Zona Berondong

Zona Berondong
Termaafkan


__ADS_3

^^^Last chapter untuk season pertama.^^^


^^^Nantikan season keduanya ya.^^^


...*HAPPY READING*...


"Jadi game ini tak hanya menghibur dan mengolah skill bermain game saja tapi juga memperkenalkan berbagai jenis olah raga dan keseruan yang dimilikinya."


Rio mempresentasikan produknya dengan percaya diri. Sepertinya Dika juga tertarik dengan karya ini.


" Pertanyaan saya cuma satu, bagaimana masalah penggunaan ram dalam permainan ini. Jangan sampai hanya pc dengan spek tinggi saja yang bisa memainkan jenis permainan ini. Jika demikian, ini akan sangat memengaruhi pasar."


Rio masih diam. Sejujurnya hal ini juga tengah ia pertimbangkan.


" Benar juga. Melihat kualitas gerakan, resolusi dan jenis permainan, ram yang dibutuhkan pasti besar pula, " imbuh Andre.


Rio menghela nafas. Ia tersenyum menatap Dika. Ternyata kejelian kamu jauh di atas umur kamu.


"Sebenarnya sudah ada perbaikan sistem yang dilakukan, namun karena dua malam terkahir anak saya demam tinggi, jadi tak mampu saya selesaikan tepat waktu. Maafkan keterbatasan saya."


Dika diam sambil memainkan pulpen di tangannya.


"Bukan, bukan maksud saya menjadikan alasan anak sebagai jalan untuk meminta belas kasihan, namun lebih karena saya ingin menjelaskan bahwa saya juga menyadari kelemahan ini."


Dika tersenyum miring. Entah mengapa Rio yang ada di hadapan ini bisa berubah 180 derajat dari yang dikenalnya dulu.


"Silahkan kamu evaluasi, dan temui saya lagi secepatnya," potong Dika cepat saat Rio hendak kembali membuka mulutnya.


"Maksudnya?"


"Apakah satu kesempatan dari saya masih anda butuhkan?"


Rio yang sempat panik kini dapat bernafas lega. Ia sempat pesimis saat kesalahannya mampu dengan cepat dibaca oleh Dika.


"Te_tentu."


Rio hingga tergagap saking senangnya. Pasalnya ini merupakan proyek tunggal pertama yang berhasil dikeluarkan perusahaannya.


Keduanya berjabat tangan dan saat itu juga pintu terbuka. Di sana ada dua wanita cantik yang salah satunya membawa bayi di gendongannya.


"Sayang, kok tiba-tiba ke sini?" tanya Dika saat melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba.


"Iya, aku pengen bikin kejutan terus nggak sengaja di bawah ketemu sama Mbak Indah."


"Ini anak kamu?" tanya Dika pada Rio.


Rio mengambil bayi laki-laki dari gendongan Indah.


"Iya. Ini Rida, anak kami yang menjelang lahiran kamu antar ke rumah sakit."


Rina menatap Dika karena merasa Dika selama ini tak pernah memberitahunya.


"Iya kah? Hai cantik, kamu imut sekali..."


Rina mendengus saat Dika mengacuhkannya. "Kamu kok nggak pernah cerita?" tanya Rina akhirnya.


"Nggak sempat, soalnya waktu itu aku terus kecelakaan."


"Kecelakaan?!" kaget Indah dan Rio.


"Iya, dan Rina sampai nangis-nangis dikira aku mati," jawab Dika dengan tertawa.


"Ih. Ya siapa yang nggak kaget, orang baru aja ketemu, malah terus kecelakaan. Pakai nggak sadar lagi sampai pagi," jelas Rina.


"Ya Tuhan. Maafin kita ya," ucap Indah dengan tak enak.


"Bukan salah kalian," jawab Dika sambil meletakkan tangannya di bahu Rio yang sedang terlihat segan.


Dika kemudian menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan anak Rio.


"Ya Allah. Cantik sekali. Coba sini Om gendong."

__ADS_1


"Jangan. Dia baru nen, takut muntahin jas kamu," cegah Indah saat Dika ingin menggendong anaknya.


"Nggak apa-apa Mbak."


Dika mengulurkan tangannya dan tanpa di duga, ternyata bayi cantik ini menyambut tangannya.


"Nah kan, dia mau kan," ujar Dika girang.


"Sepertinya Rida sudah tahu pria tampan. Buktinya sama Dika mau padahal biasanya dia suka takut sama orang," kata Rio yang disambut tawa oleh semua yang ada di sana.


Indah merangkul Rina sambil ikut tertawa.


"Sepertinya ia akan jadi papa yang menyenangkan kalau punya anak nanti. Kalian nggak ada rencana nikah segera kah?"


Rina hanya tersenyum menanggapi pertanyaan indah. Indah merasa gemas melihat ekspresi Rina. Refleks ia pun menoel dagunya.


"Dih, malu-malu."


"Mbak..." Rina merengek dengan wajah cemberut.


"Eh, ayo makan siang bareng. Meeting udah selesaikan?" Rina baru ingat kalau tujuan sebenarnya ia ke sini adalah untuk mengajak Dika makan siang.


"Aku belum lapar Rin," kata Dika sambil bermain dengan anak Rio.


"Ih, kamu tu tadi cuma sarapan susu doang sayang..."


Tanpa mereka sadari di sana masih ada dua orang lagi, yang mana dua orang itu tak tahu jika Dika dan Rina adalah sepasang suami istri.


"Eh, ayo ke ruangan saya saja, di sana baby Rida bisa istirahat," ajak Dika saat merasa ada tatapan berbeda dari Rio dan Indah.


"Tidak perlu Pak Restu, saya tak akan mengganggu makan siang anda."


"Apa anda punya niat untuk mengganggu saya?" sarkas Dika.


"Tidak, tidak," tolak Rio cepat.


"Ya udah nggak ada masalah. Atau sebenarnya kami yang mengganggu anda?"


Rio langsung lupa kecurigaannya terhadap Dika dan Rina. Pikiran kotor yang sempat mampir langsung sirna karena pandainya Dika dalam bermain kata hingga akhirnya Rio kehilangan fokusnya.


Dua pasangan ini berjalan bersama. Sontak Dika menjadi pusat perhatian karena menggendong seorang bayi dengan memakai jas rapi. Tatapan mendamba dan mengagumi menghujani CEO muda ini.


"Rin, coba lihat deh," bisik Indah yang berjalan di samping Rina.


"Kenapa Mbak?"


"Kamu nggak khawatir Dika kegoda sama mereka?"


Rina menghela nafas. Di awal pernikahan, ia sering marah-marah perihal ini, namun akan mereda saat Dika mengusulkan untuk membongkar pernikahan mereka. Dan terbukti hingga saat ini, Dika tak pernah tergoda dengan para karyawan atau rekan bisnis yang terkadang tak segan menunjukkan ketertarikannya.


"Sayangnya aku nggak bisa ngontrol mata mereka Mbak. Kalau bisa pasti langsung aku set mode merem saat Dika lewat di depannya."


Indah kembali tertawa dengan kekonyolan Rina.


"Beneran aku nanya nih. Kalian nggak ada niat buat nikah muda gitu?" tanya Indah dengan wajah serius.


Rina hanya menatap dan tak ada niat untuk menjawab. Kita itu udah nikah Mbak. Sayang kata-kata ini diucapkan tanpa suara. Jika tak karena keinginannya sendiri, mungkin ia sudah berkata pada dunia bahwa pria tampan yang mereka damba adalah miliknya, hanya miliknya.


"Yah, Rida. Kamu kok ngompol sih..."


Spontan Indah langsung menghampiri anaknya saat mendengar Rio mengeluh.


"Ya Ampun Dika. Maaf ya. Ini nih yang aku takutin."


"Nggak apa-apa kok," jawab Dika sambil menyerahkan Rida bersama ibunya.


Indah segera membuka tas dan mengeluarkan popok serta tissu basah dari sana.


"Uh sayang. Mau pipis kok nggak bilang-bilang sih."


"Ya mana bisa Ma, Rida kan bisanya cuma nangis dan ketawa," kata Rio seolah anak bayinya yang tengah berbicara.

__ADS_1


Keluarga kecil ini terlihat bahagia. Merkipun Rio seorang pengusaha, tapi ia terlihat tak canggung membantu istrinya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dika saat mendapati raut berbeda dari istrinya.


"Enggak. Ayo aku siapin gantinya."


Sementara Rio dan Indah mengganti popok anaknya, Rina tengah membantu Dika untuk menyiapkan ganti sementara Dika membersihkan diri.


Siang ini Rio di jamu layaknya tamu. Mereka enggan makan diluar dan lebih memilih memesan makanan.


"Maaf ya, jadi double ngrepotinnya."


"Jangan sungkan," jawab Dika.


"Mbak Indah nggak makan?" kata Rina sambil menyiapkan makanan untuk Dika.


"Iya nanti gantian sama Mas Rio."


Rina tersenyum dan mengambil makanan untuk dirinya kemudian.


Saat Rio selesai makan, ternyata anaknya tak mau lepas dari sang mama, akhirnya Rio memutuskan untuk menyuapi istrinya.


"Ya ampun manisnya, aku nanti kalau udah punya anak terus anaknya rewel bakal kamu siapin juga nggak?"


"Tentu," jawab Dika sambil mengusap puncak kepala Rina.


"Kalian juga manis, dan Rina juga kayak luwes banget ngeladenin Dika. Kenapa nggak cepet nikah aja?" balas Indah.


"Emm, Mbak Indah makan yang banyak ya, biar Rida ASInya melimpah." Cepat-cepat Rina menambahkan makanan di piring yang Rio pegang.


"Untung Rin kamu peka, jadi aku nggak malu mau ambil tambah. Indah sejak hamil hingga menyusui makannya jadi banyak sekali, tapi herannya kenapa badannya juga tetep segini."


Rio segera menyuapkan makanan saat Indah hendak membuka suara. Meskipun sedikit terlambat, ia sadar pasangan di hadapannya ini sejak tadi sangat menghindari tema pernikahan. Hanya saja sepertinya Indah sama sekali tak paham.


Mereka melanjutkan makan siang dengan diselingi canda tawa bersama Rida.


"Dika, Rina. Terimakasih banyak untuk makan siangnya. Entah diterima atau tidak, saya ingin minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang saya perbuat pada kalian."


Dika sudah pernah dimintai maaf oleh Rio, jadi ia tahu bahwa kali ini permintaan maafnya adalah untuk Rina. Tepat saat Dika memandang Rina disampingnya, ternyata Rina juga tengah menoleh ke arahnya.


Dika mengangguk kecil menyerahkan keputusan pada Rina.


Dengan sedikit Ragu, Rina mengulurkan tangannya.


"Semoga ke depan hal baik terus menghampiri kita," ucap Rina yang disambut jabat tangan oleh Rio.


Setelah jabatan itu lepas, Indah segera memeluk Rina.


"Makasih Rina. Makasih kamu udah berbesar hati memaafkan suamiku."


"Sama-sama Mbak."


"Kalau gitu kami pamit dulu."


"Kenapa harus buru-buru."


"Jadwal Pak Restu hari ini sepertinya sudah banyak terganggu," kata Rio sambil menunjuk Andre yang tampak sibuk menelfon dengan sebelah tangan bergerak lincah diatas note.


Sebenarnya Dika ingin berkata tidak, namun sepertinya kenyataan tak membiarkan terjadi demikian.


Dika dan Rina mengantar Rio dan Indah menuju pintu.


"Semoga kalian bahagia," ucap Indah pada Rina.


"Terimakasih."


Pasangan suami ini meninggalkan kantor Surya Group dengan langkah ringan dan tanpa beban.


Kesalahan sudah termaafkan, lembaran baru kehidupan bersiap menunggu di depan.


Semoga bahagia, Dika dan Rina.

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2