Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Over


__ADS_3

Rina sama Hana kan lagi sama-sama hamil nih, pada ingat nggak kalau ada satu lagi yang lagi hamil?


HAPPY READING


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Hana meminta Andre untuk membawanya keluar dari rumah sakit. Ia merasa hawa rumah sakit membuat ia stress. Ia takut ini akan berpengaruh pada kehamilannya. Dan Andre pun setuju.


Karena Hana masih harus memperoleh perawatan intensif, akhirnya Andre memutuskan membawanya pulang ke salah satu rumahnya. Rumah yang merupakan salah satu lahan investasinya. Ia enggan membawa Hana kembali ke apartemen karena ia khawatir mamanya akan menemukannya lagi. Selain itu tinggal di apartemen dirasa kurang efektif karena aka nada perawat dan pembantu yang Andre siapkan untuk memastikan Hana tetap mendapatkan perawatan terbaik dan semua kebutuhannya pun akan terpenuhi dengan


baik pula.


Saat ini Hana dan Andre sedang di rumah Sofi untuk berpamitan dan berterimakasih karena sudah menerima Hana di sana beberapa hari terakhir. Selain itu Hana juga minta maaf karena harus merepotkan Sofi dalam keribetan hidupnya.


“Jadi kalian akan menikah?” tanya Sofi.


“Segera Tante. Doakan semuanya lancar. Karena anak saya yang Hana kandung tak bisa menunggu terlalu lama,” jelas Andre.


Sofi sedikit kecewa sebenarnya. Meski pun masa lalunya kelam, namun ia tentu tak ingin anak-anaknya kelam juga hidupnya.


“Saya tidak bisa memberi nasehat apa-apa. Saya hanya dapat mendoakan semoga semua yang terbaik saja.”


“Terimakasih Bunda.”


“Dan satu lagi Hana. Kalau kamu sudah sehat dan pulih seperti sedia kala, saya harap kamu tak keberatan untuk sesekali main ke sini.”


“Pasti Bunda. Terimakasih banyak.”


Dua wanita beda usia ini berpelukan sejenak sebelum akhirnya Andre membereskan barang-barang Hana yang sebenarnya baru beberapa yang keluar dari koper. Ia kemudian membawa Hana pergi dari rumah Sofi setelah berpamitan.


“Kita mau ke mana Ndre?” tanya Hana begitu keduanya sudah berada d idalam mobil.


“Mau ke rumahku?” jawab Andre sambil memasangkan sabuk pengaman Hana.


“Rumah kamu?” kaget Hana.


“Kaget banget kayaknya. Kamu mikir apa coba?” tanya Andre sambil menyentuh wajah Hana.


Hana menatap Andre sekilas sebelum kembali menatap lurus ke depan. Ia menggeleng sebelum menunduk sambil menatap jarinya yang bertautan.


“Sayang, maaf ya aku belum bisa bawa kamu ke orang tuaku, tapi kamu percaya ya, aku akan segera menikahimu.”


Hana menghela nafas. “Aku percaya sama kamu.”


“Hana, apa kah kita perlu memberitahu Galih jika kita akan menikah?” tanya Andre saat baru saja mobilnya berjalan.


Hana mengangkat wajahnya dan menatap Andre yang tengah serius dengan kemudinya. “Entah lah, aku bingung,” jawab Hana.


“Jika boleh jujur, aku sebenarnya sama sekali tak ingin berurusan dengan Gaih Rahardja, tapi bagaimana pun juga dia adalah papa kamu,” terang Andre.

__ADS_1


“Apa sebaiknya aku coba bicara dengan Rio saja. Karena…”


“Jangan,” potong Hana cepat sebelum Andre menyelesaikan ucapannya.


“Kenapa?” Andre cukup terkejut dengan reaksi tak terduga yang Hana berikan.


“Ya jangan,” kekeh Hana.


“Memangnya kenapa? Rio itu beda dengan Galih. Dia baik bahkan telah menjalin kerjasamadengan Surya selama beberapa tahun terakhir, kamu tahu kan?”


“Iya tapi…”


Wajah sumringah Hana hilang entah kemana. Yang tersisa adalah wajah murung dan terlihat sekali kalau ada suatu hal yang ia cemaskan.


“Hey…” Dengan sebelah tangannya Andre memegang wajah Hana. Namun sebelntar sebelum akhirnya ia lepaskan. “Setelah apa yang terjadi diantara kita apa kamu masih terus ingin merahasiakan sesuatu dari saya?”


Hana menghela nafas menatap Andre di sampingnya. Wajahnya berubah keras seperti Andre yang ia kenal sebegai sekertaris Surya Group. “Harus banget ngomong akunya pakai saya?” lirih Hana yang masih dapat didengar jelas oleh Andre dari tempatnya.


“Saya nggak pengen ngomong kasar sama kamu Hana, jadi hargai usaha saya.”


Sedikitpun Andre tak menatap Hana dan tetap fokus pada kemudinya.


Hana tahu Andre tak sedang main-main. Dan meskipun mereka kini bukan sekedar kenal baik dan tahu nama, namun memancing kemarahan Andre bukanlah sebuah ide yang bagus. “Ndre, kamu tahu kan asal-usul saya?”


“Sebagian saya tahu, tapi saya rasa belum semua,” jawan Andre masih dengan posisi yang sama.


Hana mendengus dan membuang muka. Mendengar Andre yang masih kekeh menggunakan saya untuk penyebutan dirinya, ternyata bisa membuat Hana kesal juga.


Andre tertawa melihat Hana yang merajuk padanya. “Iya, iya. Aku tahu tentang kamu tapi belum semua. Sekarang kamu cerita ya,” pinta Andre dengan menatap lembut kekasihnya.


“Rio yang paling keras menolakku, bahkan ketika tante Mustika tak menolak saat papa membawaku pulang.”


Andre tak menanggapi ucapan Hana. Ia lebih memilih untuk mendengarkan.


“Aku tahu alasan dia, tapi aku kan tak pernah minta. Seandainya aku bisa memilih ingin dilahirkan dalam keadaan seperti apa, tentunya aku memilih untuk dilahirkan di tengah keluarga yang utuh. Tapi sayang, memilih tak bisa menolak dilahirkan pun tak ada hak.”


“Emang dipikir enak jadi aku. Nggak ada enak-enaknya. Bayangkan saja, sejak lahir bahkan saat aku belum tahu apa itu dosa tapi aku sudah dicap haram, kira-kira ada nggak yang mau tukar posisi denganku?”


Hana kemudian menunduk dan memainkan jarinya.


“Apa sekarang masih sama?”


Hana mengangkat wajahnya dengan malas. “Apanya?”


“Kehidupanmu apa masih setidak enak dulu?” Andre mengulangi pertanyaannya dengan suara rendah.


“Lebih tak enak bahkan. Karena sekarang aku tak hanya dibenci keluarga Rahardja, tapi keluarga Wiguna juga.” Hana mengulum bibirnya setelah menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


“Tapi anak Wiguna ini sangat mencintaimu.”


Hana berdecih dan membuang muka. “Dan dengan berat hati aku yang tak pernah punya kehidupan jelas ini juga sangat mencintai anak tunggal keluarga Wiguna.”


Keduanya saling menatap dan tertawa, diakhiri dengan saling membuang muka dan melempar tatapan ke dua arah yang berbeda.


Andre, apakah nanti kita bisa benar-benar bersama?


Dalam diamnya Hana mengusap perut ratanya, menyalurkan segenap kasihnya meskipun ia belum teraba.


***


“Alhamdulillah semua dalam kondisi sangat baik. Nona hanya tak boleh terlalu lelahtapi selebihnya tak perlu ada yang dikhawatirkan,” ujar dokter Halima diakhir pemeriksaannya.


Tak hanya Dika dan Rina yang bahagia di sana, namun Rudi, Santi dan Ririn yang baru tiba merasakan bahagia pula. Anugerah ini datang tanpa diduga, sehingga mereka sangat bersyukur akan kemurahan Allah yang dianugerahkan kepada


keluarganya.


Dika tersentak saat tubuhnya terasa ditarik dari belakang. Ternyata Santi yang tengah mengambil alih kursinya.


Drrkkk!


Ririn juga ikut-ikutan duduk di samping Rina. Bedanya ia menarik kursi lain yang berada tak jauh dari mereka. Saat ini Rina tengah diapit dua wanita yang siap menajamkan seluruh panca indera, bahkan jika perlu hingga indera kesepuluh pun akan disiagakan demi mengawal pertumbuhan dan perkembangan calon cucu pertama mereka sejak dalam kandungan.


“Dok, apa yang sebaiknya dilakukan ibu hamil untuk memaksimalkan tumbuh kembang janin yang dikandungnya?” tanya Ririn.


“Ya lakukan saja kegiatan yang biasa dilakukan setiap hari, apa pun asal tidak kecapekan. Tapi untuk aktivitas rumah sepertii mengepal saya anjurkan dihindai dulu, karena takutnya bisa terpeleset.”


“Kamu pernah ngepel?” kaget Santi sambil menatap Rina.


Rina menggerakkan kedua tangannya dengan cepat. “Bahkan Rina nggak tahu caranya ngepel gimana,” ujar Rina sambil menunduk malu.


“Itu hanya perumpamaan Bu,” jelas dokter Halima.


“Ohhh…” serempak Santi dan Ririn.


“Kalau makanan Dok, apa yang sebaiknya dimakan dan apa yang sebaiknya dihindari?” tanya Ririn lagi.


Dari jauh Rudi memijat pelipisnya.


“Apa saja boleh Bu, yang penting seimbang dan tidak berlebihan,” jawab dokter Halima dengan sabar.


“Untuk takarannya gimana biar nggak kurang atau lebih?” sahut Santi yang ternyata sejak tadi sudah mengaktifkan perekam di ponselnya.


Dika beringsut untuk mendekat pada Rudi. “Yah, bukankan mereka sama-sama pernah hamil ya?” tanya Dika melihat tingkah kedua mamanya.


“Ya makanya itu saya juga pusing melihatnya…”

__ADS_1


Dari pada pusing itu berkepanjangan, dua pria dewasa ini memilih keluar dan membiarkan para wanita menyelesaikan urusannya.


Bersambung…


__ADS_2