Zona Berondong

Zona Berondong
Bioskop


__ADS_3

^^^Hai dear. ^^^


^^^Setelah sekian waktu saya menanggalkan permintaan untuk spam komen, sekarang mau saya pakai lagi. Hehehe^^^


^^^Yang udah kasih love buat novel ini, atau yang nggak sengaja mampir, tolong tinggalkan jejak ya. ^^^


^^^Karena jejak teman-teman adalah penyemangat buat Senja. ^^^


...*HAPPY READING*...


Ibu dan anak perempuannya ini merasa segan mendapat sambutan seperti ini. Kini mereka tengah berada di salah satu restoran milik Rudi bersama sang pemilik dan istrinya.


Setelah menyelesaikan ***** bengek urusan kecantikan, Santi memaksa Rina dan mamanya untuk makan siang bersama.


Berada di ruang vip dengan banyak sajian terbaik.


"Rina, makannya dikit banget sih Nak." Santi memasukkan berbagai hidangan di piring Rina.


"Kamu juga kurusan. Iya nggak sih Mbak?" tanya Santi kepada Ririn.


"Iya Mbak Santi. Dia akhir-akhir ini susah banget buat makan."


Santi menghela nafas.


"Anak Mama emang ngangenin, tapi meskipun kangen, jangan sampai ngebiarin badan kamu nggak keurus kayak gini..."


"Ennggg..., enggak kok," sanggah Rina.


Ingin sekali Rina menyangkal, tapi yang dikatakan dua wanita ini benar semua. Sudah lah. Lebih baik Rina diam saja.


"Tunggu bentar deh."


Santi meletakkan alat makannya tiba-tiba. Ia segera membuka tasnya untuk mencari sesuatu. Ternyata yang keluar adalah benda kotak yang seringkali diklaim pintar itu.


Santi yang sumringah nampak tengah mengetikkan sesuatu di sana.


"Sayang, makan jangan sambil main hp dong," ucap Rudi memperingatkan.


"Bentar Maasss...." jawab Santi sambil merengek.


Rina menutup mulutnya yang tak sengaja mengeluarkan tawa kecil. Mama kalau merengek gini persis seperti Rista.


Memang benar kata Dika, bahwa sifat Rista merupakan duplikat mamanya.


"Hai sayang..." ucap Santi persis di depan ponselnya sambil melambaikan tangan.


...


"Hmmm, berani ya cuekin Mama..." jika semula wajahnya berhias tawa, sekarang sudah berganti menjadi cemberut.


Tanpa disebut namanya semua juga tahu siapa yang tengah dihubungi Santi saat ini.


"Ma, Dika lagi belajar Ma. Sekolah seminggu sekali aja bukannya disemangatin malah digangguin."


"Jahat ya kamu sama Mama. Mama tu bukan mau gangguin, tapi mau kasih support tahu nggak."


"Ma, udah dulu ya. Dedi ngebut banget nggak mau nungguin nih belajarnya."


Santi menarik Rina untuk mendekat.


"Yakin mau udahan...?"


Dika nampak sibuk dan mengacuhkan layar.


"Iya Ma. Ak... Lhoh?!"


Dika nampak terkejut saat melihat Rina dalam frame yang sama dengan mamanya.

__ADS_1


Rina tersenyum sambil melmbaikan tangan. Malu nggak sih bilang I miss you. Batin Rina.


"Kamu kok bisa sama Mama?"


Santi mendorong Rina untuk kembali ke tempatnya, dan ponsel kembali diarahkan hanya kepadanya.


"Udah ya, Mama tutup dulu, takut ganggu Pak Restu Andika yang lagi belajar."


"Ma tunggu Ma!" cegah Dika saat merasa ia merasa mamanya akan memutuskan panggilan.


"Kenapa, bukannya lagi sibuk...?"


Pandai sekali perempuan ini berakting, tadi ia yang menghubungi, sekarang ia yang berlagak acuh. Ririn masih tak percaya kalau Santi yang asli punya tingkah yang tak elegan seperti ini.


"Ma, shareloc Ma."


"Nggak mau."


"Ma...." nada suara Dika terdengar berbeda.


"Kalau marah mama matiin loh."


"Astaga, Mamaaaa...." Dika mengusap wajahnya frustrasi.


"Restu kangen sama Rina Ma..."


Blush!


Wajah Rina langsung merah seketika. Dasar bocah tengil. Aku juga kangen tauk.


Meskipun malu, Rina tak bisa berbohong kalau ia benar-benar bahagia hanya karena mendengar Dika merindukannya.


"Sayang, udah. Kamu shareloc aja sekarang. Tahu kan gimana modelannya kalau Dika marah?" kata Rudi.


"Ehm, Ehm. Iya deh, iya."


"Sekarang kamu makan yang banyak. Nggak mau kan kalau Dika ngeliat kamu tinggal tulang doang," bisik Ririn pada putrinya.


Rina hanya melayangkan tatapan memohon, agar mamanya tak lagi mengatakan kata-kata aneh semacam itu di depan calon mertuanya ini.


"Ehm, kami juga pernah muda Nak Rina. Dan tahu benar jika rindu itu begitu menyiksa."


Spontan Rina mengangkat wajahnya. Ya ampun, itu kenapa om Rudi juga ikut-ikutan mama.


"Pak Rudi ternyata bisa bercanda juga ya," timpal Ririn.


"Iya Mbak, aslinya Mas Rudi ini nggak seserius kelihatannya."


"Iya, karena yang saya seriusin cuma kamu," ucap Rudi dengan santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Mmaaassss...." Santi kembali merengek dan menarik sebelah lengan Rudi kemudian dipeluknya.


"Ya ampuunnn, tahu gini Mas Reno saya ajak juga, biar kalau ada adegan yang bikin kaki lemes kayak gini ada yang bantu jalan."


"Hahahaha...."


Tawa empat orang ini pecah juga akhirnya.


Rina menasa bahagia melihat keakraban orang tua dengan calon mertuanya. Setidaknya orang tua tak akan menjadi kendala dalam hubungannya dengan Dika di masa yang akan datang.


...***...


Saat ini Rina dan Dika sedang berdua. Sebenarnya berempat tapi Rista dan Dedi sedang membeli popcorn dan minuman di luar sana.


"Malam ini nggak akan ada surprise kayak waktu itu kan sayang?" tanya Rina sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dika.


"Kenapa, kamu mau?"

__ADS_1


Rina menggeleng cepat. Pikirannya berkelana ke masa 2 minggu lalu. Mereka 'makan malam panas' di tengah dinginnya malam di atas rooftop mall terbesar di kotanya.


"Aku yang sebenarnya pengen banget."


Rina menelan ludah mendengar ucapan Dika ditambah tatapan tajamnya yang nampak mendamba.


Namun cepat-cepat Dika memutuskan kontaknya.


"Begitu lulus kita nikah ya, kamu jangan nolak."


"Enggak. Aku nggak akan nolak," jawab Rina cepat sambil menyandarkan kepalanya pada Dika.


"Kalau om Reno masih ragu, kita yakinin sama-sama ya..."


Rina terkejut saat wajah Dika tiba-tiba mendekat ke arahnya. Bioskop belum terlalu ramai, jadi sepertinya tak masalah jika Rina tak mencegah Dika.


Cesss!


Dika berjingkat membuat Rina ikut terkejut juga.


"How dare you!" kesal Dika karena kelakuan sahabatnya.


Dedi menarik minuman dingin itu dari pipi Dika dan berjalan melewati sahabatnya itu tanpa kata. Rista tersenyum kecil melihat wajah marah kakaknya serta wajah merah Rina.


"Aw...! Kok kamu cubit aku sih..." protes Dika karena Rina malah mencubitnya saat ia begitu kesal dengan Dedi.


Rina masih berusaha menyembunyikan wajahnya. Tapi dimana? Dia salah tingkah dan tahu harus berbuat apa. Jadi mencubit Dika menjadi satu-satunya hal yang terlintas di pikirannya.


"Nih Kak..." Rista menyodorkan minuman pada Rina.


Rista tahu bagaimana perasaan Rina karena tingkah kekasihnya. Ia pasti malu karena kepergok hampir berciuman dengan kakaknya. Sebenarnya ini bukan hal aneh, karena ia pun pernah melakukannya. Tapi meskipun biasa, akan tetap terasa malu jika ada yang melihatnya.


"Filmnya belum mau mulai ya?" tanya Rista berusaha mencairkan suasana.


"Kayaknya hampir deh," jawab Rina.


Kedua gadis cantik ini nampak memperhatikan sekitar.


"Iya, hampir mulai Ris. Tuh lihat, kursinya aja hampir penuh sekarang."


Rista mengangguk.


"Film yang mau diputer ini emang bagus ya Kak, kok kayaknya Kak Rina tadi antusias banget pengen nontonnya."


"Iya dong, ini ceritanya tentang seorang pemuda yang sejak muda sudah harus mengurus perusahaan orang tuanya."


"Kayak Kakak dong."


"Mirip. Tapi di sini ceritanya dia ketemu cewek terus niatnya pengen dijadiin mainan dan bikin mantan yang dulu ninggalin dia kesel karena deket sama cewek yang jauh dibawah standar mantannya. Eh nggak tahunya malah jatuh cinta beneran."


"Sesederhana itu Kak?"


"Nah, proses perjalanan jatuh cintanya ini yang seru."


"Tapi itu di novelnya, nggak tahu deh di filmnya gimana. Makanya aku penasaran."


Rina membuka botol minuman yang tadi Rista berikan dan meminumnya perlahan.


"Kenapa Ris?"


Rina yang baru saja minum itu menjumpai wajah cemberut calon iparnya.


"Lihat deh..." Rista menunjuk dua laki-laki yang kini berada di kanan kirinya.


"Astaga..."


TBC

__ADS_1


__ADS_2