Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Elisa


__ADS_3

Dika-Rinanya kok tenggelam Kak? 


Enggak kok.


Kok Hana melulu yang muncul?


Season kedua memang mereka pemeran utamanya.


Apa mereka pasti bersama?


Masalah jodoh mah manusia nggak bisa minta, xexexe


HAPPY READING


“Diem bisa nggak?!”


Hana yang kini dibungkam mulutnya hanya manggut-manggut tanpa bisa menjawab apa-apa.


“Oke aku lepasin…” Wanita ini perlahan membuka bungkamannya pada mulut Hana setelah mendapat persetujuan dalam bentuk anggukan.


“Haahh haahh haahhh…” Hana ngos ngosan antara kaget, takut, panic entah lah ia tak tahu apa lagi yang ia rasakan saat ini.


Perempuan yang baru membungkam mulutnya tadi berdiri lagi sambil memperhatikan penampilan Hana.


“Kayaknya kamu terlalu elit untuk ukuran gelandangan,” ujar wanita ini lagi.


“Aku…” Hana bingung. Dia sama sekali tak punya kartu identitas, dan asal-usulnya pun tidak jelas.


Wanita dengan balutan celana dan kemeja hitam ini kembali berjongkok. “Sebenarnya kamu siapa, Kenapa malam-malam bisa terdampar di kios saya?”


Hana mengamati wanita muda yang mengajaknya bicara ini. Sepertinya dia bukan orang jahat. Apa aku sebaiknya pura-pura hilang ingatan dan memohon belas kasihan pada mereka dan memulai kehidupan bari di sini. Ah tapi masa iya aku  meniru solusi yang ada di sinetron, kan lebih tidak rasional lagi.


“Hey…”


Saking larutnya melamun, Hana bahkan tak sadar jika perempuan ini kini berjongkok persis di hadapannya.


Setelah sempat saling menatap, akhirnya wanita itu bangkit dan membuka pintu.


“Ayo masuk.”


“Saya?” tanya Hana sambil menunjuk dirinya.


“Iya, ayo…”


“Tunggu.” Hana menahan tangan wanita ini sebelum ia meninggalkannya terlebih dahulu masuk ke dalam.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya wanita ini saat Hana kembali menahannya untuk kedua kalinya. “Oh iya, nama saya Elisa, tapi biasanya dipanggil Lili.” Wanita ini melepaskan cekalan Hana dan mengulurkan tangannya untuk dijabat.


“Saya Hana," jawab Hana. Ia tak jadi pura-pura hilang ingatan seperti yang sempat ia pikirkan.


Lili hendak masuk, namun kembali Hana menahannya.


“Ada apa lagi? Di luar sangat dingin.” Wanita ini tampak kesal. Pasalnya ia sendiri sangat lelah karena baru saja pulang kerja.


“Apa kamu yakin ingin membawa saya masuk? Apa kamu tidak takut jika saya ternyata adalah orang jahat?” ujar Hana hati-hati.


Lili sedikitpun tak takut mendengar penuturan Hana. Ia justru tertawa kecil dan segera membalikkan tubuhnya. Kini Lili menatap penampilan Hana dengan terang-terangan. Ia menilisik setiap sisi penampilan wanita yang tiba-tiba muncul di teras rukonya.


“Apanya yang harus di takutkan, bahkan omset kios ini seminggu baru dapat baju atasanmu saja. Itu pun kalau tidak malah kurang.”


Hana memperhatikan penampilannya. Memang semua yang ada pada tubuhnya adalah barang dengan harga fantastis dan tak semua orang bisa membelinya. Andre memang sejak awal selalu memberikan yang terbaik untuknya meskipun perasaan belum terlalu banyak berkembang.


“Ayo masuk dan ceritakan di dalam.”


Hana akhirnya mengikuti Lili masuk ke dalam ruko. Seperti namanya, ini adalah rumah sekaligus toko yang mana menjadi hunian sekalugis tempat untuk mencari nafkan bagi Lili dan bundanya. Toko di bagian depan, dan di belakang terdapat dua buah kamar dan ruang-ruang kecil yang mereka maksimalkan fungsinya sebagai rumah yang nyaman.


“Maaf ya, rumah kami kecil,” ujar Lili setelah mengajak Hana ke ruang di bagian belakang rukonya.


“Saya yang harusnya minta maaf, karena sudah numpang bermalam di teras kamu.” Hana menyeret kopernya dan membiarkannya berdiri di dekat kursi, sementara ia sendiri duduk di kursi sudut yang ada di ruangan ini.


Cklek!


“Loh, tumben Li pulang bawa teman. Ini siapa?” tanya mama Lili sambil duduk di sisi lain kursi yang juga Hana tempati.


“Saya Hana Tante. Maaf malam-malam mengganggu.”


“Tidak masalah. Oh iya, Bunda sudah siapin makanan. Kalau kalian belum makan bisa dipanaskan.”


“Oke Bun," jawab Lili. Sementara Hana hanya tersenyum segan.


“Bunda istirahat dulu.”


“Makasih Tante."


“Jangan panggil Tante, panggil Bunda saja,” ujar mama Lili sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.


Lili membuka pintu lain di ruang ini yang dari luar terlihat seperti kamarnya. Tak berselang lama, ia keluar dengan beberapa lembar baju di tangan.


“Han, ini kamarku, kamu bawa masuk aja barang-barang kamu,” ujar Lili.


“Tapi Li, memangnya tak apa-apa kalau aku masuk ke kamar kamu?” tanya Hana ragu.

__ADS_1


“Masuk aja. Tapi nanti kamu harus cerita apa yang bikin kamu terdampar di sini.”


Hana mengangguk. Semoga ini awal yang baik. Bertemu orang yang baik dan melanjutkan hidup dengan baik.


Baru saja Lili masuk ke kamar mandi, ia sudah keluar lagi. Ia meminta Hana untuk memanaskan makanan untuk mereka makan berdua. Memang Lili sudah sempat makan malam, namun gara-gara es krim yang ia makan tadi, semua isi perutnya ikut keluar bersama es krim yang muntahkan tadi. Sudah paham kan ini adalah Lili asisten Rina yang harus menghabiskan semua es krim yang Rina pesan dengan jumlah ugal-ugalan.


Tak sampai lima belas menit, Lili sudah keluar dalam keadaan segar. Sebenarnya bukan segar sih, dingin lebih tepatnya, karena mandi malam seperti ini bukanlah hobinya. Namun jika tidak mandi ia pasti tak bisa tidur karena keringat yang keluar seharian membuat lengket di seluruh badannya.


“Nggak makan Han?” tanya Lili yang melihat Hana diam saja di dekat meja.


“Nunggu kamu.”


“Oh. Sok ayo makan.” Lili meraih piring dan sendok di rak dan mengambil nasi di magic com, kemudian, ia mulai mengambil lauk yang siap di atas meja.


“Maaf ya, adanya cuma gini doang,” ujar Lili sambil menyuapkan makanan.


“Harusnya aku kali yang minta maaf.”


“Kamu bisa makan ginian nggak?” tanya Lili saat melihat Hana yang tak kunjung mengambil makanan.


“Bisa, cuma…”


Lili menjeda makannya. Setelah menelan suapan ke sekian, ia menatap wanita yang baru ditemuinya ini dengan serius. “Sekarang cepat makan. Bunda selalu menegurku jika terlalu banyak bicara saat makan.”


Akhirnya Hana mengabil piring dan mengambil nasi seperti yang Lili lakukan. Kemudian ia mulai makan. Sejujurnya ia lapar sekali, karena baru makan saat di tempat Miko tadi. Andre memang sudah memesan makanan, tapi belum juga makanannya datang, ia harus tertendang dan keluar dari  apartemen dan menggelandang beberapa saat di jalan tanpa uang. Namun sepertinya Tuhan masih begitu menyayangi pendosa sepertinya dengan dipertemukan dengan orang baik


seperti Elisa dan bundanya.


Selepas makan, Hana dan Lili mancuci masing-masing piringnya.


“Well sekarang, kamu sudah boleh cerita,” ujar Lili sambil mengoles beberapa skin care malamnya sebelum pergi tidur.


“Cerita apa?”


“Jangan belibet deh Han. You know what I mean lah.” Lili kembali menghadap cermin. “Aku nggak terlalu suka basa-basa,” lanjutnya lagi tanpa menatap Hana.


Hana berjalan membuka koper dan mengambil selimutnya.


“Aku bingung Li harus mulai dari mana,” ujar Hana sambil memeluk selimut tebalnya.


“Ya ceritain aja siapa kamu, dan apa yang terjadi sampai kamu terlempar ke jalan seperti tadi.”


Hana menghela nafas. “Aku piatu, mama udah meninggal dan papa nggak mau ngakuin aku.”


Lili membeku. Kenapa ada orang lain yang nasibnya bahkan lebih mengenaskan dari pada aku?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2