Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ngotot


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah sempat senam jantung, akhirnya Risma tahu bahwa Hana tak hanya bisa menyetir, tapi sangat piawai dalam hal yang satu ini.


"Hana sempat mampir ke sebuah apotik sebelum terus membawa Risma dan Andre juga ge sebuah gedung apartemen mewah di tengah kota. Risma benar-benar berdecak kagum dengan semuanya yang nampak begitu bagus dan bersih di berbagai sisi. Pasti capek membersihkan semua ini, batin Risma dalam hati.


Meski Andre sudah kuat berjalan, Hana tak lepas memeganginya. Ketiganya berjalan memasuki lift dan Hana dengan terampil menekan lantai berapa yang akan ia tuju tanpa bertanya pada Andre sebelumnya. Risma benar-benar dibuat lelah menerka seperti apa hubungan yang pernah terjadi antara kedua orang ini.


Belum usai dengan deretan kejutan yang Hana dan Andre berikan, sekarang Risma dibuat terkejut lagi saat Hana dengan mudah menekan tombol kode kunci apartemen Andre dan tanpa diberikan instruksi Hana membawa Andre untuk ke kamarnya. Sementara Risma yang tak tahu harus bagaimana hanya menunggu di ruang tamu saja.


“Ma, kita nginep sini aja ya…” pinta Hana sesaat setelah ia mengantar Andre untuk beristirahat di kamarnya.


“Tapi besok kita harus kerja Han. Kalau memang kamu tak tega dengan Andre, aku bisa kok pulang sendiri.”


“Kamu ini wanita Ma, bahaya kalau menjelang tengah malam gini mau pulang sendiri,” Hana mencegah Risma untuk pulang.


“Ya habis mau gimana, besok kan aku harus kerja.”


“Sama. Kan kita kerja di satu tempat. Kamu lupa?”


“Ya nggak gitu, tapi buat kamu kerja kan bukan sebuah keharusan.”


“Siapa bilang? Aku nggak punya apa-apa Ma, kalau nggak kerja mau makan darimana. Orang tinggal aja numpang sama kamu.”


“Udah deh Han. Tanpa kamu jelaskan pun aku tahu kalau kamu beda dari aku. Kamu berasal dari kelas yang berbeda dan kamu hanya iseng dan menyasar ke kehidupan kami.”


“Ma, aku minta maaf jika kedatanganku menganggu kamu, tapi aku nggak bohong kalau aku benar-benar nggak punya pilihan malam itu.”


“Terus masalah sindikat perdagangan manusia yang kamu jadikan alasan itu gimana?”


Mendengar kegaduhan di luar kamarnya membuat Andre penasaran dan ingin segera mengeceknya. Saat ia tahu Risma berani berkata kasar pada Hana, ingin sekali ia memberi pelajaran pada wanita ini. Namun tepat saat ia hendak melangkah, Hana menyadari keberadaannya. Sehingga Hana pun segera mengisyaratkan bahwa ia ingin menyelesaikannya sendiri. Andre pun menghargainya, dan ia memutuskan untuk berdiri mengawasi dari sini.

__ADS_1


“Sebelumnya aku minta maaf, karena aku tak bisa mengatakan semua, tapi meskipun aku tak dijual dalam arti sebenarnya tapi aku dijadikan mesin uang, dipaksa menyusup ke perusahaan besar dan dipaksa melakukan berbagai hal yang sama sekali tak aku inginkan. Apa itu menurut kamu tak sesakit jika aku dijual?”


Risma masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar, namun kapasitas otaknya masih kesulitan untuk memproses informasi yang baru didengarnya ini.


“Tapi setidaknya kamu tak pernah merasakan perihnya perut saat menahan lapar dan takut kehilangan tempat tinggal.” Risma masih berusaha menegaskan perbedaan nasib antara keduanya.


“Itu menurut kamu? Tapi nyatanya aku pernah tidur di jalan. Kamu lupa saat pertemuan pertama kita?” Hana berusaha mengingatkan pertemuan pertama mereka dimana jika Risma tak membawanya pulang maka dipastikan Hana akan tidur di jalan.


Andre menajamkan pendengarannya. Pertemuan pertama Hana dengan Risma pasti setelah Hana memutuskan untuk kabur dari rumah sakit, dan ia belum pernah sekali pun menanyai Hana perihal hal ini.


“Itu karena kamu yang mau memilih jalan untuk kabur, ketimbang menghadapi semua masalah yang ada.”


Hana menunduk. Tak mungkin jika ia harus mengakui bahwa ia baru saja kehilangan anak hasil hubungan tak sahnya dengan Andre. Tak mungkin ia cerita ia bisa mengenakan pakaian rumah sakit karena dirawat pasca keguguran. Hal ini masih taboo meskipun yang mencibir tak ikut menanggung resiko dan dosanya.


Reflex Hana mengangkat kepalanya saat merasa ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.


“Tidak ada kewajiban bagi Risma untuk menerima alasan yang menurut kamu baik itu. Jadi jangan paksa dia ya. Karena Risma pun punya kehidupan yang belum tentu bisa kamu sesuaikan.”


Risma terpaku menatap Andre. Ia tak hanya tampan dan kaya, tapi juga terlihat sangat menyayangi Hana. Beruntung sekali Hana. Apa keberuntungan semacam ini hanya menyasar bagi mereka yang cantik? Batin Risma.


Risma melempar pandangannya ke bawah, kala sadar Andre sudah terlebih dahulu memutus kontak dengannya. Ia diam dan pelan-pelan mencerna apa yang baru saja Andre ucapkan. Ia jadi merasa jahat berlaku seperti ini pada Hana, karena yang ia permasalahkan adalah hal yang terjadi pada Hana sebelum ia mengenalnya. Setelah keduanya saling mengenal, memang benar Hana tak pernah mendatangakan kesulitan untuknya bahkan membebaskan Risma dari masalah yang tak mampu ia atasi selama ini.


“Jadi Risma mau pulang?” tanya Andre dengan suara rendah.


Risma menyadarkan dengan paksa dirinya dari dalam lamunannya. Ia mengangkat wajahnya dan mengangguk setelah pandangannya dengan Andre bertemu sesaat.


“Terus aku?” tanya Hana sambil menegakkan tubuhnya.


“Kalau Risma masih ingin sendiri kamu di sini saja. Aku bisa menyiapkan kamar lain jika kamu keberatan di sini bersamaku.”


“Andre sepertinya masih butuh kamu Han,” imbuh Risma tiba-tiba.

__ADS_1


Hana menyerah. Sepertinya ia memang tak bisa pulang bersama Risma sekarang.


“Oke. Risma duduk saja dulu, biar aku hubungi sopir yang akan mengantarkanmu pulang,” putus Andre.


“Nggak usah repot-repot,” tolak Risma.


“Aku tidak repot, hanya saja aku tak mau Hana sedih kalau sampai membiarkanmu pulang sendiri.”


Risma tersenyum kecut. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di sofa nyaman di rumah Andre. Ia terpaksa harus menyaksikan bagaimana Andre begitu posesif terhadap Hana. Tak salah memang. Dibalik keruwetan hidup Hana, dia punya semua standard kecantikan wanita. Tak hanya cantik, ia juga anggun dan pandai membawa diri.


Hana punya kulit yang putih bersih, rambutnya panjang dan berkilau meski warna coklatnya diperoleh dari pewarnaan, tubuhnya tinggi dan ramping, kakinya jenjang, bentuk pinggul dan pinggang yang proporsional dan bagian dadanya cukup besar meski hampir tak ada tumpukan lemak di tubuhnya. Risma tak tahu saja jika Hana memperoleh ukuran dada ini karena ia sempat mengandung sebelumnya. Kerena meskipun usia janinnya masih muda, namun beberapa bagian tubuhnya sudah membesar termasuk di bagian dada.


“Sopir sudah siap, dan sedang dalam perjalanan ke sini untuk menjemput kamu,” ujar Andre pada Risma.


Risma dan Hana berdiri serempak dan mereka saling memeluk kemudian.


“Maafin aku ya…”


“Kamu nggak punya salah sama aku Han. Sekarang kamu di sini dulu, kalau Andre sudah sembuh dan kamu ingin kembali ke kosan kecilku ya datang saja,” ujar Risma seakan ia dan Hana tak baru saja adu otot mempertahankan pendapatnya masing-masing.


Mendengar ucapan Risma Hana segera melonggarkan pelukannya. “Apa masih boleh?”


“Tentu saja boleh.”


“Terus masalah ini?” tanya Hana dengan sedikit cemas.


“Tenang saja, aku bisa diam terkait semua ini.”


“Makasih banyak Ma.” Hana menunduk untuk kembali mendekap erat tubuh berisi Risma. Dan setelah sopir yang Andre katakan datang, Risma segera pulang kemudian.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2