Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Menyusun Rencana


__ADS_3

HAPPY READING


Makan siang kali ini berbeda dengan makan siang beberapa hari tekahir, dimana selalu ada makanan yang datang yang dipesan atas nama Hana. Tapi kali ini semua harus mengurus perut masing-masing termasuk Hana.


“Kamu lagi ada masalah sama Andre?” tanya Risma yang kini duduk di samping Hana.


“Nggak ada…” jawab Hana dengan wajah biasa saja.


“Terus tumben nggak ada kiriman makanan?” tanya Risma penasaran.


Hana merogoh kantongnya dan menunjukkan sesuatu pada Risma.


“Itu?” tanya Risma dengan menunjuk sebuah kartu yang Hana tunjukkan.


“Credit card. Andre mau stop ngirim aku makanan dan ngeborong di sini kalau aku mau nerima ini,” jelas Hana sembali mengantongi lagi kartu yang akan memenuhi apa pun keinginannya ini.


“Enak banget sih Han… Yang kaya Andre masih ada nggak? Mau dong satu buat aku…” ujar Risma dengan wajah mendamba.


“Mau apa, mau apa? Bagi dong…”


Risma mendengus karena Eka nimbrung begitu saja diantara mereka. Hana pun menutup box makanannya dan bangkit dari tempat duduknya.


“Kalau kalian nggak ada acara, nanti pulang kerja kita jalan ya, sekalian makan malam bareng…” ajak Hana.


“Siapa yang mau makan malam…?” Jika tadi Eka yang muncul dan langsung nimbrung, sekarang Haning juga tumben-tumbenan mau bergabung.


“Kita Mbak. Mbak Haning mau kan. Tadi kan sudah Hana ajak duluan,” ajak Hana lagi.


Eka dan Risma nampak surprise dengan ucapan Hana. Apa yang Hana pikirkan sekarang. Bisa-bisanya ia mengajak Haning untuk bergabung dengan mereka, padahal selama ini hubungan keduanya tak pernah baik.


“Gimana Mbak?” tanya Hana saat Haning belum juga menjawab pertanyaannya.


“Boleh deh…” jawab Hning setelah sebelumnya nampak menimbang.


“Ya udah. Selamat istirahat, biar aku ke depan kalau-kalau ada pelanggan…” pamit Hana pada ketiga rekannya yang belum selesai makan siang.


Ternyata Haning sudah makan siang di tempat yang terpisah dengan rekan-rekannya, sehingga ia tadi hanya berniat mengecek apa yang dilakukan ketiga rekannya, kini langsung berbalik dan mengikuti Hana.


Risma dan Eka sempat saling pandang sebelum sama-sama menyuapkan makanan dengan wajah datar tanpa ide dan dugaan apa pun terkain dua wanita yang biasanya selalu acuh kini mendadak akur seperti Haning dan Hana.


“Aku mencium bau-bau peperangan…” ujar Eka susah payah karena mulutnya menyambi mengunyah.


Risma menutup mulutnya yang nampak penuh sebelum kemudian mengangguk cepat sebagai tanda setuju dengan ucapan rekannya.


“Lagian apa sih yang ada di kepala Hana, bisa-bisanya dia ngajak Mbak Haning jalan sama kita…” ujar Risma setelah menelan semua makanannya.


“Nggak ngerti deh…” sahut Eka sebelum kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Keduanya melanjutkan makan karena sadar jam istirahat ada batasannya.


***


“Si Dedi nggak ke sini Bos?” tanya Andre saat baru saja memasuki ruangan Dika.


“Enggak. Dia ada jadwal bantu ayah hari ini,” jawab Dika setelah sempat sekilas membalas tatapan sekertarisnya.


“Om Rudi?” tanya Andre memastikan.


“Iya lah. Siapa lagi.”


“Wah, makin nggak jelas langkahnya.”


“Siapa?” tanya Dika yang tak paham maksud sekertarisnya ini.


“Nggak deh. He he he…” Andre sebenarnya ingin sekali membahas Dedi, namun sepertinya Dika enggan menanggapi. Memang susah posisi dia, di satu sisi ia adalah kakak Rista, di sisi lain ia adalah sahabat Dedi, dimana Dedi juga sudah sangat dekat dengan keluarganya.


“Eh, BTW bu bos nggak nyusul?” tanya Andre mengalihkan topik pembicaraan.


“Enggak, katanya dia mau jadwal yoga,” jawab Dika masih dengan wajah datarnya.


“Nggak kamu dampingi?”


“Maunya sih iya, tapi nggak lama lagi aku ada meeting.” Kali ini Dika menyingkirkan pekerjaannya, dan membalas tatapan sekertarisnya.


“Sama siapa, jam berapa?” Dedi yang paham maksud bosnya segera menanyakan meeting yang dimaksud oleh Dika.


“Sepertinya aku bisa deh Bos…” ujarnya setelah sempat menimbang.


“Kamu yakin…?” tanya Dika memastikan.


“Yakin…”


“Tapi ada satu client yang terpaksa minta meeting di luar kantor. Sebenarnya ia bisa datang kemari, tapi waktunya aku yang nggak bisa,” jelas Dika. Ia kemudian menunjukkan alamat yang dimaksud pada sekertarisnya ini.


Andre mencermati alamat yang Dika tunjukkan. “Tak masalah. Aku bisa meminta Hana untuk menunggu,” putusnya.


“Mau kamu bawa kemana Hana?” tanya dengan tatapan curiga.


“Ke…” Andre meringis dan menggaruk kepalanya.


“Ah sudah lah.” Dika bangkit dan menyambar jasnya. “Yang penting aku tahu beres semua.”


“Siap Bos…” jawab Andre dengan sikap hormatnya.


Dika tak menjawab lagi, dia melewati pintu dengan focus ke arah ponsel di tangannya. Dia memang bos Andre, ia juga bisa disebut sahabat diwaktu yang sama. Namun satu hal yang perlu ia ingat. Ia adalah orang lain di kehidupan Andre, sehingga ia hanya boleh mengingatkan sewajarnya tanpa perlu terlalu banyak ikut campur dalam urusan Andre. Sehingga untuk masalah Andre dan Hana, ia tak boleh banyak turut campur dan berkomentar.

__ADS_1


“Ya sudah. Intinya semua harus aku bereskan sendiri,” gumam Andre setelah Dika pergi. Ia kemudian mengambil beberapa berkas yang nanti ia butuhkan untuk dipelajari nanti di ruangannya.


Sesaat sebelum ia menarik handle pintu, Andre berbalik menatap ketiga sekertarisnya. “Dari kalian bertiga siapa yang tanggungan pekerjaannya paling sedikit?” tanya Andre pada ketiga stafnya.


“Saya Pak…” ujar Riza menunjuk dirinya.


Andre memusatkan pandangannya pada Riza. “Bisa kah malam kamu ikut bersama saya, karena ada satu pertemuan yang diadakan di luar kantor, jadi mungkin akan mengulur waktu kamu untuk pulang,” jelas Andre.


Riza terlihat layu seketika. Ia menundukkan kepala dengan tatapan tak bersemangat.


“Kenapa, sepertinya kamu ada masalah dengan ajakan saya?” tanya Andre yang sadar akan perubahan air muka stafnya.


“Maaf Pak, bukan maksud saya untuk menolak, tapi anak saya sedang sakit, jadi sebenarnya saya malah melimpahkan beberapa pekerjaan pada Elis dan Rahma agar bisa segera pulang. Sekali lagi maaf Pak Andre.” Riza terlihat tak enak mengutarakan hal ini pada bosnya.


Andre menggulung beberapa berkas di tangannya yang tak seberapa tebal itu. Kemudian ia mainkan di kedua tangannya.


“Bagaimana dengan yang lain?” tanya Andre pada dua stafnya yang lain.


“Saya saja Pak. Saya bisa menyelesaikan ini segera dan ikut dengan bapak nanti,” sahut Elis cepat menawarkan dirinya.


Riza dan Rahma sempat beradu pandang sesaat sebelum keduanya sama-sama menundukkan kepala.


“Baiklah, pertemuan diadakan selepas magrib, jadi kita berangkat dari sini sebelum jam jam 5.”


Andre segera meninggalkan ketiga stafnya untuk melanjutkan pekerjaan di ruangannya. Namun tak berselang lama, ia sudah keluar lagi.


Rahma langsung bangkit dan mengikuti Andre karena ia harus mendampingi atasannya bertemu client di ruang meeting sekarang. Memang setelah serangkaian kejadian yang terjadi pada dua sekertaris lajang ini, Riza memutuskan untuk Elis agar tak terlelu berhubungan dengan Andre. Segala sesuatu yang berhubungan dengan atasannya ini sebisa mungkin dilakukan oleh Rahma dan dirinya. Riza khawatir jika Elis yang maju, rekannya ini akan berbuat bodoh seperti yang Rahma lakukan saat tak sengaja bertemu dengan Dedi waktu itu.


“Lis…” panggil Riza saat tinggal mereka berdua yang tersisa di sana.


“Ngomong aja Mbak, aku dengerin kok…” ujar Elis yang sayang untuk meninggalkan pekerjaannya barang sejenak.


“Tengok sini bentar,” pinta Riza pada rekannya ini.


“Tanggung Mbak. Tahu sendiri kan aku harus segera menyelesaikan semua ini…” tolak Elis.


Riza mendengus dan bangkit seketika meninggalkan mejanya.


“Mbak Rizaaaa…. Kok malah diambil sih.”


Elis ingin menarik kembali laptonya, namun justru Riza singkirkan. “Mbak. Sudah nggak banyak waktu nih…” protes Elis karena merasa Riza menghambat pekerjaannya.


“Lis. Aku tahu kamu naksir pak Andre. Tapi please ya kamu jangan sampai bertindak bodoh,” ujar Riza mengingatkan.


“Iya Mbak iya…” Elis ingin mengambil lagi laptopnya tapi masih Riza tahan. “Apa lagi sih Mbak…” protes Elis lagi.


“Lis, kamu harus ingat, posisi yang kita miliki ini sangatlah sulit untuk dicapai. Selain sulit, begitu banyak orang lain yang begitu menginginkan posisi ini. Aku cuma sayang saja kalau harus kehilangan rekan lagi hanya karena perasaan yang entah dimana sebenarnya akan bermuara.”

__ADS_1


Elis terdiam. Bahkan hingga Riza mengembalikan laptopnya pun ia masih senantiasa diam.


Bersambung…


__ADS_2