Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Jodoh


__ADS_3

HAPPY READING


Risma sudah kembali bekerja. Ponsel yang ia minta benar-benar digunakan sekarang. Ia menjelaskan setiap barang pada pelanggan dengan berbekal keterangan yang ia baca di ponsel yang ia genggam.


“Mbak permisi, bisa rekomen baju yang pas untuk saya nggak?”


Hana terkejut saat tiba-tiba muncul seorang wanitadi dekatnya. Hana celingak-celinguk dan ternyata memang tak ada orang lain selain dirinya.


Perempuan yang baru bicara pada Hana segera menarik tangan Hana dan membawanya ke jajaran baju-baju yang digantung sebelum Hana sempat menjelaskan.


“Gini, saya mau interview, tapi saya nggak tahu style pakaian yang pas itu seperti apa?” ujar wanita itu tanpa mau tahu siapa Hana.


“Emm…” Setelah sempat melihat sekeliling, Hana kemudian meraih baju di gantungan. Semua pegawai toko ini sedang sibuk dengan pelanggannya masing-masing sehingga tak ada yang bisa Hana panggil untuk melayani pelanggan yang ada bersamanya ini. Sebenarnya tadi ia sudah duduk di pojokan karena ia masih merasa lelah jika harus langsung pulang. Tapi entah mengapa keberadaannya masih ditanggapi salah oleh pelanggan.


“Coba yang ini…” ujar Hana setelah memilihkan kemeja berwarna putih.


“Ini kan model klasik,” ujar wanita itu mengomentari.


“Iya, memang klasik, tapi potongannya pas untuk tubuh anda. Selain bahan semacam ini membuat anda tidak gerah saat menggunakannya.”


“Tapi ini kan terlalu biasa,” ujar wanita ini lagi.


“Justru karena biasa ini lah penginterview tidak akan terdistrack dengan penampilan anda, sehingga anda bisa menunjukkan potensi yang anda miliki tanpa gangguan style yang mungkin kurang bisa di terima.”


Hana pernah bekerja dikantor beberapa tahun, dia hafal benar bagaimana style yang paling sesuai untuk masuk ke wilayah ini. Ia juga menjelaskan bahan dan detail dari pakaian yang ia pegang, karena ini adalah model keluaran pertama yang ia juga sempat ikut menggarapnya. Akhirnya pelanggan tadi merasa puas dan membeli semua yang Hana pilihkan.


Tanpa Hana sadari, manajer toko ini memperhatikan Hana sejak tadi. Ia tahu benar Hana bukan bawahannya namun tak ia hentikan karena sepertinya ia cukup tertarik dengan cara Hana menjelaskan detail barang. Dia juga pandai dalam memadu padankan pakaian, sehingga selain membeli untuk keperluan interview, wanita tadi juga membeli beberapa baju untuk daily outfitnya.


“Kamu bukan karyawan toko ini kan?”


Hana yang baru saja duduk di pojokan kembali dikagetkan dengan suara pertanyaan dari seorang wanita yang entah sejak kapan berada di dekatnya.


“Maaf. Tiba-tiba Mbak tadi nyamperin saya, dan saya lihat semua karyawan sedang sibuk jadi saya coba mencarikan baju yang diinginkan,” ujar Hana yang merasa ini adalah sebuah kesalahan yang dengan lancang ia lakukan.


“Kamu ke sini…” wanita itu menggantung ucapannya.


“Saya temannya Risma, dan tadi saya kesini mengantarkan ponsel dia yang ketinggalan.” Hana coba menjelaskan siapa dia dan bagaimana ia bisa di sana.


Wanita tigapuluh tahunan ini masih setia memandangi Hana dari posisi berdiri.


“Sekali lagi saya minta maaf. Sebentar lagi saya akan pulang. Saya ingin numpang istrirahat barang sebentar…”


Manager toko dengan name tag Nuke ini mengangguk sebagai tanda mengijinkan Hana. “Kamu istirahat saja, saya permisi dulu,” pamit wanita itu kemudian.


Hana langsung berdiri dan membungkukkan badan. “Terimakasih banyak…”


Harap-harap cemas Hana rasakan sekarang. Ia takut tindakannya ini akan menyulitkan Risma yang menjadi alasan kemunculannya di sini. “Semoga saja Risma nggak kena sanksi karena kelakuan aku tadi,” lirih Hana saat ia telah sendiri.


***

__ADS_1


“Kakak…!!!”


Suara melengking yang khas itu mengalihkan Rina dari novel yang tengah ia baca. Ia dengan tak sabar segera menoleh ek arah sumber suara. “Haaaaiiii…”


Rina girang bukan main saat adik iparnya tiba-tiba muncul di rumahnya. Ia kini bangkit dengan tangan terbuka untuk menyembut Rista.


“Gitu dong pulang…” ujar Rina disela pelukannya dengan adik ipar kesayangannya.


“Aku baru dari kantor tadi, makanya aku bisa mampir ke sini,” Rista menjelaskan alasan kepulangannya ke rumah kakaknya ini.


“Dari kantor? Kantor siapa?” kaget Rina.


“Ya Kak Restu lah masa kantor kak De, ehm, Andre…” Rista langsung menarik tubuhnya saat sadar apa yang hampir diucapkannya.


Sementara Rina yang sadar kelakuan adik iparnya hanya mengulum senyum dan menahan diri untuk tak menggodanya, dari pada gadis cantik yang baru tiba ini pergi lagi sebelum ia menuntaskan rindu.


“Kamu ke kantor ngapain?” tanya Rina sambil mengajak Rista untuk duduk di sampingnya.


“Aku nganterin desain Kak, untuk produk terbaru RR fashion,” jelas Rista dengan senyum lebarnya.


“Oh iya, kamu jadi salah satu perancang utama RR fashion ya…” ujar Rina saat baru ingat jika Rista perlahan me]ulai menemukan bidang yang ia gemari.


Rista mengangguk dengan senyum bangganya.


“Selamat ya…”


Sekali lagi Rina memeluk erat adik ipar kesayangannya.


“Tamu? Nggak ada tuh,” jawab Rina sambil menengok ke arah depan. “Kamu nggak bermaksud menganggap diri kamu tamu di rumah kan?” tanya Rina memastikan.


“Hehehe, ya udah deh…” Rista menyandarkan punggungnya dan menarik ponsel yang sedari tadi tersimpan dengan rapi di dalam tasnya.


“Kok ya udah?” Rina masih belum paham maksud adik iparnya.


“Kak aku laper…”


Rina makin bingung dengan kalimat-kalimat random yang Rista ucapkan.


“Kebetulan bibi lagi masak. Kamu mau dibikinin sesuatu?” Rina akhirnya memutuskan untuk mengalir saja. Ia benar-benar tak ingin membuat marah adik iparnya yang cukup sensitif ini.


“Aku mau cumi bakar.”


“Cumi bakar?” ulang Rina. Ini anak bener-bener random deh.  “Tapi frozen nggak apa-apa ya?” lanjyt Rina. Pasalnya dengan tempat tinggal mereka yang berada di tengah kota sangat sulit menemukan cumi segar. Ada sih, tapi di pasar dan adanya pagi. Jika sesiang ini pasti sudah habis tanpa sisa.


Rista mengangguk semangat. Akhirnya Rina meminta artnya untuk menyiapkan menu sesuai yang adik iparnya minta. Hari ini Dika tak makan siang di rumah, dan ia juga melarang Rina untuk mengantar makan siang untuknya, sehingga jika tak ada Rista ia akan makan sendirian.


Rina mengajak RIsta mengobrol kesana-kemari, menanyakan banyak hal yang ia belum ketahui. Sementara Rista lebih banyak diam, karena ia tengah sibuk memperhatikan sekitar.


Aku yakin dia sudah pulang. Tapi dia tinggal dimana kalau tidak di sini?

__ADS_1


***


“Adik kamu ada bakat juga ternyata bos…” ujar Andre saat melihat desain-desain rancangan Rista yang tergeletak di meja Dika.


“Calon jutawan bisa-bisa dia,” lanjut Andre saat memperhatikan lembar demi lembar hasil goresan karya Rista.


“Tapi aku tak mau dia terlalu larut bekerja. Aku tak ingin membuat dia melewatkan masa-masa remaja,” ujar Dika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di hadapannya.


“Nggak ada niatan bikin Rista ngikutin jejak kamu dengan nikah muda?” tanya Andre masih dengan fokus yang sama.


“Ya masalah nikah mah bukan aku yang menentukan, tapi dia sama Allah,” jawab Dika dengan gaya yang sama dengan sebelumnya.


“Iya juga…” gumam Andre yang akhirnya menaruh lagi kertas-kertas yang semula ia pegang setelah ia melihat semua.


“Kalau pun aku nggak pengen dia cepet nikah tapi ternyata jodohnya sudah datang ya aku bisa apa. Begitu pun sebaliknya. Meskipun aku ingin dia cepat menikah tapi jodohnya belum datang juga mau aku nikahin sama siapa…”


“Ha ha ha…” Hanya tawa reakdi Andre sekarang. Pasalnya ia yang sudah ingin menikah, pasangan pun ada tapi takdir masih senantiasa mengombang-ambing mereka.


Andre mengurungkan tawanya saat tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Dia segera menggeser tombol hijau saat tahu Melvin yang tengah menghubungi.


“Halo Vin.”


“Halo Bos. Gue ada kabar nih,” ujar Melvin tanpa basa-basi.


“Kabar apa?” tanya Andre penasaran.


“Tadi anak-anak ada yang melihat Hana, sayang mereka kejebak macet dan mobil nggak bisa jalan, sementara Hana lolos karena dia naik motor.”


“Dimana?” sahut Andre cepat.


Melvin mulai menjelaskan area mana yang menjadi tempat anak buahnya melihat Hana.


“Kenapa nggak cari tahu sekalian dia tinggal dimana…” kesal Andre.


“Ya gimana mau cari tahu bos, orang jejak aja kita  ketinggalan.”


“Aku nggak mau tahu, pokoknya segera temukan dimana posisi Hana, terus langsung kabari, biar aku sendiri yang jemput dia.”


“Oke…”


Andre segera mematikan ponselnya. Ia melihat jadwal dan masih ada 3 agenda lagi yang harus ia selesaikan sebelum ia bisa pulang.


“Ada kabar tentang Hana?” tanya Dika setelah yakin Andre menyelesaikan paggilannya.


“Anak buah Melvin tadi nggak sengaja lihat dia, tapi mereka kehilangan jejak,” kata Andre.


“Mau kamu sisir sekarang?”


“Nanti saja bos, setelah semuanya selesai.”

__ADS_1


Dika tersenyum samar mendengar keputusan Andre. Bukan maksudnya ingin menahan Andre, namun sekertarisnya ini harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan urusan pribadi demi menjaga profesionalisme kerja mereka.


Bersambung…


__ADS_2