Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Makan Siang


__ADS_3

HAPPY READING


“Hana!!!”


Yang namanya baru saja dipanggil mendekat dengan langkah lelah. Entah ini sudah kali berapa Haning memanggilnya hanya untuk membantunya memilihkan baju untuk makan malam esok hari.


“Menurut kamu bagusan yang mana?” Kembali Haning menunjukkan dua buah baju kepada Hana.


Hana tampak menimbang. Tak lama kemudian ia menunjuk salah satu. “Ini deh kayaknya.”


“Dih, kok ini sih. Kamu aja pakainya yang seatas lutut terus, giliran ngasih saran kok yang apanjangnya sebetis. Sengaja ya biar aku kelihatan pendek.”


Hana balik badan seakan tak pernah terjadi apa pun dengan Haning sebelumnya. Sejak tadi memang seperti ini. Haning selalu minta pendapat pada Hana, namun akhirnya ia mentahkan dengan alasan yang tak nyaman didengar oleh telinga.


Dengan cuek Hana melanjutkan pekerjaannya karena ini memang masih jam kerja dan banyak pelanggan yang menunggu dilayaninya. Sekarang Nuke memang sedang tak ada di tempat sehingga penyakit bossy Haning kambuh  dengan mudahnya. Di saat rekan-rekannya pontang-panting melayani pelanggan, ia malah sibuk mematut penampilan untuk acara besok malam.


“Maunya apa sih si mbak Haning, dia yang minta saran begitu dikasih malah ngatain,” kesal Eka saat ia dan Hana kebetulan sama-sama berjalan ke arah gudang. Mereka hendak mengecek stok pakaian sesuai yang customernya inginkan.


“Nggak tahu deh…” ujar Hana sambil melihat dengan teliti deretan kode pakaian saat keduanya baru sampai digudang.


“Lagian kamu sabar banget sih sama mbak Haning, sekali-kali kasih pelajaran lah...”


"Pelajaran apa? Pelajaran matematika, xixixixi..."


"Tck, kamu mah. Dikasih saran malah dibercandain."


“Aku nggak sabra Ka, cuma ya gitu deh. Susah kalau sudah bawa senioritas. Eh, aku ketemu.” Hana mengakat baju yang tengah dicarinya.


“Duluan ya,” ujar Hana sebelum meninggalkan Eka.


Eka memandangi Hana hingga tubuhnya tak terlihat lagi dibalik pintu. “Hana kenapa nggak jadi model aja sih. Wajahnya sangat cantik, kulitnya kinclong banget, tubuhnya juga tinggi dan ramping. Udah deh kayak manekin. Kalau dia muncl pasti banyak fansnya…” gumam Eka sebelum memalingkan wajahnya.


Eka harus segera menemukan baju yang customernya minta. Ingin sekali Eka menarik Rirma ke sana karena gudang merupakan daerah kekuasaan rekan kerjanya yang satu ini. Sayangnya sekarang semua ditarik ke depan, sehingga tidak ada satu pun yang hafal stok barang.


“Ya Tuhan, kalau setiap nyari satu barang butuh seperempat jam, cuma kuat berapa customer yang aku layani dalam sehari,” keluh Eka sambil menarik sebuah baju. Setelah mendapatkan semua yang ia mau, Eka segera membawanya kepada customernya.


Di luar toko, ada sebuah mobil yang terparkir dengan manis sejak tadi. Sudah lebih dari setengah jam mobil ini berhenti namun belum ada satu orang pun yang keluar dari sana.


Di dalam, nampak seorang pria tengah bersantai sambil memegang sebotol minuman bersoda. Sesekali ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya untuk mengecek sekarang jam berapa.


“Kenapa jam 12 itu lama sekali…” ujar pria ini sebelum kembali menenggak minuman bersodanya.


Pria itu masih mengamati dengan seksama segala pergerakan di dalam toko yang menjadi background untuk wanita cantik yang tengah dinantinya. Kalau tak saja demi cinta, ia lebih memilih untu bersantai di tempat dingin dan nyaman ketimbang menunggu seperti orang tak punya pekerjaan seperti ini.


Dan waktu yang ditunggu pun tiba. Pukul 12 tepat Andre langsung meraih ponselnya. Ia mendial nomor Hana yang hanya dengan berapa kali lihat langsung dihafalnya. Sebenarnya tak ada yang tahu apa maksud Andre repot-repot menghafalkan nomor seperti ini, padahal jika kontak sudah tersimpan, ia hanya perlu mendial tanpa perlu mengetik ulang nomornya.


Tanpa perlu menunggu lama, akhirnya panggilan tersambung juga.


“Kamu keluar ya, aku tunggu di mobil,” ujar Andre tanpa menunggu Hana terlebih dahulu menyapanya.

__ADS_1


“Tapi aku…”


“Hana, ini waktunya makan siang,” potong Andre karena ia tak mau lebih lama lagi menunggu.


“Tapi aku kebagihan istirahat paling belakang. Mbak Nuke juga nggak di tempat, jadi aku nggak bias kemana-mana,” ujar Hana yang berusaha menolak secara halus kemauan Andre.


“Ya udah aku masuk,” putus Andre.


“Ya jangan lah, kamu mau ngapain?” cegah Hana cepat-cepat.


“Aku cuma mau ngajak makan siang, itu doang,” jelas Andre mengutarakan maksudnya.


“Tapi Ndre…”


“Kamu keluar atau aku masuk,” ujar Andre dengan nada tak terbantahkan.


“Andre please.”


“Mau ke luar lagi Han…?” terdengar seseorang tengah menanyai Hana.


Andre menaksir jika Hana kini tengah menjauhkan ponselnya karena suaranya terdengar melemah meski di saat yang sama muncul suara-suara lain yang berbicara bersahutan. Sehingga Andre memilih diam membiarkan wanitanya berbicara.


“Emm, apa boleh?” terdengar suara Hana meminta pertimbangan.


“Nggak apa-apa Han, asal pulang bawa makan siang gratis, hahaha…”


“Hana, Han…” Andre mencoba memanggil Hana, namun wanita ini sama sekali tak menyahut.


Andre memutus panggilannya dan bersiap keluar untuk menjemput Hana. Dengan setelan jasnya yang rapi, ia keluar dari mobil mewahnya dan berjalan mendekat ke arah toko. Saat kaki panjangnya mencapai ambang pintu, sebuah motor dengan box di bagian belakang berhenti tak jauh darinya.


“Antar pesanan Pak?” Tanya Andre tepat saat pengantar makanan itu hendak berjalan melewatinya.


“Iya Pak, atas nama Nona Hana,” ujar pria ini.


“Biar saya saja.” Andre mengambil alih box makanan yang di tenteng pria itu setelah membubuhkan tanda terima.


“Permisi…” ucap pria itu setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Semua orang di dalam toko langsung terpaku kala terdapat seorang pria tampan dengan jas rapi menenteng box di tangan kanan dan kirinya.


“Astaga…” Hana mengantongi ponselnya dan langsung berlari menghampiri Andre.


Andre tersenyum lebar sambil mengangkat barang di kanan dan kirinya.


"Kamu ngapain sih..." Hana langsung mengambil alih bawaan Andre. “Jangan gini lagi besok,” ketus Hana setelah semua  barang berpindah ke tangannya.


“Kenapa kamu yang sewot, padahal teman kamu sepertinya tak keberatan aku kirimkan makanan,” ujar Andre.


“Ya tapi kan…”

__ADS_1


“Hai…” sapa Risma yang datang bersama Eka.


“Hai, Rahma…” Andre membalas sapaan Risma.


“Risma,” sahut Hana membenarkan.


“Nah iya. Risma tolong bawa ini ya, ada makan siang untuk kalian.” ujar Andre sembari mengambil kembali kantong yang sudah Hana bawa dan menyerahkan pada Risma dan Eka.


“Pinjam Hana sebentar ya, sebelum jam 1 sudah kembali,” lanjut Andre tanpa peduli pada tatapan-tatapan kagum pada dirinya. Dengan gerakan yang pasti, ia segera meraih pergelangan tangan Hana.


“Tapi Mbak Nuke nggak ada, aku nggak bisa ke mana-mana,” cegah Hana saat Andre hendak menariknya.


“Aku sudah bicara sama manager kamu.”


“E tunggu…”


“Apa lagi…”


“Emm…”


“Nanti saja bicaranya…”


Otak Hana tak mampu berfikir lebih cepat dari gerakan Andre yang membawanya pergi. Ia hanya bisa pasrah dengan sesekali menatap Eka dan Risma yang masih setia memandanginya.


“Jadi yang borong baju waktu itu pacarnya Hana?” Tanya Eka pada Risma setelah keduanya melihat sendiri Andre membawa Hana pergi dengan mobil mewahnya.


“Menurut kamu?” ujar Risma balik bertanya.


“Aku nggak punya pendapat Risma, makanya aku tanya. Tapi masa iya teman doang sebaik ini?”


Setelah serempak menggidikkan bahu, keduanya berjalan masuk dengan membawa masing-masing satu kantong di tangannya.


“Itu dari siapa? Teman Hana lagi?” tanya Haning yang kebetulan berpapasan dengan dua orang ini.


Risma dan Eka serempak menganggukkan kepala.


“Terus Hananya kemana? Keluar lagi?” terka Haning.


Lagi-lagi Eka dan Risma melakukan gerakan yang sama sebagai reaksi atas pertanyaan Haning.


“Dan kalian biarin?” Haning berdecih dan menatap remeh kedua rekan kerjanya ini. “Disogok makanan saja sudah kalah,” lanjut Haning sambil melipat tangan di depan dada.


Tak ingin berdebat lebih lama, kedua perempuan ini memilih untuk kembali berjalan meninggalkan Haning.


“Eh, eh mau kemana?" Haning menahan sebelah tangan Risma. Ia menatap ke kanan dan ke kiri sebelum mendekatkan kepalanya kepada Risma. "Buat aku ada kan?” tanyanya kemudian.


Risma yang tertahan langkahnya puh mendengus. Ia membuka kantong di tangannya dan mengeluarkan satu untuk diserahkan pada Haning. “Kirain nggak butuh,” ujarnya setelah sebuah kotak berpindah tangan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2