
Hai, hai, Senja menyapa.
Jangan lupa bahagia.
Komen yang banyak ya, ahahaha
HAPPY READING
“Ini gimana sih?”
“Apa sayang?”
Rina mengangkat laptopnya dan beberapa berkas yang berkaitan dengannya dan membawanya ke meja Dika.
“Coba deh lihat.” Rina menandai beberapa keterangan di print out yang tak ia mengerti dan mencocokkannya dengan data yang ada di laptopnya.
Dika meninggalkan sejenak pekerjaannya dan beralih kepada pekerjaan yang kini digarap istrinya.
“Ya tinggal sesuaikan saja angkanya. Yang di laptop itu data mentah, nah yang di print out itu yang sudah diolah.”
Rina nampak memperhatikan lagi.
“Tapi angkanya kok beda?”
“Ya beda lah sayang, kan emang yang ini mentah, dan yang ini sudah jadi. Kalau mentah itu masih sendiri-sendiri sedangkan yang sudah diolah itu dalam bentuk jadi.”
“Ibarat makanan nih, kalau masih mentah kan ada bahan utama, ada bumbu, ada garam ada apa lah aku nggak tahu, kalau udah mateng kan jadi satu menu yang tersaji dalam seporsi makanan. Kalau gitu paham?”
Rina mengangguk mengerti. Ia kemudian berjalan meninggalkan suaminya dan kembali ke meja kerjanya.
Melihat Rina yang serius seperti ini, sebenarnya Dika suka tak tega. Tapi kalau membiarkan istrinya hanya diam di rumah, ia lebih tak tega lagi karena Rina pasti akan stress memikirkan program kehamilan yang gagal mereka lakukan beberapa waktu lalu. Meskipun sekarang sama stresnya, setidaknya Rina akan sibuk dengan pekerjaan yang jika ia tak sanggup masih bisa Dika atau orang lain yang bisa membantunya. Dengan begini, ia tak akan berlarut-larut memikirkan masalahnya dan Dika berharap Rina akan lebih rileks dan bebas dari stress.
“Sayang…” panggil Rina lagi.
“Iya,” jawab Dika.
“Aku boleh ajak salah satu sekertaris di depan nggak? Sepertinya aku benar-benar butuh bantuan.”
Dika berfikir sejenak. “Boleh sih, tapi siapa?”
“Emm, Rahma aja ya, kayaknya dia yang paling gampang diajak kerjasama.”
“Boleh.”
Dika menghubungkan panggilan dengan yang terpasang di meja sekertarisnya.
“Rahma tolong ke ruangan saya. Bawa laptop dan pekerjaan kamu, sekarang.”
__ADS_1
Dika tak ingin menunggu jawaban. Ia segera memutus panggilan setelah menyelesaikan ucapannya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang diketuk. Tak lain dan tak bukan pelakunya adalah Rahma.
“Maaf Pak, anda memanggil saya?” tanya Rahma yang sepertinya belum bisa meredakan wajah terkejutnya.
Dika hanya menatap sekilas sebelum kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
Wajah Rahma yang sebelumnya terkejut dan takut-takut perlahan berubah menjadi bingung saat melihat bosnya yang tadi memanggilnya justru diam saja dan cuek yrthsdsonys.
Lah, kok diem bae sih Pak Restu ini. Aku nggak salah dengar kan kalau tadi beliau manggil aku?
Sementara Rina justru merengut menatap suaminya. Dika gimana sih, masa dia malah diam saja. Harusnya kan dia bilang sama Rahma untuk apa dipanggil ke sini.
Melihat Rahma yang diam saja sambil berdiri dengan membawa banyak barang di tangannya, membuat Rina merasa kasihan juga.
“Rahma,” panggil Rina.
Merasa dipanggil, Rahma sedikit merubah haluannya. Ia yang semula menghadap Dika sekarang beringsut untuk menghadap Dika. “Iya Nona.”
“Kamu ke sini, saya yang minta. Kamu taruh sini bawaan kamu dan kamu ambil kursi di sana.”
“Iya Nona.”
Rahma segera melakukan apa yang Rina minta. Sejak waktu itu Rina menyatakan ketidak sukaannya di panggil ibu akhirnya kini semua memanggilnya Nona. Entah bagaimana caranya, Dika bisa merubah ini dalam waktu sekejap saja.
“Duduk Ma…” ujar Rina dengan senyum cantiknya.
“Kerjaan kamu tadi banyak nggak?” tanya Rina saat melihat Rahma diam saja dengan posisi siaga.
“Emm, kerja di Surya Group Alhamdulillah nggak pernah kekurangan kerjaan Nona,” jawab Rahma diplomatis. Ia harus hati-hati dalam berbicara, jika tidak kelangsungan karirnya yang akan jadi taruhannya.
Rina tertawa mendengar jawaban Rahma. Dia tahu bagaimana menderitanya para karyawan Surya Group saat bekerja, tapi jangan khawatir karena Surya Group memberikan imbalan yang ssesuai dengan kerja keras yang dilakukan karyawannya.
“Intinya capek?” terka Rina
Rahma hanya menyunggingkan senyum karena tak mungkin ia menyuarakan suara hatinya.
“Hsss sshhh….” Rina menghela nafas. “Jadi gini…” Rina mulai menjelaskan kesulitan yang ia alami. Ia ingin Rahma membantunya agar tak ada kesalahan yang nanti akan menyulitkan suaminya. Karena ketiadaan Andre saat ini sudah cukup membuat Dika kelimpungan. Rina tak ingin keberadaannya di samping Dika menjadi beban semata, bukannya membantu meringankan kerja suaminya.
***
“Kita mau ke mana sih?” tanya Hana yang saat ini sedang bersama Andre pergi entah kemana. Pasalnya sejak berangkat tadi Andre belum mengatakan apa pun tentang tujuan kepergian mereka.
“Kamu tenang aja, aku nggak bakal culik kamu.”
Mulut Hana menganga tak percaya. Lha ini apa Andre. Ngebuat aku nggak bisa kemana-mana terus ngedekem berminggu-minggu di tempat kamu itu namanya apa? Batin Hana dengan wajah berangsur mengkerut.
__ADS_1
“Jelek muka kamu kalau gitu. Kalau nggak suka itu ngomong, jangan ngedumel dalam hati.”
Hana melipat tangannya di depan dada dan menatap Andre sejenak. Tak lama kemudian ia memalingkan wajahnya.
“Ah…” Refleks Hana menangkis tangan Andre yang tiba-tiba lewat di depan dadanya.
“Apa sih Han, belum juga pegang udah mendesah saja.”
Plak!
“Tangannya!” pekik Hana.
“Tanganku kenapa?” tanya Andre dengan santainya.
Hana membulatkan mata dengan mulut menganga saat tangan yang dipermasalahkan sejak tadi justru membuat ulah saat ini.
“Iiihhhh, kok dipegang sih.”
“Nanggung Hana. Kurang dikit tadi. Kalau nggak dilanjut bisa bisulan.”
Alasan macam apa ini. Setelah melakukan tindak pelec**an ia bisa bersikap begitu biasa saja. bahkan ia berbicara tanpa sedikit pun manatap Hana yang sudah tak karu-karuan.
Hana kembali dibuat terkejut saat mendadak Andre menghentikan mobilnya. Tak hanya berhenti di situ, Andre tiba-tiba melepaskan sabuk pengamannya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Hana sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
“Mau lanjutin tadi.”
“No Andre. Kita kan lagi di jalan.”
“Ada masalah?”
“Ya ada lah. Kan kalau ada yang lihat…” Hana menggigit bibirnya saat Andre justru mendekat.
Salah sendiri terus ngelawan. Kayak nggak hafal aja kalau semakin Andre dilawan semakin ia akan menggila.
Setelah cukup lama memejamkan mata, ternyata Hana tak juga merasakan apa yang ia sangka akan terjadi padanya. Perlahan Hana membuka mata, dan dengan nyamannya Andre tengah menyandarkan kepalanya dibalik kursi kemudi.
Mulut Hana menganga saking kesalnya. Ia kemudian menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa kesal yang ia rasa.
“Kamu kenapa? Apa kamu begitu mengharapkan ciumanku?”
Hana hanya mampu mendengus dan melempar pandangan ke luar jendela. Tiba-tiba Andre meraih dagunya dan membawa wajah Hana untuk menghadapnya. Jantung Hana berdetak dengan kencang saat Andre terus bergerak mendekatkan wajahnya.
“Jangan di sini, aku tak mau permainan yang setengah-setengah,” bisik Andre tepat di depan telinga Hana.
Hana kembali menggigit bibirnya.
__ADS_1
“ANDREEE!!!!!”
Bersambung…