Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Mungkinkah? Mungkin


__ADS_3

HAPPY READING


Marshal bisa bernafas lega saat akhirnya gadis yang yang dikirim mamanya sudah pergi dari sana. Mamanya punya hobi baru sekarang, yaitu mengatur jadwal kencan buta untuk anak sulungnya. Ia sangat ingin Marshal menikah dengan segera karena Maria Sastra sang adik baru saja dilamar kekasihnya. Hal ini membuat mamanya panik karena jika sampai Marshal dilangkahi ia takut anaknya ini akan jadi perjaka tua dan sulit dapat pasangan selamanya.


Marshal kini masih bertahan di Planet Caffe karena Ia harus menggantikan David untuk bertemu dengan pemenang kontes menulis yang paltformnya adakan. Jika kebanyakan hadiah diberikan berupa uang, kali ini platform miliknya memberikan resolusi bahwa hadiah yang diberikan berupa kontrak terhadap karya dari pemenang yang telah ditetapkan. Dengan hadiah yang demikian, Marshal berharap ia dapat menemukan penulias yang mengutamakan sebuah karya tidak hanya sebatas ada yang baca.


Selapas David terlfon, sekarang sudah berjalan hampir setengah jam. Namun hingga sekarang, Marshal sama sekali belum mendapat tanda-tanda bahwa yang ia tunggu akan segera tiba.


Marshal menatap jam dan mulai merasa tak sabar. Ia tidak suka menghabiskan wantu untuk hal yang sia-sia. Ia memang tipe orang yang sangat menghargai waktu. Ia paling tidak suka dengan orang yang tak disiplin. Untung saja sekarang ada hal yang membuat merasa keberadaannya tak sepenuhnya sia-sia. Seorang wanita yang pada pertemuan pertama langsung berhasil singgah di ingatannya beberapa hari yang lalu kini sedang duduk manis tak jauh darinya. Sayang pertemuan pertama mereka jauh dari kesan baik sehingga Marshal merasa enggan untuk menghampiri, jika tidak mungkin sekarang mereka sedang ngobrol bersama.


Saat tengah asik memandangi keindahan ciptaan Tuhan, tiba-tiba Marshal mendengar dering yang berasal dari ponselnya. Ia segera menggeser tombol hijau saat tahu David adalah orang yang tengah menelfonnya.


“Sudah hampir setengah jam, dan sepertinya aku menyesal tak menuruti usulanmu untuk mengganti pemenangnya,” ujar Marshal saat baru saja menyambungkan panggilan David di ponselnya.


“Memangnya kenapa?” tanya David di seberang sana.


“Sampai sekarang orangnya belum datang,” jawab Marshal dengan nada tak senang.


“Loh, dia sudah datang dari sebelum jam 3.” Sedikit terkejut David mendengar yang Marshal ucapkan.


“Masa? Kenapa nggak nyamperin aku?”


“Apa kamu sudah menghubungi dia?” David kembali bertanya.


“Belum.”


“Hmm, pantes. Dia dateng pun nggak bakal nyamperin elu, orang dia udah nggak tahu nomor elu, muke elu dia juga nggak tahu.”


Marshal memijat pelipisnya. “Ya udah, kirim kontaknya.”


“Udah gua kirim. Makanya kalau ada WA itu dibaca,” kesal David pada Marshal dari seberang sana.


Marshal memutus panggilannya tanpa salam terlebih dahulu. Ia segera membuka pesan David yang memang belum sempat dibacanya. Memang di sana ada sebuah pesan berupa kontak tanpa ada kata pengantar.


Tanpa menunggu lebih lama, Marshal segera mendialnya nomor yang David kirimkan. Marshal menempelkan ponselnya di telinga disusul dengan pandangan yang ia edarkan keberbagai penjuru caffe. Meski ia belum menemukan sesuau yang dicarinya, pandangannya justru kembali terpaku pada wanita cantik berkaos abu-abu.


Marshal menajamkan pandangannya saat tiba-tiba wanita itu seperti mendapat sesuatu di ponselnya. Kenapa kebetulan sekali? Saat aku menghubungi seseorang, kenapa ia juga sepertinya sedang menerima panggilan? Batin Marshal.


“I, iya halo,,,” Marshal tergagap kala baru sadar bahwa panggilannya sudah terjawab. Ia terlalu focus pada objek cantik yang sejak tadi menyita perhatiannya hingga tak sadar kalau panggilannya telah tersambung sejak tadi.

__ADS_1


“Halo, saya Black Pearl penulis Embun Senja…”


Telinganya mendengarkan namun matanya masih terpaku. Dan kini Marshal membeku. Mungkinkah?


“Halo, halo…” suara perempuan ini kembali memanggil-manggil beberapa kali.


“Ekhm...” Marshal berdehem untuk meredakan kegugupannya. “Kamu sekarang dimana?” tanyanya kemudian.


“Saya di Planet caffe.”


“Kamu duduk di mana?”


“Saya duduk di…”


Perempuan yang sedang Marshal hubungi ini tampak bingung mencari apa pun yang bisa ia jadikan kompas keberadaannya.


“Apa kamu wanita dengan rambut coklat dan mengenakan kaos panjang berwarna abu-abu?” tanya Marshal to the point.


“Nah iya. Tepat sekali. Anda di mana, biar saya ke tempat Anda,” ujar wanita ini riang gembira.


Marshal tak menjawab. Ia bangkit dari tempatnya dan berjalan menghampiri Hana. “Saya di belakang kamu…”


“Apa Anda editor Newrite?” tanya Hana pada Marshal yang sejak kemunculannya hanya diam saja.


Alih-alih menjawab Marshal justru mengulurkan tangannya.


“Saya Marshal. Senang berjumpa lagi…” ujar Marshal dengan tatapan yang tak pernah putus sejak tadi.


Hana meringis. Dengan sedikit segan, ia menjabat tangan itu. Berjumpa apanya, perasaan ini masih pertemuan pertama, batin Hana. Dan setelah cukup berjabat tangan, Hana segera mempersilahkan Marshal untuk duduk di meja yang sama dengannya.


“Dan nama anda siapa?” tanya Marshal segan.


“Nama saya Hana,” jawab Hana. Saat berjabat tangan ia lupa menyebutkan nama karena sibuk memikirkan ucapan Marshal yang merasa sudah pernah bertemu dengannya.


Keduanya diam. Jujur Hana tak nyaman saat pria bernama Marshal ini hanya diam dan dengan terang-terangan terus menatapnya. Ia ingin berbicara tapi ia tak tahu topic apa yang harus ia pakai untuk saat ini.


Marshal juga enggan membuka suara, karena jika ia segera mulai maka pembahasan akan lebih cepat selesai. Jika semua sudah selesai maka Marshal yakin jika wanita ini pasti akan segera pergi. Jika wanita ini pergi, maka pertemuan ini akan berakhir begiru saja.


“Ehm… mengenai tulisan saya, apa perlu ada yang diperbaiki?” tanya Hana memulai perbincangannya.

__ADS_1


Marshal menggeleng. “Berdasarkan track record kamu, sepertinya itu tulisan pertama, tapi kenapa bisa sebagus itu?” ujar Marshal sungguh-sungguh menanggapi.


“Mungkin hanya kebetulan. Selama ini saya memang suka membaca dan baru kali ini memberanikan diri membuat karya,” bohong Hana. Pasalnya ia benar-benar tak ingin mengungkap identitas lamanya yang sebenarnya sudah punya nama.


“Selain cerpen Embun Senja, apa masih ada karya lain yang kamu miliki?” tanya Marshal akhirnya.


“Ada, tapi masih dalam bentuk outline.”


Marshal mengernyit. Baru pertama menulis kenapa sudah paham outline, batin Marshal.


“Apa kamu ada salinannya?” tanya Marshal.


“Emm, di laptop semua dan sekarang saya tidak bawa.”


Marshal menghela nafas. “Ya sudah, lain kali saja.”


Keduanya mulai berbincang mengenai seluk beluk dunia literasi yang di sini Hana lebih banyak mendengarkan. Dia memang benar-benar ingin dianggap amatir dalam menulis  namun mahir dalam membaca. Jadi semua ucapannya berdasarkan pada sudut pandang seorang pembaca


Saking asiknya mengobrol, Hana hingga tak sadar bahwa ponselnya beberapa kali bergetar. Andre yang sedang menghubunginya pun jadi gusar. Jika sudah begini, ia tak mungkin bisa lanjut bekerja dan mencari Hana merupakan solusinya.


“Riza, tolong kirimkan semua pekerjaan saya via e-mail. Terutama yang harus mendapat taken pak Restu sebelum besok pagi.”


“Baik Pak…”


Andre pergi begitu saja. Jas tak terkancing dengan sempurna, membuat ia sepertinya tak baik-baik saja.


“Pst…” Rahma beringsut ke tengah Elis dan Riza. “Itu tadi kenapa?” tanya Rahma penasaran.


“Dengan sendiri kan? Beliau hanya memberikan pekerjaan tanpa memberikan alasan kenapa tiba-tiba pulang,” jawab Riza lugas.


“Gara-gara Hana nggak ya?”


“KEPO!”


Rahma mundur mendengar teriakan kompak Elis dan Riza. Ia merasa harus kembali ke tempatnya sebelum benar-benar diterkam oleh kedua rekan kerjanya.


Sementara itu Elis tak sepenuhnya acuh tentang hal ini. Ia sangat peduli sebenarnya, namun ia merasa kepeduliannya tak mungkin ia ungkapkan dengan sembarangan. Hatinya belum menyerah perihal Andre karena ia sudah memupuk rasa ini jauh sebelum Hana ada. Ia sempat ingin menyerah saat Andre tak segan menunjukkan cintanya pada Hana. Ia juga semula merasa beruntung karena yang dicintai Andre itu Hana bukan dia kala melihat Hana harus meneteskan air mata.


Namun setelah Elis dengan baik-baik memikirkan semuanya, ia merasa saat ini belum waktunya. Belum ada ikatan pasti antara Andre dan Hana dalam hubungan. Sehingga kisah mereka masih bisa berakhir kapan saja.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2