Zona Berondong

Zona Berondong
G I L A dibaca Gila


__ADS_3



Dika sama Dedi sama-sama kecenya kalau lagi serius.



Cakepan rambut panjang apa pendek ya si Rina.



Rista yang rewel karena Dedi yang juga ikutan sibuk kerja kayak kakaknya.


...*H A P P Y R E A D I N G*...


"Dika sayang..."


Dika merasa namanya dipanggil, namun ia yakin benar jika itu bukan suara Rina, gadis yang kini tengah dinantikannya.


"Iiiih, sombong banget sih..."


Dika memandang malas Lusi yang tiba-tiba bergelayut manja di lengannya. "Kamu apaan sih!" Dika berusaha melepaskan tangannya.


Berhasil lepas, namun Lusi kembali bergelayut manja di sana.


"Lusiana. Bisa nggak sih kamu jaga sikap!" suara Dika meninggi. Namun ia sadar, Lusi ini adalah seorang gadis, ia tak mungkin berlaku kasar sejengkel apapun padanya.


"Sayang, kita pas banget bisa ketemu di sini. Ini namanya jodoh."


"Ana, Dika."


Keduanya langsung menoleh bersama. Buru-buru Dika menjauhkan tubuhnya saat merasa ada yang memanggil namanya.


"Hai, kenal juga sama cowok aku..." ucap Lusi dengan riang. "Eh, kok ada kamu?" Lusi menunjuk Rina yang juga datang bersama Dian.


"Dia cewek aku, dan cuma dia. Jadi kamu nggak usah macem-macem." Dika segera meraih tangan Rina. "Di, kita duluan?" Dika segera membawa Rina masuk ke dalam mobilnya.


"Sayang, kamu nggak marah kan?" tanya Dika setelah membawa Rina masuk ke dalam mobilnya.


"Lusi selalu gini ya?" bukannya menjawab Rina justru balik bertanya.


"Enggak. Biasanya dia cuek kalau di sekolah." Dika terdiam. "Apa mungkin dia lagi main peran sama Rio?"


Rina menatap Dika. "Kayaknya enggak deh, soalnya Rio sudah punya pacar."


"Pacar? Apa pacarnya tahu Rio sempet jadian sama kamu?"


Rina mengangguk.


"What the, argh...!! Otak mereka isinya apa sih!?" Dika tak habis pikir dengan cara yang sempat di pilih Rio untuk menghancurkannya.


"Tapi terlepas dari adanya peran Rio atau tidak, yang jelas kayaknya Lusi suka banget sama kamu," ucap Rina dengan nada pesimis.


"Terus kalau pun iya, masalahnya apa sayang?" tanya Dika sambil menatap Rina.


"Dia selevel sama kamu?" Rina memalingkan wajah kemudian.


"Level apa nih maksudnya?"

__ADS_1


"Tahu ah..." Rina menyadarkan tubuhnya dan masih enggan menatap Dika.


Cup


"Dika!"


Rina memekik dengan mata melotot karena serangan kilat di bibirnya.


"Apa sayang?" tanya Dika yang masih menatap lekat kekasihnya.


"Bisa nggak sih nggak main cium seenaknya!?" protes Rina dengan wajah merenggut kesal.


Dika menggeleng. "Enggak. Ngertiku enaknya nyium." Dika kembali mendekatkan wajahnya.


"No!" Rina segera menutup mulutnya dengan tangan.


"Dikit doang..." Dika berusaha menyingkirkan sebelah tangan Rina.


Rina menggeleng dengan mulut tertutup.


Dika menyerah. Akhirnya ia mendaratkan bibirnya di kening Rina. "Makasih sayang..."


Rina tak langsung menjawab, hingga Dika duduk manis di tempatnya. "Buat?" tanyanya kemudian.


"Buat kewarasan kamu saat aku mulai menggila." Dika meraih tangan Rina dan menciumnya. Ia segera menyalakan mobil dan mulai menjalankannya.


"Terus seperti ini ya sampai aku berhak miliki semuanya..." ujar Dika sebelum kembali fokus dengan kemudinya.


Rina mencuri pandang ke arah pria tampan di sampingnya. Semoga aku tetep bisa waras dan nggak ikut-ikutan gila. Batin Rina dengan senyum yang telah terbit di wajahnya.


***


"Coba sini lihat?" Rina melihat sejenak subjek yang tengah dipelajari Rista. "Ascribed status dan achieved status. Apanya yang bingung?"


"Rista masih belum ngeh sama maksudnya Kak..."


Rina membaca sejenak penjelasan dalam buku Rista agar ia tak salah dalam memberikan penjelasan. "Ascribed status itu adalah status yang didapatkan seseorang dengan sendirinya tanpa melalui proses dan otomatis sejak lahir. Misalnya, jenis kelamin. Jenis kelamin itu kan udah didapatkan orang otomatis sejak lahir ya kan? Untuk memperoleh jenis kelamin itu kan enggak perlu usaha, tapi udah otomatis ada sama diri kita. Kalau achieved status merupakan status yang didapatkan seseorang yang melalui sebuah usaha. Misalnya, orang itu itu bisa dikatakan pintar kalau dia memenuhi kualifikasi tertentu hingga ia disebut pintar. Dalam memperoleh kualifikasi itu tentunya ada usaha kan? Nah itulah yang membedakan ascribed status dan achieved status. Gimana, ngeh enggak? "


"Berarti intinya ascribed status diperoleh dengan sendirinya tanpa usaha sedangkan achieved status harus ada usaha atau upaya untuk mendapatkannya?"


"Betul."


"Thanks ya Kak."


"Sama-sama."


Keduanya kemudian kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing. Saat ini Rina tengah menemani Rista di rumah karena Dika harus kembali ke kantor setelah menjemput keduanya.


"Akhirnya selesai juga..." Rista membereskan bukunya yang berserakan. "Kakak udah?" tanya Rista saat melihat buku-buku Rina yang ternyata sudah rapi dan siap di simpan kembali ke dalam tas.


"Udah..."


"Kakak laper nggak?" tanya Rista.


"Laper sih. Eh tapi jam segini kok belum pada pulang ya?" tanya Rina sambil meraih ponselnya. "Eh Dika WA." Ia menunjukkan layar ponselnya pada Rista.


"Yah, kok nginep lagi di rumah mama sih..." Rista menggerutu kecewa karena Dika baru mengabarkan kalau dia harus lembur dan pulang larut malam.


"Emangnya kenapa sih Ta, bukannya lebih aman di sana?"

__ADS_1


"Aman sih aman Kak, tapi aku nggak nyaman. Lebih nyaman di dini."


"Ta. Rista..."


Terdengar derap langkah seseorang yang kini memanggil nama Rista.


Mendengar suara yang sangat ia rindukan, Rista segera melompat dan menyambutnya.


"Kak..." Rista langsung menghambur ke pelukan Dedi. "Kangen..." ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dedi.


"Apanya yang kangen, baru juga semalem ketemu..." jawab Dedi yang telah membalas pelukan gadis kesayangannya.


"Ya kan akhir-akhir ini kita barengan terus, kayak ada yang hilang aja kalau kita sibuk masing-masing."


Dedi membelai rambut panjang Rista dan menarik tubuh gadis itu dari pelukannya. "Rina mana?"


"Buat apa nanyain Kak Rina?" Rista balik bertanya dengan muka cemberut.


Dedi terkekeh dan mencubit hidung Rista. "Aku disuruh Dika nganter dia pulang abis itu nganter kamu ke rumah dokter Rudi, sekarang kamu siap-siap, ya..."


Rista menggeleng dan masih tetap bertahan di pelukan Dedi.


"Jangan rewel deh Ta..."


Rista tak menghiraukan ucapan Dedi. Dia justru makin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, kamu maunya gimana sih?"


Rista menarik wajahnya. "Aku malam ini pengen di sini aja."


Dedi mengangkat tubuh Rista ala bridal style dan membawa tubuh ramping itu di kursi yang berada tak jauh dari mereka. "Jangan Ta, lagian kamu berani emang kalau sendirian?" tanya Dedi dengan menoel ujung hidung Rista.


"Kan ada Kakak..." jawab Rista yang kembali merebahkan kepalanya di dada Dedi.


"Ya jangan dong..."


Mendengar jawaban Dedi, Rista langsung menegakkan tubuhnya. "Emang kenapa?"


"Ya nggak baik Ta kalau aku cuma berdua sama kamu? Belum lagi kalau mati lampu, kamu pasti nggak bakal berani tidur sendiri..."


"Ya kan ada Kakak, tinggal tidur bareng aja beres kan?"


Dedi menatap frustrasi gadis kecil di hadapannya ini. "Kamu beneran nggak ngerti apa bahanya kalau cowok sama cewek cuma berdua, malam hari pula apa lagi kalau sampai tidur bersama?"


Rista menggeleng. "Kan udah pernah Kak. Kita kan juga pernah tidur bareng. Aku sama kak Restu juga pernah. Nggak ada apa-apa tuh."


"Astaga, beda Rista beda. Ya Tuhan!" Dedi mendorong tubuh Rista agar duduk sendiri, sementara ia segera bangkit dan pergi ke kamar mandi.


"Kak, mau kemana? Piaraan Kakak ngamuk lagi ya?!"


"Iya! Makanya aku bilang bahaya!"


Brak!


Dedi menutup pintu dengan kencang setelah meneriakkan jawaban atas pertanyaan Rista yang membuat Dedi stress dan otw gila.


"Piaraan Kak Dedi kok sering banget ngamuk sih? Jadi penasaran pengen lihat."


TBC

__ADS_1


__ADS_2