
Hai hai, jangan pernah sungkan untuk meninggalkan jejak.
Positif yes, negative oke.
Apapun bentuk apresiasi kalian, akan Senja terima dengan lapang.
Senja akan semakin semangat dengan adanya jejak kalian.
HAPPY READING
Begitu membuka kamar, bau harum masakan sudah menyeruak di indera penciuman. Andre berjalan keluar dan menemukan Hana tengah berkutat dengan teflon, panci, dan kompor yang menyala.
Ternyata rumput liar sepertimu bisa masak juga. Padahal semula aku berfikir bahwa keahlianmu adalah menggoda pria, ternyata sedikit kurang tepat nampaknya.
Kaki Andre mulai bergerak. Dengan langkah pelan ia melawati ruang tamu dan terus berjalan ke bagian belakang.
“Andre…”
Andre baru sadar jika ia kini sedang berada di dapur saat Hana menyapanya. Perempuan cantik ini tersenyum dengan tangan memegang piring berisi makanan. Ia meletakkan makanan yang baru saja ia masak di atas meja kemudian.
“Maaf ya, aku hanya bisa masak ini, soalnya aku tidak menemukan bahan lain di kulkas. Sebenarnya ada banyak, tapi selain ini semua sudah rusak dan aku buang,” papar Hana panjang lebar.
Tiba-tiba Andre ingat saat ia masih bersama Dian. Mantan pacarnya ini sering membawakannya makanan yang dibuatkan khusus untuknya. Ia yang sempat hampir terpukau dengan sisi lain Hana langsung kacau seketika.
“Siapa yang mengizinkan kamumelakukan semua ini. Ini bukan rumahmu, dan kamu bukan tamu. Seharusnya kamu bersyukur aku masih berbelas kasihan menempatkanmu di sini, bukan di penjara atas semua hal buruk dan kerugian yang telah kamu perbuat.”
Hana mundur saat Andre merangsek mendekatinya. Andre baru berhenti saat punggung Hana menabrak kulkas yang tengah ia bersihkan.
“Kamu memang harus bersikap manis, tapi jangan pernah berbuat lancang saat di sini.”
Tubuh keduanya sudah merapat Andre kembali memajukan wajahnya. Hana memejamkan mata karena kini kepalanya sudah masuk ke kulkas yang sengaja pintunya ia buka. Ia tak tahu apa yang akan Andre lakukan padanya. Namun satu hal yang jelas, ia tak bisa melakukan perlawanan apa-apa.
Brugh!!
Hana mengusap pantat malangnya yang harus membentur lantai. Karena posisi berdirinya yang tak tegak, membuat ia harus tergelincir karena cairan kulkas yang mengalir. Sialnya lagi ternyata Andre sudah tak di sana, jadi untuk apa dia berpose aneh seperti tadi.
Hana bangkit dan menarik sebuah kursi untuknya. Ia mengambil piring dan mulai memakan makanan yang dibuatnya.
“Aku kan hanya berusaha menerima apa pun kenyataan yang diberikan terhadapku, kenapa masih salah juga. Kan tidak ada tawanan semanis aku, yang mau bikin makanan buat orang yang sudah nahan dia, yang bantu membersihkan rumahnya. Apa sebaiknya aku harus melanjutkan rencana awal dari pada menyerah pada takdir seperti ini?”
__ADS_1
Hana menyuapkan sesendok besar makanan ke mulutnya. Sejahat apa pun papa, dia tetaplah papaku. Darahnya mengalir di tubuhku. Dan Andre, dia tak lebih dari pengabdi Surya, melakukan apapun untuk Surya, jadi memang sebaiknya aku tak boleh menyerah padanya. Kamu bermuka dua, aku bisa bermuka lima. Baiklah, tantangan aku terima.
Hana membulatkan tekatnya. Dengan penuh semangat ia melahap makanannya. Ia yakin Andre sekarang sudah berangkat untuk bekerja, jadi ia masuk ke kamar laki-laki ini untuk membersihkan tubuhnya.
Iseng-iseng ia mengecek pintu depan. Dan ternyata benar, Andre sudah menguncinya dan kembali mengurungnya di sana.
“Okey, dikurung tanpa HP. Untung masih ada TV, setidaknya aku masih bisa melihat perkembangan dunia luar dengan cara ini.”
Hana mulai mengambil posisi untuk bersantai sambil menonton tv. Televisi dinyalakan dan dan ia mulai berbaring di
sofa.
“Aku akan terus berusaha menjadi menjadi wanita manis hingga kamu lengah dan melepaskanku dengan mudah.”
***
Sebenarnya Rina sudah bersiap dengan hasil apapun yang akan diterimanya, namun ia ternyata masih begitu kecewa begitu hasil itu ia terima dalam bentuk print out dengan stampel rumah sakit dan taken dari dokter yang
bertanggung jawab atas pemeriksaan mereka.
“Calm down sayang. Mungkin kita masih harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua.”
“Ibu Rina dan Pak Restu yang sabar. Ini hanya hasil pemeriksaan manusia, untuk hasilnya terkadang di luar nalar
karena penentunya adalah Allah SWT. Saya harap anda berdua rileks dan tetap berfikiran positif. Hal ini lebih manjur dari treatment sebaik dan semahal apapun yang dibuat oleh manusia,” ujar Dokter Halima menenangkan.
“Dengar kan apa kata dokter Halima. Kamu jangan sedih ya.”
Rina masih tak bergeming dari tempatnya. Ia diam saja dengan tatapan kosong menerawang.
“Dokter, langkah apa yang sebaiknya kami tempuh setelah ini?”
Dokter Halima menghela nafas. “Anda tenangkan istri anda dulu Pak, selanjutnya kita bisa bicarakan bersama-sama.”
Dika mengangguk paham. “Kalau begitu kami permisi dulu.”
Dika segera meninggalkan ruang dokter Halima. Ia ingin mengajak Rina jalan-jalan sekarang. Andre tadi pagi sudah di kantor. Sepertinya sekertarisnya itu sudah ada dalam keadaan yang sangat baik sekarang, jadi ia tega membebankan urusan kantor padanya sekarang.
“Aku harus menuainya sekarang. Ini semua gara-gara keegoisanku, ini semua salahku, maafkan aku.”
__ADS_1
Akhirnya Rina menumpahkan tangisnya begitu ia menyelesaikan kalimat panjangnya. Dika tak bisa menjawab. Sejujurnya ia cukup menyesalkan keteguhan Rina yang ingin menyembunyikan pernikahan dan menunda kehamilan hingga akhirnya harus menimbulkan banyak masalah kemudian. Namun masalah unpublish pernikahan saat itu dapat ia maafkan dengan mudah saat tak ada masalah lebih panjang setelah mereka resmi tampil sebagai suami istri. Namun untuk masalah menunda kehamilan ini, Dika harus cukup berjuang dengan kuat untuk berdamai dengan hati agar bisa tetap bersikap baik kepada istrinya.
Sekarang yang bisa ia lakukan adalah diam dan memeluk erat tubuh istrinya, tidak hanya Rina yang rapuh, tapi
ia kini juga tak mampu berdiri penuh. Ia takut bicara. Ia takut tak sengaja mengeluarkan kata-kata yang akan menambah rasa sakit Rina.
Lebih baik mereka diam dan saling berpelukan seperti ini. Semoga dengan begini mereka bisa saling menguatkan.
Saat Dika mendekap tubuh Rina yang bahunya bergetar, tiba-tiba ponsel pribadinya berdering. Dika merogoh ponsel itu dan menggeser tombol hijau segera.
“Hallo Ndre…”
Ternyata Andre yang tengah menghubungi Dika sekarang.
“Investor dari Jepang yang mengajukan reschedule beberapa hari yang lalu sekarang ada di kantor. Sepertinya untuk masalah ini saya tidak bisa mewakili CEO.”
“Apa sekarang mereka menunggu kedatanganku?”
“Tidak juga. Mereka bersedia datang lagi lain waktu. Saat ini mereka datang lebih untuk mengucap maaf karena kendala yang harus mereka hadapi diwaktu yang telah disepakati.”
“Aku tiba 30 menit lagi.”
“A apa? Pak Restu tenang saja, tidak harus sekarang. Bereskan dulu…”
“Siapkan segala hal yang diperlukan. Rapat akan dimulai setelah aku tiba di sana,” putus Dika cepat hingga Andre tak bisa menyelesaikan ucapannya.
“I iya.”
Panggilan terputus.
Dika mengusap puncak kepala Rina. “Sayang, aku harus kembali ke kantor sekarang. Kamu mau ikut apa langsung pulang.”
“Aku pulang saja,” jawab Rina masih dengan sesenggukan.
“Maafkan aku tak bisa mengantarmu pulang.”
Rina mengangguk dalam pelukannya. Sejurus kemudian mobil berhenti dan Dika pindah ke mobil yang sudah disiapkan untuk membawanya ke kator.
Bersambung…
__ADS_1