Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Program


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


Sore ini sangat luar biasa untuk Rina. Setelah sekian lama, ia baru bisa pulang dan menginap di rumah orang tuanya. Saai ini Rina tengah malam bersama suami dan kedua orang tuanya.


"Kalian tu ya, harusnya kalau kesini nggak usah bawa bawaan segini banyak, kayak orang jauh saja."


"Ya kita lagi nggak sengaja nemu apa yang papa mama suka, jadi sekalian aja kita bawa."


Reno tersenyum mendengar penuturan Dika.


"Mungkin kalau kamu sedang berbicara dengan orang lain mungkin masih akan dipercaya, tapi kalau dengan kami? Kami tahu betul kamu tak akan punya waktu untuk tak sengaja melakukan sesuatu, karena yang disengaja saja belum tentu ada waktu untuk melakukannya," ujar Reno pada menantunya.


Dika sejenak menghentikan pergerakan tangannya.


" Kalau sudah terlanjur ketahuan, maka kami harap papa mama berkenan untuk menerima persembahan kami sebagai seorang anak. Masih sebatas itu kemampuan berbakti kami kepada papa dan mama, semoga papa dan mama ikhlas menerimanya," ujar Dika sungguh-sungguh kepada kedua mertuanya.


"Nak. Rina bahagia sama kamu saja kami sudah sangat bahagia, jadi kamu tak perlu banyak berfikir untuk kami." Ririn yang sempat diam mulai ikut bicara.


"Selama kami mampu, izinkan bakti kami tak hanya sebatas doa."


"Terimakasih Dika," jawab Ririn dengan senyum tulus di wajahnya.


"Oh iya Rin, apa kamu belum ada rencana untuk melepas kontrasepsi?"


"Uhk..." Dika tersentak dengan pertanyaan mertuanya. Yang ditanya Rina, tapi dirinya yang panik. Ia tak ingin Rina merasa tertekan untuk masalah ini.


Cepat-cepat Rina mengambilkan air minum untuk Dika, dan membantu suaminya ini meminumnya.


"Rina..."


"Makanannya enak Ma, ini tadi Mama masak sendiri?" Potong Dika cepat terhadap ucapan Rina untuk mengalihkan pembicaraan.


Rina menatap heran menantunya. Biasanya orang komentar itu kan saat mulai makan, lha ini nunggu makanan hampir habis baru ngomong kalau enak.


"Masak sendiri," jawab Ririn akhirnya.


"Bisa gendut saya Ma kalau sering dimasakin sama Mama."


Rina menghela nafas. Kamu pasti takut aku ditanya macam-macam kan? Makasih sayang. Batin Rina sembari menatap suaminya.


Selesai makan, Dika ijin ke kamar mandi, sementara Rina dan kedua orang tuanya pindah ke ruang tengah.


"Ma, Rina udah ada rencana buat program."


"Program apa?" tanya Ririn karena merasa sebelumnya tak lagi membahas apa-apa.


"Program kehamilan. Cuma belum sempat ke dokter aja."


"Benarkah?" tanya Ririn antusias.

__ADS_1


Rina mengangguk. "Dika sudah menunggu terlalu lama, padahal aku yakin sebenarnya ia sudah sangat ingin punya anak."


"Mama rasa juga gitu. Dia nggak pernah bahas ini sama kamu saat berdua?"


Rina menggeleng.


"Dika dulu pernah bilang kalau masalah anak terserah aku. Dia akan selalu mendukungku."


"Tapi kamu nggak boleh terlena Nak. Terlena maksud Mama itu terlena terus semaumu sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan Dika. Dika itu terlalu sayang sama kamu, mendukung semua mau kamu, dan tipe orang seperti itu berarti ia mengharapkan sesuatu yang besar dari kamu. "


" Maksud Mama? "


" Dia melakukan segalanya untuk kamu, di sisi lain dia berharap akan mendapatkan semua juga dari kamu. Kebahagiaan, pengabdian, kesetiaan. Kamu harus hati-hati. Sekali Dika kecewa, akan sulit untuk mengobatinya. "


" Masa iya Ma? "


" Itu sejauh pengamatan Mama sebagai orang luar dari keluarga kamu. Untuk pastinya hanya kamu dan Dika yang tahu. "


Rina tampak merenungi ucapan sang mama hingga tanpa sadar mereka ternyata hanya berdua.


" Loh, papa mana? "


Tanya Ririn yang juga baru menyadari mereka tinggal berdua. Ia celingak-celinguk mencari kesana-kemari, hingga ditemukanlah dua pria itu di salah satu sudut ruang tengah. Mereka tengah menggelar papan catur dan tampak fokus terhadap benda itu.


" Yah, bakal lama nih kalau udah gitu," ujar Ririn.


Rina melanjutkan malam dengan ngobrol bersama Ririn dan Dika bertanding catur bersama Reno.


***


Pagi ini Dika benar-benar senang, saat Rina mengungkapkan jika ia telah siap untuk segera memiliki momongan. Akhirnya momen yang ia tunggu selama ini datang juga. Ia hanya berharap tak ada kendala terkait hal ini karena selama menunda kehamilan, mereka telah menggunakan alat kontrasepsi yang paling aman.


"Kok aku deg-degan ya?" ujar Rina saat keduanya dalam perjalanan menuju kantor.


"Deg-degan kenapa?" tanya Dika yang mendadak merasa cemas dengan ucapan istrinya. Jangan-jangan Rina takut punya anak. Ya Tuhan, jangan.


"Aku takut penggunaan kontrasepsi selama ini memengaruhi kesuburanku."


"Alhamdulillah..."


Rina melotot mendengar ucapan Dika ditambah lagi pria ini juga mengurut dadanya.


"Kok alhamdulillah?" protes Rina.


"Ya alhamdulillah lah. Aku pikir kamu deg-degan karena takut punya anak, nggak tahunya masalah itu."


"Oh. Aku juga pengen punya anak lah sayang," ujar Rina lengkap dengan senyum manisnya.


Dika menarik tubuh Rina dan memeluknya.

__ADS_1


"Apa perlu dirayakan?" tanya Dika dengan tatapan tak biasa.


"Merayakan dengan metode apa?" tanya Rina dengan tatapan nakal tak kalah dengan suaminya.


"You know what I mean honey..."


Dika sudah lama menunggu saat ini, sehingga mereka tak bisa menghindarkan polusi untuk telinga dan mata di mobil saat ini. Untung supirnya sudah terbiasa, jadi tak sampai nabrak gara-gara aksi pasangan suami istri ini mengganggu fokusnya.


***


Semua mata tertuju pada pasangan Dika dan Rina, karena seringnya wajah mereka muncul di berbagai media akhir-akhir ini. Dan meski sekarang sedang di rumah sakit, mereka masih saja menjadi pusat perhatian.


"Ayah..."


Rudi menjemput anak tiri dan menantunya di lobi, dan dengan segera Dika dan Rina menyalami lelaki tampan yang nampak matang ini.


"Apa kabar kalian?"


"Apakah selama itu kita tidak bertemu, sehingga Ayah harus menanyakan kabar saat bersua."


Rudi tersenyum menanggapi ucapan Dika.


"Coba kamu ingat-ingat kapan terakhir kita makan bersama. Bahkan sudah berbulan-bulan lalu setelah Rina selesai wisuda," balas Rudi.


"Iya juga ya."


"Mana nggak disini Yah?" tanya Rina.


"Tadi katanya mau belanja sama Mama kamu," jawab Rudi.


"Masa iya?" kaget Rina.


"Tadi pagi sepertinya saya dengar Santi bahas cucu, apa kalian..." Rudi menahan ucapannya.


Rina menatap Dika yang berdiri tegak di sampingnya.


"Belum Yah, kita kesini tadi baru mau konsultasi dan program. Apa Ayah bisa merekomendasikan dokter untuk kami?" jawab Dika yang paham maksud istrinya.


Rudi mengangguk paham.


"Ayo ke ruangan saya..."


Dika dan Rina berjalan mengikuti Rudi. Suasana tak jauh beda dengan di kantor. Semua akan menunduk hormat saat mereka lewat.


Apa sepanjang hidup aku akan seperti ini, di depan banyak yang mengagumi tapi di belakang akan dicaci. Rina meracau dalam hatinya.


Pantas saja Dika dulu tak mau langsung muncul memimpin perusahaannya, karena menjadi orang yang selalu dimuka itu terkadang capek juga. Harus menjadi baik dan sempurna membuat orang lain lupa jika kita adalah manusia.


TBC

__ADS_1


__ADS_2