
HAPPY READING
“Jadi kamu anak yatim sejak kecil?” tanya Eka dengan hati-hati.
Hana menghela nafas. “Ya terserah disebutnya gimana, yang jelas saya hanya dibesarkan oleh mama,” jawab Hana. Ia tak mungkin mengatakan secara langsung jika ia adalah seorang yatim karena faktanya ia masih punya Galih sebagai ayah biologisnya. Namun jika orang lain berfikir demikian sekarang, ya sudahlah.
“Lepas SMA saya merantau untuk meraih mimpi, menggadaikan waktu dengan mama untuk kuliah tanpa membebankan biayanya pada mama. Namun saat menjelang akhir masa kuliah, saya harus mendapat kenyataan buruk bahwa mama yang menjadi satu satunya keluarga yang saya punya meninggal dunia. Bahkan pemakamanpun semua diurus oleh tetangga karena saya dan mama tak punya sanak family.”
Semua mulai menatap iba, terlebih Risma yang merasa punya kedekatan emosional dengan Hana.
“Saya melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar sarjana. Berbekal nilai cumlaud dan menjadi lulusan terbaik kala itu, mengantarkan saya pada perusahaan sebesar Surya Group.”
Sampai di sini Hana bercerita, semua terlihat antusias mendengarkan. Termasuk Haning yang tak menyela atau pun mencibir apa yang Hana katakan di hadapannya.
“Teman saya yang kemarin dan yang tadi datang ke sini adalah rekan saya saat saya masih di perusahaan itu." Maaf kalian. Atasan itu bisa dikategoikan rekan kan? Lanjut Hana dalam hati.
"Setelah saya keluar, mereka merambat naik hingga memperoleh posisi yang nyaman di perusahaan saat ini, jadi tak heran kalau mereka terlihat mentereng dengan berbagai perintilan berharga mahal karena mereka juga melakukan usaha lebih untuk memperoleh semuanya,” jelas Hana.
“Memang gaji karyawan Surya berapa sih? Terus kedua
teman kamu itu jabatannya apa?” tanya Haning antusias. Haning memang unik. Sebentar-sebentar sadis, sebentar-sebentar baik.
Hana berlagak menelan ludah untuk menghalau lengkungan yang mendesak muncul di kedua susut bibirnya. Kena kan kau Haning, ujar Hana dalam hati.
“Ya saya nggak tahu Mbak gaji mereka sekarang. Orang kami baru kemarin bertemu, ya sungkan lah kalau sudah nanya gaji apa lagi asset kekayaan yang dimiliki,” elak Hana sehalus mungkin.
“Tapi kok kamu nggak segan pas dibelanjain baju, terus dikasih ponsel mahal, terus juga pas dapat kiriman makanan seperti hari ini.”
Baru saja Hana merasa berhasil memancing Haning, ternyata wanita ini masih stay dengan semua tingkahnya yang menyebalkan.
“Mereka yang mau kenapa Mbak yang repot. Lagian ini saya nggak minta Mbak tapi di kasih.”
__ADS_1
“Hi hi hi…” Eka langsung membungkam mulutnya yang dengan lancang menyemburkan tawa.
“Ini sudah kan?” tanya Eka sembari meraih box milik Hana. “Biar aku beresin,” lanjut Eka sambil mengambil box-box makanan yang sudah tandas isinya.
“Kapan-kapan kalau memang Mbak Haning mau tahu biar aku tanyain deh.” Hana masih berusaha tak memberikan perlawanan secara frontal. Ia berusaha mencari cara untuk memberi pelajaran pada Haning dengan cara sehalus mungkin.
“Eh ya jangan dong. Mending kamu kenalin saja aku sama mereka. Kan mereka mau rekrut salah satu diantara kita nih, dan aku yakin dilihat dari sudur pandang dan aspek mana pun tetap aku yang akan jadi kandidat yang paling mungkin di pilih. Kamu beneran nggak minat kan masuh di perusahaan itu lagi?”
Hana menghela nafas. Ia masih tak percaya kalau Haning sedang berusaha menjilatnya.
“Enggak Mbak. Kerja di sana capek,” jawab Hana yang ia yakini sesuai dengan apa yang ingin Haning dengar.
“Sama, kan di sini juga capek,” ujar Haning menimpali. Perusahaan ini adalah impian semua orang. Haning masih belum seratus persen percaya jika ada orang yang enggan bekerja di sana.
“Tapi di sana jjaauuuuhhhh lebih capek Mbak…” Hana tak bodoh. Ia pun berusaha meyakinkan seniornya ini.
“Ya itu bisa diterima sih, karena Surya juga tak pelit pada karyawan yang berprestasi.” Setelah sebelumnya hanya mendengarkan, Nuke mulai angkat bicara berdasarkan apa yang ia ketahui sebelumnya.
“Mbak tahu?” kaget Haning mendengar statement yang baru saja Nuke ucapkan.
“Wah, berarti kamu termasuk dalam kategori itu dong. Sharing dong Han pengalaman kamu saat kerja di sana.”
Haning sepertinya lupa dengan siapa ia berbicara ini. Ia lupa jika baru beberapa menit yang lalu ia masih berusaha menjatuhkan Hana, sekarang dengan tak tahu malunya ia menjilat seperti ini.
“Itu bahas besok saja ya, sekarang waktu sudah semakin malam dan jujur saja saya ingin sekali segera pulang dan istirahat dengan nyaman,” sela Nuke. Jika dibiarkan, Haning akan terus bicara hingga pagi. Dibalik ucapannya yang sering kali membuat orang kesal, Haning sebenarnya adalah sosok yang jujur sehingga Nuke cukup percaya padanya.
Semua memusatkan perhatiannya pada Nuke, termasuk Hana yang sempat beberapa saat menjadi pusat perhatian.
“Beberapa hari yang lalu ada undangan jamuan oleh
perusahaan Surya kepada kita, dan hari ini mereka mengabrkan kalau pertemuan ini diadakan sabtu malam jam delapan.” ujar Nuke mengawali kalimatnya.
__ADS_1
Mendengar nama Surya disebut, Haning langsung memasang telinganya selebar mungkin agar ia tak kehilangan informasi tentang perusahaan impian ini. Meskipun berdasarkan cerita Hana bekerja di Surya Group sangat melelahkan, tapi menurutnya setimpal dengan apa yang nanti akan diperoleh, seperti yang ia lihat pada dua teman Hana yang sempat muncul di tempat kerja mereka.
“Malam minggu kan biasanya toko kita akan ramai Mbak, apa lebih baik saya tidak usah ikut dan membiarkan toko ini buka?” tawar Hana.
Sungguh Hana masih sedikit memiliki trauma jika harus berurusan dengan perusahaan raksasa ini. Meskipun ia yang melakukan criminal, tapi trauma akibat melakukan hal-hal yang tak sesuai dengan hati nurani itu masih menyisakan luka.
“Ya jangan Han. Aku takut mereka akan kecewa kalau kamu tidak ada,” tolak Nuke.
“Tapi tidak ada yang menjelaskan kalau pertemuan itu harus saya hadiri,” ujar Hana masih berusaha mencari cara untuk tak datang bersama mereka.
“Iya Mbak. Kalau Hana lebih suka bekerja di toko ini akan sangat jahat kalau Mbak Nuke halangi,” kata Haning mendukung Hana.
Meskipun Hana paham dengan maksud lain yang yang ada di balik ucapan Haning, namun ia tersenyum saja karena ia butuh sosok yang mendukung penolakannya saat ini.
“Haning. Aku tahu kamu sangat ingin masuk ke perusahaan ini, tapi saya harap cukup fokus saja dengan kemampuan kamu ketimbang sibuk menyingkirkan pesaingmu.”
Jleb!
Nuke yang biasanya sabar saat menghadapi Haning, kini sepertinya mulai tersulut juga. Ucapannya berhasil menghujam hati seketika. Jika saja wajahnya sedikit santai, Eka yakin ia pasti akan langsung menyemburkan tawa. Namun sayang Nuke berbicara dengan wajah serius sekarang, jadi semua di sana tak ada yang berani menertawakan wajah Haning yang terlihat begitu lucu.
“Saya hanya owner toko kecil yang beruntung karena bisa menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan besar seperti Surya. Ini memang impian, tapi bukan berarti tak beresiko, salah satunya adalah harus merelakan karyawan terbaik jika mau mereka bidik.”
“Sekarang gini deh. Coba kalian pikir. Baru seminggu Hana di sini, penjulan sudah meledak secara bombastis, setelah itu selama dua hari berturut-turut datang teman-teman lama Hana semasa masih bekerja di perusahaan ini. Apa kalian pikir semua hanya kebetulan?”
Hana tersenyum kecut kala Nuke mengungkap isi kepalanya. Oke mbak, mereka adalah orang yang lebih lama mengenal saya ketimbang anda, tapi mereka datang bukan untuk urusan itu. Lagian tidak mungkin hanya dengan membina kerjasama dengan kita harus dilakukan sendiri oleh istri CEO dan sekertaris utama seperti Andre dan Rina. Racau Hana dalam hati.
“Benar kan Han? Coba kamu cerita pembicaraan apa yang kamu akukan saat bertemu dengan dua orang Surya kemarin dan hari ini?” desak Nuke saat Hana hanya diam. Menurutnya kediaman Hana bermakna setuju atas taksirannya.
Haning yang kepalang kecewa hanya bisa mendengarkan. Setelah Nuke mengungkap pertanyaannya, Haning juga ikut penasaran menantikan penjelasan Hana.
Glek!
__ADS_1
Hana menelan ludah. Ia juga membasahi bibirnya yang mengering untuk mengulur waktu sembari memikirkan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan Nuke di hadapan teman-temannya.
Bersambung…