Mama mau ngapain?”
“Bentar dulu. Ini lidah Mama sepertinya bermasalah.”
“E nggak, nggak, nggak." Tolak Dika cepat. "Ini buat Rina titik.”
“Mama cuma mau memastikan rasanya Nak.”
“Nggak ada. Aku udah nyicip tadi.”
Dika pergi begitu saja meninggalkan Mamanya. Santi yang masih berdiri di tempatnya mulai memperhatikan garpu yang semula ia gunakan untuk mencicipi masakan putranya. Di sana nampak masih ada sedikit sisa bumbu yang menempel, sehingga ia segera mengambil dengan ujung jari telunjuknya dan perlahan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Tcp, tcp, tcp…” Santi berusaha mengecap dan merasakannya lagi.
“Luar biasa. Kok bisa enak sih.”
Bersambung…
__ADS_1