Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Perkenalan Resmi


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah mempersilahkan Andre untuk duduk bersama mereka, Rista mulai memperkenalkan satu-persatu para wanita yang ada di hadapannya ini. Belum ada suara selain Rista, bahkan Hana pun enggak membuka tabir dirinya meski ia yakin sebentar lagi rekan-rekannya akan mulai bersuara.


“Saya rasa makan malamnya bisa kita mulai sekarang,


agar nanti kita lebih leluasa saat berbincang. Bagaimana menurut Pak Andre?” tanya Rista untuk meminta pertimbangan Andre.


“Tunggu. Kita masih harus menunggu satu orang lagi…” ujar Andre yang nampak lebih banyak diam kali ini.


“Oh. Baiklah…”


Rista membuka tas tangannya dan mengambil ponselnya dari sana.


“Maaf Pak, saya mau permisi sebentar,” ujar Rista dengan penuh hormat kepada Andre.


“Silahkan…” ujar Andre tanpa menatap lawan bicaranya.


Rista bangkit setelah Andre persilahkan. Sementara semua masih shock dengan keberadaan Andre sekarang. Posisi Andre mamang masih abu-abu di mata rekan-rekan Hana, namun yang jelas mereka yakin Andre manjabat sebuah posisi yang cukup tinggi melihat bagaimana Rista nampak begitu menghormatinya.


“Apa kalian terkejut dengan kemunculan saya?” tanya


Andre tiba-tiba saat melihat manusia-manusia yang masih terjebak dalam keterkejutannya.


“Saya memang orang yang sama dengan yang datang ke toko kalian beberapa hari terakhir. Tapi kedatangan saya tak ada hubungannya dengan keperluan penilaian kerja kalian. Saya datang untuk menemui Hana.”


“Maafkan kami Pak Andre. Kalau kami tahu siapa anda, mungkin kami dapat menyambut anda dengan lebih baik,” ujar Nuke yang merasa paling bertanggung jawab atas ketidak sopanan karyawannya saat Andre datang. Ia mengacuhkan perihal hubungan pria ini dengan Hana. Nuke hanya fokus pada jabatan yang Andre sandang sat ini.


“Tenang saja. Saya datang sebagai customer, bukan utusan perusahaan. Dan saya rasa pelayanan yang diberikan sudah menginterpretasikan bagaimana cara kalian menjual produk kami…”


Tak ada nadasindiran atau kritikan dari setiap ucapan Andre. Namun tetap saja semua ketar-ketir memikirkan nasibnya.


“Permisi…” Seorang wanita dengan pakaian formal muncul di ruangan ini.


“Silahkan masuk Rahma.”

__ADS_1


Setelah dipersilahkan Rahma segera masuk dan menyerahkan sesuatu kepada Andre.


“Maaf sudah membuat kamu repot,” ujar Andre menerima uluran Rahma.


“Tidak masalah Pak. Ini sudah bagian dari tugas saya,” jawab Rahma dengan penuh hormat.


Eka menyenggol bahu Anin. “Aku pikir dia ada apa-apa sama Hana, ternyata dia sudah biasa dikelilingi wanita cantik?” lirih Eka begitu kepalanya dan kepala Anin berada dalam jarak dekat.


Anin hanya membalas dengan anggukan karena ia takut untuk bersuara sekarang.


“Oh, jadi Rahma yang kita tunggu?” tanya Rista setelah ia kembali ke ruangan dan mendapati Rahma berdiri tak jauh dari Andre.


“Bukan. Tapi kalau Rahma tidak ada acara, boleh juga bergabung di sini,” tawar Andre pada Rahma.


“Terimakasih atas tawarannya Pak Andre dan Nona Rista, tapi saya harus permisi sekarang.” Rahma menolak secara halus


permintaan atasannya ini. Sebenarnya yang diminta datang tadi adalah Elis, namun atas saran Riza, sebaiknya Rahma saja yang pergi karena takut Elis akan bertindak bodoh karena sekarang ia sudah tak ragu mengakui ketertarikannya pada atasannya ini.


Andre hanya menggerakkan kepalanya dan Rahma segera berpamitan dengan semua yang ada di ruangan itu. Sesaat sebelum ia melewati pintu, Rahma sempat bertemu pandang dengan Hana. Namun hal ini tak berlangsung lama karena Rahma sungkan kalau harus berhenti di tengah pintu terlalu lama.


Rahma menghentikan langkahnya begitu ia selesai menutup pintu. Itu tadi siapa ya? Kenapa rasanya aku begitu familiar dengan wajahnya. Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Batin Rahma.


Dulu ia juga sama cantiknya, namun kesehariannya yang tak pernah lepas dari make up bold  yang bertujuan untuk menonjolkan profesionalisme justru membuat ia nampak lebih tua dan sangar. Aksesoris mewah yang selalu ia kenakan juga menyamarkan pancaran kecantikan yang sebenarnya sudah ada dari dalam dirinya, dan pakaian formal berwarna gelap membuatnya nampak berkelas namun kaku tak seanggun sekarang.


Brugh!!


“Maaf, maaf…”


Karena berjalan sambil melamun membuat Rahma tanpa sengaja menabrak seseorang. Namun Rahma tak tahu siapa orang itu karena wajahnya membantur dada. Orang ini tinggi sekali sehingga ia harus mendongak agar dapat melihat wajah orang yang baru saja ditabraknya.


“Ha.”


Rahma membeku dengan mata membola, saat dengan cepat ia mengenali orang yang baru saja ditabraknya ini.


Di dalam, Andre mulai gelisah karena yang ditunggu-tunggu tak datang juga. Ia memutuskan untuk meraih ponselnya dan mulai menghubungi orang itu. Selama di dalam, Hana pun lebih banyak menunduk, sehingga Andre bertambah kesal karena tak bisa menatap wajah cantik Hana.

__ADS_1


“Essshhhh hhuufftt…”


Hana langsung mengangkat wajahnya kala mendengar desah Andre yang tak biasa. Ia tahu ada yang tak baik dengan pacarnya ini. Sayang ia tak mungkin menanyakan apa yang terjadi sekarang, karena ia masih ragu mengungkap hubungan mereka pada semua orang.


Andre tak menatap Hana sama sekali, sehingga ia tak melihat bahwa wanita ini khawatir terhadapnya. Ia pun meminta pelayan untuk segera menyajikan makanan. Dan semua mulai menikmati makan malam setelah Andre persilahkan.


“Maaf Pak Andre…”


Semua menatap Hana kala tiba-tiba wanita cantik ini bersuara.


“Ada apa Hana?”


Rista surprise mendengar bagaimana Andre bisa mengenali pegawai toko ini, dan juga bagaimana cara pria yang sudah ia anggap kakak ini menatap Hana. Ini ada apa sih? Jangan jangan Kak Andre naksir mbak-mbak pegawai toko ini. Tapi nggak salah sih, karena mbak ini emang cantik.


Rista segera menutup mulutnya yang dengan kurang ajar menyemburkan tawa. Ia berlagak tak peduli dengan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Itu obat yang diantar tadi belum diminum…” ujar Hana mengingatkan


Tak hanya Rista yang kembali melebarkan mata, tapi semua yang ada di sana. Nuke bahkan nyaris memperingati tindakan sok tahu Hana jika tak ingat Andre cukup dekat dengan pegawainya ini. Karena dengan lancangnya ia berkata itu obat, padahal tak ada satu pun yang tahu pasti apa isinya.


“Oh iya makasih…” ujar Andre sambil meletakkan alat makannya. Ia kemudian mengambil sebuah pil dan mengunyahnya.


“Silahkan kalian lanjutkan makannya…” Andre harus berkata demikian karena saat meletakkan alat makan, semua juga melakukan yang sama karena segan dengannya.


Rista yang penasaran pun hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Pasalnya ia merasa terlalu banyak orang untuk memaksa Andre dan wanita bernama Hana ini untuk buka suara.


Suasana makan pun berlangsung dengan tenang. Hanya ada denting sendok dan drama adu pandang dari mereka yang ada di sana. Kecuali Hana tentunya, karena ia yang paling mengundang tanya sekarang. Ia pun akhirnya sangat betah menundukkan kepala dan menghindari tatapan dari orang-orang di sana.


Setengah jam mereka menikmati makan malam, akhirnya tinggal tersisa teh dan makanan penutup yang membuat meja terlihat lega.


“Saya rasa sudah cukup kita berbasa-basi, sekarang sudah waktunya saya masuk ke inti dari acara pertemuan kita ini…” ujar Andre yang membuat suasana formal begitu terasa.


Semua menelan suaranya dan bersiap memperhatikan setiap kata yang Andre ucapkan.


“Karena rekan saya tidak bisa hadir, jadi di sini saya dan Nona Rista yang akan mewakili perusahaan. Perkenalkan secara resmi, Nona Rista Andiri ini adalah adik dari bapak Restu Andika yang merupakan CEO, pemilik, chairman dan pemilik sebagian besar saham Surya Group sekarang, dan saya sendiri Andre Wiguna adalah sekertaris dan juga tangan kakan dari bapak Restu Andika.”

__ADS_1


Haning menelan ludah. Ia merapalkan berbagai doa berharap sifat menyebalkannya saat Andre datang tak masuk dalam ingatan pria ini.


Bersambung…


__ADS_2