
Hi dear.
Bulan ini bukan cuma bulan kelahiran Senja, tapi juga merupakan bulan dimana Senja mulai nulis di platform ini.
Dan diakhir bulan akan ada **gift away buat teman-teman yang paling banyak kasih dukungan buat Senja.
Support terus ya, biar Senja makin cair nulisnya.**
HAPPY READING
Rista menyesal karena menyanggupi permintaan Rina yang memintanya untuk tinggal lebih lama lagi. Bukan karena ia tak senang menghabiskan waktu dengan kakak iparnya ini, tapi karena keberadaan Lili yang membuatnya risih sendiri. Yang lebih mengherankan lagi, kenapa kakaknya juga sangat percaya pada perempuan ini, karena jika dilihat sekilas saja dia sudah terlalu tangguh untuk ukuran wanita, jadi tak mustahil jika ia mengingkari kodratnya sebagai wanita seperti yang Rista curigai.
“Makan es krim saja kenapa harus mencari tempat sejauh ini sih Kak…” kesal Rista pada kakak iparnya. Pasalnya kini mereka sedang ke kedai es krim yang berada di dekat ruman nenek Rina, yang pula menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan kakak iparnya ini.
“Aku pengennya di sana. Aku belum pernah menemukan es krim seenak di tempat itu."
Rista mendengus. Ia sangat tak nyaman sekarang. Terlebih saat ia menyadari Lili beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Hal ini kian menguatkan dugaan Rista bahwa ada kelainan yang dimiliki wanita ini yang sepertinya sama sekali belum kakak dan kakak iparnya sadari.
Setelah perjalanan yang terasa sangat panjang bagi Rista, akhirnya ketiga orang ini tiba juga di tempat tujuannya. Rina turun dari mobil dengan riang, sementara Rista sudah tak tahan untuk memisahkan diri.
“Kak, aku ke kamar mandi ya…” pamit Rista sambil pergi begitu saja.
“Eh, eh…” Rina begitu terkejut hingga tak sempat mengucap kata. “Li, kamu temani Rista, saya takut dia tersesat,” lanjur Rista pada asistennya ini.
“Tapi Nona gimana?”
“Saya tinggal cari tempat duduk dan pesan.”
“Tapi Nona, saya bisa dimarahi pak Restu kalau sampai meninggalkan Nona sendiri.”
“Kamu tak akan dibiarkan tenang kalau sampai adik kesayangan pak Restu hilang…”
Lili tak ada alasan untuk menolak lagi. Ia segera menuju kamar mandi untuk meyakinkan bahwa wanita cantik yang ia kagumi selama ini tak hilang seperti yang Rina khawatirkan.
Di dalam kamar mandi, Rista baru saja membasuh wajahnya dengan air. Gadis ini tak pernah khawatir jika wajahnya tersentuh air, pasalnya ia memang tak pernah menggunakan aplikasi make up jenis apa pun di wajahnya. Sebenarnya ia tak pernah suka menutupi tapilan asli wajahnya dengan berbagai bahan yang disinyalir dapat meningkatkan kadar kecantikan dan kualitas penampilan seorang wanita itu.
__ADS_1
Berbeda lagi kalau ia sedang tampil di depan kamera atau sedang menyanyi di atas panggung. Ia tak pernah mau muncul tanpa make up. Bahkan tiba dilokasi atau pun sebelum kamera menyala ia sudah harus mengenakan make up di wajahnya. Ia bahkan ia punya penata rias khusus dalam hal ini. Tujuannya bukan untuk mempercantik penampilan semata tapi lebih kepada menciptakan image lain yang berbeda dengan aslinya.
Saat tak di panggung, ia ingin menjadi Rista seorang gadis dengan apa adanya dirinya. Tak banyak dikenal orang dan bisa melakukan apa saja tanpa ancaman paparazzi. Setidak terkenanalnya dia, ia sadar pasti akan ada orang di luar yang mengenalinya sebagai penyanyi yang punya karya, bahkan follower di instagram dan twitternya sampai jutaan meskipun ia tak ingin di cap sebagai selebgram atau artis social media lainnya. Ia hanya mau menyanyi dan selalu menolak endors meskipun imbalannya menggiurkan.
“Ya ampun, apa mending kabur aja ya. Nanti tinggal bilang sama kak Rina kalau aku ada urusan mendadak,” gumam Rista pada pantulan dirinya di depan cermin besar yang berada persis di hadapannya.
Namun itu sepertinya bukan ide yang bagus. Ia kembali menyalakan kran dan membasuh mukanya lagi. Ia berharap dengan begini otanknya akan lebih ringan saat diajak berfikir.
“Tapi kalau aku ninggalin kak Rina cuma berdua sama perempuan aneh tadi gimana dong nasibnya.” Kembali Rista bermonolog sambil memperhatikan penampilan dirinya.
Semua orang bilang ia cantik, namun tak demikian dengan dia. Buktinya hanya untuk mempertahankan Dedi saja ia tak bisa, jadi cantik darimananya?
“Ah bodo lah. Biasanya kan kak Rina juga berdua sama dia, jadi sepertinya akan aman kalau aku tinggalin sekarang.”
Rista sudah membulatkan tekatnya. Ia mengeringkan wajah dan bersiap-siap pergi dari sana.
“Lahaula…!”
Jantung Rista seakan lari dari tempatnya saat baru saja ia membuka pintu. Ia begitu terkejut saat mendapati keberadaan Lili yang berdiri tak jauh dari sana.
Rista tak mampu lagi menahan kesalnya. Ia menyemburkan kemarahan pada sumber ketidak nyamanannya kali ini.
Lili hanya mampu berdiri menjadi bulan-bulanan seperti ini. Ia mematung dan menatap linglung.
“Nona, maaf. Kita harus segera kembali. Saya tak bisa meninggalkan nona Rina terlalu lama,” ujar Lili saat Rista terlihat mengambil nafas disela ocehannya.
Rista memberanikan diri menatap wanita ini. Loh, matanya kok nggak genit kayak tadi. Sekarang malah kelihatan kaku. Jangan-jangan dia lagi acting.
“Nona. Bisa kita kembali?” tanya Lili sekali lagi dengan wajah seriusnya.
Rista jadi bengong sekarang. Ia iya-iya saja dan berjalan mengikuti Lili ke tempat Rina berada.
“Ya ampun, kamu di kamar mandi ngapain sih Ris, lama bener. Nih hampir cair es krim yang Kakak pesen buat kamu…”
“He he he, maaf Kak…”
__ADS_1
Rista tak tahu harus berkata apa. Semula ia benar-benar kesal dengan Lili, namun sekarang ia terlihat segan karena perempuan ini jadi berbeda dengan tadi.
“Banyak banget Kak…” ujar Rista saat sadar kaka iparnya ini memesan es krim banyak sekali.
“Ya kan ponakan kamu suka es krim,” ujar Rina dengan santai sambil mencomot sesendok es krim rasa strawberry.
Setelah mendengar jawaban Rina, Rista beralih menatap Lili. “Kamu kenapa seperti nggak nyaman gitu?” tanyanya pada asisten kakaknya ini.
“Anu Nona itu…”
Dalam posisi duduknya, Lili terlihat sibuk menarik-narik roknya. Lili memang tak setinggi Rista, sehingga overall milik Rista yang ia kenakan ini terlihat lebih panjang saat ia yang mengenakan di tubuhnya. Namun overall di atas lutut ini membuat Lili benar-benar terlihat tak nyaman.
“Kamu nggak suka bajunya?” tanya Rista.
“Bukan-bukan,” sanggah Lili cepat.
“Terus kenapa?” Rina juga penasaran kenapa asistennya ini aneh sekali.
Lili tiba-tiba menunduk.
“Kamu kenapa Li, jangan gini deh?”
Ini bukan Lili seperti biasa. Ia tak pernah complain apa saat
menjalankan apapun yang aku minta, termasuk mengenakan pakaian pilihanku seperti sekarang ini. Batin Rina dalam hati.
“Li, are you okay? Apa bunda kamu sakit? Atau kamu ada masalah?” tanya Rina hati-hati.
Lili mengangkat wajahnya dan ternyata matanya berkaca-kaca. Rista yang penasaran hanya memperhatikan dari tempat duduknya.
Katanya jago bela diri, kok tiba-tiba melankolis begini. Kalau gini bukannya Lili yang jagain kak Rina tapi kak Rina yang jagain Lili. Batin Rina dalam hati.
“Saya cuma masih nggak percaya sekarang bisa bertemu dengan Nona Rista…”
“Kamu kenal saya?” kaget Rista saat namanya Lili sebut.
__ADS_1
Bersambung…