
...*HAPPY READING*...
Ini adalah hari ketiga Dika dan Rina di Turki. Hari pertama dan kedua mereka habiskan di Istanbul. Mereka hanya keluar mencari sarapan dan selanjutnya mereka kembali melakukan olahraga ranjang. Tak ada yang mampu mencegah mereka terlebih ketika keduanya sadar jika hal ini merupakan ladang pahala yang harus mereka pelihara. Tak sekalipun mereka keluar dari kamar hingga malam, bahkan untuk makan pun mereka menunggu diantar ke kamar.
Rina tak menolak apa pun yang diinginkan Dika, selain karena ini adalah kewajibannya, ia ingin bisa jalan-jalan di hari berikutnya.
Meskipun ini kali pertama bagi Rina berkunjung ke Turki, tapi ia tahu Istanbul merupakan kota yang terkenal menyimpan banyak bangunan bersejarah berarsitektur indah di dalamnya. Untuk itu ia tak ingin kehilangan momen untuk menjelajahinya.
Mulai Hagia Sophia, selanjutnya Blue Mosque menjadi tujuan kedua. Di Masjid Biru atau yang juga dikenal dengan Masjid Sultan Ahmet ini, pasangan pengantin baru Dika dan Rina melaksanakan sholat dzuhur mereka.
Tujuan ketiga adalah Topkapi palace yang merupakan istana bekas kediaman Sultan Ottoman Turki. Rina dibuat takjub dengan banyaknya barang-barang peninggalan sejarah yang tersimpan di sana. Tak lupa ia juga mengambil banyak gambar dengan berbagai pose bersama sang suami di sana.
Menara Maiden merupakan tujuan selanjutnya sembari menikmati senja. Bangunan yang semula merupakan menara pengawas ini kini disulap menjadi cafe dan restaurant dengan pemandangan selat Bophorus yang menakjubkan.
"Pulang ya?"
Rina hanya menggeleng sambil bersandar di lengan suaminya.
"Kamu masih kuat jalan?" ulang Dika.
"Kalau capek kan tinggal minta gendong," jawab Rina manja.
"Nggak mending balik hotel aja..." bisik Dika tepat di telinga wanitanya.
"Sayaaaanngg...."
"Iya deh iya," pasrah Dika.
Keduanya kembali menyeruput minuman yang sejak tadi diacuhkan. Menikmati pemandangan berdua sembari mengecap nikmatnya cinta yang halal.
Selepas magrib Rina menolak untuk kembali ke hotel. Ia ingin mengunjungi satu tempat lagi sebelum besok meninggalkan kota ini. Jembatan Galata merupakan tempat yang begitu ingin Rina kunjungi. Jembatan ini memiliki 2 tingkat, pada bagian atas berfungsi sebagai jalan dan bagian bawah merupakan restoran dan toko makanan. Di sini lagi-lagi mereka mencicipi makanan khas Turki sambil menikmati pemandangan teluk Golden Horn yang indah.
Malam semakin larut. Dan tubuh kian letih, akhirnya Dika dan Rina memutuskan untuk kembali ke hotel untuk membersihkan diri dan beristirahat.
***
Rina keluar dari kamar mandi dengan kimono yang membalut tubuhnya.
"Sayang..."
Dika mendongak dan meraih tubuh Rina dengan sebelah tangannya.
"Sibuk ya? Kamu mesti tetep kerja ya?"
__ADS_1
Dika menghela nafas dan meletakkan tabnya.
"Aku cuma mastiin semua berjalan sesuai rule sayang. Kenapa, hmm?" tanya Dika sembari menggesekkan wajahnya di perut Rina. Hal ini spontan membuat Rina menggelincang karena geli.
Rina bahkan ambruk ke kasur karena tak tahan dengan rasa geli yang menyerang tubuhnya. Mereka tertawa lepas dengan Rina memukul asal suaminya yang tanpa ampun terus menggelitikinya.
Setelah puas menggelitiki istrinya, Dika kemudian beringsut memeluk erat tubuh kecil Rina dari belakang.
"Udah puas?" tanya Rina yang masih lemas.
"Belum, masih mau nambah."
Buru-buru Rina membalik tubuhnya dan menahan Dika sebelum suaminya ini tak bisa dicegah jika sudah terlanjur memulai.
"Tunggu, tunggu..." Dengan gerak cepat Rina memalingkan wajah untuk menghindari Dika yang nyaris menyambar bibirnya.
Dengan terpaksa Dika mundur. Dika berguling di sebelah Rina, melepaskan tindihan dari istrinya.
"Kenapa?" tanyanya dengan nada setenang mungkin.
"Ehm, ehm..." Rina berdehem sembari membenahi kimononya yang sedikit terbuka di bagian dada.
Entah ini menjadi pergulatan yang keberapa, baik sebelum sah atau setelah mereka resmi menikah, namun Rina belum juga bisa bersikap biasa setiap kali Dika menunjukkan sikap jika begitu menginginkannya.
Rina segera berlalu tanpa menunggu persetujuan Dika.
Dengan kaki kiri berselonjor dan kaki kanan ditekuk, Dika kemudian duduk. Ia pun sama, hanya berbalut kimono dan belum berpakaian dengan benar.
Ia tertawa dengan sikapnya sendiri. Semenjak mengucap ijab kabul tempo hari, ia tak pernah sejengkalpun jauh dari istrinya. Bahkan untuk pekerjaan pun Dedi yang harus bolak-balik menemuinya dimana pun ia berada. Sedangkan ia sibuk melakukan s** terus menerus tanpa henti, siang malam tanpa tahu waktu bersama wanita yang sangat dicintainya.
Kebebasan yang ia janjikan pada Rina setelah menikah pun sepertinya ia lupakan. Jangankan kebebasan, bergerak tanpa ia saja tak diizinkan.
Terlebih saat berdua tanpa ada gangguan seperti ini, Dika pun nampaknya sudah lupa bagaimana caranya berpakaian dengan benar. Terbukti tadi setelah mandi, ia tak berniat menggantu kimono dengan baju yang lebih benar, dan langsung naik ke atas ranjang sambil memeriksa pekerjaan.
"Oke buddy, sepertinya kamu nggak dapet jatah malam ini..."
Dika bangkit dengan tawa kecil di bibirnya. Ya Tuhan, kenapa otakku sekarang isinya tak bisa jauh dari sel*******an Rina. Bahkan aku lupa kalau dia pasti merasakan lelah yang luar biasa saat aku tak memberinya jeda untuk sekedar beristirahat.
Dengan sesekali memukul kecil kepalanya, Dika segera menyambar kaos oblong dan boxer untuk dikenakannya.
***
Di luar masih gelap, tapi Rina sudah terjaga saat tak merasakan pelukan hangat dari suaminya.
__ADS_1
Dengan hati yang di dera gelisah, ia bangkit dan memeriksa segala penjuru ruangan dengan tergesa.
"Ya Allah, apa dia marah karena aku menolaknya semalam?"
Rina terus menjelajahi kamar yang mereka sewa. Kamar ini memang terlalu luas jika hanya digunakan untuk tidur saja. Ada ruang tamu, ruang untuk menyimpan baju, bahkan ada pantry yang tak pernah mereka sentuh sama sekali.
Rina menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang saat tak jua menemukan keberadaan suaminya.
Ia resah, ia gelisah terlebih saat mendapati ponsel Dika yang tertinggal di kamarnya.
"Kalau gini gimana cara aku ngehubunginnya..."
Rina menunduk dan nyaris menjatuhkan air mata. Dengan sisa keyakinan yang ada, ia berjalan menuju tempat dimana barang-barang mereka berada.
Cklek
Pintu terbuka dan barang-barang Dika masih lengkap di sana.
Rina menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Tubuhnya merosot seiring dengan rasa gelisah karena tak dapat menemukan keberadaan suaminya.
"Kamu kemana sih..." gumam Rina dengan air mata yang mulai jatuh melewati pipinya.
Ia berjalan menuju ranjang k**ing sizenya. Ia naik dan segera memeluk lututnya yang ditekuk.
"Harusnya aku semalam nggak nolak. Nggak mungkin kan aku mati hanya karena menjalankan kewajiban sebagai istri..." Rina tak lagi menahan tangisnya. Ia membiarkan tangisnya pecah ditengah malam yang sunyi.
***
Seorang pria muda berperawakan tinggi duduk sembari menghirup aroma kopi di hadapannya. Ia tengah menanti kedatangan seseorang yang memaksanya bertemu tengah malam seperti ini. Ia segera melambaikan tangan saat sosok yang ia tunggu datang.
"Hai Restu Andika, apa kabar..."
Dika bangkit dari duduknya.
"Baik. Sangat baik."
"Apa tak ada waktu yang lebih tepat hingga harus bertemu tengah malam seperti ini."
Kedua orang ini saling berpelukan.
"Aku udah nggak bisa menunggu lebih lama buat nemuin kamu."
TBC
__ADS_1