
HAPPY READING
"Non Dian," ujar pembantu di rumah orang tua Andre ini saat baru saja membuka pintu.
“Iya Bi. Maaf, apa Andrenya apa ada di sini?” tanya Dian.
“Iya Non. Tapi Den Andre masih tidur sepertinya.”
“Apa dia nggak kerja?”
“Maaf Nona, saya kurang tahu masalah itu. Mari silahkan masuk.”
“Siapa Bi?” terdengar suara Heni dari lantai atas. Dia baru saja melihat kondisi Andre di kamarnya.
“Dian Tante…” jawab Dian sesaat sebelum ia melangkah untuk masuk ke dalam rumah.
Terdengar derap langkah menuruni tangga. Kini Heni sedang berjalan untuk menemui Dian.
“Dian, apa kabar…” sapa Heni begitu ia melihat Dian duduk di ruang tamu rumahnya.
“Baik Tante.” Dian segera menyalami wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda ini.
Dian dan Heni memang sudah saling kenal sejak lama, bahkan sebelum Dian dan Andre berpacaran. Tak heran karena dulu mereka pernah bertetangga.
“Kamu apa kabar, duduk yuk…”
“Baik Tante…” Dian kemudian duduk di samping mama Andre ini.
“Kamu ke mana aja, kenapa nggak pernah main ke sini lagi?”
Dian hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Heni. “Saya tetap di kota ini Tante, hanya saja lagi sibuk ngurus usaha.”
“Wah, hebat ya. Masih muda sudah jadi pengusaha…”
“Cuma usaha kecil-kecilan Tante. Oh iya, Andre di sini ya?” tanya Dian. Ia ke sini memang untuk menemui Andre. Berharap dengan kedatangannya akan sedikit mengurangi beban yang sahabatnya rasa. Ia sangat percaya diri muncul saat ini karena yakin keduanya sudah bersih dari sisa-sisa rasa cinta yang dulu pernah ada.
Heni menghela nafas. “Apa kamu sudah tahu?”
Dian hanya mengangguk tanpa niat untuk menjawab dengan kata-kata.
Senyum lebar yang sejak tadi Heni pasang ia singkirkan pelan-pelan.
“Tante, maafin Andre ya…”
Heni menghela nafas. Yang dihadapi Andre ini memang bukan masalah ringan. Diam-diam menjalin hubungan dengan wanita, kemudian hamil dan sekarang wanita itu pergi tanpa keterangan. Ia tak tahu sebagai seorang ibu ia harus bersyukur atak bersedih.
“Tante malu Dian, malu.”
__ADS_1
“Tante yang sabar ya…” Dian meraih tangan Heni yang tertaut erat di pangkuannya.
“Apa kamu tahu Andre begini makanya kamu memilih putus sama dia?” tanya Heni hati-hati.
Dian menggeleng. “Dian sama Andre putus jauh sebelum ada Hana.”
“Kamu juga kenal perempuan ini?”
Dian mengangguk.
“Tante sudah gagal mendidik Andre…” Heni terlihat benar-benar sedih saat ini.
“Tante. Dian yakin ini bukan sepenuhnya salah Andre. Dian kenal bagaimana Andre.”
“Saat itu Tante pernah memergoki perempuan itu di apartemen Andre, dan…” Heni menghela nafas. “Tante yakin mereka sudah terjebak dalam hubungan tak sehat. "Ternyata benar kan, bahkan sudah ada bakal kehidupan dari hubungan terlarang mereka.” Ujar Heni mengungkap penyesalannya.
Dian mengusap-usap punggung Heni berharap dengan begini wanita ini akan sedikit berkurang bebannya.
“Kalau memang sudah siap kenapa nggak nikah saja. Om sama Tante pasti ijinkan asalkan dia memang perempuan baik-baik. Dari pada seperti ini. Apa kata orang kalau sampai banyak yang tahu…”
Dian menghela nafas. “Sekarang Andre gimana keadaannya Tante?”
“Dia lagi di kamar. Semalam ia sama sekali tak tidur…”
“Semalam pas Dian hubungi yang dikirim bukan alamat ini.”
Heni menghela nafas lagi. “Iya. Tante juga baru tahu kalau mereka sudah tinggal berdua di rumah yang baru semalam tante tahu alamatnya. Astaghfirullah Dian. Tante sudah kehabisan kata-kata…”
“Andre maksud kamu?”
Dian mengangguk.
Heni tampak berfikir. “Ayo Tante antarkan. Tante sepertinya lebih rela dia sama kamu dari pada perempuan yang nggak jelas yang entah dimana nemunya.”
Dian menghela nafas. Ia tak boleh membiarkan Heni salah paham. “Maaf Tante. Dian dan Andre pure sahabat doang sekarang. Dan Dian sekarang juga…”
“Permisi…”
Kedua wanita ini serempak menatap ke arah pintu dimana Ken tengah berdiri di sana. Pria tampan ini masuk setelah menyelesaikan urusannya di luar. Dian bangkit dan berjalan menghampiri Ken. Ia kemudian mengamit lengan Ken dan membawanya untuk masuk ke dalam.
“Kenalin Tante. Ini Ken. Dia pacar Dian…”
Memang susah menyebut status mereka. Karena pernikahan yang mereka lakukan belum umum bagi orang Indonesia.
Heni nampak terkejut mendengar penuturan Dian. Ia kemudian memaksakan senyum di bibirnya terlebih melihat pemuda tampan berkulit putih ini mengulurkan tangannya.
“Saya Kenzo Tante, rekan bisnis Andre juga.”
__ADS_1
“Saya Mamanya Andre,” jawab Heni sambil menjabat tangan Ken.
“Kalian silahkan duduk dulu. Saya coba lihat Andre ya.”
Pasangan ini kemudian duduk sementara Heni berjalan menuju kamar anaknya. Di tengah anak tangga, ia menyempatkan diri untuk berhenti dan menoleh ke arah Dian yang nampak mesra dengan pacarnya.
“Kamu memang pantas mendapatkan pria yang baik Dian, bukan pria yang entahlah…” gumam Heni seorang diri.
Heni bingung mau menyebut anaknya bagaimana. Mau mengatakan hal buruk ia tak rela, tapi kalau menyebut anaknya baik faktanya anaknya sudah menghamili anak orang di luar ikatan pernikahan. Ia meneruskan langkahnya menyusuri satu demi satu anak tangga untuk dapat menjangkau lantai dua di mana anaknya berada.
“Kamu tadi kenapa lama sekali sih di luar?” tanya Dian pada Ken.
“Banyak urusan sayang. Sekarang ada kamu yang harus aku pertanggung jawabkan kehidupannya, makanya aku nggak bisa main-main lagi kerjanya.”
Dian menghela nafas. “Aku mau sama kamu itu bukan karena uangmu.”
“I know. Tapi aku nggak mau uang yang dihasilkan istriku lebih banyak daripada uang yang aku berikan.”
“Aku nggak masalah tuh.”
“Tapi aku yang masalah sayang.”
“Iya deh iya…”
Ken merangkul pundak Dian dan mencium puncak kepalanya. Memang hawa pengantin baru masih kental menyelimuti mereka, sehingga kemesraan tak pernah lepas dari hari-hari keduanya.
Tak perlu menunggu lama, Heni nampak turun dengan Andre di belakangnya. Pria yang selalu tampil menawan itu sekarang terlihat babak belur. Bukan babak belur karena berkelahi tapi karena hatinya telah tercabik-cabik.
“Hai, lama nggak ketemu…” ujar Andre setelah mendudukkan dirinya di single sofa di ruang tamunya.
“Iya Pak Andre…”
Andre tersenyum kecut. Ia tak punya cukup tenaga untuk membalas candaan Ken.
“Ma, katanya papa nanti makan siang di rumah,” ujar Andre pada mamanya.
“Ya kan masih nanti. Sekarang baru jam berapa?”
“Tapi kan perlu siap-siap Ma…”
“Oh, iya. Tante tinggal dulu ya. Minumannya jangan dianggurin.”
“Iya Tante,” serempak Ken dan Dian.
Heni paham anaknya sedang ingin berbicara dengan pasangan ini. Jadi ia tak ingin mengganggu.
“Kalian kompak sekali ya…”
__ADS_1
Ken kembali merangkul Dian sementara Dian hanya membalasnya dengan menyandarkan kepala. Tiba-tiba Dian merasa suasana di sana mendadak berubah. Jika semula cair dan begitu hangat, kini mendadak berubah dingin dan kaku. Bahkan Ken diam saja saat Dian menarik tubuhnya. Ia masih fokus saling menatap dengan Andre seakan ada hal besar yang sedang keduanya tahan.
Bersambung…