Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 21+


__ADS_3

Hati-hati. Jangan sampai fokus ke judul.


HAPPY READING


“Sayang…”


“Hmm…”


"Sayang."


"Iiyaaa... Aku denger kok. Kamu ngomong aja."


Rina sejenak mendongak. Ia memang sengaja ingin menganggu suaminya. Masa iya sudah berdua seperti ini masih aja mesra sama kerjaan.


“Kira-kira gimana reaksi Hana ya kalau tahu dia keguguran?” tanya Rina akhirnya. Ia kini berbaring dan menjadikan kaki Dika sebagai bantalnya sementara suaminya masih harus terus berkutat dengan pekerjaan di ipad yang ia pegang sejak lepas magrib tadi.


Dika menghela nafas. Ia meletakkkan ipad  yang sejak tadi menjadi fokusnya dan beralih menatap istrinya.


“Kamu sendiri gimana keadaannya?” tanya Dika karena tak hanya Hana, Rina pun kondisinya naik turun semenjak hamil.


“Ini?” tanya Rina sambil memegangi perutnya.


“Iya…” jawab Dika dengan kepala mengangguk pelan.


Rina meraba perutnya sambil merasa. “Sepertinya baik-baik saja.”


“Alhamdulillah…” Dika turut meraba perut istrinya. “Kamu baik-baik sayang ya. Papa Mama nunggu kamu di sini…”


Tiba-tiba Rina menahan tangan Dika yang mengusap-usap lembut perutnya. “E tapi kok belum kerasa ya? Perut aku masih segini-segini aja, tapi berat badanku sudah naik dua kilo…” adu Rina sambil memegang tangan suaminya.


“Emm, belum waktunya kali.”


Dika sendiri kurang paham masalah kehamilan. Karena selain ini kehamilan Rina, ia juga tak pernah sebelumnya memperhatikan orang hamil termasuk mamanya saat mengandung Rista.


Diam-diam Dika memperhatikan penampilan istrinya kemudian. Perutnya masih terlihat kencang dan rata, namun yang dari sini terlihat bagian dadanya nampak lebih besar dari sebelumnya.


Buru-buru Dika mengalihkan pandangannya. Ia langsung ingat pesan dokter Halima yang memintanya untuk puasa sementara, atau setidaknya tunggu sehabis trisemester pertama kehamilan Rina. Jadi apa pun yang membuat pikirannya berubah 21+ harus ia segera singkirkan. Ia tak ingin membuat dirinya susah karena tak bisa mengendalikan diri yang pula bisa membahayakan anak dan istrinya.


“Kamu kenapa?” tanya Rina saat tak sengaja melihat suaminya tiba-tiba menggelengkan kepala.


Dika sadar apa yang Rina pergoki. Ia memangtengah menggeleng cepat untuk mengusir pikiran plus-plusnya. Jadi pasti terlihat aneh saat keduanya sama-sama diam tapi tanpa sebab yang jelas Dika menggeleng tiba-tiba.


Dika menghentikan gerakan kepalanya mendadak sebelum menggerakkannya kepalanya lagi dengan lebih pelan .


“Makan di luar yuk. Sepertinya kita sudah lama nggak dinner di luar,” ujar Dika coba memulai topik baru dengan istrinya.


“Emm, mau es krim…”

__ADS_1


“Di kulkas kan banyak sayang…” kata Dika mengingatkan.


“Pengen makan es krim di luar…”


Dika menghela nafas. “Ya sudah, kamu siap-siap ya. Aku mau ke kamar mandi dulu.”


"Ngapain?!"


"Kebelet. Mau ikut..."


Dika tertawa kecil melihat istrinya bergidik.


Sementara Dika ke kamar mandi, Rina pun segera mempersiapkan dirinya. Tidak banyak yang berubah dengan Rina, sejak saat ia masih muda belia dan belum menyandang gelar nyonya Restu Andika hingga sekarang ia sudah lebih matang dan sebentar lagi menyandang gelar baru sebagai ibu.


Dika keluar dari kamar mandi dalam keadaan topless. Tanpa perlu pertimbangan pantas atau tidak, ia mengambil asal salah satu kaos berwarna hitam miliknya. Dika dan Rina bukan tipe pasangan yang ribet soal pakaian. Warna dan model pakaian mereka hampir sama. Dari pada ribet-ribet memikirkan outfit, mereka merasa lebih penting memikirkan hal lain yang bersifat produktif.


Sebenarnya Rina juga suka belanja seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Saat suntuk, belanja menjadi salah satu hal yang dapat menyegarkan pikirannya. Membeli baju, tas, sepatu dan perhiasan menjadi barang-barang yang sering ia incar. Alat make up juga kadang menjadi sasarannya. Selain itu berbagai furniture juga tak luput dari perhatiannya. Hingga Dika tak pernah tahu menahu tentang desain interior rumahnya. Semua Rina yang mengatur dan Dika tinggal terima jadi saja.


“Sayang, pakai warna apa?!” teriak Rina yang masih berdiri di depan hamparan pakaiannya.


“Jeans selutut sama kaos hitam,” jawab Dika yang baru saja selesai mengenakan pakaian.


“Ganti, aku mau pakai warna putih!” teriak Rina lagi.


“Tapi terlanjur dipakai sayang…”


Dika menghela nafas. “Apa ini termasuk ngidam?” lirihnya.


“Kamu ngomong apa?!”


Brrrgghhh!!!


Dika mundur untuk menghindari tumpukan baju yang baru saja ia robohkan.


“Astaga sayang. Jangan main muncul aja dong. Kasih sinyal kek kalau jalan ke sini…” Dika tak menyangka jika istrinya akan muncuk di hadapannya secepat ini. mereka memang berada di ruang yang sama. Namun ruangan ini cukup besar jadi saat menggerutu dengan suara pelan, Dika yakin jika istrinya tak akan mendengarnya.


“Sinyalnya sudah 4G sayang.”


“Ya maksudku kamu itu jangan langsung muncul di sini. Ya ngomong atau bikin suara apa gitu terserah, yang penting jangan bikin aku kaget. Jadi ambruk kan tumpukan bajunya.”


Rina memicingkan mata. “Sejak kapan kamu mikirin tumpukan baju yang ambruk?” tanya Rina curiga.


“Sejak hari ini. Dah ya. Ini baju yang putih ambruk semua jadi nggak bisa aku pakai. So, aku pake hitam ini aja, ya," ujar Dika sambil menunjukkan baju yang sudah melekat sempurna di tubuh tingginya.


Rina menggerak-gerakkan telunjuknya. “No no no. Kalau outfit kita nggak ada mirip-miripnya, kita jadi nggak kayak couple dong.”


“Ha? Yang penting nyatanya kan kita pasangan, jadi apa lagi?”

__ADS_1


“Tck. Susah ngejelasinnya.” Rina berjongkok untuk mengambil salah satu kaos polos berwarna putih paling atas yang ambruk di hadapan suaminya. “Nih pake.”


“Tapi udah ambruk sayang. Harus dicuci dan dirapikan lagi.”


“Nggak ada kuman, bahkan ini lipatannya masih belum geser sama sekali.” Rina mengangkat pakaian yang ia pegang saat ini.


Dika yang sebenarnya sudah nyaman dengan baju yang melekat di tubuhnya dengan enggan harus mengikuti permintaan istrinya. Ancaman sang mama yang berkata jika keinginan Rina selama hamil tidak dituruti akan membuat anaknya ngileran kalau lahir nanti, berhasil membuat Dika takhluk dan tak pernah bisa benar-benar menolak apa yang istrinya minta.


“Aku udah nih. Kamu juga ganti baju. Aku tunggu di bawah ya…”


Rina menggeleng. “Nggak mau. Kamu tunggu aku di sini.”


Dika tak menjawab. Ia berjalan menuju kursi yang ada di ruang pakaian mereka ini, dan menemani Rina mengganti pakaiannya. Dan sebuah nafas yang sebelumnya Dika hela, kini perlahan ia hembuskan setelah pantatnya ia daratkan.


Nggak kerasa sudah lima tahun lebih aku jadi suami, dan sebentar lagi aku akan jadi papa. Batin Dika saat memperhatikan gerak-gerik istrinya dari sudut ruangan.


“Sayang…”


“Ada apa?” Rina yang sedang merapikan pakaiannya menyempatkan diri untuk menoleh ke arah sang suami.


Dika bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rina. “Masih ingat waktu kita pertama bertemu dulu?” tanya Dika tiba-tiba.


“Ingat lah, di cafe kan. Dan kamu lagi jalan sama Lusi.”


Tuk!


Dika mengetuk pucuk hidung Rina dengan sudut jari telunjuknya yang ditekuk. Sementara Rina hanya cemberut diperlakukan seperti ini. Sama sekali tak ada ringisan apa lagi rintihan, karena Dika hanya sedikit menekan sehingga tak ada rasa sakit yang ditimbulkan.


"Itu nggak sama Lusi doang, tapi sama banyak anak-anak lainnya."


"Tapi yang digelendotin Lusi kan cuma kamu," ketus Rina.


"Ssss hhhh, udah-udah. Yang aku maksud bukan itu."


"Terus yang mana?"


“Waktu SD sayang, yang kamu ngejekin tinggi badan aku.” Niat hati pengen menciptakan suasana yang romantis, tapi jadinya malah akward seperti ini, lanjut Dika dalam hati yang terluap dengan sebuah dengusan.


Rina memutar tubuhnya membuatnya kini persis menghadap Dika. “Jadi intinya apa nih?”


“Intinya aku sayang kamu. Yuk berangkat. Sudah siap kan?”


Jika diteruskan, perdebatan ini pasti berbuntut panjang. Ia tahu Rina bukan tipe wanita yang akan diam menyimpan rasa penasaran, tapi setidaknya sekarang ia ingin memberi jeda agar tingkat kekesalan istrinya bisa turun karena tak sengaja membahas mantan pacarnya dulu.


Setelah mendapat anggukan dari Rina, Dika segera meraih pinggang istrinya dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.


Bersambung… 

__ADS_1


__ADS_2