
HAPPY READING
“Ya ampun senengnya…”
Rina dan Dika hanya tersenyum menanggapi ucapan Dian.
“Makan yang banyak biar calon keponakan sehat,” ujar Dian lagi sambil mengambil sayur dan meletakkan di piring Rina.
“Makasih Tante Dian. Btw kalian kapan nyusul?”
“Uhuk…”
Semua serempak menatap Ken.
“Uhuk, uhuk, uhuk…” Semula Ken hendak meringis, tapi batuknya malah muncul lagi. Entah mengapa celetuk Rina berhasil membuat air yang seharusnya masuk ke kerongkongan kini justru nyasar ke saluran pernafasan, sehingga membuat Ken harus terbatuk-batuk dengan tidak keren seperti ini. Kulit yang semula putih pucat itu memerah seketika karena batuk yang tak kunjung mereda.
Sementara itu, Rina yang merasa menjadi penyebab hanya menatap suaminya sebelum kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Udah, udah… Nih minum…”
Dian dengan telaten mengusap-usap dan sesekali menepuk punggung Ken untuk membantu kekasihnya ini meredakan batuknya.
“Fuhhh, fhhh… Sorry ya,” ujar Ken tak enak karena merasa telah merusak suasana.
Dika dan Rina sejenak saling menatap sebelum keduanya serempak menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa,” ujar pasangan suami istri ini bersamaan tanpa aba-aba.
“Makan lagi,” ujar Ken mempersilahkan.
Keempat orang ini kemudian melanjutkan makan. Mereka hanya bicara sesekali namun bukan mengobrol seperti tadi.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Andre?”
Dian tak tahan untuk tak segera menanyakan hal ini. Ia yang semula menatap pasangan Dika dan Rina, kini beralih menatap lekat kekasihnya. Ia yakin Ken tahu sesuatu sehingga makanya pria bertubuh tinggi ini juga menjadi sasarannya.
“Ken, kamu nggak lagi berfikir aku masih ada hati sama Andre kan?” tanya Dian saat sadar tatapan Ken saat ini terasa begitu tak nyaman.
Ken menghela nafas dan membuang tatapannya. Ia yang biasanya slengekan kini wajahnya mendadak tegang. Ken yang seperti ini sudah biasa untuk Dika. Ia selalu bertemu Ken dalam keadaan serius, sehingga justru merasa aneh saat tahu sifat asli Ken yang slengekan. Berbeda dengan Rina. Ia yang beberapa kali bertemu Ken di luar lingkungan kerja sehingga ia justru merasa aneh saat melihat wajah serius Ken.
“Yes I know, kamu nggak mungkin nerima lamaranku kalau kamu masih menyimpan laki-laki lain di hatimu, tapi Di… Andre itu mantan kamu,” ujar Andre yang tak mampu menutupi kecemburuannya.
Rina membulatkan mata, namun kata-kata yang sangat gatal ingin diucapkannya itu segera ia telan. Wah, ternyata udah main lamar-lamar saja ini orang dua. Batin Rina.
“Ya terus? Kamu mau marah hanya karena aku begitu penasaran dengan kabar Andre? Ini kan bukan rahasia, bahkan sepertinya kalian bertiga sudah tahu semua,” protes Dian.
Ken menghela nafas. Ia menggesek-gesekkan telapak tangannya di atas paha dan menatap Dian dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku hanya tak sengaja tahu cerita awalnya saja, mungkin akan lebih lengkap kalau Rina dan Restu saja yang cerita…” jujur Ken akhirnya.
Ken merasa obvious saat harus menyebut nama Dika. Ia memang tak cukup akrab dengan Dika. Sebelumnya ia selalu bertemu dalam suasana kerja, dan mengenal Dika dengan nama Restu, namun ketika masuk dalam link pertemanan melalui Dian, ternyata semua menganggilnya Dika.
__ADS_1
Rina menatap Dika untuk minta pertimbangan. Ia kembali menatap pasangan Ken dan Dian setelah merasa Dika persilahkan untuk berbicara.
“Aku yang cerita saja ya,” ucap Rina akhirnya.
“Iya. Jangan bikin aku tambah penasaran,” kata Dian.
Rina menghela nafas. “Hana hamil.”
“Apa?!” kaget Dian dengan mata membulat sempurna. Dengan tangan yang menutup mulutnya yang terbuka, ia menatap masing-masing orang di hadapannya.
Rina mengangguk sementara dua pria di sana tak bereaksi apa-apa.
“Sama Andre?” tanya Dian dengan suara yang lebih rendah.
“Iyalah, siapa lagi."
Dua bersahabat ini saling menatap, sebelum Rina memutuskan kontak dan beralih menatap Dika lagi.
“Cerita aja,” ujar Dika yang paham maksud tatapan istrinya.
“Tapi sekarang Hana keguguran,” ujar Rina to the point.
“Apa?”
Jika tadi Dian terkejut mendengar Andre menghamili Hana, kini Ken yang terkejut saat tahu Hana sudah kehilangan bayinya.
Double kaget dirasakan Dian. Dia tidak pernah expect kalau reaksi Ken akan seperti ini.
“Kok kamu marah sih, jangan-jangan kamu ada hubungan sama Hana, iya?" tuduh Dian. "Aku emang nggak pernah respect sama Hana dari awal emang,” lanjut Dian dengan wajah tak suka.
“Kenapa. Kamu merasa lebih baik dari Hana?” sarkas Ken.
"Of course. I'm absolutely better than her."
"Okey..." Ken menghela nafas untuk meredam emosinya. Aku tak tahu fakta Hana, yang aku tahu adalah fakta tentangmu yang kudapatkan dan kumiliki secara utuh. "Yang jelas aku tak ada hubungan dengan Hana. Aku hanya kasihan dengan dia."
“Terus kamu kenapa juga sampai mengumpat saat tahu Hana kehilangan bayinya?” protes Dian.
“Karena Andre nggak bertanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuatnya. Aku cuma kasihan sama Hana.”
“Itu kan hidup mereka, kenapa kamu harus tak terima?!”
Rina hanya mampu menyenggol suaminya. “Kok jadi gini?” lirihnya.
Dika hanya menggidikkan bahu dengan alis terangkat tanda tak tahu. Rina jadi bingung sendiri melihat pasangan baru ini harus bertengkar di hadapan mereka. Padahal baru saja ia memuji bahwa Ken dan Dian ini manis sekali.
“Ehm…”
__ADS_1
Beruntung power Dika sebagai pengusaha muda dengan pengaruh besar di roda perekonomian Indonesia masih bisa diandalkan di saat seperti ini. Buktinya hanya dengan sekali berdehem, adu mulut antara Dian dan Ken bisa diredakan.
“Sepertinya ada yang perlu diluruskan di sini,” ujar Dika dengan nada tegasnya.
Pasangan kekasih ini hanya diam sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
“Ken, aku mau tanya sama kamu, dari mana kamu tahu kalau Hana hamil?” tanya Dika.
“Aku tahu bahkan sebelum Andre tahu kalau Hana sedang mangandung anaknya,” jujur Ken.
Dian kembali melayangkan tatapan tak percaya. “Oh. Jangan-jangan kamu…”
“Ehm..., saya harap kamu tak buru-buru menarik kesimpulan jika informasi yang kamu dapatkan belum cukup lengkap.”
Rina menyandarkan punggungnya. Jika suaminya sudah seperti ini, jarang yang bisa menimpali. Dan terbukti. Dian langsung kicep saat ini.
“Ken, tolong jelaskan dari mana kamu tahu semua ini?” tanya Dika dengan penuh ketenangan dan wibawa yang melekat padanya.
Ken mulai menceritakan bagaimana ia tak sengaja bertemu Hana yang duduk seorang diri di pinggir jalan di bawah teriknya matahari tempo hari. Awalnya ia merasa aneh, karena jika ingin istirahat kenapa Hana tak mencari tempat yang teduh tapi malah di tempat yang terkena sinar mata hari secara langsung seperti ini.
Kemudian saat Ken menghampiri, tiba-tiba Hana pingsan saat Ken belum juga menjangkaunya.
“Tunggu-tunggu. Itu hari apa?” tanya Dika seakan ingat sesuatu.
“Itu hari dimana aku mau berangkat ke Beijing…”
Dian memicingkan mata. “Kok kamu nggak cerita kalau ada kejadian semacam itu?”
“Ya ini kan aib sayang. Mana mungkin aku seenaknya menceritakan aib orang.”
Rina tersenyum. Dengan campur tangan kecil suaminya, Dian dan Ken yang semula bertengkar sepertinya dengan mudah melupakan perselisihan diantara mereka.
“Terus sekarang gimana ceritanya Hana bisa kehilangan anaknya? Aku menampik keras anggapan jika Andre adalah brengsek yang tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi sekarang…”
Dika menghela nafas. Ia menggerakkan tangannya saat melihat Rina hendak bersuara. Ini susah. Aku harus hati-hati karena Andre adalah mantan Dian, dimana Ken sepertinya masih memendam cemburu pada Andre karena hal ini.
“Sebenarnya gimana sih, jangan bikin penasaran deh,” desak Dian.
“Its to complicated. Aku bingung kudu mulai dari mana.”
Meskipun di cegah, Rina tak bisa lagi menahan kata-katanya. Ken dan Dian pun dibuat penasaran dengan hal ini.
“Ruwet ya?” tanya Dian yang nada tingginya entah sudah terhempas ke mana.
“Coba telfon Andre sayang, aku juga penasaran keadaan Hana. Dia sudah sadar belum ya?”
Mendengar perkataan Rina, tanpa sadar Ken dan Dian saling menggenggam tangan.
__ADS_1
Bersambung…