Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Penagih Hutang


__ADS_3

HAPPY READING


“Thanks ya Ken…”


“Sama-sama brother.”


Andre segera keluar dari mobil Ken dan masuk ke dalam rumahnya. Saat baru saja melewati pintu, Andre sudah disambut seorang wanita yang sejak tadi sudah menunggunya.


“Kamu dari mana sih Nak?” tanya Heni yang sudah menunggu kedatangan Andre dengan perasaan cemas. Pasalnya Andre keluar tanpa pamit, sehingga Heni sempat panic takut anaknya berbuat yang tidak-tidak.


“Diajakin Ken cari makan,” jujur Andre sambil nyelonong duduk di samping mamanya.


“Kenapa harus keluar, kan di rumah juga masak?”


“Entah lah. Ken yang mau.”


“Kamu kenal ya sama pacarnya Dian?” tanya Heni kemudian.


“Kenal Ma.”


“Dia kerja di Surya juga?”


“Dia ngerintis usaha sendiri Ma. Jadi dia CEO diperusahaan yang ia pimpin,” jelas Andre.


“Wah, hebat ya. Aku pikir Dian nggak akan akan bisa move on dari kamu.”


“Dian itu cakep Ma, dia juga pinter. Selain it udia juga gadis baik-baik.”


“Tahu gitu kenapa kamu sia-siakan?”


“Maksud Mama apa?”


“Ya kalau Dian baik kenapa dulu putus. Sekarang nyesel kan Dian sudah punya gantinya.”


“Andre sekarang kan juga sudah punya Hana. Lagian dulu kan Mama kan yang dulu mengultimatum Andre untuk mempertimbangkan keyakinan dalam membina hubungan dengan perempuan?”


“Tapi bukannya terus berhubunngan dengan yang semacam Hana juga. Sekarang dia di mana, kabur kan? Andre, sekarang Mama mau tanya, kenapa Hana pergi saja kamu harus sehancur ini. Bukankah hal ini bukan perkara besar. Kamu kan tinggal cari ke rumah dan ngomong sama orang tuanya. Sudah kan…”


Andre menunduk diam.


“Atau jangan-jangan selama ini kamu belum pernah bertemu dengan orang tuanya, belum pernah diajak ke rumahnya, iya?”


Andre masih bertahan dalam diam.


“Yang kamu pacari ini wanita macam apa sih Ndre, astaga.” Kekecewaan dan kemarahan terdengar jelas dari ucapan Heni.


“Hana wanita baik Ma, makanya Andre cinta banget sama dia.”


“Baik dari mana kalau seperti ini. Dia sudah kamu hamili, tapi bukannya minta pertanggung jawaban malah pergi melarikan diri. Dia ini wanita macam apa? Atau jangan-jangan yang dia kandung bukan anak kamu lagi, makanya dia tak butuh


berfikir panjang untuk meninggalkan kamu.”


“Ah, iya iya, Mama tahu. Dia pasti sudah berhasil mengeruk harta kamu kan? Dan sekarang kamu nggak punya apa-apa iya?”


“Ma, stop mengatakan yang tidak-tidak tentang Hana Ma. Hana tak pernah minta apa pun dari Andre.”

__ADS_1


“Jangan bodohi Mama Nak. Mama sudah sering menjumpai wanita semacam Hana…”


“Ma. Maafkan Andre Ma. Sulit bagi Andre untuk menjelaskan semua sekarang. Tapi Andre sudah tidak bisa mundur Ma.”


“Kenapa tidak bisa. Bahkan wanita itu sudah pergi meninggalkan kamu.”


“Andre nggak mau nyerah Ma, karena…”


“Karena apa? Anak yang dikandung sudah tak ada terus apa lagi yang menjadi alasan kamu bersikukuh mengejar dia.”


“Karena Andre yang sudah merusak masa depan Hana Ma. Andre merenggut paksa semua yang Hana miliki.”


Heni terdiam. Pikirannya kacau menafsirkan apa yang baru saja anak tunggalnya katakan.


“Andre minta maaf Ma. Andre sudah membuat papa dan mama kecewa. Tapi Andre harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah Andre lakukan.”


Heni nampak lemas. Matanya pun nampak berkaca-kaca. Wanita ini jelas sekali tengah terluka. Andre membawa tubuhnya merosot ke atas lantai. Ia bersimpuh di hadapan wanita yang telah melahirkannya ini. Ia bersujud dan mencium kaki mamanya.


“Mama, Andre minta maaf Ma. Relakan Andre mempertanggung jawabkan dosa yang sudah Andre perbuat Ma.”


Heni tak bereaksi sama sekali, bahkan ketika Andre bersujud dan mencium kakinya seperti ini.


“Ma, Andre pamit dulu…”


Andre bangkit dan perlahan meninggalkan sang mama. Ia ingin pergi untuk mencari Hana.


“Bi, tolong awasi mama Ya, jangan biarkan mama sendiri,” ucap Andre saat tak sengaja berjalan dengan perempuan yang sudah bekerja di rumahnya sejak ia masih kecil ini.


“Aden mau ke mana?” tanya wanita ini.


Perempuan yang dipanggil bibi ini hanya mampu menganggukkan kepala. Ia sebenarnya ingin bertanya apa yang terjadi, sayang ia tak punya keberanian untuk melakukan hal ini.


***


“Alhamdulillah, kamu sudah sadar…”


Hana masih harus mengerjap untuk beradaptasi dengan cahaya yang menyapa indera penglihatannya. “Iya…” lirihnya kemudian.


“Kamu jangan bingung. Kamu sekarang berada di tempat kos saya.” Jelas wanita ini saat melihan Hana yang linglung dan menatap kesana-kemari.


“Tempat kos?” ulang Hana.


“Iya. Saya yang kamu tolong semalam. Maaf ya, saya tidak bisa membawa kamu ke rumah sakit. Saya hanya minta tolong pada teman saya yang seorang perawat di kamar sebelah untuk mengobati luka kamu.”


“E jangan langsung bangun…” cegah wanita ini saat melihat Hana yang ingin langsung bangkit. "Pelan-pelan..." ujarnya sambil membantu Hana.


Hana meraba perutnya yang terasa nyeri.


“Maaf ya, gara-gara saya kamu harus menerima beberapa jahitan,” ujar wanita ini lagi.


“Apa kamu sudah melaporkannya ke polisi?” tanya Hana yang kini sudah berada dalam kondisi duduk.


Wanita ini menggeleng dan duduk di samping Hana.


“Kenapa?” tanya Hana lagi.

__ADS_1


“Dia adalah penagih hutang.”


“Kamu punya hutang? Sama rentenir?” kaget Hana. Pasalnya yang biasa menagih dengan cara ini adalah rentenir.


“Bukan aku tapi kakakku. Oh iya perkenalkan namaku Risma,” ujar Risma sambil mengulurkan tangannya.


Hana menerima uluran tangan itu. “Aku Hana…”


“Rumah kamu mana?” tanya Risma setelah tautan keduanya lepas.


Hana tak menjawab. Ia hanya menghela nafas sebagai responnya.


Risma sedikit was-was sebenarnya, karena ia tak tahu siapa wanita yang baru ia ketahui bernama Hana ini. Bisa saja dia penjahat atau semacamnya. Namun ia tak bisa membiarkan Hana terlantar setelah membantunya hingga terluka seperti ini.


“Oke, kamu istirahat saja sekarang, aku harus pergi bekerja,” ujar Risma setelah beberapa saat mereka saling diam.


“Kamu kerja di mana?” tanya Hana.


“Aku kerja di toko baju. Oh iya aku tadi sudah masak. Aku bawa ke sini ya biar kamu gampang makannya,” tawar Risma.


“Nggak usah,” tolak Hana dengan menggelengkan kepala.


“Terus gimana?”


“Biar aku bangun saja.”


Risma mengangguk dan bangkit dari samping Hana.


“E Risma…” Hana memanggil Risma sesaat sebelum perempuan ini meninggalkan ia di ruang kos yang tak seberapa luas ini.


“Ada apa?”


“Tolong ijinkan aku tinggal beberapa hari ya di sini. Aku janji setelah ini aku akan pergi…”


Inginnya sih berkata iya, sayang Risma bukan tipikal orang yang tak tahu balas budi sehingga dengan santainya menunjukkan ketidak nyamanannya dengan keberadaan Hana di sini.


“Yang penting kamu sembuh dulu, nanti kita bahas lagi. Aku terimakasih banyak karena kamu sudah menolongku dan aku juga minta maaf karena hanya bisa merawatmu di sini. Sekarang aku harus kerja.”


“Aku juga terimakasih sama kamu.”


“Kamu hati-hati ya, bisa bangun buat ngunci pintu nggak?” tanya Risma iba melihat kondisi Hana.


“Bisa…” jawab Hana setelah meringis karena berusaha berdiri. "Risma, boleh aku merepotkan kamu lagi nggak."


"Apa. Selama aku bisa aku tak akan keberatan."


"Aku minta pembalut."


Risma menghela nafas. "Di kamar mandi. kamu cari aja."


"Makasih ya," ujar Hana.


Hana dan Risma berjalan beriringan menuju pintu. Setelah Risma keluar, Hana segera mengunci pintu dari dalam sesuai dengan yang Risma minta. Kemudian ia kembali berbaring karena merasa tak memiliki tenaga untuk melakukan apa-apa.


Di luar Risma sebenarnya masih harap-harap cemas. Bagaimana pun juga yang ia bawa adalah orang yang sama sekali tak ia kenal sebelumnya. Ia sendiri sebatang kara dan tak punya apa-apa. Yang ia miliki hanya yang ada di dalam sana bersama Hana. Ia bekerja hanya pure untuk makan serta bayar kos bulan depan. Untuk membayar hutang yang kakaknya buat saja ia tak punya apa lagi menisihkan untuk masa depan. Jadi tak ada apa-apa juga yang bisa Hana curi jika memang ada niat jahat pada Risma.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2