
...*HAPPY READING* ...
"Allahumma Shalli 'Ala Muhammad Ya robbi sholli alaihi wa sallim, Allahumma Shalli 'Ala Muhammad Ya robbi sholli alaihi wa sallim...."
Semua berdiri dan bersalaman. Tentunya tak bercampur, karena sebentar lagi masuk waktu isya'.
Dika sengaja memilih menjadi yang paling akhir memberi selamat kepada Dedi. Air matanya masih berderai. Entah untuk apa, dia sendiri tak paham. Apakah untuk kebahagiaannya karena ia dan sahabatnya ini sudah satu keyakinan, atau dia malu karena ternyata Dedi lebih banyak tahu tentang islam dari pada ia yang sudah menjadi islam sejak dilahirkan.
Mereka masih berpelukan hingga terdengar adzan isya' berkumandang.
"Dika..."
Merasa dipanggil, Dika segera melepas pelukannya.
"Sepertinya kamu memang lebih cocok dipanggil Dika." Rudi terkekeh dengan ucapannya.
Sedangkan Dika hanya memamerkan gigi putihnya sambil sesekali mengusap sudut matanya.
"Dedi bisa sholat?" tanya Rudi dengan sedikit ragu.
"Bisa Om."
Sontak Rudi dan Dika menatapnya tak percaya.
Dedi tersenyum lebar. "Sepertinya jawaban saya tak sesuai dengan espektasi kalian."
Dika dan Rudi sejenak saling memandang sebelum akhirnya kembali menatap Dedi.
"Ada adzan yang harus dijawab," ucap Dedi sebelum akhirnya khusyu' mendengarkan dan menjawab setiap kalimat.
Pandangan Rudi dan Dika kembali beradu sebelum senyum lebar mengembang di wajah keduanya.
"Jadi berasa saya mualafnya..." celetuk Dika sebelum mengikuti apa yang Dedi lakukan.
Semua segera melaksanakan sholat sunnah. Pujian pun dilantunkan untuk bermunajad kepada Tuhan. Dan setelah iqomah dikumandangkan, semua pun melaksanakan sholat isya' berjamaah.
Dedi benar-benar tak mampu menahan haru. Ia kini bisa merasakan nikmatnya sujud seperti yang ia idamkan selama ini. Tak pernah disangka, jika memiliki iman nikmatnya akan sebesar ini.
Air mata itu tumpah di sujud terakhir rekaat ke-empat. Memohon kekuatan iman adalah doa yang berkali-kali ia ucapkan. Ia tahu pada sujud terakhir ini adalah waktu yang mustajab untuk memohon dan berdoa. Setelah cukup, ia duduk untuk tasyahud akhir.
Setelah salam, ia mendengar dengan khusyu dan mengikuti dzikir wirid yang dipimpin ustad Syam. Untuk bagian ini, jujur saja banyak yang ia belum mengerti, namun entah mengapa air matanya keluar sendiri mendengar kekhusyu'an semua yang ada di sana. Ia mengikuti sebisanya, namun nikmatnya sudah luar biasa.
Selepas sholat yang tertinggal di mushola hanya Santi, Dedi, Dika dan ustad Syam. Sebenarnya masih ada Rina dan Rista, namun Rista kini tengah ke toilet dan meminta Rina untuk nenemaninya.
Seluruh jama'ah lain sudah kembali pada kesibukannya masing-masing, termasuk Rudi yang harus menangani operasi darurat karena dokter yang seharusnya bertugas mengalami kecelakaan dalam perjalanan.
"Bagaimana perasaan Nak Dedi sekarang?" tanya ustad Syam.
"Alhamdulillah, saya bisa merasakan nikmatnya sujud seperti yang selama ini diam-diam saya inginkan."
"Kesibukan Nak Dedi sekarang apa?"
"Saya bekerja Ustad."
"Bekerja?"
Ustad Syam tak mampu menutupi keterkejutannya. Beliau segera mengamati penampilan Dedi. Tak terlihat bahwa ia orang yang kesusahan hingga harus bekerja di usia yang masih belia. Meskipun semua juga tahu jika dia yatim piatu.
"Apa ini tak menyalahi undang-undang?"
Dedi melebarkan senyumnya. "Undang-undang perlindungan anak atau eksploitasi anak?"
__ADS_1
"Ehm."
Dedi berdehem untuk mencegah tawanya pecah. Karena tak sopan rasanya jika harus tertawa di depan ulama yang harusnya ia hormati.
"Bahkan yang mempekerjakan saya umurnya beberapa bulan lebih muda dari saya."
"Benarkah? Pekerjaan apa yang kamu lakukan."
"Saya segan menjelaskannya Ustad, karena Bos saya ada di sini."
Ustad Syam tak paham dengan arah pandang Dedi.
"Pemuda tampan yang berpengaruh dalam pencarian saya terhadap Tuhan ini adalah Bos saya," kata Dedi sambil menatap Dika.
Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dia anak Ibu kan?"
Santi mengangguk.
"Ibu istri dokter Rudi kan?"
"Benar, jadi pemuda ini anaknya dokter Rudi," imbuh Santi untuk memperjelas fakta kepada ustad Syamsi.
"Dan sebebarnya dokter Rudi sangat mampu untuk membiayai saya, hanya saja takdir yang membuat saya harus bekerja di usia muda."
Dika mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, nama saya Restu Andika, Ustad."
Ustad Syam menerima uluran tangan itu dan Dika langsung menciumnya.
Tak lama tangan keduanya lepas.
"Khusus hari ini jangan panggil saya ustad. Karena saya malu karena begitu ingin tahu kehidupan kalian sebebarnya," ujar ustad Syam dengan senyum lebarnya.
"Ingin tahu itu sifat alami manusia Ustad, dan anda dipanggil ustad karena ilmu anda."
"Belajar ngomong gitu dari mana?"
Celetuk Dika ini berhasil membuat yang di sana tertawa.
Tiba-tiba ponsel Dika bergetar. Dia mohon diri untuk menjawab panggilannya.
"Halo Rin."
"..."
Raut wajah Dika berubah seketika. "Sekarang Rista dimana?"
Spontan Santi dan Dedi menoleh saat mendengar Dika menyebut nana adiknya dengan nada tak biasa.
"Kamu jangan panik kita ke sana."
"Rista kenapa?" serempak Dedi dan Santi.
Dika mengantongi ponselnya dan berjalan mendekat.
"Dia ngeluh perutnya sakit, terus pingsan."
"Ya Allah, terus adik kamu sekerang dimana?"
__ADS_1
"Di UGD. Kita ke sana sekarang."
Mereka berpamitan dengan ustad Syam dan segera bergegas melihat kondisi Rista.
Ketiganya tak ada yang bersuara, selain sekali bertanya dimana lokasi UGDnya. Rumah sakit ini memang besar, sehingga perlu waktu untuk bisa tiba di sana.
"Gimana Rista sekarang?" tanya Dedi yng melihat Rina duduk sendiri di depan ruang UGD.
Dika mendekat dan memeluk Rina. "Kamu tenang ya..."
Dika meraih tangan Rina yang ternyata gemetar.
"Aku takut. Dia awalnya bilang sakit perut, terus sempat mau muntah. Aku nggak nemenin dia di kamar mandi, karena aku sedang menerima telfon dari papa. Aku..."
Dika kembali memeluk Rina. Sedangkan Dedi duduk dengan kedua tangan menutup wajahnya.
Semua cemas. Santi masih berusaha menghubungi Rudi dan tak satupun panggilan yang terjawab.
"Ma, Mama tenang ya."
Dika memegang tangan Santi dan meminta duduk di sampingnya.
"Mas Rudi kenapa nggak angkat telfon sih."
"Ma, ayah sedang menangani pasien Ma. Ada nyawa yang sedang diperjuangkan sekarang."
"Tapi anaknya sekarang juga butuh ditangani. Apa dia nggak bisa memprioritaskan ini!"
Suara Santi meninggi. Tangisnya pecah seketika. Ada tanya di benak Dedi dan Rina ditengah kecemasan mereka. Apa maksud perkataan Santi tadi?
Tak lama seorang keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pasien Rista Andini?"
"Saya Mamanya."
"Apa pasien ada riwayat penyakit jantung atau asma?"
"Tidak ada," serempak Dika dan mamanya.
"Sebaiknya nona ini dirawat sementara kami melakukan perawatan dan observasi lanjutan. Tapi sebelum itu mohon Ibu mengurus administrasi."
"Lakukan saja apa yang dibutuhkan putri saya."
"Tolong lengkapi prosedur dulu Bu, ini sudah peraturan di rumah sakit ini."
Santi hilang kesabaran. "Dia anak dokter Rudi, pemilik rumah sakit ini. Kalian jangan main-main sama saya."
"Maaf Bu, jangan bercanda dalam situasi seperti ini jika ingin putri anda segera ditangani."
"Kalian..."
Dika menahan mamanya untuk terus berbicara.
"Lakukan tindakan secepatnya. Saya akan mengurus administrasi segera."
Staff dengan seragam biru itu menunjukkan Dika tempat dimana harus mengurus administrasi untuk adiknya.
Dedi dan Rina berusaha menenangkan Santi yang dilanda kecemasan luar biasa terkait kondisi putrinya.
TBC
__ADS_1