
...*HAPPY READING*...
"Sebelum saya berbicara apakah ada yang ingin kamu katakan nona Raihana?"
Suasana mendadak mencekam. Semua suara tercekat di tenggorokan. Bahkan helaan nafas pun jika bisa akan ditahan.
Darah muda Dika mendidih, melihat orang yang dicintainya diusik.
Brak!
"KATAKAN!"
Dika hanya meneriaki Hana, namun semua seakan sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.
Jelas sekali tangan Hana gemetar, namun ia masih berusaha mengangkat wajahnya.
Hana tersenyum remeh pada Dika. Pintar sekali wanita ini menyembunyikan ketakutannya. Ya meskipun jadinya tidak menyeramkan tapi malah lucu, namun harus diakui wanita ini sangat berani.
"Kamu pikir kamu menang seperti ini? Tidak!"
Suara Hana terdengar stabil, meskipun bibirnya terlihat bergetar.
Dika masih menatap Hana dengan wajah datarnya. Ia tak marah tak juga iba.
"Aku yakin karirmu akan hancur sebentar lagi. Orang diluar sana tak buta, melihat anda memperlakukan wanita seperti ini."
Hana berusaha membalikkan keadaan. Saat melihat Dika tak bereaksi, dia mulai berani mengangkat wajah lebih tinggi.
"Dan wanita bodoh di Samping mu itu bisa apa. Tak ada yang bisa dia perbuat selain bersolek dan menghabiskan uangmu."
Tatapan Dika menajam. Hana ini hebat sekali. Ia masih berani membalas tatapan itu di saat semua orang memilih untuk menundukkan kepala.
"Harusnya kamu sadar Dika, bukan orang seperti dia yang harusnya ada di sampingmu, tapi perempuan dengan kualifikasi tinggi yang bisa mengimbangimu. Jadi tak akan ada beban di setiap langkahmu."
Hana mengeratkan genggaman tangannya. Ia harus berusaha sekuat tenaga, sebelum Dika mencukupkan kesempatan untuknya.
" Buka mata kamu Dika. Bukan orang seperti Rina yang pantas di sampingmu. Kamu harus bersama wanita yang bisa membuatmu lebih bersinar."
"Aku merasa lebih pantas mendampingimu daripada dia. Aku jauh lebih baik dari dalam segala hal. Latar belakangku jelas, tak seperti dia yang tak tahu dari mana asalnya."
Dika tersenyum miring. Dia yang membuat Rina menjadi orang yang tak jelas, karena ia memblokir semua informasi tentang istrinya. Dan ternyata Hana yang meresa dirinya pintar, tak mampu menembus pertahanan Dika.
Dika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Saya rasa sudah cukup ya."
"Pak Andre."
Hana mendadak gugup saat Andre melangkah dan berhenti disampingnya.
"Biar Andre yang memperjelas siapa diri anda sebenarnya," imbuh Dika.
__ADS_1
Dika kembali menyandarkan tubuhnya dan meraih tangan Rina untuk di genggamnya.
"Nona Raihana, merupakan anak dari Galih Rahardja dari istri sirinya yang bernama Wuriana. Merupakan lulusan terbaik jurusan sekretaris di universitas ternama, dan berhasil masuk di Surya Group tak lama setelah diwisuda. Track record selama bekerja cukup bagus, namun beberapa kali mencoba membocorkan data perusahaan, menggelapkan sejumlah dana, melakukan tindakan tidak menyenangkan kepada sesama karyawan, dan mengganggu privasi CEO Surya Group beberapa waktu terakhir. Dan terakhir berusaha mencemarkan nama baik istri CEO. "
Andre menurunkan tab yang semula di pegangnya.
" Semua yang dilakukan oleh nona Raihana, sudah cukup untuk menjebloskannya ke penjara."
Mata Hana membulat. Ia tahu ia akan hancur, tapi entah mengapa penjara tak pernah terlintas di pikirannya.
Rina menarik-narik kemeja Dika.
"Kenapa sayang."
"Jangan, dipenjara. Kasihan. Dia masih muda, dia juga sebenarnya pintar."
"Tapi dia menyalah gunakan kepintarannya sayang."
"Sayang, dia adiknya Rio, benar?"
Dika mengangguk.
"Kamu mau memberi kesempatan pada Rio, tapi kenapa untuk dia tidak?"
Dika tampak berfikir.
"Ehm..."
"Saya rasa cukup ya pertunjukan hari ini. Untuk permasalahan dengan Nona Hana akan kami selesaikan tidak di depan rekan-rekan media. Silahkan rekan-rekan media meliput pameran saja, bukan hal membosankan seperti ini."
Rina bernafas lega dengan keputusan suaminya.
"Tapi tunggu sebentar."
Rina memicing saat melihat ekspresi tak wajar di wajah suaminya.
"Jangan sampai lupa dengan wajah Nona Raihana. Dijadikan cover dan berita utama juga boleh. Dan satu lagi, hati-hati dengan dia."
Dika kemudian pergi dengan membawa Rina bersamanya.
"Sayang, maksudnya gimana?"
"Saya hanya memberi sanksi sosial, bukankah hal ini sudah cukup mudah."
Rina hanya mampu geleng-geleng dengan kerasnya hati Dika. Namun Bagaimana pun juga, ia sangat mencintainya.
***
Semua menunduk hormat saat Rina berjalan bersama Dika. Tak ada yang berani bersuara, apa lagi menghina.
Lalu bagaimana mereka yang sudah berkali-kali merendahkan Rina sebelum status sebenarnya terbongkar?
__ADS_1
Mereka merasa ketar-ketir dengan karir mereka di Surya Group. Surya Group adalah sebuah perusahaan besar. Cabangnya menggurita dimana-mana. Jadi akan sangat sayang jika karir mereka harus berhenti karena alasan konyol seperti ini. Namun melihat bagaimana nasib Hana sekarang, mereka tak bisa yakin jika kedepannya mereka benar-benar aman.
Rina memutuskan untuk terus berada di samping Dika, menjadi asisten pribadi dan mengambil peran sebagai istri di saat yang sama.
Saat ini Dika juga benar-benar lega, karena cita-citanya untuk membawa Rina kemana-mana akhirnya kesampaian juga.
"Sayang..."
"Hmm..."
"Kok nggak nyaman ya saat kita lewat dan nunduk semua. Berasa jadi alien di tengah lautan manusia."
"Aku gak keberatan kalau aliennya cantik kaya kamu. Aku berasa jadi Fang Leng dan kami Xiaoqi, ya nggak."
"Ih kamu. Kok bisa hafal nama mereka."
"Gimana gak hafal coba, kamu shipping mereka terus kalau mau tidur. Pake ngomel-ngomel lagi pas tahu Fang Leng di dunia nyata sudah punya istri. Ya aktor dan aktris itu juga punya kehidupan sendiri. Nggak bisa tuh kehidupan nyatanya di setting kaya drama. Bisa kacau kalau tiap ganti drama mereka juga kudu ganti pasangan. "
" Iya juga ya. Ih tapi kalau Fang Leng itu cocoknya ya sama Xiaoqi, kalau sama istrinya itu big no. Udah tinggi badannya jomplang banget, umur istrinya juga lebih tua lagi. "
Dika tertawa kecil dengan tingkah istrinya. Baper sama drama sampai dibawa ke dunia nyata. Ia kemudian membungkuk dan mensejajarkan tinggi badannya dengan Rina.
" Kamu ngapain sih? " heran Rina saat melihat Dika menatapnya dengan senyum yang menurutnya aneh dan tak biasa.
"Coba kamu ulang, pas kamu ngomentari soal Fang Leng dan istrinya?"
Rina memicingkan mata.
"Kamu punya rencana apa?"
"Enggak sayang. Aku cuma pengen kamu ngulangin aja. Soalnya aku tadi nggak konsen dengernya," elak Dika.
Rina menghela nafas.
"Soal Fang Leng?"
"Iya."
"Nama asline Hsu Tsasapak atau Bie, nama istrinya Gupgip yang umurnya lebih tua dari dia. Sebenernya Bie ini cocoknya sama Wan Peng aja. Selain lebih cantik dari istrinya, Wan Peng tingginya nggak jomplang, usianya lebih muda."
"Tapi katanya Bie ini yang dulunya suka duluan sama istrinya, bahkan kudu ngejar dulu bertahun-tahun sebelum ngedapetinnya, hwwaaaaa.....!!"
Dika benar-benar tak bisa menahan tawa. Hingga akhirnya ia memeluk istrinya dari belakang.
"Satu pelajaran penting yang bisa kita dapat dari sini adalah seseorang yang dianggap cocok oleh orang lain belum tentu sama dengan yang menjalaninya. Cinta itu tidak bisa didefinisikan, tidak bisa diidealkan, tidak bisa dipatenkan."
Rina menatap Dika yang begitu menjulang padahal sudah membungkukkan badan.
"Aku kok ngerasa aneh saat bahas Bie sama istrinya."
" Ya udah jangan dipikirin. " apalagi dibandingkan dengan kita yang tinggi badannya juga jauh beda, dan usia kamu yang lebih tua dari saya.
__ADS_1
TBC