
Adakah di sini pasangan yang sudah lama menikah tapi belum dikasih momongan juga?
HAPPY READING
Andre membawa segelas kopi dan meletakkannya di depan Dika.
“Are you okay Boss?”
“Thanks for the coffe,” ujar Dika tanpa balas menatap Andre. Ia sengaja tak merespon pertanyaan sekertarisnya ini
Andre meminum kopi yang juga dia buat untuknya, da menyandarkan tubuhnya di meja. Tanpa bertanya sebenarnya Andre sudah tahu ada yang tidak beres dengan bosnya, tapi ia hanya ingin memastikan dengan bertanya.
“Kemarin pacar baru?”
Andre tak bisa mengangkat gelasnya lebih tinggi. Ia urung menyeruput kopinya dan ganti menelan ludahnya.
“Bukan. Ada masalah?”
Dika mendorong laptopnya dan mendongak menatap Andre yang berdiri tak jauh darinya.
“Rina sempet mikir kalau itu Raihana, ternyata Hana yang lain.”
Dika meraih cangkir yang tadi Andre bawakan untuknya. Ia sempat meniup di permukaan sebelum menyeruputnya pelan.
Andre tak menaggapi. Ia lebih memilih menikmati kopi di tangannya. Dia memang Raihana, hanya versi asli tanpa polesan tanpa tatanan rambut yang rapi dan pakaian formal yang membuatnya tampak tua. Tak heran kenapa begitu banyak wanita yang tak bisa berpisah dari make up, karena dengan benda-benda itu mereka bisa merubah penampilan dengan mudah.
“Dia special?” tanya Dika sekali lagi.
Andre menggidikkan bahunya. “Kenapa Pak Restu kali ini mendadak kepo. Apa karena dorongan dari Ibu Rina untuk mengorek informasi langsung dari saya?” ada nada mengejek dalam ucapan Andre, namun Dika tak begitu mempermasalahkannya.
“Iya. Karena Dian mendadak menjadi komika dadakan tadi malam.”
Andre tertawa kecil. Ia membayangkan wajah DIan yang selalu ceria. Menjadikan kekecewaan sebagai candaan, gemar tertawa apapun kondisinya. ”Dia memang selalu seperti itu?”
“Apa maksud tatapan itu? Masih belum move on?” tebak Dika.
Andre menghela nafas. “Untuk dapat mempertahankan posisi, saya harus mengesampingkan semua urusan dan menomor satukan pekerjaan.”
“Aku merasa memerankan tokoh yang kejam sekarang,” ujar Dika.
__ADS_1
“Iya. Dan aku menikmatinya.” Andre menegakkan tubuhnya. “Sudah lah, yang penting saya bahagia dengan apa yang saya jalani sekarang.”
“Tapi sesekali memikirkan dirimu itu juga perlu,” ujar Dika dengan wajah seriusnya.
“Baik lah Pak Restu. Saya hanya ingin anda tahu, butuh waktu lama agar anda yakin terhadap saya, jadi saya tak mau melepaskan begitu saja apa yang sudah saya perjuangkan dengan susah payah. Jadi biarkan saya tetap di sini hingga saya benar-benar melambaikan tangan.”
“Aku tidak menyuruhmu berhenti Ndre.”
“Saya tahu Pak. Tapi menjadi wajah kedua di Surya Group itu menyenangkan. Percayalah.”
Dika menghela nafas. “Baiklah. Mari bekarya. Buat dunia bertekuk lutut pada kita.”
Setelah perbincangan itu, Andre dan Dika mulai serius merancang pengembangan perusahaan. Mereka menelisik setiap sector yang belum tersentuh Surya dan mempertimbangkan mana yang akan mereka gapai kemudian. Menetukan jenis, strategi untuk membangunnya. Memperkirakan keuntungan yang mungkin mereka dapat, dan menganalisa kesulitan yang harus mereka pertimbangkan.
Cabang perusahaan yang dipimpin Rina juga mengalami perkembangan yang signifikan. Pemasarannya sudah menjangkau beberapa kota, dan terus melakukan perluasan jaringan.
“Ini sudah malam, anda tidak berencana bermalam di sini kan?” tanya Andre saat melihat Dika yang masih sibuk dengan laptopnya.
“May be?” gumam Dika tanpa menatap Andre.
Andre mengernyit. Ada yang tidak beres ini sepertinya. Dika selalu berusaha pulang cepat untuk menemui Rina, tapi kenapa sekarang mendadak ogah-ogahan?
Andre tak menjawab. Ia justru melepas jasnya dan berbaring di sofa. Ia meraih ponsel dan menghubungi nomor apartemennya. Nada tunggu terdengar nyaring, namun belum ada sahutan di seberang sana.
“Apa kamu berniat menemaniku?” tanya Dika saat melihat Andre yang bersantai sambil mengotak-atik ponselnya.
“Sebagai sekertaris yang baik, saya hanya ingin memastikan kondisi CEO juga dalam keadaan baik,” jawab Andre saat sejenak mengalihkan perhatian dari ponselnya.
“Ck. Gayamu. Berbicaralah seperti itu kalau kau sudah membereskan hidupmu sendiri yang cukup berantakan.”
Andre tertawa mendengar ucapan Dika. Ia kembali mengalihkan perhatian pada ponselnya dan kembali mencoba
menghubungi nomor yang sama. “Kemana sih. Masa iya dia sudah tidur,” gumam Andre lirih sekali.
Ia tertawa kecil saat mengingat bagaimana ia menemukan Hana tadi pagi. Kamu lucu sekali. Aku jadi ingin melihatmu yang sedang tidur sekali lagi.
Bbrrgg!!
Brugh!!
__ADS_1
“Ya Tuhan, bokongku…”
Dika hanya menatap kekonyolan sekertarisnya dengan wajah kaku. Ia tak ingin tertawa meskipun semua terlihat
lucu.
“Ini kan sudah sudah bukan jam kerja. Kenapa anda menyuguhi saya kertas segini banyaknya!”
Barusan Andre jatuh karena Dika meletakkan setumpuk kertas di depan sekertarisnya ini dengan kasar. Ia membanting begitu saja tanpa mempertimbangkan bagaimana jika sekertarisnya ini sampai terkejut. Dan benar saja, Andre langsung jatuh dari sofa karena Dika berhasil mengejutkannya.
“Untuk apa kamu di sini kalau cuma rebahan di atas sofa. Lebih baik aku memberimu pekerjaan agar keberadaanmu di sini lebih berguna.”
Cepat-cepat Andre bangkit dari sofa dan beridiri tegap di hadapan bosnya. “Pak Restu, sama mau permisi pulang,
istri saya sudah menunggu di rumah.”
Dika membulatkan mata. Baru saja hendak melempar asbak, Andre sudah terlebih dahulu berlari menyelamatkan diri.
Dika meletakkan kembali asbak yang hendak ia lempar. Ia duduk di sofa tempat Andre sebelumnya. Ia merenungi
nasibnya kini. Bagaimana kondisi Rina sekarang, apa ia baik-baik saja? Sejak pulang tadi ia sama sekali tak menghubungi Rina, dan Rina pun sama. Ia sama sekali tak menghubungi suaminya bahkan hingga selarut ini.
Apa Dika terlalu egois jika ingin Rina menghubunginya terlebih dahulu, menghiburnya sebagaimana yang selalu Dika lakukan saat istrinya lemah.
***
Rina masih mengurung diri di kamar sejak tiba di rumah tadi. Tak ada yang berani mendekat karena Rina meminta pada semua orang di rumahnya untuk tak mengganggunya. Bahkan jika ada tamu pun Rina tak bersedia menemuinya.
Apa mungkin Dika akan meninggakanku jika aku tak dapat memberinya keturunan segera.dia memang tak mengatakan langsung masalah ini, tapi cukup dengan sorot mata menatap raut wajahnya saja aku tahu kalau dia benar-benar kecewa.
*Aku sadar, aku sangat sadar betapa aku egois selama ini. Aku mengorbankan perasaannya hanya agar memiliki pencapaian yang membuatku layak di mata orang. Tapi semua itu taka da artinya dibanding dengan kebahagiaanku bersama kamu. *
Rina tak menahan apapun dalam dirinya. Ia menangis mengeluarkan sesak di dalam dada. Ia ingin Dika datang mendekapnya dan berkata hal ini tak akan merubah perasaannya berubah pada Rina. Tapi sayangnya ini adalah masalah kesekian yang timbul akibat keegoisan Rina, sehingga ia tak berani banyak berharap bahwa Dika akan tetap memaafkannya dengan mudah seperti sebelumnya. Sesabar apapun Dika, dia tetaplah manusia yang memiliki batas atas kesabarannya.
Rina lelah menangis. Ia bangkit untuk menemukan ponselnya yang tak disentuh sejak tadi. Ada banyak pesan dan
panggilan yang masuk sejak siang, namun yang membuat dada Rina makin nyeri adalah tak ada satu pun nama suaminya yang muncul di sana.
Air mata yang belum sempat berhenti mengalir kembali turun dengan derasnya. Rina benar-benar kecewa pada dirinya. Lebih sakit lagi saat ia tak bisa menemukan orang lain untuk turut disalahkan dalam masalah ini. Semua murni salahnya, semua murni karena keegoisannya. Sehingga ia dan Dika harus menanggung akibat ini berdua.
__ADS_1
Bersambung…