
^^^Pernah ada kenangan khusus nggak pas ada mahasiswa praktik di sekolah.^^^
^^^Atau barang kali ada yang cinlok?^^^
^^^-Happy reading-^^^
Bersama sejak Sabtu siang sampai melewati malam Minggu bersama membuat Rina sungguh bahagia. Ia yakin bahwa Dika adalah sosok dewasa yang memang diinginkannya. Namun keyakinan itu datang bersama deraan rasa cemas akan kondisi dirinya. Dan satu hal yang paling ia rasa adalah menyesal. Menyesal kenapa dulu ia begitu ingin melepasnya.
"Tante, Rista pamit dulu ya..."
Rista yang muncul bersama Rina segera pamitan kepada mama Ririn.
"Sering-sering main ke sini sayang ya." Ririn memeluk Rista dengan sayang. "Loh kok mukanya gitu?" Ririn kaget dengan perubahan wajah Rista yang semula ceria menjadi sendu.
"Ah, jangan diambil hati Tante. Rista mah suka gitu, yuk balik." Dika segera menarik pergelangan tangan adiknya.
"Tunggu." Mama Ririn dengan cepat menahan Rista. Dia kembali memeluk Rista. "Ke sini aja kapanpun kamu mau."
Ririn melepaskan pelukannya dan mengantar Rista hingga depan rumah. "Kalau adiknya mau ke sini, tolong kamu anterin ya," pinta Mama Ririn kepada Dika.
"Insyaallah Tan. Dika pamit." Dika mencium tangan mama Ririn dan melambaikan tangan pada Rina kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Loh, mau pada ke mana ini." Papa Reno yang pulang jogging segera menghampiri mereka.
"Dika mau pamit Om..." Dika urung masuk ke dalam mobil dan berjalan mendekati Reno. Dia segera melakukan hal sama seperti kepada Ririn sebelumnya.
"Mau pamit emangnya udah sarapan?" tanya Reno.
"Udah Om, tadi di rumah Dika."
Reno menepuk bahu Dika. "Makasih udah jagain anak Om dari kemaren." Reno menatap lekat anak muda di hadapannya ini. "Dan hati-hati juga jaga adiknya. Kalau kamu mau kemana-mana lagi, mending kamu nitipin adiknya di sini."
"Mama juga udah bilang gitu kok Pa," timpal Mama Ririn.
"Ya udah, hati-hati di jalan."
"Makasih Om. Dika pamit."
Dika berjalan memasuki mobilnya.
"Rista pulang, dadaaaaa!!!"
Rista berteriak dengan riang sebelum mobil Dika berjalan meninggalkan pekarangan rumah Reno.
***
Senin pagi. Entah mengapa Rina begitu malas untuk pergi ke sekolah. Keengganan Rina cukup beralasan, yaitu karena keberadaan Rio di sekolahnya, terutama setelah kejadian malam Minggu kemaren di depan minimarket.
Cklek!
"Sayang, kok masih di kamar sih, udah siang loh."
"Iya, Ma. Ini Rina juga mau turun."
Rina menghampiri mamanya yang berada di ambang pintu dan turun bersama menuju meja makan. Di sana sudah ada papa yang duduk dengan stelan jas berwarna hitam.
"Pagi Pa..."
__ADS_1
"Pagi sayang." Reno tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Rina mengambil roti dan mengoleskan selai coklat di atasnya. "Papa buru-buru nggak?"
Reno menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Nggak juga, kenapa sayang?"
"Rina ikut mobil Papa ya ke sekolahnya?"
Reno meletakkan makanannya dan menatap lekat putrinya. "Tumben?" tanyanya heran.
Rina hanya memamerkan gigi putihnya. Kalau sama Papa setidaknya aku aman dari Rio dalam perjalanan menuju sekolah. "Ya kangen aja sekolah dianter Papa. Ya Pa..." Rina merengek layaknya bocah.
"Iya-iya, cepat diminum juga susunya." Bukan Reno yang menjawab melainkan Ririn. Ketiganya pun sarapan dengan tenang.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Rina benar-benar berangkat bersama Reno pagi ini.
"Dah Pa."
Reno segera menjalankan mobil setelah Rina duduk di sampingnya. Di persimpangan jalan, Rina melihat sosok yang saat ini begitu dihindarkan. Untung tadi bareng Papa. Rina mengelus dadanya lega.
"Kamu kenapa, kayak maling lagi diuber masa gitu?" tanya Reno yang melihat tingkah aneh putrinya.
"Hehehehe, nggak Pa." Meskipun mulutnya berkata tidak, nyatanya Rina kedapatan beberapa kali menengok ke belakang. "Agak cepetan ya Pa."
"Kamu kenapa sih?" heran Reno.
"Takut telat Papa."
Reno melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak berapa kemudian ia pun menuruti keinginan putrinya dengan menambah laju mobilnya.
Syukur deh, Papa nggak curiga.
"Alhamdulillah, selamet, selamat."
Rina melangkah gontai menuju tempat duduknya dan segera menjatuhkan pantatnya di sana.
Tubuhnya tiba-tiba menegang kala sebuah tangan menepuk pelan bahunya. Ia perlahan menoleh lengkap dengan wajah tegangnya.
"Mukanye biasa aje dong!"
"Astaga Nitaaaa, nggak usah ngagetin bisa kan?" protes Rina yang sejujurnya lega mendapati keberadaan sahabatnya kini.
"Mana? Adanya elu yang kagetan." Nita mendorong Rina agar bergeser di kursi sebelah dan mengambil alih tempat duduk Rina. "Lagi ngehindarin seseorang ya?" tebak Nita.
Rina mengangguk.
"Rio?"
Kembali Rina mengangguk.
"Rasain! Makan tu cowok dewasa yang elu idam-idamin." Nita mencibir Rina tanpa sensor. "By the way, malem Minggu acara ke mana?"
"Malem Minggu depan?" tanya Rina.
"Malem Minggu kemaren."
Rina menatap Nita. Jujur nggak ya?
__ADS_1
Melihat Rina yang nampak ragu-ragu dan enggan menjawab, ide jahil melintas dipikiran Nita. Dia tiba-tiba menoel pinggang Rina dengan keras dengan berkata, "Kemana?"
"Nginep di tempat Dika."
Rina yang tersentak dan terkejut dengan serangan Nita yang tiba-tiba spontan mengetakan hal yang sebenarnya ingin ia rahasiakan.
"What?!!" Nita yang berniat mengejutkan Rina kini justru dibuat lebih terkejut dengan apa yang dikatakan sahabatnya ini. "lu gila. Pantesan nomer nggak aktif ternyata lagi hhmmmnffbbbb......"
Rina segera membungkam mulut Nita yang berbicara tanpa mengontrol volume suaranya. Dia panik dan tak ingin sampai orang lain mendengarkan ucapan Nita dengan jelas.
"Kecilin suaranya ogeb!" desis Rina tepat di telinga Nita.
Nita menatap Rina dan menganggukkan kepalanya.
"Hahhhh, gue kaget dodol! hah hah hah."
Rina merengut kesal.
"Cuma berdua?" tanya Nita yang masih diselimuti rasa penasaran.
Rina menggeleng. "Ada adik dan temennya juga."
"Terus gimana ceritanya elu bisa nginep di sana? Om sama tante nggak nyariin?"
"Enggak, kan udah ijin," jawab Rina santai.
"What, what, what?"
"Kamis sama Jum'at malam adiknya Dika juga nginep di rumah."
Nita menatap Rina dengan mulut menganga tak percaya. "Sama Dikanya juga?"
"Enggak, dia ada urusan makanya nitipin Rista di rumah."
Nita mengangkat kedua tangannya. "Lu mending buruan kawin aja deh, daripada kebablasan."
"Enak aja!"
Baru saja Rina hendak mendebat sahabatnya, dering bel terdengar nyaring ditambah seruan pada segenap warga sekolah untuk mengikuti upacara hari Senin.
"Lu hutang cerita dan kudu lunas hari ini! Kalau enggak...." Nita menggerakkan jempolnya di leher untuk mengancam Rina.
Rina mengangkat jempolnya sebelum akhirnya meraih topi dan melenggang menuju lapangan sekolah bersama Nita dan teman-temannya yang lain.
Saat hampir tiba di lapangan, Rina mendadak berhenti.
"Napa lu?!"
"Kalau gue minum suplemen peninggi badan sekarang masih ngefek nggak ya?" Rina berujar sambil menatap lurus ke depan.
Nita mengernyit. "Napa lu tiba-tiba mikir gitu?" Mendapati Rina yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, Nita berusaha mengikuti arah pandang Rina. Ternyata tepat di belakang barisan kelas mereka, ada Rio yang berdiri di deretan anak PMR yang jadi timkes. Rina memang sudah langganan berada di barisan paling belakang karena tinggi badannya. So, keberadaan Rio di sana menjadi hal paling menyebalkan dan tak bisa di hindari.
"Ayo jalan. Stay cool aja lah," ucap Nita.
"Stay cool gundulmu!"
Nita yang mendengarnya terkekeh dan merangkul bahu Rina kemudian membawanya masuk ke dalam barisan.
__ADS_1
TBC
Say something dear.