
...*HAPPY READING*...
Dika melihat tas Rina tergeletak tak jauh darinya. Ia segera mengambil tas itu dan mencari ponsel istrinya. Setelah ia mendapat yang ia cari, ia dengan segera menonaktifkannya.
Well, siapa pun kamu, apa pun tujuan kamu yang jelas kamu membantu saya bikin shock efek yang akan menguntungkan saya. Saya memang tak akan melepaskan kamu, karena kamu mengatakan hal buruk tentang istri saya, tapi saya tak akan sampai mencabut hak bernafas kamu di dunia. Tenang saja.
Dika tersenyum miring setelah membaca berita tentang ia dan Rina. Andre juga telah mendapatkan informasi terkait siapa narasumber dan penyebaran berita dan telah mengirimkan secara rinci semua kepada bosnya.
Kamu terlalu percaya diri berhadapan dengan saya. Jangan pernah berfikir saya akan repot hanya dengan masalah sekecil ini.
Sementara itu, Rina harus menjalankan ***** bengek treatment kilat yang telah disiapkan mertuanya. Tak ada pilihan untuk menolak, jadi Rina pasrah saja dengan apa saja yang dilakukan pada dirinya.
Dika yang menunggu di luar kembali merasakan ponselnya bergetar.
"Iya Ndre..." ucap Dika setelah menyambungkan telfonnya.
"Apa perlu saya membereskan orang ini sekarang?"
"Jangan dulu. Biarkan dia merasakan kemenangan. Jangan terlalu cepat bertindak."
"Maksudnya, anda akan membiarkan dia bebas begitu saja?" ulang Andre terhadap pertanyaan sebelumnya.
Dika mengeluarkan smirk yang membuat orang bergidik saat melihatnya.
"Tentu tidak. Tetap akan ada pelajaran terhadap orang yang coba main-main dengan saya. Namun sebelum waktu mengajari itu tiba, saya ingin terlebih dahulu melihat tipe permainannya, biar dia merasa senang. Bukankah menyenangkan orang itu pahalanya besar?"
Andre terdengar tertawa di seberang sana. "Kalau jam pelajaran tiba, silahkan hubungi saya. Saya berharap bisa mendapatkan jam mengajar ketimbang anda harus susah-susah turun tangan sendiri mengajari mereka yang masih amatir ini. "
"Tentu. Aku percaya penguasaan materimu yang baik itu, jadi kamu pasti dapat mengajar mereka dengan baik."
"Kalau begitu selamat sore."
"Sore..."
Bip
Dika kembali menyimpan ponselnya. Ia kembali memejamkan mata sembari terapist memijat tangan dan kakinya.
__ADS_1
***
Semua panik dengan berita yang tersebar di situs perusahaan. Bisa dipastikan sang penyebaran berita adalah orang dalam karena punya akses masuk ke dalam forum perusahaan.
"Ini nggak akan baik kalau sampai tersebar luas ke media."
Reno tampak panik berbicara dengan benda kotak menempel di telinganya.
"Tenang Pak. Saya yakin Dika sudah punya solusi untuk masalah ini."
"Tapi Rina yang lebih banyak dirugikan di sini Pak."
"Iya, saya tahu Pak Reno. Tapi tolong percaya sama anak-anak kita ya..."
Reno tengah berbincang dengan Rudi terkait kabar tak sedap yang tersebar melalui artikel di dunia maya tentang anak mereka.
Rudi sudah pernah merasakan posisi Rina, dimana ia dianggap salah oleh dunia karena telah merusak rumah tangga seorang pemimpin perusahaan besar di Indonesia. Terlebih ketika dia juga dikenal sebagai sahabat orang yang rumah tangganya dirusak olehnya.
Tak hanya sampai di situ saja, ia bahkan harus menuai hujatan, dibenci, dan dihindari saat ada kabar yang menyebutkan ia menguasai harta Hendro saat sahabatnya ini dinyatakan meninggal dunia.
Itu tekanan dari luar, belum tadi tekanan dari dalam, dari keluarga dan orang dekat yang tak paham benar posisi Rudi saat itu.
Reno gusar, Reno tak puas. Ia menganggap Rudi terlalu menganggap sepele masalah ini. Ia dianggap tak peduli pada Rina yang tersudut dan berada di posisi salah. Reno lupa kalau bahkan Rudi merasakan lebih dari apa yang kini dialami putrinya.
Dalam kasus ini, Rina dianggap tak sepadan dengan Dika. Tak jelas darimana asalnya, tak jelas bagaimana latar belakangnya. Hanya dianggap sebagai wanita yang kebetulan berparas cantik yang berhasil menggoda dan menakhlukkan Dika sehingga berhasil meraih posisi penting di Surya Group tanpa perlu bersusah payah memulai dari bawah.
Hal ini bukannya tanpa alasan. Bukannya orang-orang tak mencari tahu tentang jati diri Rina, hanya saja Dika sudah menutup semua akses informasi tentang istrinya. Yang bisa diakses hanya nama dan wajahnya saja. Selebihnya tak ada yang tahu dengan pasti siapa wanita cantik yang diistimewakan pemimpin Surya Group ini. Termasuk riwayat pendidikan, orang tua, dan keluarga. Kecuali mereka yang sebelumnya sudah mengenal dengan baik siapa Rina.
***
Malam pun tiba. Saat yang ditunggu akhirnya datang juga. Rina hadir bersama dengan pemimpin tertinggi Surya Group di sampingnya.
"Sayang, kok banyak sekali media?" tanya Rina pada Dika sebelum turun dari mobil yang membawa mereka.
"Berarti antusiasme mereka tertinggi terhadap kemunculan kamu."
"Masa iya? Apa bukan karena ini merupakan cabang baru Surya?"
__ADS_1
"It can be. Kamu udah siap?"
Rina menghela nafas. "Hm..." ia mengangguk dengan yakin.
Setelah itu Dika meminta supir keluar membukakan pintu untuk mereka.
Dan saat Dika dan Rina keluar, puluhan kamera langsung mengarah pada mereka. Para pengambil foto pun tak mau ketinggalan mengabadikan kehadiran 2 orang yang hari ini mendadak menjadi bahan berita.
Rina yang tidak tahu apa-apa berjalan dengan tenang menggandeng suaminya.
Di salah satu sudut Hana tampak membulatkan mata.
Bagaimana Rina bisa setenang ini. Dasar jalan*. Urat malumu sepertinya sudah putus dan ketinggalan bersama otaknya yang sudah bergeser dari tempatnya. Kita lihat saja Rina Malinda. Berapa menit lagi kamu masih bisa berjalan dengan angkuh seperti ini.
Dika menggenggam erat tangan istrinya. Ia berhasil membuat Rina tak tahu akan kabar miring yang menerpa dirinya. Sehingga kini ia bertekat tak akan sejengkalpun meninggalkan Rina hingga waktu untuk mengungkap semuanya tiba.
Dika sudah meminta Rudi untuk menenangkan sang Mama, jika tidak Santi pasti sudah mengobrak-abrik acara ini. Sementara Reno dan Ririn masih harap-harap cemas menantikan apa yang hendak dilakukan anak dan menantunya.
Andre berjalan dengan tergesa menghampiri Dika.
"Pak Restu. Maaf karena saya harus mengambil keputusan sebelum berbicara dengan Bapak."
"Tentang apa?"
Andre tampak membisikkan sesuatu kepada Dika. Dika mengangguk dan menepuk pundak Andre setelahnya.
"Saya memang tak suka kamu memutuskan sesuatu tanpa persetujuan saya terlebih dahulu, tapi untuk kali ini akan saya maafkan. Lakukan semua sebaik mungkin, serapi mungkin dan sedrama mungkin."
Dika sempat tersenyum samar.
"Saya ingin orang-orang yang ingin menjatuhkan istri saya kesulitan untuk melupakan kejadian malam ini," lanjut Dika dengan smirk nya.
Rina menatap suaminya dengan tak biasa, sayang ia tak dapat mendengar dengan jelas apa yang berusan suaminya ini katakan.
" Kamu begitu saya permisi dulu Pak. "
Dika mengangguk." Lakukan semuanya dengan baik. Saya tidak mau ada kesalahan."
__ADS_1
"Iya Pak. Permisi."
TBC