
...*HAPPY READING* ...
Terbaring lemas dengan tubuh tertutup selimut hingga sebatas perut. Minyak kayu putih sudah coba dioles di dekat hidung, namun hal ini belum berhasil membuat wanita ini sadarkan diri.
"Pa, Papa tenang ya."
"Gimana Papa bisa tenang. Mama kamu tadi sehat-sehat saja, sekarang tiba-tiba pingsan dan nggak sadar-sadar juga."
"Kamu juga kenapa sih, nggak ngebiarin Papa bawa mama ke rumah sakit."
Rina hanya menghela nafas. Bisa malu kalau mama sadar langsung bikin heboh di rumah sakit. Pikirnya
"Ya Tuhan, kenapa dia belum datang juga," gusar Reno yang tampak menunggu kehadiran seseorang.
"Siapa sih Pa?" tanya Rina sambil mengipasi mamanya.
"Papa hubungin Rudi."
Jedher!
"Pa..."
Cklek
Rina dan Reno serempak menoleh ke arah pintu. Situasi mereka kurang baik, Rina bingung harus menyapa atau diam saja.
Dika bergegas menghampiri Reno.
"Ayah telfon, kebetulan Dika belum jalan jauh. Tante kenapa?"
"Nggak tahu, tiba-tiba Rina teriak mamanya pingsan," jawab Reno dengan wajah cemas.
"Kenapa nggak bawa ke rubah sakit saja Om?"
"Rinanya nggak mau."
Spontan Dika menatap Rina. Tak ada pilihan lain, Rina harus segera mengajak Dika untuk berbicara.
Rina segera meraih tangan Dika dan membawanya ke balkon.
"Ada hal buruk?" tanya Dika saat menangkap kegelisahan dari sorot mata kekasihnya.
"Kamu harus cegah Om Rudi ke sini."
"Why??"
Rina nampak gelisah. "Ribet ceritanya."
"Please ya please..." imbuh Rina.
Dika mengangguk setuju dan mereka pun berjalan kembali ke kamar Rina.
"Nanti aku ceritain," bisik Rina tepat sebelum melewati pintu.
Keduanya membeku. Di luar prediksi mereka, ternyata Rudi telah tiba dan tengah mengecek kondisi Ririn.
"Astaga..."
Rina membekap mulutnya yang terbuka.
"Tidak ada riwayat jantung atau penyakit kronis lainnya kan?"
"Tidak ada. Selama ini Ririn sehat dan tak ada riwayat penyakit berbahaya yang menyerang."
__ADS_1
Rudi mengambil senter dan mengecek mata Ririn.
"Sepertinya ia hanya kelelahan atau stres saja," pungkas Rudi sambil melepas stetoskopnya.
"Jadi nggak ada masalah kan?" tanya Dika yang ikutan panik karena Rina terus mencubit pinggangnya.
"Tidak," jawab Rudi sambil mengemasi barang-barangnya.
"Nggak perlu diobati?" tanya Reno yang masih mencemaskan istrinya.
Rudi kembali membuka tas yang semula sudah ditutupnya. Ia mengeluarkan kertas serta pulpen dan menulis di sana.
"Ini saya buatan resep vitamin dan suplemen makanan. Ini untuk menjaga daya tahan dan metabolisme tubuhnya saja."
Rudi menyerahkan secarik kertas berisi resep pada Reno.
"Bisa beli di apotik mana saja," imbuhnya.
"Terimakasih," ucap Reno sambil menerima secarik kertas itu.
"Ayah langsung mau pulang kan? Ini sudah malam loh. Besok Ayah kan harus kerja dari pagi."
Rudi mengernyit. Ia menatap aneh anak tirinya ini.
"Besok hari minggu kalau kamu lupa. Masa iya mau libur seminggu sekali aja nggak boleh."
Dika menelan ludah. Ia memang tak berfikir panjang sebelumnya. Yang ada di pikirannya adalah segera mengajak Rudi pergi dari sana, sesuai yang diminta Rina.
"Ya maksudnya Om juga harus segera istirahat kan..." Rina coba menutupi kecerobohan kekasihnya.
"Nah itu maksud saya," sahut Dika cepat.
"Rina!"
"Kamu kok nggak sopan sekali, harusnya kamu bikin teh hangat untuk dokter Rudi, bukan mengusirnya."
Rina menghela nafas. "Iya Pa, maaf."
"Om Rudi silahkan duduk, tunggu sebentar akan saya buatkan minum."
"Tunggu."
Rina diam di tempat dan menatap Rudi.
"Benar kata kalian, saya memang sebaiknya segera pulang."
Muda-mudi ini serempak meghembuskan nafas lega. Tak ada kata atau tingkah yang mencurigakan, sehingga 2 pria dewasa ini tak menyadari bahwa mereka berhasil masuk dalam permainan anak-anaknya.
"Baiklah, saya harus pamit sekarang."
Kedua pria itu berjabat tangan, disusul Dika yang mencium tangan Reno dan Rina yang mencium tangan Rudi. Adegan salaman antara Dika dan Rina author skip ya, soalnya kalau dikasih kesempatan, mereka suka nambah-nambah.
"Rina, tolong antarkan beliau berdua ke depan ya, saya ingin menemani mama kamu."
"Iya Pa," jawab Rina.
"Jangan terlalu khawatir, kamu juga harus segera istirahat," ucap Rudi sebelum meninggalkan Reno dan istrinya.
"Terimakasih."
"Kami pamit Om." Dika pamit dengan lega dan penasaran bercampur jadi satu. Karena alasan kenapa Rina ingin Rudi segera pulang belum terungkapkan.
Rina berjalan dengan tak sabar, agar kedua pria ini segera meninggalkan rumahnya, dan ia bisa segera menjelaskan kesalah pahamannya dengan Ririn.
__ADS_1
"Rin, kamu sadar sayang..."
Degh!
"Ma, mari saya bukakan pintu Om," kata Rina cepat dan sedikit terbata berharap Rudi tak mendengar ucapan Reno barusan.
"Pa, Rina, Pa..." lirih Ririn saat kesadarannya baru saja kembali.
Masih di ruang yang sama dengan jarak kurang dari 5 meter. Rina sedang berjalan beriringan dengan Rudi dan Dika. Rina menolak logika dan berjalan cepat mendahului 2 lelaki ini untuk membukakan pintu. Ia berharap 2 laki-laki ini terutama Rudi tak mendengar suara lemah sang mama yang baru saja menyapa indra pendengarannya.
"Tunggu..."
Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Rudi berbalik begitu saja menghampiri kedua orang tuanya. Rina menatap Dika dengan sorot cemas, sementara Dika hanya menggidikkan bahu untuk mengungkapkan bahwa ia juga tak mampu berbuat apa-apa.
"Kamu tenang ya, tenang."
Reno berusaha memenangkan istrinya, dan dengan sigap membantu saat istrinya sedang berusaha untuk duduk.
Ririn tiba-tiba menangis dan menghambur ke pelukan suaminya.
"Rina, bisa kamu jelaskan ini ada apa?" tanya Reno pada putrinya yang masih membeku di depan pintu.
Susah payah Rina menelan ludah.
"Sayang, ada pak Rudi dan nak Dika, jangan gini ya," pinta Reno dengan suara lembut.
Ririn membersihkan air matanya dan segera menegakkan tubuhnya.
Ririn menatap tajam pemuda yang berada tak jauh darinya. "Kamu harus tanggung jawab."
"Ha?"
Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tanggung jawab apa ya Tante?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
"Kamu, bener-bener ya..."
Meski pun dengan suara lemah, jelas sekali kalau Ririn sedang dalam mode emosi tingkat tinggi.
Rina segera menghampiri mamanya. Ia harus segera meluruskan kesalahan pahaman ini, jika tidak dia akan lebih malu terlebih karena tak hanya Dika yang ada di sana, tapi Rudi juga.
"Ma, dengerin Rina dulu deh."
"Kamu diem. Mama lagi berusaha ngebelain kamu."
"Ma!"
"Rina! Sejak kapan papa ngajarin kamu nggak sopan sama orang tua!"
Rina serba salah terutama setelah Reno membentaknya barusan.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Rudi yang juga tak paham dengan situasi terkini.
Reno masih mengusap-usap punggung Ririn berusaha memberi ketenangan padanya. Ia sendiri juga penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Anak anda harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan segera menikahi Rina."
Semua terkejut mendengar penuturan Ririn. Rina pun akhirnya terduduk lemas di ranjangnya.
"Saya mau kok Tante."
Mata Rina membola. Kok jadi gini sih ceritanya.
__ADS_1
TBC