Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Iseng


__ADS_3

HAPPY READING


“Andre, sebenarnya apa mau kamu?” kesal Hana yang terus diminta mencoba baju oleh Andre. Entah ini sudah baju yang keberapa puluh, yang jelas tumpukannya saja sudah menggunung tak jauh dari mereka.


“Saya hanya ingin membawa yang terbaik untuk perempuan istimewa saya,” jawab Andre dengan formalnya.


Siapa, siapa, siapaaaa!!!!!


Sayang Hana tak berani mengatakannya dengan suara lantang. Ia hanya bisa menggerutu dalam hati karena tak ingin orang-orang yang ada di toko tahu kalau dia ada hubungan dengan pria tampan yang sedang mengerjainya ini.


Sementara itu Risma merasa sudah begitu lelah menanti akhirnya hanya bisa melihat Andre dan Hana yang heboh sejak tadi. Andre tak mau dilayani orang lain, pula tak mau ada orang lain yang membantu Hana, sehingga seluruh orang di sana hanya melihat saja bagaimana Hana yang sudah terlihat menahan kesal karena terus menghadapi keinginan Andre yang tak satu pun ada yang tahu maunya seperti apa.


Aku sudah lewat di dekatnya, aku sudah menyapanya, aku sudah berlagak membantu Hana, tapi sepertinya aku tak pernah mampir di ingatannya. Batin Risma yang baru saja menyelesaikan packingan yang kesekian.


“Mbak, sepertinya pelanggan yang satu ini tak bisa didiamkan begitu saja. Toko kita sudah diacak-acak sejak tadi, bagaimana kalau sampai dia tidak beli sama sekali,” adu Risma pada Nuke.


“Iya sih Ning. Tapi gimana? Masa iya kita usir?” tanya Nuke meminta pendapat.


“Ya harus Mbak, semua pasti akan kelelahan beres-beres nanti,” ujar Haning lagi.


“Coba deh kamu ngomong ke sana,” pinta Nuke pada karyawannya ini.


“Ya jangan saya, Mbak aja. kan Mbak yang berwenang sebagai bos.” Ya kali aku yang ngusir. Bisa-bisa mas tampan tadi illfeel dong, lanjut Haning dalam hati.


Nuke sebelumnya nampak menimbang, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Hana dan pria ini. Ia sudah tak tega melihat Hana yang lelah dan sepertinya menahan kesal seperti ini.


“Maaf Mas, jadinya mau beli yang mana?” tanya Nuke pada Andre yang duduk di atas kursi sementara Hana masih ganti pakaian di kamar pas.


“Saya belum selesai memilih,” cuek Andre sambil bermain dengan ponselnya.


“Maaf, kalau boleh ijinkan saya membantu Hana,” pinta Nuke sehalus mungkin.


“Saya maunya Hana? Ada masalah,” ujar Andre tanpa menatap lawan bicaranya.


“Tidak,” ujar Nuke. Maunya bilang iya, tapi kenapa keluarnya malah tidak. Kesal Nuke.


Baru ditatap saja Nuke sudah kehilangan kata seperti ini, lantas bagaimana jadinya kalau sampai Andre benar-benar menunjukkan taringnya jika sampai orang-orang di toko ini membuatnya marah.


“Pak Andre, ini sudah yang terakhir ya,” ujar Hana begitu muncul dari kamar pas.

__ADS_1


Nuke heran dengan keberanian Hana, dan satu hal lagi yang membuat semuanya menatap tak percaya yaitu Hana yang sudah tahu nama pria menyebalkan ini.


Hana tak peduli sama sekali dengan kekesalan Hana. Ia mengantongi ponselnya dan bangkit dari tempat duduknya. Dengan tatapan menghujam, ia menatap Hana yang berdiri dengan wajah tak ramah, Andre berjalan mendekatinya. Di depan Hana, ia berhenti dan menatap lapar wanita yang ingin dilahapnya hidup-hidup saat ini juga.


“Mau kamu apa Bapak Andre Wiguna?” geram Hana.


Suara Hana memang tak keras, tapi saat ini pelanggan sedang tak ada dan para wanita yang mengelola toko ini sama sekali tak ada yang bersuara. Sehingga semua yang mendengar ucapannya hanya mampu saling pandang dan membulatkan mata.


Untuk masalah peka dan tidak peka, Andre memang sudah menguasai dengan baik semua teori dan prakteknya. Sehingga ia sadar bagaimana tatapan-tatapan heran yang dilayangkan semua orang padanya dan Hana. Ia sangat senang karen inilah tujuannya. Dan Hana yang semula ia pikir pintar ternyata bisa kelepasan dengan mudahnya saat ia mengerjainya seperti ini.


“Aku mau…” Andre menggantung ucapannya. Ia kemudian dengan sengaja merendahkan tubuhnya untuk mensejajarkan kepalanya dengan Hana.


Hana mati-matian menahan deru nafasnya agar tak terlalu kentara membuat gerakan naik turun di dadanya. Ia beberapa kali memejamkan mata menantikan apa yang hendak Andre ucapkan. Namun hampir lima menit keduanya bertahan di posisi ini, tak ada sepatah kata pun yang Andre ucapkan akhirnya.


“Ih…” Hana tak tahan lagi untuk tak memukul dada Andre.


Mata-mata memicing yang semula membola itu kembali terbuka dengan sempurna. Andre tertawa saat bisa berinteraksi seperti ini dengan Hana lagi. Ia menegakkan tubuhnya dan kembali ke kursi tempat semula ia berada. Ia kembali cuek dan fokus kepada ponselnya.


“Ja, jadi ini gimana?” tanya Hana yang sudah tak karu-karuan


perasaannya.


“Andre, please. Udah cukup main-mainnya,” mohon Hana dengan nada memelas.


“Kamu nggak dengar apa yang saya minta?!”


Hana tersentak saat suara tinggi Andre menggebrak indera pendengarannya.


Hana hanya mampu mendesah dan balik badan setelahnya. Beruntung, Nuke yang sejak tadi pay attention pada kedua orang ini langsung mendekat saat mendengar Andre memintanya.


“Iya, ada yang bisa saya bantu,” ujar Nuke setelah berada di dekat keduanya.


“Kemas semua tadi yang Hana coba,” ujar Andre dengan wajah sombongnya.


“Semua?” ulang Nuke.


“Apa ucapan saya kurang jelas?” sarkas Andre.


“Ma, maaf.”

__ADS_1


Nuke hingga terbata karena damage yang mulai Andre tampakkan. Ia segera meminta karyawannya untuk mengemasi semua baju yang Andre acak-acak sebelumnya.


“Ini serius?” bisik Anin pada Risma dan Eka.


Kedua orang yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Sementara Risma kini tengah menyembuhkan kecewa karena harapan yang ia buat sendiri dengan seenaknya.


“Mas-mas tadi apanya Hana sih?” tanya Eka pada Risma.


Risma yang merasa ditanya hanya menggelengkan kepala dan terlihat enggak untuk bersuara. Bukan tanpa alasan Eka menanyakan hal tersebut padanya, karena diantara mereka ia lah yang paling mengenal Hana.


“Hana, Hana. Sini…” panggil Anin dengan suara selirih mungkin. “Kamu kenal sama orang itu?” lanjut Anin Hana bergabung bersama mereka.


Hana hanya menghela nafas sebagai jawabannya.


“Astaga, ini nominalnya berapa? Bisa jutaan ini, apa malah puluhan juta ya?” racau Eka dengan tangan terus bekerja.


Keempat orang ini kembali bekerja dalam bisu. Mereka ingin segera menyelesaikan orderan ini dan membayangkan bonus besar yang nanti akan mereka terima. Berbeda dengan Hana. Hatinya yang semula merindukan Andre, kini malah dibuat gundah gulana karena kedatangannya yang seperti ini.


Saat keempat orang ini sedang bekerja, Haning sedang bersama Nuke menemani Andre mengobrol. Haning sepertinya benar-benar penasaran dengan pria yang ia taksir kaya raya ini.


“Maaf, saya harus keluar sebentar,” pamit Andre yang bangkit dari tempat duduknya.


“Masnya mau kemana?” Dengan sigapnya Haning bertanya.


Andre tak menjawab, ia hanya menyunjukkan ponselnya yang berdering karena ada panggilan masuk saat ini.


“Dari pada keluar mending di ruangan Mbak Nuke saja. Iya kan Mbak,” ujar Haning lagi.


“Andre sama sekali tak menggubris Haning dan melanjutkan langkahnya meninggalkan toko.


Hingga hampir sepuluh menit kemudian, Andre belum juga kembali membuat Haning heboh karena proses packing sudah diselesaikan keempat rekannya.


“Mas tadi kemana sih? Jangan-jangan dia kabur karena nggak punya uang untuk membayar. Kamu sih Han, iya-iya saja pas disuruh nyoba-nyoba, mana pake kecentilan lagi sok deket-deket mentang-mentang ganteng.”


Hana yang berkali-kali Haning salahkan hanya diam tanpa ada niat untuk mendebat. Ia yakin membeli toko ini beserta isinya saja Andre bisa, tapi entahlah kalau pria ini datang hanya karena ingin mengerjainya.


"Nggak punya duit saja gayanya sok kaya."


Itu adalah kalimat terakhir Haning sebelum Hana memutuskan untuk keluar meninggalkan toko karena tak hanya telinganya saja yang tak nyaman, tapi hatinya juga tak karu-karuan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2